Friday, August 29, 2014

Melihat Ekspresi Watak Bayu


Oleh Kuss Indarto

DALAM sebuah kesempatan, Dr. Rodrigo de Andrade, Direktur do Patrimonio e Artisco National, Brazilia, memberikan komentar pendek ketika menyaksikan pelukis Affandi sedang melukis: “… Sesungguhnya, beliau tidak melukis, (tapi) beliau memberikan dirinya sendiri ke dalam kanvas, dengan tube-tube yang berisi cat pada tangannya, jarinya berfungsi sebagai kuas…” Komentar tersebut dituliskan oleh (almarhum) pelukis Nashar dan termuat dalam katalog “Kata Rasa 100 Hari” untuk memperingati 100 hari kepergian Affandi, yang acaranya berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, tahun 1990.

Saya kira komentar Dr. Rodrigo de Andrade tidaklah berlebihan, bahkan relatif cukup representatif untuk memberi gambaran atas totalitas kesenimanan Affandi ketika berhadapan dengan kanvas. Ketika di depan kanvas, maestro itu benar-benar terlihat tengah menggeluti dunia yang menghidupi diri dan reputasinya, juga harga diri dan cecitraan yang melingkunginya.

Realitas ini, bagi saya, seperti sebuah kaca benggala yang utuh bagi Bayu Wardhana yang dengan jujur dan terbuka selalu mengatakan bahwa sosok Affandi adalah idola, hero, serta menjadi dunia imajinasinya tentang figur seniman ideal baginya. Bagi orang-orang di lingkungan (ter)dekatnya, kini, Bayu tampak lebih serius dan khusyuk ketika berhadapan dengan kanvas. Dalam beberapa kali kesempatan yang pernah saya amati, seniman ini mampu melukis on the spot (langsung berhadapan dengan obyek) di luar ruang dengan ketekunan, spontanitas berikut kemampuannya untuk fokus dari awal hingga karya tuntas.

Kesempatan pertama Bayu melukis on the spot terjadi sekitar bulan Mei 2012 lalu di Museum Affandi, Yogyakarta. Ketika itu di gedung barat tengah berlangsung acara diskusi sehari yang berlangsung dari pagi. Ketika diskusi selesai, di halaman museum, beberapa teman seniman merubung Bayu yang sedang sibuk menggarap lukisan. Dia juga banyak “dikepung” berbagai celotehan sekenanya, yang bernada humor penuh ledekan, untuk mengomentari kualitas karya yang tengah dikerjakannya itu. Maklum, itulah debut pertama bagi Bayu melukis on the spot dan dengan tema serta cara ungkap kreatif yang berbeda sama sekali dengan karya-karya sebelumnya, termasuk karya-karya yang dalam pameran tunggalnya di Galeri ISI beberapa waktu sebelumnya.

Debut itu makin memuncak ketika kolektor dokter Oei Hong Djien (OHD), salah satu pembicara dalam diskusi sehari itu, keluar ruangan dan bergabung dengan para seniman yang mengepung Bayu. Kurang lebih dia mengatakan bahwa karya itu tidak jelek dan masih jauh dari bagus. “Namun ada harapanlah…” kata sang kolektor. Kalimat-kalimat itu disambut dengan tawa canda penu celotehan yang meriah. Hingga akhirnya OHD bilang: “Bayu, lukisan itu untuk saya ya!” Maka, makin meriahlah suasana di Museum Affandi kala itu. Dan, tampaknya, “membengkaklah” hati Bayu karena karya di debut awalnya itu direspons begitu jauh oleh seorang kolektor.

Saya kurang tahu persis bagaimana sepak terjang kreativitas Bayu berikutnya secara detil. Namun, hari-hari ini, atau kurang lebih 2 tahun setelah action-nya di Museum Affandi dulu, ratusan karya on the spot-nya telah lahir mengalir dari hati dan tangannya. Ya, saya katakan “dari hati” karena ada keseriusan dari dalam yang diperjuangkannya dengan gigih sebagai seniman yang berusaha merangsek ke atas altar pengakuan dan reputasi.

Bayu sadar bahwa untuk menjadi pelukis dengan pendekatan kreatif yang realistik atau bahkan hiper-realistic bukanlah pilihan yang baik karena keterbatasan kemampuan teknis yang tak mungkin bisa dikejar dalam satu-dua semester. Pameran tunggalnya di Galeri ISI dulu telah menjadi cermin baginya bahwa gaya dan corak lukisan yang begitu realistik bukan dunianya. Itu memang bukan pilihan yang tepat untuk karakter Bayu yang penuh spontanitas seperti dalam perilakunya sehari-hari. Maka, karya-karya lukis dengan gaya dan pendekatan yang ekspresif adalah cerminan dari watak pribadinya yang paling dekat dan karib.

