Friday, December 09, 2011

Biennale yang Lupa Akar



Sebuah karya vido art yang ada dalam venue Taman Budaya Yogyakarta dalam Biennale Jogja XI-2011. (foto: kuss)

Diambil dari www.indonesiaartnews.or.id

BIENNALE Jogja XI-2011 telah dimulai dengan “mengejutkan”. “Mengejutkan” karena justru tidak sedikit para perupa di Yogyakarta yang terkejut karena tidak mengetahui keberlangsungan perhelatan besar seni rupa di Yogyakarta bahkan di Indonesia itu. Indonesia Art News mencoba melakukan interviu tertulis dengan banyak narasumber tentang peristiwa Biennale Jogja XI-2011 ini. Namun dengan terpaksa harus mengganti beberapa narasumber karena mereka tak bisa memberi jawaban dengan beberapa alasan. Ada yang mengakui tidak tahu kapan pembukaannya. Ada yang diam mencari aman. Ada pula yang mengaku belum menonton meski pertanyaan diberikan setelah Biennale Jogja XI-2011 dibuka secara resmi oleh Sultan Hamengkubuwono X pada hari Sabtu, 26 November 2011.

Berikut hasil interviu yang dijaring dari beberapa narasumber dengan beberapa latar belakang yang dimungkinkan bisa dibaca sebagai sebuah “representasi” kecil. Ada Yuswantoro Adi dan Yaksa Agus yang keduanya adalah perupa yang masih aktif berkarya. Lalu ada Rusnoto dan Rain Rosidi yang dikenal sebagai kurator juga akademisi yang menetap di kawasan Yogyakarta. Lalu ada Andy Dewantoro, salah satu peserta Biennale Jogja XI-2011 kali ini. Dan Fuska Sani Evani, seorang jurnalis professional.

Menurut Anda, adakah hal yang baru dan menonjol dalam perhelatan Biennale Jogja (BJ) XI-2011 ini?

 
Yuswantoro Adi:
Yang baru kuratornya, yang menonjol ketidakjelasannya.

Rusnoto:
Internasional? Saya sangat setuju dgn semangat mewujudkan gagasan besar ini tentunya. Yang paling menonjol pada BJ XI-2011 mencoba membangun jejaring dengan memaksakan proses internasionalisasi yang justru menampakan beberapa titik lemah yang luput dari pencermatan tim kurator, dengan mengundang beberapa seniman India yang tidak cukup merepresentasikan pencapaian internasionalisasi itu sendiri.

Yaksa Agus:
Biennale Jogja dengan wacana internasional sesungguhnya telah lama didengung-dengungkan dan mulai Biennale 2005 dengan tema "The Here and Now" adalah awal dari perhelatan Biennale jogja dengan mengundang seniman dari luar negara.

Rain Rosidi:
Yang baru dan menonjol dan menarik bagiku pada biennal kali ini adalah bahwa semangat untuk menginternasional dilakukan dengan cara yang ciamik, bukan dengan cara-cara "pseudo-internasional", seperti dengan cara mengundang seniman luar negeri yang asal comot. Tapi pilihan untuk melakukan biennal dengan fokus satu negara menjadi pilihan untuk menyatakan diri sebagai biennal internasional dengan cara yang tidak memaksakan diri tapi sekaligus bisa menjadi bagian dari gagasan kuratorial. Apalagi dengan negara seperti India, tentunya banyak yang hal menarik dari sana.

Andy Dewantoro:
Hal baru menurut saya ada, yaitu pemilihan seniman yang saya rasa fresh sehingga karya yang ditampilkan sedikit fresh dan berbeda, dan banyak seniman muda yg sedikit memberikan warna berbeda serta eksplorasi yang dinamis untuk bienalle kali ini. Dan tentunya dengan adanya peserta dari India yang membuat acara kali ini terkesan unik.

Fuska Sani Evani:
Ada hal yang menonjol, yakni serba India.

BJ selama ini seperti banyak pro-kontra tapi tetep didukung kuat oleh publik seni rupa di Jogja. Masih kuatkah situasi itu pada perhelatan kali ini?
 

Yuswantoro:
Kali ini banyak perupa yang bilang: gak kuat deh, tapi saya percaya seni rupa di jogja selalu punya publik.

Rusnoto:
Pada dasarnya publik seni rupa di Jogja memiliki karakteristik dan kekuatan yang spesifik dalam mendukung suatu perhelatan seni rupa lepas dari persoalan pro-kontra, meski saat ini dapat ditangkap tidak cukup antusias. Soal kekuatan daya dukung pada BJ XI-2011 mestinya menyatakannya dengan data otentik sebuah survei yang berimbang namun spekulasi saya saat ini ada gejala 'melemah' yang kurang harmoni dalam proses penyelenggaraan dan serasa BJ kali ini kurang 'ngomah', membumi serta banyak hal yang berkaitan dengan proses sosialisasi dan rekruitmen yang tampaknya memiliki jarak dg semangat kemelekatan sebuah event penting ini. Peran kurator Alia Swastika dan Suman Gopinath kali ini yang terasa dingin dan berjarak dengan publik seni rupa Jogja juga bisa dicermati kembali dalam membangun relationship ' secara emosional' dengan semua stakeholder salah satunya. Sehingga pada proses pemetaan menjadi terpotong dan terbelah-belah. Cukup signifikan jumlah seniman Jogja yang sudah menginternasional justru tidak terundang, kurang bersemangat atau malah menolak berpartisipasi dalam perhelatan ini dengan berbagai alasan.

Yaksa Agus:
Biennal Jogja, apapun hasilnya adalah tetap milik seni rupa jogja. Akan di dukung segala lapisan seniman jogja. Pro kontra telah muncul sejak Bienal Jogja I tahun 1988. Toh, Biennal JoGja lahir sebagai pemberontakan atas Bienale Seni Lukis Jakarta kal itu yang sistem penjuriannya dianggap menyimpang kala itu. Tetapi pada praktiknya Biennale Jogja tahun 1992 juga mendapat reaksi BINAL-nya Heri Dono, dan kawan-kawan. Pro-kontra akan selalu muncul dalam pelaksanaan perhelatan Biennale Jogja karena memang populasi seniman di jogja yang mencapai ribuan yang semuanya ingin jadi super star.

Rain Rosidi:
Pro kontra BJ pada biennal kali ini lebih terasa di kasak kusuk yang terjadi di para seniman, misalnya mengenai kualitas penyelenggaraan dan sebagainya. Sebenarnya hal itu patut disayangkan, mengingat biennal sudah mencoba memperbaiki kinerjanya dengan mendirikan lembaga (yayasan), yang harapannya mampu merampungkan itu semua (misalnya keluhan waktu yang mepet dari kurator, kurangnya publikasi, kesalahan kecil dalam poster atau undangan, kurangnya informasi di lapangan, dan sebagainya). Melihat publikasi acara, dan sempat ikut dalam beberapa kali persiapan acara bienal kali ini, saya sudah membayangkan pameran bienal kali ini bakal berwatak ‘dingin’, kalem, dan tidak heboh dan atraktif, sesuatu yang biasanya ditemui dalam even-even pameran besar di jogja. Bagi publik seniman jogja yang dengan semena-mena aku tuduh belum terbiasa dengan karya-karya yang seperti itu, tentu akan banyak suara-suara yang menuduh bienal yang ‘sepi’, anyep, kurang greget, dan sebagainya. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara untuk membawa muatan yang kalem ini ke publik dengan berbagai cara, terutama dalam hal mediasi dan publikasinya. Kalau toh, seniman berasal dari kalangan yang sangat ekslusif, even yang diselenggarakan oleh negara dengan biaya APBD ini juga seharusnya menjadi milik masyarakat, minimal sebagai konsumennya. Ada keterhiburan, atau kebangaan masyarakat ketika merasa memiliki biennal jogja.

Andy Dewantoro:
Menurut saya pro dan kontra itu suatu kewajaran dalam mengadakan sebuah acara dan sangat di perlukan sekali dukungan perupa lokal, terurtama para perupa senior dalam acara ini mutlak penting, mengingat mereka sudah berpengalaman dalam Bj terdahulu, dan kita tahu bahwa BJ kali ini adalah yang ke 11. Masukan dan pendapat serta dukungan perupa senior sangat di perlukan untuk bekerja bersama2 sehingga terjadi suatu kebersamaan dan kekeluargaan.

Fuska Sani Evani:
Saya melihat tidak mayoritas. Karena banyak kawan seniman papan atas di Yogya, yang justru tidak terlibat, entah tidak dilibatkan atau enggan melibatkan diri. Pertanyaan itu sebaiknya ditujukan pada seniman. Menurut saya, sah saja, karena munculnya gab yang tidak bisa dibendung di antara seniman sendiri. Jadi kalau ada yang mendukung full perhelatan kali ini, mereka adalah yang dalam ring tersebut.

BJ kali ini mencoba menginternasional dengan menghadirkan seniman dari India. Apa titik penting dari fakta ini?
 

