Saturday, February 22, 2014

Berhentinya Garis Sun Ardi

MENJELANG pukul 16.00 WIB, Rabu, 19 Februari 2014, akhirnya, jenazah almarhum Drs. Sun Ardi SU dikebumikan di pemakaman seniman-budayawan, Giri Sapto, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Posisi makam untuk Sun Ardi persis bersebelahan dengan makam adik kandungnya yang juga seniman, mendiang Drs. Suatmadji Dwijowidarso MSn yang meninggal dan dimakamkan tepat sebulan sebelumnya, yakni 18 Januari 2014.

Ratusan pelayat turut menghantar mantan Dekan Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta ini hingga di peraduannya yang terakhir. Tampak di pemakaman Giri Sapto itu sosok istri tercinta, St Sumarmie, beserta anak semata wayangnya, Desi Nur Wulandari. Juga ada Edhie Sunarso, pematung senior yang membuat Tugu Pancoran, Tugu Selamat Datang di Jakarta. Ada pula salah satu adik kandung Sun Ardi yang lain, seniman Suminto. Terlihat takzim mengikuti prosesi pemakaman seperti para akademisi seni dan seniman Risman Marah, Agus Kamal, Andang Suprihadi, Age Hartono, Nasirun, Godod Sutedja, Mahyar Suryaman, Ichwan Noor, Heddy Haryanto, Dicky Chandra, Komroden Haro, hingga mantan wakil bupati Bantul yang kini melukis, Totok Sudarto. Sekian banyak perupa yang berusia relatif muda juga tampak di situ: M Sini, Yaksa Agus, Eddy Sulistyo, Rujiyanto, dan lainnya. Begitu juga para mahasiswa-mahasiswi ISI Yogyakarta.

Sebelum dikebumikan, jenazah diberangkatkan dari rumah duka di Gang Sadewo nomer 27 A, Ketanggungan, Wirobrajan, Yogyakarta menjelang pukul 15.00 WIB, menuju ke kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, di Jalan Parangtritis km 6,5 Bantul, Yogyakarta. Di kampus tempat almarhum mengabdi sebagai dosen tersebut diadakan upacara penghormatan terakhir yang dihadiri ratusan sivitas akademika. Prof. Dr. Hermin Kusumayanti, Rektor ISI Yogyakarta, memimpin langsung upacara singkat tersebut. Profesor Hermin didampingi oleh para Pembantu Rektor seperti Drs. Syarifudin MHum, Dr. M. Agus Burhan, Dekan Fakultas Seni Rupa Dr. Pratiwi, Direktur Pascasarjana ISI Yogykarta Dr. Djohan Salim, dan lainnya. Tampak pula Prof.Dr. M. Dwi Marianto MFA, Djoko Pekik, Dr. Timbul Raharjo, dan banyak akademisi serta tokoh seni lain.

Menurut koleganya, Risman Marah, Drs. Sun Ardi SU meninggal setelah mendapat serangan jantung sekitar 4 jam sebelumnya. Pegrafis yang masih aktif berkarya ini sempat dirawat di ruang ICU RS Ludiro Husodo. Namun, jiwanya tak tertolong lagi sekitar pukul 00.00 WIB atau Rabu dinihari. Lelaki sepuh itu wafat dalam usia 74 tahun 4 bulan. Sebelum ini, memang, Sun Ardi sudah bolak-balik masuk ke rumah sakit untuk check up kondisi jantungnya.

Sun Ardi dan SunardiDrs. Sun Ardi SU lahir di Kadipaten, Yogyakarta pada 18 Oktober 1939, anak seorang guru Sekolah Rakyat (SR), Raden Wedana Dwidjowidarso. Dia merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ada 3 dari empat adiknya yang kemudian juga terjun menggeluti bidang seni rupa, yakni Suminto, Sri Nuryanti (juga pegawai di Kementerian Perindustrian), dan almarhum Suatmaji (dosen di Jurusan Seni Rupa, UNS, Solo).

