Monday, February 29, 2016

Holopis Kuntul Baris

Saya kurang tahu persis, apakah ini sebuah pertarungan ideologi(s), perebutan pengaruh berbalut sentimen agama, perkelahian kultural, atau apa. Tapi menarik juga kalau disimak, meski sayangnya belum saya temukan kajian ilmiah dan akademis yang sangat dipercaya. Ah, ilmiah atau cerita jalanan, toh dugaanya juga sama: berebut untuk dipercaya.

Problem itu adalah teks "holobis (atau hulubis) kuntul baris". Ini saya dapatkan dari status mas Henri Nurcahyo, seorang pengamat budaya yang menetap di Jawa Timur. Dia mendapatkan temuan bahwa ada versi yang menyatakan bahwa teks itu berasal dari Bahasa Arab: "qulu bis (bismillah) kuntum", yang artinya "ucapkan bismillah maka kalian akan berhasil".

Narasi tentang ini, konon, bermula ketika Masjid Demak dibangun dan membutuhkan 4 kayu besar sebagai pilar penyangga. Saat melihat kayu yang diperoleh ternyata besar dan berat, maka Sunan/Mbah Ampel memerintahkan pafa para santrinya untuk menggotong rame-rame sembari berucap "qulu bis kuntum baris". Kalimat itu sebenarnya merupakan bentuk amalan untuk membaca Bismillah. Kalimat yang seharusnya "qulu bis kuntum baris", terucap oleh lidah orang Jawa menjadi hulupis kuntul baris.

Pun dalam masyarakat pesisir Madura, konon, Holopis Kuntul Baris dikenal dengan istilah Qolu Bismillahi Yunkidzukumul bariah. Artinya: Katakanlah (semua orang), dengan nama Allah, mudah mudahan terangkatlah/teringankanlah barang yg diangkat. Dulu, nelayan Madura kalau menarik perahu juga sembari meneriakkan Holopis Kuntul Baris. Oleh para kyai diucapkan dengan "Qolu bismillahi yunkidzu kumul barik".

Di seberang itu, saya mendapatkan versi yang berbeda sama sekali, yakni dari buku "Semiotika Jawa, Kajian Makna Falsafah Tradisi", tulisan A. Hariwijaya (2013), yang menyatakan bahwa holopis kuntul baris diduga berasal dari kalimat "Don Loppis Comte du Paris". Don Loppis adalah nama seorang kapten prajurit Belanda yang berasal dari Paris, Perancis. Dia dikenal sebagai salah satu komandan lapangan yang tegas dan keras, yang mengomandoi salah satu wilayah pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Tiap hari, dia sering turun ke lapangan menyuruh para pekerja bekerja keras dan berteriak keras menyebut nama serta kota asalnya berkali-kali agar bersemangat kerja. Maka, lambat laun kata-kata Don Loppis Comte du Paris bergeser karena lidah orang Jawa menjadi Holopis Kuntul Baris.

Kita tahu, de Grote Postweg bikinan Daendles merupakan jalur sepanjang sekitar 1.000 km yang menghubungkan Anyer-Panarukan (Banten-Jawa Timur) yang dibuat dalam waktu yang relatif cepat, yakni setahun (1808), dan menelan korban manusia pekerja yang meregang nyawa karena kerja paksa--hingga berbilang 12.000 jiwa.

Kembali ke soal kajian etimologis kalimat holopis kuntul baris yang berbau persaingan ideologis, punyakan Anda versi yang lain? Biar seru, dan siapa tahu, menambah referensi lelucon. ***

Thursday, February 18, 2016


Kalau sejarawan Yunani Kuno, Herodotus (484-425 M) membilang bahwa Mesir adalah "negeri yang dihadiahi Sungai Nil", maka bolehlah disebut bahwa Propinsi D.I. Yogyakarta sebagai "kawasan yang dihadiahi Kali/Sungai Progo". Kali Progo memanjang hingga 135 km mulai dari kabupaten Temanggung lalu ke selatan melintasi kabupaten Magelang, Sleman, Kulon Progo dan Bantul.

Mata air Kali Progo berada di dusun Jumprit, desa Tegalrejo, kecamatan Ngadirejo, Temanggung, di ketinggian sekitar 1.275 mdpl, di lereng gunung Sindoro (3.135 mdpl). Nama sungai ini, menurut salah satu sumber, diduga tidak lepas dari tradisi Hindu dan Buddha yang pernah melingkungi kawasan ini berabad-abad lalu. Konon kata Progo berasal dari kata "Paragya", yakni nama patirtan (sumber mata air) di salah satu anak sungai Gangga, India. Kata Paragya lama kelamaan luluh oleh lidah Jawa hingga bergeser menjadi "Praga" atau "Progo".