Yuswantoro Adi:
Kalo ukuran nginternasional hanya dengan menghadirkan orang asing, kenapa gak ngajak turis di sosrowijayan atau prawirotaman ja bung? Menjadi internasional adalah manakala kita bisa menarik yang asing/bangsa/negara lain/pokoknya orang sak dunia menaruh perhatiannya kepada kita bukan sekadar menaruh orangnya di acara kita.

Rusnoto:
Kenapa ketika memiliki konsep internasionalisasi kita tak mampu mengundang seniman kontemporer yang paling representatif secara internasional yang belakangan dibicarakan dalam wacana seni rupa kontemporer Asia maupun dunia. Poinnya adalah karena salah satu kurator BJ XI-2011 Suman Gopinath seorang India maka India kemudian dinilai aspek penting sebagai representasi Internasional.

Yaksa Agus:
Tidak ada hal yang penting dalam pelaksanaan biennal kali ini. Bolehlah meminjam kalimat Nindityo yang diucapkan pada sosialisasi biennal 2007 silam bahwa menjadi kurator itu tidak mudah". Dan jika digambarkan, pameran Biennale kali ini tak ubahnya seperti pameran makanan dari India dan Indonesia. Jelas India menghadirkan kare, capati, dengan teh campur susu, sementara Indonesia malah menghadirkan roti keju dengan minuman Coca Cola. Jika ibarat orang yang sedang sholat khiblatmu terlalu ke barat.

Rain Rosidi:
Seperti yang sudah kusebutkan di awal tadi, harapan untuk menginternasional dengan acara seperti ini menurutku lebih ciamik ketimbang memaksa membawa seniman-seniman dari berbagai negara untuk menjadi sebuah bienal internasional. Pilihan India juga menarik, mengingat India adalah negara dengan budaya dan seni yang kuat tapi bukan titik sentral yang selama ini kita bayangkan dalam dunia seni kontemporer.

Andy Dewantoro:
Meningkatkan kerja sama di antara kedua belah pihak, dengan membuka diri melalui bienalle kali ini mengingat banyak persamaan ideologi dan agama serta isu2 politik dan situasi sosial yang hampir sama.Dengan ini di harapkan bisa membuka kerja sama yang lebih luas ke depanya.

Fuska Sani Evani:
Sesungguhnya mengapa kita pusing dengan kata internasional? Biarkan kita menginternasional dengan natural, tanpa harus membuat diri kita keinternasional-lan. Indonesia di mata luar negeri sudah internasional kan? Contoh, kalau seniman kondang kita semacam Eddie Hara, Heri Dono pameran di Australia, bangsa Aussie akan menyebut mereka sebagai seniman internasional bukan? Satu hal, biennale kali ini justru memberikan fasilitas bagi seniman India yang kita belum tahu kualitasnya. Jujur, saya sebagai penulis tidak kenal mereka. Bukan karena sok nasionalis, tetapi background mereka juga tidak terpapar dengan jelas. Hubungannya? Secara konsep BJ sekarang, betul berhubungan atau dihubung-hubungkan. Bukan soal setuju atau tidak setuju, tetapi apa yang disebut tonggak prestasi seniman menjadi semu bahkan bias.

Secara konseptual, apa yang bisa Anda tangkap dari gagasan kuratorial BJ kali ini?
 

Yuswantoro Adi:
Konsep The Equator sesungguhnya cukup menarik, sayangnya kurator BJ lebih bersifat melayani apa maunya asing/internasional/mereka daripada menawarkan apa yg kita/kami/Yogyakarta sudah punya.

Rusnoto:
Konsep kuratorial yang penting dan menarik pada pokok konseptual Festival Equator. Sebuah festival pendukung dan pendamping pameran utama dalam Biennale Jogja / BJ XI 2011. Nama festival ini berasal dari tema besar BJ selama 10 tahun ke depan yakni equator. Sebagai pendukung ia bertujuan (1) memfasilitasi dialog pengetahuan yang disebarkan ke masyarakat luas di luar kesenian sehingga ungkapan seniman dan kenyataan sosial berhadapan, dan (2) memfasilitasi kreativitas sebaran lain dalam masyarakat, dalam kaitan peran mereka membentuk dinamika jogja, baik dinamika kesenian maupun kebudayaan masyarakatnya secara lebih luas. Dengan dua tujuan itu estetika yang diambil Festival Equator 2011 bukan hanya estetika konvensional, yaitu pementasan. Estetika festival juga bersifat praktik penyebaran dan dialog nilai-nilai pengetahuan sehari-hari lewat berbagai proyek bersama masyarakat. Singkatnya, festival ini adalah saat bagi masyarakat Jogja untuk ikut merayakan Biennale Jogja XI 2011 dengan cara mereka sendiri. [dikutip: konsep Festival Equator BJ XI-2011]
Nah, konsep kuratorial ini yang cukup penting dan khas.

Yaksa Agus:
Konsep biennale kali ini seperti tender sebuah proyek yang akan digarap selama 10 tahun (5 Kali biennale). Ingin internasional tapi lupa akar.

Rain Rosidi:
Dalam even besar dengan peran kurator yang juga besar seperti kali ini, aku kira kurator punya wewenang untuk memberikan fokus dan dasar pemikiran pada event sebesar biennal. Eksekusi dari fokus yang diajukan juga akan berimbas pada pilihan-pilihan seniman siapa yang diajak serta dan bagaimana karya-karyanya ditampilkan. Yang aku lihat tata cara pilihan seniman itu dilakukan dengan riset melalui pola-pola yang standar dilakukan oleh para pelaku art work di Indonesia, jadi nama-nama yang muncul adalah nama-nama yang tidak berkorelasi secara langsung dengan tema atau fokus bienal, tapi nama-nama yang muncul karena eksistensi keberadaan senimannya dalam kancah dunia seni di Indonesia. Tidak ada tawaran kreatif dalam nama-nama seniman yang muncul. Event sekelas bienal tentunya berhak menentukan standar peserta yang ikut, tetapi saya kira bisa dilakukan dengan berbagai cara, bukan sekadar dari gegap gempitanya acara kesenian di galeri-galeri, persitiwa-persitiwa seni, dan bursa lelang. Karya-karya seniman India lebih terasa korelasinya dengan tema yang ditawarkan, bahkan terlihat lebih menjiwai beberapa point yang ada di kuratorial, karena jalur kreatif para seniman itu mungkin sudah dalam persoalan-persoalan itu.

Andy Dewantoro:
Adanya persepsi yg berbeda dari para seniman kedua negara ini dalam menanggapi keadaan sosial yg terjadi pada masa sekarang yg menyangkut, isu religiosity, keberagaman, dan kepercayaan.

Fuska:
Pertanyaan keempat: sepanjang perhelatan BJ punya karakter yang berbeda. Itulah alam demokrasi, seni pun tak lepas dari demokrasi yang 'mempolitik'.


Secara umum, apa yang bisa "rasakan" dari perhelatan BJ kali ini?
 

Yuswantoro Adi:
Lama-lama BJ akan menjadi semacam event seni rupa di FKY (semakin dianggap tidak penting) jika ia hanya rutinitas dua tahunan tanpa ada something special yg bisa "dirasakan" bersama

Rusnoto:
Maaf, gaungnya makin melemah, seolah bukan pesta seni 2 tahunan seni rupa Jogja, presentasi karya canggung dan totalitasnya berkurang sehinga tidak cukup signifikan untuk memetakan kembali kualitas gagasan sebagai representasi seni rupa Jogja, Indonesia maupun Internasional. Satu hal lg proses acara opening terkesan agak jadul dan bertele-tele. Ada satu ilustrasi;  ada seorang pelukis yang memiliki kapasitas kesenimanan baik bertanya melalui chattroom FB.
"ada bienalle ya, om. Wah aku kok sampai gak tahu ya, padahal tetanggaan je acarane... Jian kuper diriku... hahaha"
"Podho mas.. jane sing kuper ki dudu awae dewe mas, jane bienalle yg kuper kurang woro2"
"Mas, nanti pembukaan bienalle dimana mas?"
"Gak tau , tadi telp teman antara TBY/JNM. Ya, sambil jalan jalan ditiliki kabeh hahahaha"
Padahal dia saben malem Facebookan terus dan bongkar2 internet sampai ga tau event penting ini dilangsungkan. bukan kuper aku pikir lebih pada selera teman saya ini rendah terhadap event ini bisa jadi penyebabnya. Pandangan saya bisa saja lemah dan perlu pelurusan kembali.