Sun Ardi sendiri awalnya masuk kuliah di PTSP (Perguruan Tinggi Staf Perkebunan, sekarang STIPER) di bilangan Semaki, Yogya, setelah merampungkan SMA Bagian A, Taman Madya, Tamansiswa. Namun itu hanya bertahan selama setahun. Impian keluarga agar dia menjadi seorang sinder perkebunan pupuslah sudah. Sun Ardi muda kemudian masuk ke ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Bagian IV Jurusan Reklame, Dekorasi, Ilutrasi dan Grafik, yang ditempuhnya mulai tahun 1959 dan lulus sarjana muda tahun 1964.

Selepas lulus, Sun Ardi diangkat menjadi dosen di perguruan tempatnya belajar. Pada kurun awal menjadi dosen inilah dia melanjutkan jenjang strata 1 (sarjana S1) yang juga diselesaikannya di kampus yang sama, yang berubah dari ASRI menjadi STSRI “ASRI”. Ayah satu anak dan dua cucu ini mengaku lambat menyelesaikan studinya, hingga tahun 1975 atau 7 tahun, karena nyambi kerja dan berbagai kesibukan lain. Salah satunya adalah ketika antara tahun 1970-1971 dia mendapat bea siswa untuk mempelajari tentang disain di Jepang. Kesempatan ini diperolehnya dari lembaga Asia Bunka Kaikan. Di sana Sun Ardi magang di sebuah perusahaan periklanan yang waktu itu begitu moncer, Mizumakobo.

Beberapa waktu sebelum keberangkatannya ke Jepang, dia mendapatkan SK (Surak Keputusan) yang penting dari Jakarta. Kala itu, SK ditulis memakai mesin ketik manual. Saat menerima, ternyata ada kekeliruan penulisan: bukan SUNARDI seperti yang diberikan oleh orang tuanya, namun menjadi SUN ARDI (ada spasi antara huruf N dan A). Sepertinya ada kesalahan penulisan dari Jakarta. Namun karena surat keputusan itu penting bagi karier selanjutnya, mau tak mau, dia harus memakai “nama baru” itu demi menjaga konsistensi identitas pada dokumentasi-dokumentasi berikutnya. Jadi, itu bukan nama “gaya-gayaan” dalam kapasitasnya sebagai seniman. Tapi lebih karena “kecelakaan” penulisan administratif.

Sekembali dari Jepang, dosen muda itu mengajar di kampus STSRI “ASRI” dan nyambi menjadi tentor di PLLA (Pusat Latihan Lukis Anak) di gedung Senisono (sekarang menjadi bagian dari Gedung Agung, Yogyakarta). Di PLLA ini posisi Sun Ardi membantu tokoh Tino Sidin yang telah focus mengajar seni lukis anak di Yogyakarta. Perannya sangat penting karena Tino Sidin sendiri mengaku kurang paham dan mampu membuat organisasi yang baik, maka Sun Ardi menjadi sosok yang sangat dibutuhkan untuk mengisi celah kekurangan tersebut. Ketokohan Tino Sidin begitu kuat dan disiplin kemampuannya dibutuhkan. Maka TVRI Stasiun Yogyakarta membuat program “Mari Menggambar” yang berlangsung dua kali dalam sebulan, disiarkan tiap sore hari.

Ketika popularitas pak Tino Sidin dan programnya kian menjulang, TVRI Pusat Jakarta kemudian juga membuat acara serupa, dan Tino Sidin dijadikan master utama untuk tampil dalam acara itu. Dari situlah kata-kata “Yak, bagus…” tidak sekadar terkenal di pusaran Yogyakarta, namun hingga seantero Indonesia. Dan posisi acara di TVRI Stasiun Yogyakarta yang ditinggalkan oleh Tino Sidin diestafetkan kepada Sun Ardi. Itu terjadi sekitar paruh kedua dasawarsa 1970-an. Sun sendiri turut mengelola PLLA hingga tahun 1982. Dia sesekali mengenang para muridnya yang sempat ikut program melukis di PLLA dan kini telah dewasa serta menjadi orang-orang ternama, di antaranya Prof.Dr. Anggito Abimanyu, Dr. Lono Simatupang, Ir Hastungkoro MHum. yang sempat menjadi Kadinas Perindustrian DIY, dan masih banyak lagi.