Lanskap seperti dalam foto ini acap terpapar di depan mata ketika kita berada di pesawat terbang yang segera mendarat di bandara Adisucipto. Hanya saya belum yakin sepenuhnya, apakah ini Kali Progo atau kali/sungai Opak--meski keduanya bertemu pada satu titik, puluhan kilometer sebelum bermuara di pantai selatan Jawa. Ini sama persis dengan dugaan saya tentang banyaknya mitos-mitos yang mulai memudar yang berabad-abad sebelumnya hidup di sekitar jelujur sungai terpanjang di Yogyakarta ini. Saya ragu apakah mitos-mitos itu masih diingat dan dirawat oleh orang-orang di sekitar itu.

Kawasan ini dihadiahi sungai besar, dan kemudian (dulu) orang-orang menghidupkannya (antara lain) dengan mitologi tentang lampor, padu selikuran, kisah tentang Kyai Tunggulwulung, Nyai Ageng Serang, Kyai Langgeng, Sendang Jalin, hingga narasi tentang Pandansimo. Waktu memang telah bergerak jauh. Mungkin, kini telah membawa mitologi-mitologi berbeda yang lebih kontemporer.

 Tak tahulah. Apapun, terima kasih, Kali Progo!

Friday, February 12, 2016

Tanda Rasa, Tanda Ada

"Impian Kawan", lukisan Kristiyanto yang dipamerkan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP), 15-18 Februari 2016.

Oleh
Kuss Indarto

(Catatan ini dimuat dalam katalog pameran tunggal Kristiyanto bertajuk "Tanda Rasa", di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, 15-18 Februari 2016)

SOSOK seniman Kristiyanto muncul lagi di tengah keriuhan dan dinamika seni rupa Yogyakarta. Ini sebuah upaya yang tidak ringan untuk masuk dalam pusaran perbincangan dan peta seni rupa Yogyakarta yang terus bergerak dengan percepatan yang jauh melebihi kawasan lain di Indonesia. Bangunan reputasinya pernah tercatat dalam beberapa perhelatan seni rupa yang diikutinya bertahun-tahun lalu. Ada, misalnya, pameran seni rupa “Lestari Alamku” yang dihelat 18-25 Juni 1994 di Natour Hotel Garuda, Yogyakarta. Kala itu Kristiyanto berhimpun bersama 10 seniman lainnya, yang beberapa di antaranya adalah seniman senior dengan reputasi nasional, seperti Amri Yahya, Fadjar Sidik, dan Remmy Silado, juga nama-nama lainnya yakni Klowor Waldiyono, Hajar Pamadhi, dan Djoko Maruto.

Setahun berikutnya, 29 April hingga 29 Mei 1995, di Center Hall, Internusa Plaza Bogor, sebuah pameran besar seni rupa dihelat. Tajuknya “Gelar 50 Pelukis Empat Kota”. (Waktu itu belum populer istilah kurator, pameran yang terkurasi atau pameran yang memakai tema kuratorial). Dalam pameran besar tersebut beberapa nama dan karya seniman papan atas Indonesia masuk di dalamnya. Sebut saja nama Barli Sasmitawinata, Henk Ngantung, Jeihan, Popo Iskandar, Remmy Silado, Sujana Kerton. Ada juga nama-nama seniman yang pada masa itu telah dan mulai merintis bangunan reputasi kesenimanannya, seperti Tulus Warsito, Suwadji, Dyan Anggraini, Godod Sutejo, Hari Budiono, Chusin Setiadikara, Abay D. Subarna, (alm.) Pramono Ir, (alm.) Nurkholis, (alm.) Hendro Suseno, (alm.) Gusti Alit, Katirin, Nasirun, M. Sinni, Irawan H., dan sekian banyak nama lainnya. Dan di tengah-tengah mereka itu tercatat nama Kristiyanto.