Yaksa Agus:
Pada Biennal kali ini, paling fatal adalah selain pelaksanaanya adalah publikasinya. Dalam poster di tulis yang meresmikan Biennale Jogja adalah Sri Sultan HB XI. Menulis pemimpinnya sendiri saja keliru, tapi menulis nama duta besar negara lain tidak keliru. Seharusnya , poster itu di tarik dari peredaran dan di ganti dengan yang baru. Selanjutnya jika Direktur Biennale masih punya malu. Beliau mengundurkan diri sebagai tanda permohonan maaf atas kesalahan penulisan nama Sultan HB X menjadi HB XI. Karena pergantian Raja hanya bisa di ganti jika Raja telah wafat. Selanjutnya publikasi melalui media masa yang nyaris kurang. Kalo saya boleh sombong, masak opening Biennale Jogja yang berskala Internasional tamu yang hadir kalah dengan tamu yang hadir dalam Pameran Tunggal saya di Sangkring Maret 2011 lalu. Siapa saya? Siapa Biennale Jogja?

Rain Rosidi:
Bienal jogja itu kalau tidak salah bagian dari kerja rutin TBY (pemerintah) ya? Kalau ya, yang kukira bisa dijadikan catatan adalah tingkat partisipasi aktif masyarakat dalam acara besar ini. Bienal yang lalu mungkin mencoba menyelesaikan masalah itu. Sayangnya perdebatannya tidak diarahkan ke sana, misalnya mengenai tawaran sebuah bienal seni yang diselenggarakan oleh negara dunia ketiga, dengan SENI AGAWE SANTOSA nya. Bienal memang punya hak untuk memberikan gagasan ideal mengenai seni rupa ke masyarakat lewat pola-pola kerja kuratorial yang ekslusif, tetapi hasil akhirnya disajikan benar-benar untuk masyarakat luas, dengan mediasi, publikasi, dan berbagai macam cara untuk mendekati masyarakat luas. Yang aku sayangkan bahkan publikasi dan komunikasi dengan ‘masyarakat seni’nya pun tidak banyak dilakukan. Kalau memang tidak lagi melihat peran sentral komunitas seni dalam meproduksi karya seni, kenapa masih menggunakan pola-pola komunitas seni dalam melihat seniman yang terlibat? Biaya tinggi yang dihabiskan setidaknya bisa menghibur masyarakat, atau membuat mereka bangga sebagai warga jogja atau Indonesia, atau mereka mendapat pengetahuan (karena mereka tidak mungkin menjadi peserta pameran). Komunitas seniman sebagai makhluk pilihan yang bisa memproduksi karya seni harusnya jangan kalah dengan klub-klub sepakbola yang sudah tidak lagi menetek pada APBD. Apalagi seniman seni rupa sebenarnya sudah bisa membangun sendiri infrastruktur dan jaringan ekonominya.

Andy Dewantoro:
Saya rasa cukup

Fuska Sani Evani:
Dari kaca mata penulis seperti saya, memang gaung BJ kali ini terasa hambar. Masyarakat awam pun menjadi asing dengan BJ kali ini. Sebagai wartawan yang biasa menyaksikan peristiwa budaya, menjadi tidak bisa membedakan, antara pameran senirupa biasa dengan sebuah perhelatan besar. Sesungguhnya saya berharap, masyrakat awam pun berkontribusi kepada budaya dan seni, karena untuk membuat masyarakat berseni, tidak lain dan tidak bukan adalah dengan melibatkan masyaqrakat secara aktif. Sekali lagi, bagi saya, BJ kali ini tidak memiliki roh yang nJawani. Lalu apa bedanya dengan Biennale di kota lain. Demikian jawaban saya, ini sangat subjektif, jadi jika ada pihak yang tersinggung, mohon segera membuat anti tesisnya. Ini alam demokrasi, setiap orang punya hak untuk mengeluarkan argumentasi, ide dan kritik. ***

Tuesday, November 08, 2011

Pameran Perupa Borneo yang Tidak “Exotico”

Lukisan "Lelah Mengejar Engkau" (200x145 cm) karya Hajriansyah yang dipamerkan dalam pameran "Neo Borneo Exotico". (foto: kuss)

oleh Kuss Indarto

PAMERAN seni rupa “Neo Exotico Borneo” di Galeri Nasional Indonesia (GNI) itu dibuka Selasa, 25 Oktober dan berakhir 6 November 2011. Ketua Umum PARFI, Aa Brajamusti yang membuka perhelatan ini. Tak ada kejutan apapun. Tak nampak bentuk kreativitas yang berbeda yang menggegerkan. Tapi para perupa dan panitianya justru “geger” sendiri. Para perupa itu mengeluhkan cara kerja EO (Event Organizer) pameran tersebut yang menurut mereka kurang profesional dalam mengemas acara dari hulu hingga hilir. Keluhan itu bersandar pada pengharapan yang besar yang sebelumnya ada saat perencanaan awal itu muncul beberapa bulan sebelumnya. Di tengah-tengah perhelatan berlangsung, saat Indonesia Art News menyambangi pameran itu pada Sabtu, 29 Oktober 2011 lalu, beberapa seniman peserta pameran langsung mengajak “curhat”. Di sana ada M. Husni Thambrin yang berposisi sebagai Ketua Umum Panitia. Ada juga Surya Darma, Sairy Lumut, Akbar Abu, ketiganya perupa dari Balikpapan, Kaltim, juga Nanang M. Yus (Kalsel), dan beberapa lainnya.

Keruwetan Panitia dan EO

Pameran ini dipersiapkan kurang lebih setengah tahun. Tiap propinsi diputuskan ada “penjaga gawang” yang mengatur koordinasi para perupa di wilayahnya. Hajriansyah menggordinasi propinsi Kalimantan Selatan, P. Lampang S. Tandang (Kalimantan Selatan), Surya Darma (Kalimantan Timur), dan E. Yohannes Palaunsoeka (Kalimantan Barat). Dari kalangan seniman itu sudah merencanakan untuk menggunakan kurator, yakni Dr. M. Agus Burhan dari ISI Yogyakarta, dengan mengandaikan pameran lebih serius. Di tengah proses tersebut, kemudian sekretaris panitia, Sujatmiko, mengusulkan sekaligus merekomendasi sebuah EO (event organizer) untuk menangani pelaksanaan pameran agar seniman serius mengurusi karya. Alumnus Seni Lukis STSRI ASRI (d/h FSR ISI Yogyakarta) tahun 1980 yang kini menetap di Kota Gudeg ini mengusulkan nama Godod Sutejo dari Yogyakarta untuk menjadi EO. Dari sinilah, menurut para perupa Borneo itu, trouble (masalah) dimulai. Misalnya, berbeda dengan harapan para perupa tersebut, EO memutuskan untuk tidak memberi porsi adanya kurator dalam pameran. Para perupa menanyakan dari awal, tapi tidak ditanggapi dengan serius oleh EO. Hingga ketika proses persiapan ada di “tengah-tengah”, mereka menanyakan kembali ihwal peran kurator kepada Godod, dan ditanggapi (seperti dituturkan oleh para perupa menirukan Godod) bahwa pekerjaan sudah di “tengah-tengah”, nanti kalau ada kurator akan bubar semua rencana yang telah disusun. Maka, hanya ada teks penulis yang “membaca” karya dalam katalog yang ditulis oleh Purwadmadi Admadipurwa, orang dekat Godod. Pada proses ini sebenarnya juga cukup ruwet: ada panitia yang terdiri dari para perupa, namun juga ada EO, yakni Godod Sutejo dan timnya. Bukan menentukan satu “badan” saja untuk menjalankan perencanaan pameran. Salah satu imbasnya adalah kemarahan Diah Yulianti, perupa perempuan asal Kalimantan Selatan yang kini menetap di Yogyakarta. Pasal kemarahan itu, nama dirinya dicantumkan dalam proposal buatan EO yang memposisikan Diah sebagai bendahara tanpa meminta ijin atau konfirmasi terlebih dahulu. Banyak hal yang menjadi sumber kemarahan Diah seperti yang diungkapkan pada Indonesia Art News Juli lalu, antara lain karena dalam proposal dicantumkan anggaran pameran hingga menyentuh angka Rp 1 milyar lebih. Baginya, ini memalukan kalau hanya bikin pameran yang relatif kecil kok angkanya luar biasa tinggi.