Kini, kita bisa menyaksikan bagaimana sebuah kanvas berukuran sekitar satu meter persegi bisa dilukis dengan tuntas dalam rentang waktu satu-dua jam oleh Bayu. Beragam warna, mulai dari yang diolahnya dari campuran berbagai warna, hingga warna tube yang ngejreng, ditumpahkan begitu saja di atas kanvas. Palet-palet, dan bukan kuas, memberi bantuan untuk membentuk karakter karya Bayu.

Pilihan gaya dan corak lukisan Bayu yang ekspresif seperti ini, memang, telah banyak dilupakan atau tak lagi disentuh oleh banyak seniman di Indonesia—atau setidaknya di Yogyakarta. Kini, gaya melukis ekspresif yang dilakukan secara on the spot tidak lagi menjadi trend karena dianggap telah lewat dan (mungkin dianggap) tidak “kontemporer”. Tapi justru pada titik inilah kehadiran karya-karya Bayu memberi nafas yang cukup berbeda. Tak ada garis-garis atau goresan-goresan yang rapi dalam kanvasnya, karena justru spontanitas garis dan goresannya itu menguatkan impresi atas obyek-obyek yang dibidiknya.

Maka, dalam pameran ini kita bisa menyimak berbagai obyek dari situs-situs dan lokasi yang cukup ikonik di kota Solo dalam spontanitas garis ala Bayu yang ekspresif sekaligus menghasilkan citra-citra yang impresif. Pasar Gede, rumah heritage di kawasan Laweyan, pedagang bunga di Pasar Kembang, suasana kafe Tiga Ceret, gedung Balai Soedjatmoko, gerbang Mangkunegaran, dan sebagainya, dapat direkonstruksi dalam gubahan visual ala Bayu.

Apapun, pameran dan capaian ini merupakan langkah maju bagi Bayu untuk masuk dalam peta perbincangan seni rupa. Namun, ada hal yang harus disadari oleh Bayu dari sekarang bahwa karakter karya on the spot tersebut—seperti yang telah terjadi dalam lintasan sejarah—lebih banyak akan menghasilkan capaian dari aspek eksotisme visual saja. Karya semacam ini, kadang, lebih banyak berbicara tentang soal teknis dan eksotisme semata. Aspek lain, yakni substansi, berupa kritik, ironi, satir, dan sebagainya, jarang tersentuh di dalamnya. Nah, apakah Bayu masuk dalam dua kemungkinan—aspek visual dan substansi—pada karya-karyanya kelak? Apakah ini menyangkut soal proses, atau soal pilihan? Kita tunggu saja. Selamat berpameran. ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa, tinggal di Yogyakarta.
(Catatan singkat ini dimuat dala katalog pameran tunggal Bayu Wardhana, "SOLO", 26-31 Agustus 2014 di Balai Soedjatmoko, Solo).

Wednesday, August 20, 2014

Karya Seni dalam/untuk Masyarakat



Oleh Kuss Indarto
 

Beberapa karya Endeng Mursalin dalam pameran kali ini, terutama lukisan tentang potret dirinya sendiri, memperlihatkan potongan kepeduliannya pada problem sosial politik yang tengah berkembang dalam perbincangan masyarakat. Pada 2 lukisan berwarna di antara karya lainnya terlihat di sana potret diri Endeng yang tengah teriak lantang. Mulutnya terbuka, sebagian giginya tampak, dan di tubuhnya seperti berada dalam kepungan berbagai persoalan seperti masalah impor yang menusuk daya kemandirian bangsa, dan lainnya.

Karya seperti ini, bagi saya, seperti mengingatkan pada karya-karya perupa kontemporer China, Yue Minjun. Pada sebuah kurun waktu tertentu karya-karyanya seperti stereotype, seragam, monoton, namun ternyata membawa konsep kreatif yang sangat kritis. Minjun menampilkan potret dirinya yang tertawa dalam gubahan visual yang komikan, seperti komik atau kartun. Gigi-giginya berderet tidak wajar jumlahnya, yakni total hingga 60-an gigi. Lalu di batok kepalanyalah dia sering memain-mainkan bentuk visual yang penuh satir. Kadang ada kapal bergerak di sana, dan lainnya.

Karya Minjun, seperti halnya pada karya-karya Endeng (seperti yang saya sebut di atas) punya kecenderungan sebagai karya synical realism, yakni karya seni rupa yang bercorak realisme dengan muatan yang sinis, terutama ketika berbincang tentang soal sosial, politik dan kemasyarakatan. Ini karya seni rupa yang substansinya berupa komentar politik mewakili pribadi atau kelompok seniman yang kritis terhadap masalah di sekitarnya.

Saya kira karya lukis Endeng Mursalin ini tidak hadir secara tiba-tiba atau muncul dari sebuah ruang hampa. Dia menyeruak dari kepengapan sosial yang dikeluarkan oleh pribadi seniman yang kritis. Endeng adalah adalah salah satu makhluk sosial (homo socius) yang mencoba berteriak dengan kritis lewat posisinya sebagai makhluk seni (homo ars). Teriakannya menjadi karya seni yang bisa dicermati sebagai perwakilan isi hati sebagian masyarakat di sekitarnya. Protesnya bukanlah aksi yang berpotensi anarkhis, merusak tatanan hidup masyarakat.