Dari secuil informasi di atas kita bisa berpraduga bahwa sekitar dua dasawarsa lalu, ketika masih berusia muda, nama Kristiyanto telah berupaya keras masuk dalam pusaran penting dinamika seni rupa di Indonesia. Pameran yang diikutinya—dengan nama-nama besar seniman lain yang satu “rombongan”—memberi indikasi bahwa reputasinya dalam dunia seni rupa telah dibangun “on the track”, dalam jalur yang tepat dan semestinya. Artinya, kalau ada konsistensi dalam laku kreatif yang terus-menerus, rutinitas aksi pameran yang terjaga secara “istiqomah” atau bahkan meningkat, tentu pada kurun sekarang inilah masa-masa memanen besar atas proses yang telah dilaluinya bertahun-tahun. Sebenarnya kemunculan nama Kristiyanto dalam dua pameran di atas itu pun pantas diberi catatan tebal bahwa dia yang alumnus Program Studi Seni Rupa IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) termasuk “makhluk langka”. Selama ini, dan hingga kini, dalam peta seni rupa Yogyakarta, nyaris selalu didominasi oleh para seniman alumni atau jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Para seniman dari kampus lain, termasuk UNY, berada dalam posisi marginal dalam perkara eksistensial. Realitas ini sangat bisa dipahami karena orientasi utama para alumnus UNY masih kuat masuk dalam ranah atau dunia kependidikan seni (rupa), bukan sebagai praktisi. Dan di sinilah Kristiyanto berdiri sebagai salah satu anomali.

Sayang memang bahwa pada tahun-tahun berikutnya jembatan reputasi yang telah dititi pelahan oleh Kristiyanto ini, sepertinya, tidak dilakoni dengan konsisten, penuh keteguhan, sekaligus berupaya mencari alternatif lain dalam soal jejaring kerja (networking) yang lebih meluas. Kita sadar, networking dalam praktik seni rupa itu sangatlah penting bagi para pelakunya untuk melakukan mobilitas vertikal (gerak ke atas kepada para “penentu” dunia seni rupa) dan mobilitas horizontal (gerak ke samping kepada sesama seniman yang masing-masing melakukan dinamika kerjanya).

***

BAGI seniman muda, melakukan proses itu sangat penting. Apalagi dengan tendensi yang kuat dan fokus pada aspek pencarian kreatif, penemuan-penemuan artistik, penolakan pada hal-hal yang telah umum atau mainstream, dan semacamnya, maka kelak tinggal mengunduh atau memanen semua proses positif yang telah dikerjakan. Dalam masyarakat Jawa ada istilah yang berbunyi “golek jeneng kanggo golek jenang”. Bagi saya, kalimat ini memuat kandungan filosofis yang sangat dalam. Bahwa seseorang sebaiknya mendahulukan mencari nama (jeneng) karena hal tersebut akan berdampak mendatangkan hasil (jenang). Dalam konteks dunia seni rupa seni sendiri, falsafah Jawa itu juga menemukan kontekstualitasnya. Bahwa ada baiknya seniman muda itu sebesar-besarnya melakukan aksi yang bertendensi untuk membangun dan menguatkan reputasi dan nama (besar)-nya. Bukan, misalnya, berkonsentrasi pada orientasi material, finansial, dan sebagainya. Dengan siasat juga strategi seperti itu, ketika kelak seorang seniman kuat reputasinya, besar namanya, maka dengan sendirinya jenang atau aspek lain seperti dampak ekonomi dan material niscaya akan mengikutinya. Mekanisme ini seperti hukum alam, meski mungkin tidak semua orang bisa meyakininya.

Lebih dari itu, perbincangan soal seniman ini kiranya bisa diperluas. Dalam pandangan saya, untuk menjadi seniman setidaknya memiliki imajinasi atau pembayangan tentang 3 hal penting: modal, model, dan modul.

Ihwal modal itu menyangkut soal hal mendasar yang idealnya dimiliki seorang (calon) seniman, yakni bakat (talenta), kemampuan (skill), dan kemauan untuk bekerja keras dan cerdas. Ketiganya bisa saling dikolaborasikan satu sama lain. Seniman besar Perancis, Paul Cezzane pernah membilang bahwa bakat cukup 1 %, sementara 99% lainnya adalah kerja keras. Kita bisa berdebat tentang kalimat Cezzane itu. Namun saya kira ketiga-tiganya sama pentingnya.

Kedua, model. Seorang seniman diidealkan memiliki bangunan imajinasi tentang model seniman seperti apa yang akan dijadikan landasan kreatif dalam menghidupi modal yang ada. Ini bukan menyangkut soal patron, bahwa seorang seniman harus mirip Affandi, Pablo Piccasso, Damien Hirst, atau siapapun, maka segala hal tantang patron seniman itu diikuti dari A sampai Z. Itu akan menjebak seniman menjadi seorang peniru, boneka, dan tak sadar dengan kemampuan yang ada dalam dirinya. Maka, model, saya kira bisa memberangkatkan diri dari imajinasi tentang konsep kesenimanan seperti apa yang tepat dan pas dengan jiwa dirinya.