Tak Ada Kucuran Dana

Sementara bagi Husni Thambrin, masalah kembali timbul sekitar awal Juli lalu. Kala itu Godod dan timnya (total 5 orang) datang ke Banjarmasin selama 10 hari (menurut Godod 9 hari). Kedatangan ini berbarengan dengan pembukaan pameran “Barito Sign” yang bermaterikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia dan karya seniman setempat dengan kurator Dr. M. Agus Burhan. Pada kesempatan itu para seniman asal dan yang menetap di Kalimantan Selatan mengajak Godod dan tim melakukan audiensi dengan gubernur Kalsel H. Rudy Ariffin dan gubernur Kalimantan Tengah, Teras Narang. Tapi, menurut Thambrin, proposal belum dibikin oleh tim EO. Jadi, audiensi dengan gubernur hanya dengan mulut saja tanpa dilengkapi proposal. Selepas itu, selama 10 hari tim EO berada di pulau Borneo, menurut Thambrin, tidak melakukan pekerjaan yang jelas dan tersistematika dengan baik. Ada fotografer bernama Pandu (Panduagie? – red)) yang tiap hari memotret namun ketika panitia dan perupa meminta hasilnya malah tidak diberikan. Bagi panitia lokal yang kedatangan tamu hingga relatif cukup lama tentu juga menyita kantong mereka yang tidak terlalu tebal. Hingga akhirnya tim EO meminta pamit di hari ke-10 sekaligus meminta honorarium per-orang per-hari Rp 200.000,-. Permintaan itu ditolak oleh Thambrin karena keterbatasan dana yang ada. Mereka hanya diberi uang saku Rp 2.000.000,- untuk 5 orang dan tentu tiket pesawat ke Yogyakarta yang memang disanggupi dari awal (pergi dan pulang). Dari sinilah tampaknya soliditas panitia dan EO mulai goyah. Apalagi kemudian tidak ada satu pemerintah daerah pun yang mengucurkan dana. Entahlah, mungkin karena proposal yang tak jelas, atau angkanya yang melangit itu. Yang jelas, Thambrin kemudian seperti “bekerja sendiri”. Artinya, peran EO yang sedari awal bisa diharapkan banyak membantu malah kurang maksimal, bahkan cukup menambah masalah. Contohnya soal katalog. Disain katalog tak kunjung selesai seperti yang diharapkan Thambrin. Juga soal harga yang diajukan oleh EO. Katalog berukuran 24x36 cm dengan tebal 124 halaman (termasuk cover) diajukan harga oleh EO sebesar hampir Rp 70.000.000,-. Thambrin kaget karena terlalu mahal. Maka, dia mengambil alih untuk dicetak sendiri di Jakarta. Panitia keberatan karena dana yang masuk masih terbatas. Masih untung ada seorang pengusaha batubara di Banjarmasin yang memberi sponsor Rp 100.000.000,-. Juga beberapa pihak lain yang akhirnya bisa meng-cover pendanaan yang dibutuhkan hingga pembukaan pameran dan pemulangan karya selepas pameran usai. Pada sisi lain, Godod Sutejo ketika dihubungi via telpon oleh Indonesia Art News menolak beberapa hal. Misalnya, pihaknya hanya “ikut menolong saat dimintai bantuan”, bukan event organizer dalam kasus ini. Ini karena banyak hal yang tidak sesuai dengan rencana, terutama pendanaan yang tidak jelas. Tak ada satu pun pemerintah daerah yang mengalirkan dana mengakibatkan semua rencana gagal. Dia kesulitan untuk mewujudkan ide-idenya untuk pameran itu karena dana terbatas. Namun dia mengaku telah menerima dana sebesar kurang lebih Rp 12.000.000,- untuk biaya operasional dalam mendukung pameran “Neo Borneo Exotico”. Lebih dari itu, dia berharap masalah ini tidak berkembang jauh dan dibesar-besarkan.  

Lapis Masalah Lain

Pameran ini sendiri juga menangguk lapis masalah yang lain. Hal yang kentara adalah ihwal pemilihan nama-nama seniman peserta pameran. Ini klasik, namun selalu saja terjadi. Dan pangkal masalahnya kadang sepele dan maaf saja, kadang sangat memalukan untuk diungkapkan. Pada onteks pameran ini, beberapa perupa yang menetap di Kalimantan Timur merasakan “ketidak-adilan” itu. Ada beberapa nama yang dalam beberapa tahun terakhir ini cukup menanjak namanya, setidaknya untuk ukuran Kalimantan, justru terlewatkan tidak diikutsertakan. Misalnya nama Cadio Tarompo atau Ahmad Gani. Cadio Tarompo bahkan menjadi satu-satunya perupa finalis (yang berproses di Kalimantan) dalam kompetisi Indonesia Art Award 2010 dan Jakarta Art Award 2011. Pencapaian ini diabaikan begitu saja. Diduga, Cadio merupakan anggota komunitas seni di Balikpapan yang berbeda dengan komunitas yang digeluti oleh Surya Darma yang berperan menjadi koordinator untuk wilayah Kalimantan Timur. Surya sendiri beranggapan bahwa ini adalah pameran komunitas perupa Kalimantan berjuluk “Borneo”, bukan pameran perupa se-Kalimantan, maka boleh-boleh saja pilihan itu terjadi. Apapun, perhelatan pameran ini bisa saja menjadi preseden yang tak sehat dalam kasus pameran “seni rupa daerah”. Ini bisa menjadi cermin bagus bagi para perupa di kawasan itu muga kawasan lain. Masalah uang dan bagi-bagi porsi seniman selalu mewarnai pameran semacam ini, dan berpangkal pada problem yang tidak menarik. Bukan pada problem yang lebih meninggikan “martabat” mereka, yakni di tingkat konsep dan pemikiran kreatif yang memungkinkan memacu mereka untuk berkembang jauh mengejar ketertinggalan dari kawasan lain seperti, misalnya, di Sumatra Barat atau apalagi dengan kawan mereka di Jawa. Masalah angka-angka dalam proposal yang menyentuh angka Rp 1 milyar itu tentu juga akan bermasalah bagi pihak pemda. Bisa dimungkinkan kalau pemda berpikir bahwa: “alangkah mahalnya dunia seni rupa kalau hanya membuat sebuah pameran ecek-ecek saja membutuhkan uang hingga Rp 1 milyar.” Ini sebuah preseden buruk! Panitia atau EO seperti tidak berpikir logis dan strategis ketika menyebutkan angka-angka itu. Bahwa wilayah Kalimantan itu dihuni oleh pemda-pemda yang kaya: ya! Tapi kalau mengajukan permintaan dana yang fantastis untuk event yang relatif kecil, sungguh sebuah upaya “pemerasan” yang tak perlu mereka kabulkan. Keterlibatan EO Godod dan kawan-kawan ini kiranya juga justru memotong hasrat para perupa Kalimantan untuk bergerak maju. Mereka mulai mengenal proses kuratorial dalam sebuah pameran yang diandaikan sebagai sebuah disain gagasan dan isu hingga praktik kreatifnya. Namun itu seperti “ditolak” oleh Godod cs dengan cara pandang masa lalunya. Ini tercermin, antara lain, pada pengantar pameran yang dituliskan oleh Purwadmadi Admodipurwo yang menyebutkan bahwa: “dialektika kurasi yang sesungguhnya atas karya terpamerkan, ada pada tiap insan penikmatnya.” Logika ini sepintas nampak benar, namun cukup menyesatkan karena mencampur-adukkan antara proses dan istilah “apresiasi” dan “kurasi”. Sayang sekali pemikiran ini masih muncul karena beberapa perupa peserta justru sejak awal menginginkan adanya “guiding” yang memadai lewat proses kurasi atau kuratorial. Apa boleh buat, pameran “Neo Borneo Exotico” masih belum ada yang berbau neo (= baru) dan exotico (eksotis). Masih jalan di tempat tampaknya… ***

Monday, October 24, 2011

Tafsir tentang Pergeseran




Oleh Kuss IndartoPAMERAN ini tidak secara langsung merespons tema kuratorial yang menjadi hal sentral dalam Jatim Biennale IV-2011. Tetapi berupaya memperluas cakupan persoalan yang dijadikan pokok gagasan. “Transposisi” yang secara jelas digagas oleh kurator Agus Koecink dan Syarifuddin antara lain mengekspektasikan para perupa peserta untuk memberangkatkan cara pandang dalam memperkarakan media dalam posisi sebagai subjek, bukan obyek. Dengan posisi seperti itu maka media dipahami bukan semata-mata sebagai material atau “alat bantu” kerja semata, tetapi media diperkarakan esensinya, watak visual dan metafornya, hingga pada nilai-nilai yang ada di dalamnya dalam rangka merepresentasikan gejala sosial yang tengah berubah.

Pemahaman singkat tersebut memang kemudian diasumsikan bahwa sebagian besar, atau kalau bisa, semua perupa seperti “dianjurkan” untuk masuk menggeluti media kreatif baru sebagai bagian dari eksplorasi estetik dan artistik, bukan sekadar eksperimentasi kreatif yang bersifat pengenalan dan masih berharap banyak pada “artistic form by accidental” karena bersifat “mencoba-coba” media baru. Namun bahwa ternyata para perupa di venue(s) lain dalam perhelatan Jatim Biennale IV-2011 ini masih berkutat pada media lama yang dianggap konservatif, yakni karya dua dimensi (seperti lukisan atau drawing), maka pilihan terhadap 34 seniman di venue GO Art Space yang berbasis karya lukis dan fotografi bukanlah usulan yang keliru. Di sini tidak disertakan para seniman yang berkarya dengan basis kreatif performance art, seni instalasi, environmental art, video art, stencil art dan sekian banyak seni rupa “baru” yang lain, meskipun satu-dua seniman di antara kelompok ini sesekali melakukan kerja kreatif pada ranah seni rupa di luar seni lukis.