Aksi seni rupa seperti ini nyambung dengan bentuk kreatif Endeng lainnya yakni ketika dia melakukan aksi performance arts (seni rupa pertunjukan) di ruang publik untuk menyikapi kasus orang kecil yang dipidana karena mencuri sandal di sebuah masjid, dan aksi seni lainnya. Saya berharap aksi seni yang kritis dari Endeng ini, baik di jejalanan atau di ruang pameran ini menemukan gelombang resonansi yang selaras dengan garis opini masyarakat di sekitarnya, sehingga masyarakat dapat menikmati kekayaan bentuk kritik yang kaya dan variatif dalam masyarakat. Selamat berpameran!Description: https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif 

(Catatan singkat ini untuk mengiringi pameran tunggal Endeng Mursalim, 18-30 Agustus 2014, di Pali, Sulawesi tengah)


Sunday, August 10, 2014

GEGAR BIROKRASI


KASUS pengunduran diri Lasro Marbun sebagai Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, tampaknya tak bisa dibaca secara sederhana. Ini sebuah sinyalemen juga simbol penting bahwa ada perlawanan dari dalam tubuh birokrasi untuk menolak banyak perubahan, atau apalagi revolusi. Sinyalemen ini semakin meneguhkan apa yang telah dikatakan oleh Gus Dur sekitar Oktober 2001 lalu saat mengawali jabatannya sebagai RI-1 dulu bahwa ada 2 tubuh besar yang perlu direformasi besar-besaran: (1) birokrasi pemerintahan yang gemuk, lamban dan penuh belitan, serta (2) militer yang mesti dikembalikan ke barak, bukan banyak bermain di ranah (pemerintahan) sipil.

Kesadaran seperti Gus Dur tampaknya juga dipahami betul oleh pasangan Jokowi-Ahok ketika memimpin salah satu propinsi terkaya dan terkompleks permasalahannya di Indonesia ini. Pembenahan dalam birokrasi di DKI Jakarta oleh Jokowi-Ahok terlihat cukup kentara. Dalam 1,5 tahun pemerintahan mereka setidaknya ada 3 kepala dinas (tingkat propinsi, tentunya) dan 1 walikota yang dicopot karena kinerjanya yang dianggap tidak seturut dengan gagasan besar Jokowi-Ahok dalam mengefektifkan roda birokrasi. Lalu ada upaya melelang jabatan untuk pejabat setingkat camat dan lurah untuk mengurangi “sistem urut kacang” yang acap kali memupus harapan orang atau birokrat cerdas untuk duduk di jabatan tersebut karena kalah senioritas atau kurangnya masa pengabdian.

Kebijakan Jokowi-Ahok untuk memasang orang-orang yang idealis dan segaris pemikirannya ke dalam posisi penting dalam birokrasi, nyatanya menggerahkan tubuh birokrasi itu sendiri. Kasus Lasro Marbun, sekali lagi, mempertontonkan penolakan dan resistensi tubuh birokrasi yang kurang doyan dengan perubahan, efektivitas kerja pelayanan masyarakat dan sebagainya. Beberapa pencapaian Lasro yang antara lain menyelamatkan dana Rp 2,4 T karena adanya anggaran ganda di Dinas Pendidikan, dan beberapa temuan penyelewengan anggaran, pastilah akan membuat birokrasi di dinas itu gonjang-ganjing.

“Gegar birokrasi” seperti itu dimungkinkan akan terjadi kalau pemerintahan Jokowi (dan JK) akan menerapkan pola dan sistem yang telah dicoba di Solo dan DKI Jakarta. Apalagi dengan tegas Jokowi pernah menyatakan bahwa reshuffle kabinet atau penggantian menteri akan sewaktu-waktu terjadi kalau ada ketidakberesan pada kinerja seoran menteri. Maka, sangat mungkin “gegar birokrasi” di Indonesia akan banyak terjadi dalam 5 tahun ke depan. Jokowi banyak memberi tekanan pada para pejabat di posisi-posisi strategis, dan lalu para pejabat (dengan kebijakan perubahan) itu banyak mendapat perlawanan dari tubuh birokrasi seperti yang dialami oleh Lasro Marbun di Jakarta.

Akhirnya, ini menyangkut soal daya tahan kebijakan, dan soal ketegasan seorang pemimpin. Ah, tampaknya, lakon ini akan seseru nonton tokoh polisi New York, Eliot Ness (diperankan oleh Kevin Costner) dalam film “The Untouchable” (1987) yang harus berdarah-darah memerangi tokoh gangster kelas kakap, Al Capone (Robert de Niro), sekaligus atasannya sendiri yang korup, Jim Malone (Sean Connery). ***