Menikah yang Tertunda
Jenjang karier di jalur birokrasi akademik Sun Ardi tampak sejak awal. Setidaknya pada taun 1979 telah menjadi Ketua Jurusan Seni Grafis STSRI “ASRI”. Dia juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta (nama baru setelah STSRI “ASRI” lebur bersama ASTI dan AMI Yogyakarta), bahkan selama 2 periode, yang dimulai tahun 1993 hingga tahun 2000. Posisi Dekan FSR ISI Yogyakarta ini menggantikan dekan sebelumnya, S Narno yang pada tahun 1993 menjabat sebagai Pembantu Rektor III. Di samping itu, Sun Ardi juga berperan menjadi pionir perintisan pembentukan Jurusan Seni Rupa di Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa Yogyakarta. Peran ini seperti sebuah balas budi karena pada masa remajanya dibentuk dan dididik di lingkungan pendidikan Tamansiswa.

Di jalur akademik, Sun Ardi merasa perlu, juga atas desakan kampus, untuk melanjutkan studi tahap lanjut yang memang menjadi tuntutan penting bila ingin terus berkarier di dunia akademik. Dia masuk sekolah lagi tahun 1983 untuk tugas belajar dengan mengambil jalur strata 2 di bidang sejarah kebudayaan di Universitas Gadjah Mada. Lima tahun kemudian, tahun 1988, gelar SU (Sarjana Utama) diperolehnya. (Kini, gelar SU tak ada lagi, telah diganti menjadi MHum, Magister Humaniora). Selepas itu, berkali-kali dosen pembimbingnya di UGM, seperti Prof.Dr. Ibrahim Alfian, membujuk-bujuk Sun Ardi untuk meneruskan studi di strata 3. Sun Ardi mengaku mencintai dunia ilmu pengetahuan, ingin tetap belajar, namun untuk menempuh studi lagi terasa berat.

Pada sisi kehidupannya yang lain dan yang lebih penting, ya di jenjang pernikahan, Sun Ardi baru menikahi St Sumarmie pada 4 September 1983 ketika usianya telah menginjak 43 tahun. Sebenarnya, proses tunangan telah dilakukan jauh sebelumnya, yakni menjelang keberangkatannya menuju tugas belajar ke Jepang tahu 1970. Kesibukannya sebagai birokrat kampus, juga tanggung jawabnya terhadap 4 orang adik yang juga harus dibantunya, tampaknya membuat proses menikah tak disegerakannya.

Sebagai seniman, Sun Ardi sebenarnya masih terus bergerak berkarya. Terlebih ketika pensiun dari tugas kedinasannya di ISI Yogyakarta. Bahkan, pada 21 Februari hingga 7 Maret 2012 lalu dia sempat berpameran tunggal di Posnya Seni Godod milik Godod Sutedja, Yogyakarta. Kala itu pamerannya bertajuk “Dance with Line #2” yang mengetengahkan puluhan karya-karya lukis grafis dan drawing karyanya, baru dan lama. Sesekali, kalau bertemu dengan penulis, eyang dari dua cucu ini dengan ramah menyalami dan mengobrol hangat, sambil mengingatkan, “Kalau ada kesempatan pameran, aku diajak ya. Aku punya karya baru…” Energinya masih “muntup-muntup”, penuh gelora untuk terus berkarya. Tapi keputusan Tuhan sudah tak mungkin ditolaknya. Garis-garis kehidupannya sudah digariskan untuk berhenti pada titik 19 Februari 2014.

Sugeng tindak, Pak Sun Ardi. Mugi-mugi tinemu margi ingkang padhang kaliyan kebak kamulyan ing sisihing Gusti Allah. Selamat jalan, Pak Sun Ardi. Semoga menemukan jalan terang dan penuh kemuliaan di sisi Gusti Allah. Amien. ***


Materi tulisan ini banyak dibantu oleh tulisan Purwadmadi dalam katalog pameran "Dance with Lines #2"