Justru dengan pilihan terhadap para seniman yang bekerja di jalur kreatif “konvensional”, yakni seni lukis ini, sebenarnya ini bisa menjadi etalase penting untuk membaca secara mendalam nuansa “kerisau” para seniman dengan keterbatasan yang ada dalan dunia seni lukis yang telah digelutinya bertahun-tahun. “Kerisauan” inilah yang sedikit banyak bisa dilacak dari eksplorasi gagasan dalam tiap bentangan kanvas mereka. Dalam “kerisauan” ini kemudian terlihat pendalaman kreatif dimana perupa “meneropong media hingga pada perkara esensinya, watak visual dan metafornya, bahkan pada nilai-nilai yang ada di dalamnya dalam rangka merepresentasikan gejala sosial yang tengah berubah”.

Dari 34 perupa yang terlibat dalam pameran di venue ini, kemudian membaca tema “Transposisi” pada kerangka pandang yang berbeda. Ini sesuatu yang lumrah. Setidaknya ada tiga hasil baca para perupa terhadap sodoran tema kuratorial. Pertama, tema kuratorial dibaca secara “in-version”, yakni ketika para perupa berupaya untuk menetaskan karyanya “tepat” dan “lurus” dalam satu rel yang dihasratkan oleh kurator. Kedua, tafsir yang “out of version” yang mengindikasikan bahwa ada jarak interpretasi yang termanifestasikan dalam karya yang berseberangan dengan gagasan dasar tema. Ketiga, pembacaan secara “subversion”, yakni ketika tema kuratorial sebagai teks awal dibedah dan dikuliti hingga kemudian menghasilkan hasil tasfir yang subversif, begitu dalam membongkar substansi persoalan tematik. Cara tafsir seperti ini tidak saja “tepat” dan “lurus” terhadap tema kuratorial, namun bahkan memberi pengayaan atas gagasan awal. Dalam sebuah pameran seni rupa dengan landasan kuratorial, bentuk interpretasi visual yang “subversion” seperti ini tentu amat diidealkan. Di dalamnya sangat dimungkinkan teks-teks (kuratorial) akan menemukan konteks-konteks yang berelasi secara kuat dan menjadi tafsir baru (dan kaya) untuk menggagas sebuah persoalan.

“Transposisi” ditengarai oleh para seniman dalam pameran ini sebagai sebuah perubahan, sebuah pergeseran, terutama dalam konteks waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, yang lazimnya memberi pengaruh kuat pada pergeseran sistem nilai sosial dan kebudayaan. Dalam perubahan itu kemudian mengerucut pada hal-hal yang terasa banal namun substansial dan selalu terjadi berulang: ada ironi dan kontradiksi. Dua hal ini bisa jadi hanya residu dalam sebuah pergeseran sosial kebudayaan, namun dia hadir nyaris melekat di dalamnya.

Beberapa karya yang menafsir ihwal ironi dan kontradiksi ini antara lain terlihat dari karya fotografi Agus Leonardus, lukisan Monika Ary Kartika, Wahyu Gunawan, Artadi, juga Irawan Banuaji. Ada pula karya yang mencoba memasukkan aspek apropriasi, yakni mereka-reka lukisan “Monalisa”-nya Leonardo Da Vinci dalam konteks yang berbeda. Karya Ahmad Sobirin ini mencoba membuat ironi lewat tafsir atas karya “mainstream”. Joko “Gundul” Sulistiono mencoba untuk mengali lebih jauh kekuatan karya dua dimensi dengan memain-mainkan secara teknis antara kemungkinannya sebagai karya yang “berdimensi tiga”. Demikian juga dengan karya Ismanto Wahyudi yang secara kreatif memanfaatkan potensi antara dua dimensi yang “di-tiga-dimensikan” atau sebaliknya tiga dimensi yang dibekuk jadi dua dimensi. Dan masih banyak karya-karya dengan kekuatan teknis, visual, juga substansial yang menggagas problem “Transposisi” ini.

Secara umum, tema sosial kebudayaan banyak mewarnai karya-karya dalam pameran ini. Sementara tema-tema personal yang dalam beberapa tahun terakhir ini juga cukup dominan, dalam venue ini mulai mengendur dari ketertarikan para seniman. Selamat menafsir perubahan! ***

Daftar seniman Jatim Biennale di GO Art Space:
GO ARTSPACE GALLERY
19 Oktober - 1 November 2011

1. Andi Miswandi, Bantul, DIY
2. Agung Sukindra,Yogyakarta
3. Agus Leonardus, Yogyakarta
4. Agus Triyanto BR, Bantul, DIY
5. Ahmad Sobirin, Bantul, DIY
6. Artadi, Bantul, DIY
7. Awi Ibanesta, Wonosobo
8. Camelia Mitasari H, Bantul, DIY.
9. Cipto Purnomo, Magelang
10. Cundrawan, Denpasar
11. Felix S. Wanto, Yogyakarta
12. Herman Lekstiawan, Yogyakarta
13. Irawan Banuaji, Wonosobo.
14. I Ketut Suwidiarta,Yogyakarta
15. Imam Abdillah, Yogyakarta
16. Ismanto Wahyudi, Yogyakarta
17. Joko “Gundul” Sulistiono, Yogyakarta
18. M. Andi Dwi, Bantul, DIY
19. Muji Harjo,Yogyakarta
20. Monika Ary Kartika, Bandung
21. Mulyo Gunarso, Bantul, DIY
22. Mursidi “Marshanda” , Bantul, DIY
23. Nani Sakri, Jakarta
24. Oky Rey Montha Bukit, Yogyakarta
25. Priyaris Munandar, Yogyakarta
26. Riduan, Bantul, DIY
27. Robi Fathoni, Bantul, DIY
28. Rocka Radipa, Bantul, DIY
29. S. Dwi Satya (Acong), Yogyakarta
30. Setyo Priyo Nugroho, Yogyakarta
31. Slamet Suneo Santoso, Sleman, DIY
32. Tri Wahyudi, Surakarta
33. Wahyu Gunawan, Bantul, DIY
34. Yaksa Agus, Bantul, DIY

Friday, September 30, 2011

From Industrial Toward Personal




By Kuss Indarto

The pyroclastic storm at the temperature of 600 degrees Celcius, last October 2010, threatened to destroy so many forest and villages south and west of Merapi Volcano, Yogyakarta. The big wave of pyroclastic, part of the eruption of Merapi, climaxed till the night of November 4, 2010, when a big boom was heard, ripping the anatomy of the world’s most active volcano. This has been the worst eruption since the year 1872. The material blown out of the volcano’s stomach has been estimated to reach 140 million cubic meters.

Wedhus gembel, the local phrase for pyroclastic, continued to expand its reach, destroying villages at the speed of 300 km/hour taking treasures and lives. From about 150 deaths, there was Mas Panewu Surakso Hargo, or more well known as Mbah Maridjan, the key keeper of Merapi and abdi dalem (courtier of) Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, died at the age of 83 after staying in his house, refusing to evacuate because of a belief : that he must be the last one to stand guard as Merapi erupted.

Mbah Maridjan believed that Merapi wasn’t actually “erupting”, but was actually in the middle of “renewing” itself. He believed that it was a course that must be done by nature, including Merapi, to give balance to its life. Mbah Maridjan believed that the lava of Merapi was its “waste” that was being disposed of by Merapi palace of spirits because of the event there. The palace is governed by Eyang Rama and Permadi who are assisted by Kyai Sapu Jagad, Nyai Gadung Melati, Kyai Krincing Wesi, Eyang Megantara, and some others.

The people who live around Merapi understand this as natural “logic” which is mythological. Mbah Maridjan’s point of view, which is also believed by the locals, has possessed the people as an “ideology”. They believe in this natural rite and myth. This has created its own system of knowledge and value to adapt to the Merapi natural surroundings.

Meanwhile on the other hand, these view and myths have inversely proportional thoughts from the knowledge system of science. Merapi eruption is still a danger that must be anticipated and avoided as much as possible by the valleys people. The way to confronts both sides is with a attitude of kawicaksanan (wisdom) that science has prepared for this with estimation and anticipation, and local belief have enriched it by guarding it, approaching and respecting Merapi after eruption.

***

The natural event of Merapi eruption has left a vivid memory in Agus Yk Priyono’s life. Agus whose life deeply rooted in Javanese culture was within the range of 30 km from the center of the eruption. Despite the fact that he was not a direct victim of the disaster, the Merapi eruption clearly has left a trail of personal recollections in the midst of public memory of Yogyakarta society in general.

As artist Agus does not want to reside on the negative perception of the event, instead, he sees it as a massive source of inspiration and ideas for his new creative art works. The fact that Merapi eruption has been a natural disaster for many who lives in surrounding region of Merapi, slowly shifts itself in Agus’ life to become an “aesthetic fact” that eventually is expressed on the canvas spreads. A shift of social fact to become an aesthetic rarely occured in the mind of human being or even an artist who has the conscience of homo socius at the same time of homo aestheticus. Agus YK is one among the few who is able to capture and nurture the potential of aesthetic value hidden behind the case of Merapi eruption with all his strengths and weaknesses.