Ketiga, modul. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata modul memiliki beberapa arti, dan satu di antaranya berarti “komponen dari suatu sistem yang berdiri sendiri, tetapi menunjang program dari sistem itu”. Dalam konteks perbincangan ini, saya menganggap modul sebagai “komponen” strategi. Apapun, setelah seniman memiliki modal dan model, maka diperlukan siasat untuk menggerakkan kerja kreatifnya ketika “menghadapi” dirinya sendiri, dan gerak berikutnya ketika pasca-berkarya. Seniman perlu strategi untuk bergerak keluar ketika menghadapi audiens, penikmat karya seninya, pengritiknya, dan juga pasar. Ini semua, tentua, hanya pengandaian dan dugaan saya. Bisa saja tidak sepenuhnya tepat untuk (semua) seniman.

***

Pameran “Tanda Rasa” atau “Tandha Rasa” ini diancang-ancangkan oleh senimannya, Kristiyanto, sebagai upaya “pengenalan kembali” kepada publik seni rupa di Yogyakarta. Sekian tahun yang lalu namanya telah ikut mengisi sekian lembar halaman seni rupa Yogyakarta. Kemudian namanya mulai surut ditelan oleh sekian banyak nama seniman lain yang juga saling berebut posisi untuk masuk peta. Itu semua wajar, alamiah, karena masing-masing seniman pasti memiliki pasang-surutnya, punya batasan-batasan yang membuat dia muncul untuk kemudian tenggelam, dan seterusnya.

Namun ada poin penting bisa dicatat bahwa di tengah kerumunan sekian banyak nama seniman yang berlimpah di Yogyakarta, juga sebegitu meruahnya peristiwa seni budaya yang dihelat dalam rentang waktu yang berdekatan, kini ada nama lama yang ingin mengambil peran. Kristiyanto mencoba mencuri jeda atas keriuhan seni rupa Yogyakarta hari ini. Di sinilah kita bisa menyadari bahwa semua berhak tampil, semua memiliki peluang untuk mengada. Dan seniman tidak pernah mengenal kata pensiun atau golden age (usia emas dalam berkarya). Keberadaan atau eksistensi seniman akan diukur oleh kemampuannya untuk terus menghasilkan karya. Dan kualitas seniman antara lain dapat dipertimbangkan dari seberapa besar dia secara kreatif menggali kebaruan-kebaruan dalam karyanya.

Pameran ini bukan sekadar mengeluarkan ekspresi “tanda rasa” namun juga memberi indikasi kuat bahwa ada tanda untuk ingin terus mengada. Selamat datang kembali, mas Kristiyanto. Waktulah yang akan bicara… ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa, pengelola situs www.indonesiaartnews.or.id
Karya Zheng Lu di ArtStage Singapura, 2016. (foto: kuss indarto)

Ini karya seni dengan eksekusi yang rumit dan njelimet atas konsep yang sederhana. Zheng Lu, seniman kelahiran Chi Feng, pedalaman Mongolia yang kini menetap di Beijing, China melakukannya dengan penuh keseriusan.

Dia menggali dan menuliskan kembali teks-teks dan puisi yang berbalut sejarah China. Teks-teks yang terdiri dari ribuan huruf lokal China itu dituliskan di atas lempeng logam yang telah dibentuknya sesuai ide besarnya, yakni alur atau buncahan air. Huruf-huruf tadi--setelah ditulis di atas logam--kemudian dilubangi dan dipotong outline-nya sehingga seluruh permukaan patung itu terdiri dari jalinan huruf-huruf China yang kecil-kecil yang saling terhubung satu sama lain. Terakhir, seluruh permukaan patung dilapis dengan "chrome" berwarna perak hingga gilap.

Zheng Lu, seniman kelahiran tahun 1978 yang menyelesaikan studi seni rupanya di kota Shenyang (2003), Beijing (2006), dan program advanced di Paris (2006) ini menyempurnakan karya bertajuk "Water Dripping - Splashing" ini dengan proses pemajangan yang tak kalah rumit--namun menarik hasilnya. Perlu ratusan senar untuk menggantung semua elemen karya membentuk formasi serupa gelombang dan buncahan air. Dalam kepercayaan di China sendiri, air juga menghimpun "ci" (energi) yang bisa positif dan negatif dalam perikehidupan manusia di dunia--seperti angin, tanah dan api.

Empat edisi karyanya yang disatukan itu total memiliki volume 460 x 335 x 290 cm. Tentu, ruang yang dibutuhkan lebih dari itu. Mungkin sekitar 7 x 5 meter, dan menempati satu ruang khusus di booth A7 yang disewa oleh Sundram Tagore Gallery di ArtStage 2016, Singapura, 21-24 Januari lalu. ***