In his solo exhibition, visual theme about wedhus gembel or pyroclastic has become subject matter for Agus’ works. The pyroclastic visualization was placed on the top of the painting taking a quarter to a half of the space of each canvas. The image of pyroclastic was described to burst from above as if it moved from the crater of Merapi down to seek the lower ground.

Below the pyroclastic image, the dry land cracked and widely opened. There was also a landscape of little men and women who walked in a procession away from the center of the pyroclastic. Panoramic houses were ready to be demolished by the wedhus gembel. Also there was a landscape of trees with withering branches. These images could be seen in the works of The Sign, The Mystery of Wedhus Gembel, The Power of Everlasting Hope, The World’s Never Ending Love and other works. As we could guess, these art works put Agus’ way of thought in the midst of disasters but there was still aesthetic values that were so profound to be held for the arising of optimism spirit to view the coming of a disaster. A disaster was an unpredictable event for human being; however the optimism spirit that was the one could quickly heal the wound of the feeling.

Among similar artworks Agus has done, there were several artworks that put local cultural values via wayang purwa. There were Ing Ngarso Sung Tulodho and No Accidental Heroes. Semar figure becomes central in these two works besides three other figures that are well known as Punakawan: Gareng, Petruk and Bagong.

Semar became so central in these contexts for he was a deity figure who became a regular person. His body that is fat was far from physical description of a God, like the God of Teacher in the Javanese puppetry, Narada and others. But it was the value of balance emerges as wisdom. And wisdom values were offered in a humorous manner instead of a serious manner. And in the surrounding Merapi eruption, Javanese philosophy about balance softly echoed here: “Laugh when you are sad, cry when you are happy”.
***

Besides the works with visual theme of Merapi eruption, Agus has also done another group of works with different theme. There were themes that were desired as a form of sympathy to the Japanese tsunami victims in the beginning of 2011. Visually, these works elaborated the image of Cherry (Sakura) flowers in every spread of canvas as the central element. In the middle of blossoming Sakura, the Japanese identity, there were origami in the forms of birds that uniquely accentuated the works. It was here where the social and moral messages were told.

There were also painting themes that put the beauty of trees complete with branches and twigs that exotically linger together with flowers distributed in the body of the trees. For these works, Agus YK is the master to execute in every single detail.

In general, this solo exhibition showed the cross section of artistic and aesthetic abilities of Agus YK Priyono. When we paid careful attention, Agus was like a Captain of a ship who had to vigilantly act. At least in the last two years, his vigilance as a captain of his “aesthetic ship” is at stake. He turned the direction of his aesthetic lines dramatically.

So far, Agus YK Priyono has been working with landscape paintings. These paintings visualized trees with relatively detailed anatomy branches, twigs and flowers. More senior painters like Sutopo and Nisan Kristianto have previously pioneered the patterns of visualization like these. Many assume that these works were an extension of the “Mooi Indie” trend, painting that was directly imitated the beauty of surrounding nature. The ideology was relatively simple, as it has been told by Plato: “ars imitatur natura”. Art is imitating the nature.

The term “Mooi Indie” or “The Beautiful Hindia” was a sharp satyr coming from S. Soedjojono towards Dutch artists who came to the Dutch Hindie and took the beauty of nature as subject matter in their all artworks (Indie or Hindia was a term coined for Indonesia before its independence) in the early 1930s. For Soedjojono, the theme was not attractive because it created gap between art works and social facts such as poverty and social gaps and all similar issues. For him it reduced “art values” for it contained social bias that implied ignorance to the real social facts.

Thus far Agus’ visual pattern has dominantly put forward the aspect of beauty. Therefore, it became very interesting and risky choice when this time he moved to deepen certain themes by combining it with social themes that frequently did not exploit merely beauty. It was interesting because this step was considered an obligation rites for an artist to be dare to dynamically move his creative patterns for the sake of new inventions. It was a risky choice because these steps would bring him out from his comfort zone that could create a problematic impact for the aesthetic world. What Agus has done was to change the rites of a craft man to a visual artist. It was obviously clear that the former only reproduced works with industrial spirit, meanwhile, the later explored creative ideas to search newness and difference in each works he has created. The spirit was rather personal.

Whatever it was, on this Agus’ solo exhibition there were some important points that mattered to be proposed. First, this exhibition could enrich the visual ideas in the many various art exhibitions in Indonesia. Out of many different art exhibitions, frequently each exhibition appeared only certain stereotypical patterns one to the other. Like recent time, many exhibitions showed more comical, urban and other painting themes such them.

Second, about the same with the first, this exhibition could also possibly create a new power in the art market, though in a small degree. This possibility and expectation appeared because art business in Indonesia all this time has been found its saturation due to narrow market scope embraced by their participants.

Third, this exhibition could become a milestone for the artist to enter the mind-map that was larger than he ever expected. Of course, this expectation still relied on public response to the ideas and forms that were proffered by the artist through his artwork. This was not an easy task, but was also hard to anticipate. Anything could happen.

At least, this solo exhibition has been attempted to be held. The works were full of meaning. And this time, the public would be the witness and the judge of Agus YK Priyono and his work. Only time will tell. ***

Monday, September 26, 2011

Dari yang Industrial Menuju yang Personal




Oleh Kuss Indarto

BADAI pyroclastic dengan suhu sekitar 600 derajat Celcius, akhir Oktober 2010 lalu, bergulung-gulung menghantam sekian banyak hutan dan desa di gigir selatan dan barat daya gunung Merapi, Yogyakarta. Gulungan pyroclastic yang bergelombang besar, yang menjadi bagian dari erupsi Merapi berpuncak hingga 4 November malam ketika beberapa kali dentuman keras merobek bagian atas dari anatomi gunung paling aktif di dunia itu. Inilah letusan Merapi yang paling dahsyat setelah letusan tahun 1872. Setidaknya dari muntahan material dari perut Merapi yang diperkirakan mencapai 140 juta meter kubik.

Dan wedhus gembel, istilah lokal untuk menyebut pyroclastic, semakin meluas meluluh-lantakkan desa-desa yang dilewatinya dengan kecepatan 300 km/jam membawa korban jiwa dan harta benda. Di antara sekitar 150 korban jiwa itu ada sosok Mas Panewu Surakso Hargo atau yang karib dipanggil sebagai Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi. Abdi dalem kraton Ngayogyakarto Hadiningrat berusia 83 tahun itu tewas setelah tetap bertahan di rumahnya di lereng Merapi dan tidak mengungsi karena sebuah keyakinan: bahwa dia harus menjadi orang terakhir yang terus berjaga saat gunung Merapi meletus.

Almarhum Mbah Maridjan memiliki kepercayaan bahwa gunung Merapi saat itu bukan “meletus”, melainkan tengah “bekerja” untuk memperbarui dirinya. Dia percaya bahwa ada mekanisme alamiah yang mesti dilalui oleh alam, termasuk gunung Merapi, untuk memberi keseimbangan bagi kelangsungan hidupnya. Mbah Maridjan mempercayai letusan Merapi sebagai “kotoran” yang dibuang Keraton Makhluk Halus Merapi karena sedang ada perhelatan di sana. Keraton itu dipimpin oleh Eyang Rama dan Permadi yang dibantu oleh Kyai Sapu Jagad, Nyai Gadung Melati, Kyai Krincing Wesi, Eyang Megantara, dan lainnya.

Dan manusia yang hidup di sekitarnya memahami “logika” alam yang mitologis itu. Pandangan Mbah Maridjan tersebut, yang juga dipercayai oleh masyarakat di lereng Merapi, telah merasuk begitu dalam bagai sebuah “ideologi”. Mereka percaya dengan ritus alam dan mitos tersebut. Ini telah membentuk sistem pengetahuan dan sistem nilai tersendiri yang dipergunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan alam Merapi.

Sementara di seberang itu, tentu, pandangan dan mitos tersebut berbanding terbalik dengan sistem pengetahuan yang dibangun oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Erupsi Merapi tetaplah sebuah bahaya yang mesti diantisipasi dan dijauhi sedini mungkin oleh warga di lereng Merapi. Titik tengah untuk menyikapi keduanya adalah sikap kawicaksanan (kebijaksanaan) bahwa ilmu pengetahuan telah sedikit banyak memprakirakan kemungkinan peristiwa itu dengan antisipasi, dan bangunan kepercayaan lokal memperkayanya dengan cara menjaga, mendekati dan menghormati Merapi pasca-erupsi.

***

PERISTIWA alam meletusnya gunung Merapi memberi ingatan begitu kuat bagi seniman Agus YK Priyono. Seniman yang dihidupi oleh kultur Jawa ini mengalami peristiwa tersebut meski dalam rentang jarak sekitar 30 km dari pusat letusan, dan bukan termasuk korban secara langsung. Namun, dalam lipatan waktu yang terus bergerak, erupsi Merapi tetap membekas dalam ingatan personalnya di tengah ingatan kolektif masyarakat Yogyakarta secara umum.

Dalam kapasitasnya sebagai seniman, peristiwa itu kemudian secara masif menjadi inspirasi dan sumber ide bagi kelahiran karya-karya kreatifnya. “Fakta sosial” bahwa ada erupsi Merapi yang menjadi bencana bagi sebagian masyarakat di sekitar gunung tersebut, lambat laun bergerak menjadi “fakta estetik” yang ditumpahkan dalam banyak bentang kanvasnya. Bergesernya “fakta sosial” yang kemudian termanifestasikan sebagai “fakta estetik” tidak banyak dilakukan oleh sosok manusia atau bahkan seniman yang kurang memiliki kesadaran sebagai homo socius yang juga “merangkap” sebagai homo aestheticus. Agus YK adalah sedikit seniman yang mampu menangkap dan mau merawat potensi nilai-nilai estetik di balik “fakta sosial” dari kasus erupsi Merapi. Tentu dengan segenap kelebihan dan kekurangannya.

Pada pameran tunggalnya kali ini, tema visual tentang wedhus gembel atau pyroclastic menjadi salah satu pokok soal (subject matter) bagi banyak karyanya. Visualisasi pyroclastic ditempatkan pada bagian atas bidang gambar dan mengambil porsi antara seperempat hingga separuh bagian kanvas. Citra pyroclastic menghambur dari atas atau seperti dari lubang kawah lalu bergerak mencari tempat yang lebih rendah.

Di bawah pyroplastic ada citra tanah yang merekah dan kering. Juga ada lanskap manusia-manusia mungil yang berjalan berarak menjauhi pusat pyroclastic. Ada pula panorama rumah-rumah yang siap diterjang wedhus gembel. Juga lanskap pohon dengan ranting-rantingnya yang mengering. Citra-citra tersebut dapat disimak pada karya-karya yang bertajuk The Sign, Beauty of Survival, The Power of Everlasting, The World’s Never Ending Sympathy, dan karya-karya lainnya. Karya-karya tersebut bisa diduga menempatkan pola pemikiran Agus YK bahwa di tengah kerumunan petaka, masih ada nilai-nilai estetika yang bisa dikemukakan untuk dijadikan sandaran bagi munculnya spirit optimisme dalam memandang datangnya bencana. Bahwa bencana memang sesuatu yang tak mampu diprakirakan oleh manusia, namun spirit optimismelah yang bisa dengan cepat memulihkan luka perasaan.

Di tengah-tengah karya serupa itu, ada beberapa karya yang menempatkan nilai-nilai budaya lokal lewat visualisasi tokoh wayang purwa. Di antaranya ada karya The Wisdom of the Great Teacher dan Noble Characters in Hard Times. Tokoh Semar menjadi tokoh utama pada karya-karya tersebut di samping 3 tokoh lain yang dikenal sebagai Punakawan, yakni Gareng, Petruk dan Bagong.

Semar menjadi penting ditempatkan pada konteks ini karena dialah sosok dewa yang menjelma menjadi rakyat jelata. Tubuhnya yang gendut sangat jauh dari ciri-ciri fisik seorang dewa, seperti Dewa Guru, Dewa Narada, dan lainnya. Tapi justru di sinilah nilai keseimbangan dimunculkan sebagai kearifan. Dan nilai-nilai kearifan sering dikemukakannya sembari bercanda, bukan dalam situasi penuh keseriusan. Dan di tengah kepungan bencana erupsi Merapi, filsafat Jawa tentang keseimbangan sayup-sayup didengungkan di sini: “Tertawalah saat kau sedih, menangislah saat kau gembira”.

***

DI SAMPING karya-karya dengan tema visual tentang erupsi gunung Merapi, ada kelompok tema lain pada lukisan-lukisan Agus YK kali ini. Ada tema karya yang dihasratkan sebagai bentuk simpati pada bencana alam tsunami di Jepang awal tahun 2011 lalu. Secara visual, karya-karya ini memaparkan citra bunga Sakura dalam tiap bentang kanvas sebagai unsur utama karya. Di sela rimbunan bunga identitas negeri Jepang itu ada beberapa origami berbentuk burung yang memberi aksen tersendiri. Di sinilah pesan-pesan sosial dan moral disampaikan.

Ada pula tema-tema lukisan yang mengedepankan aspek keindahan pepohonan lengkap dengan dahan dan ranting yang meliuk eksotik berikut bunga-bunga yang bertebar di sekujur tubuh pohon tersebut. Untuk karya jenis ini, Agus YK sangat piawai mengeksekusi hingga ke detail-detailnya.

Secara umum, pameran tunggal ini memperlihatkan penampang kemampuan artistik dan estetik seorang seniman Agus YK Priyono. Kalau dicermati, dia seperti seorang nakhoda kapal yang mau tidak mau harus sigap bersikap. Setidaknya dalam dua tahun terakhir ini, kesigapannya sebagai seorang nakhoda bagi “kapal estetiknya” tengah dipertaruhkan. Dia memutar arah dengan cukup drastis garis estetiknya.

Selama ini, Agus YK Priyono banyak menggeluti karya-karya lukisan dengan basis utama lukisan pemandangan. Lukisan-lukisan itu memvisualkan pepohonan dengan anatominya yang relatif detil dari batang, dahan hingga ranting dan bunganya. Pola visual semacam ini, sebelumnya, dipioneri oleh seniman yang lebih senior, yakni Sutopo dan Nisan Kristianto. Banyak yang berasumsi bahwa karya-karya model ini merupakan perpanjangan dari lukisan dengan kecenderungan “Mooi Indie”, yakni lukisan yang seolah hanya menjiplak begitu saja keindahan alam yang ada di sekitar. Ideologinya relatif sederhana, seperti yang ungkapkan oleh filsuf Plato: “ars imitatur natura”. Seni itu meniru alam.

Sebutan “Mooi Indie” atau “Hindia yang molek” merupakan satir tajam dari seniman S. Soedjojono terhadap para seniman Belanda atau Hindia Belanda yang datang ke Hindia Belanda dan mengambil keindahan alam sebagai subject matter karya-karyanya. (Indie atau Hindia adalah sebutan untuk Indonesia sebelum merdeka). Itu terjadi sekitar dasawarsa 1930-an. Bagi Soedjojono hal ini kurang menarik karena karya seni menjadi berjarak dengan fakta sosial yang ada, seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan sebagainya. Dan ini mengurangi “nilai seni” karena dianggap bias sosial dan tidak peduli dengan kenyataan sosial yang sesungguhnya.

Pola visual pada karya-karya Agus selama ini cukup banyak bergerak mengedepankan aspek keindahan. Maka, merupakan langkah yang menarik dan menjadi pilihan yang cukup berisiko bila sekarang dia mulai bergerak untuk memberi pendalaman tema-tema tertentu, termasuk tema sosial, yang tidak sekadar mengekploitasi keindahan semata. Dikatakan menarik karena langkah seperti ini seperti menjadi ritus wajib bagi seorang seniman untuk berani mendinamisasikan pola kreatifnya demi mencari pencapaian-pencapaian baru, kemungkinan temuan-temuan baru. Dan dikatakan berisiko karena bisa jadi langkah seperti ini berarti keluar dari zona aman yang bisa berdampak bagi persoalan di luar dunia estetikanya. Hal yang telah dilakukan Agus adalah mengubah ritus sebagai perajin (craftman) menjadi seorang seniman atau perupa (visual artist). Ini dua hal yang berbeda karena yang pertama sekadar melakukan reproduksi karya dengan spirit industrial, sementara yang kedua mengekplorasi gagasan kreatif untuk mencari kebaruan dan perbedaan pada tiap karya yang dihasilkan. Spiritnya adalah kreativitas personal.

Apapun, atas pameran tunggal Agus YK Priyono ini pantas diajukan beberapa point penting. Pertama, pameran ini dimungkinkan memberi pengayaan gagasan visual atas maraknya pameran seni rupa di Indonesia. Dari sekian banyak pameran seni rupa, tak jarang masing-masing memunculkan pola-pola yang stereotip satu sama lain. Seperti dewasa ini yang banyak memunculkan tema-tema lukisan comical, urban dan semacamnya.

Kedua, satu rel dengan point pertama, pameran ini juga bisa dimungkinkan akan memunculkan kekuatan pasar baru (art market), meski dalam derajat yang kecil. Kemungkinan sekaligus pengharapan (expectation) ini muncul karena selama ini pasar seni rupa di Indonesia juga terlihat menemukan kejenuhannya karena sempitnya cakupan pasar yang direngkuh oleh para pelaku di dalamnya.

Ketiga, pameran ini bisa dimungkinkan sebagai batu loncatan (mile stone) bagi si seniman untuk masuk dalam peta perbincangan yang lebih luas lagi dari yang saat ini dicapai. Pengharapan ini tentu masih sangat bergantung pada respons publik atas semua dunia-gagasan dan dunia-bentuk yang disodorkan oleh sang seniman lewat karya-karyanya. Ini adalah problem yang tak mudah, namun sekaligus problem yang sulit diduga. Semua kemungkinan bisa terjadi.

Setidaknya, pameran tunggal ini telah diupayakan digelar. Karya-karya yang dipersiapkan telah banyak menyodorkan pesan. Dan publiklah yang akan menjadi saksi sekaligus wasit bagi kemunculan Agus YK dan karya-karyanya kali ini. Time will tell. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id

Thursday, September 01, 2011

Ketika Jogja tak Dominan di Kandang



oleh Kuss Indarto

EMPAT puluh nama perupa dan kelompok perupa, akhirnya, terpilih sebagai seniman peserta Biennale Jogja XI-2011. Mereka terdiri dari seniman dua negara, yakni Indonesia dan India, dan memiliki basis kreatif beragam. Pilihan tersebut didasarkan pada pengamatan atas pencapaian kreatif para seniman itu oleh kurator Alia Swastika (Indonesia) dan co-curator Suman Gopinath (India). Hasil pilihan mereka itu dibeberkan dalam forum terbatas di kantor Biennale Jogja XI-2011 di Taman Budaya Yogyakarta, Senin, 22 Agustus 2011 malam lalu. Presentasi karya mereka secara final dalam bentuk pameran akan berlangsung mulai 25 November 2011 mendatang dan berlangsung selama dua bulan.

Menilik nama-nama perupa dan kelompok perupa peserta, terutama yang berasal dari Indonesia, sedikit banyak akan terlacak dan terbayangkan presentasi karyanya kelak. Seni rupa konvensional dua dimensi, yakni lukisan, sudah nyaris diduga tak akan (banyak) mendapatkan tempat. Sementara karya-karya dengan pendekatan medium di luar yang “konvensional” akan menjadi porsi utama dalam pameran mendatang. Semisal ada multimedia, new media art, video art, art photography, instalasi, dan semacamnya, dipastikan hendak memberi warna pada perhelatan Biennale Jogja kali ini.

Publik seni rupa tentu akan bisa menduga-duga atas gejala itu. Misalnya, ada nama Krisna Murti, tokoh penting video art di Indonesia yang kelak akan mengkreasi ulang (re-create) karyanya yang telah dipresentasikan dalam Artjog 2011 lalu. Ada pula Arahmaiani, performance artist yang akan mengetengahkan karya hasil residensinya di Thailand 5 tahun lalu yang belum dipresentasikan ke publik seni di Indonesia. Ada Albert Yonathan, perupa muda dari Bandung yang kemungkinan besar akan menampilkan instalasi keramik yang cukup rumit dan berskala besar. Juga ada Paul Kadarisman yang hendak menampilkan karya-karya fotografinya sebagai bagian dari art project-nya bertajuk “Mohammad and Me” dengan subjek para “narasumber” yang semuanya memiliki nama Mohammad/Muhamad/Moehamad. Arya Panjalu dan Sarah Nuyteman akan mempresentasikan hasil eksplorasi gagasan kreatifnya tentang miniatur beberapa rumah ibadah yang ditempatkan sebagai bagian dari performance art dan karya dokumentasi fotografi, yang sebagian telah muncul pada Biennale Jogja “Neo-Nation” 2007 lalu.

Pada aspek persebaran geografis para seniman peserta, tak pelak, masih belum banyak beranjak dari peta kekuatan yang selama ini ada. Bahkan untuk kali ini, “penyempitan” cukup terlihat. Mereka terdiri atas seniman Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Bali, plus perupa yang menetap atau ulang-alik Solo-Eropa seperti Melati Suryodarmo. Bahkan nama-nama perupa Yogyakarta (setidaknya yang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menetap, studi, dan berproses kreatif di Yogyakarta) tidak mendominasi perhelatan ini.

Dari sisi lain, jumlah peserta yang “hanya” 45 perupa atau kelompok perupa ini menempatkan Biennale Jogja XI ini menjadi biennale di Kota Gudeg yang tidak seriuh ketimbang 3 perhelatan serupa. Tiga Biennale Jogja sebelumnya, yang dihelat pada tahun 2005 (bertema kuratorial “Di Sini dan Kini”), 2007 (“Neo-Nation”), dan 2009 (“Jogja Jamming”) selalu dengan jumlah seniman/kelompok seniman lebih dari 100 nama. Sebelum tiga kali perhelatan itu, tahun 2003, jumlah seniman peserta Biennale Jogja, yang kala itu bertajuk kuratorial “Country-bution” juga memiliki seniman peserta sedikit, yakni “hanya” 24 nama. Pilihan-pilihan atas sedikit atau banyaknya seniman sebagai peserta dalam sebuah biennale, termasuk Biennale Jogja, tentu sangat bergantung pada konsep, gagasan hingga “ideologi estetik” masing-masing kurator dan panitia. Semua pasti telah dipertimbangkan dengan sekian banyak kalkulasi dan beragam risiko yang pasti akan mengiringinya. Presentasi karya para seniman pilihan kurator inilah yang kelak akan memberi bobot dan nilai atas pilihan-pilihan tersebut. Dan publik pun, sebaliknya, juga berperan untuk memberi apresiasi dan penilaian atas pilihan-pilhan itu. Kita tunggu saja! ***

Berikut daftar seniman peserta Biennale Jogja XI-2011:

Indonesia:
01. Setu Legi (Hestu), Yogyakarta
02. Krisna Murti, Bandung
03. Jompet Dwi Kuswidanarto, Yogyakarta
03. Arahmaiani, Bandung-Yogyakarta
04. Wedhar Riyadi, Yogyakarta
05. Andi Dewantoro, Bandung
06. Ay Tjoe Christine, Bandung-Yogyakarta
07. Paul Kadarisman, Jakarta
08. Albert Yonathan, Bandung
09. Arya Panjalu & Sarah Nuyteman, Yogyakarta
10. Akiq A.W., Yogyakarta
11. Ariadhitya Pramuhendra, Bandung
12. Iswanto Hartono, Bandung
13. Wimo Ambala Bayang, Yogyakarta
14. Tromarama, Bandung
15. Octora Chan, Bandung
16. Theresia Agustina, Yogyakarta
17. Titarubi, Yogyakarta
18. R.E. Hartanto, Bandung
19. Melati Suryodarmo, Solo-Eropa
20. Nurdian Ichsan, Bandung
21. Made Wianta, Bali
22. Irwan Ahmed, Jakarta
23. Ruangrupa, Jakarta
24. Wiyoga Muhardanto, Bandung
25. Edwin Navarin,

India:
01. Atul Dotiya
02. Anita Dube
03. Puspamala N.,
04. Archana Hande,
05. Sakshi Gupta,
06. Sheel Guda,
07. Anup Matthew Thomas,
08. N.S. Harsha,
09. Riyaz Komu,
10. Sheba Chhachi,
11. Prabhavati Meppayil,
12. Valsan Korma Kolleri,
13. Shilpa Gupta,
14. Premnath Shrestha,
15. Amar Kamar

Sunday, July 31, 2011

Bayang Spiritual yang (Masih) Banal






Oleh Kuss Indarto

“SAYA tak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa sentuhan seni. Dunia pasti akan kering,” tutur si rambut putih, Hatta Rajasa, Menko Perekonomian sekaligus Ketua Umum Ikatan Alumni ITB saat hendak membuka Pameran Seni Rupa Kontemporer Islami Indonesia, 27 Juli 2011. “Saya bukan seniman, tapi saya bisa merasakan bahwa seni begitu berarti bagi peradaban manusia. Kita bisa berkaca pada Austria setelah Perang Dunia kedua. Apa yang pertama-tama mereka bangun setelah kehancuran karena perang? Mereka membangun dan membenahi museum-museum seni . Ini sangat penting bagi kondisi psikologis bangsa demi menghidupkan kembali martabat dan identitas kebangsaannya,” papar ‘the real vice president’ ini dengan pelahan dan takzim.

Akhirnya pameran itu dibuka dengan goresan setengah lingkaran yang ditorehkan di atas kanvas kecil sebagai penanda oleh Hatta Radjasa di teras Gedung A, Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta. Beberapa pejabat setingkat dirjen dan di bawahnya menyertai sang menteri. Juga tentu Abdul Sobur selaku ketua panitia sekaligus ketua Yayasan Inisaf yang memayungi perhelatan ini, plus Rizki A. Zaelani yang di-dhapuk sebagai kurator pameran. Ratusan seniman dan tetamu yang hadir segera menyemut dan merangsek memasuki ruang pameran Galeri Nasional Indonesia, terkhusus di Gedung A dan Gedung B.

Dua ratus karya dari 200 seniman yang diundang pun segera berebut “mencari” perhatian apresian. Perupa muda asal Bandung, Faisal Habibie menjadikan karyanya seperti “garda paling depan” ketimbang karya lain. Sekotak mungil berisi pemberitahuan-pemberitahuan ala penguman masjid tertempel di tembok teras Gedung A GNI. Persis di depan pintu kaca utama, berderet alas kaki bertebar: sepatu, sandal, selop dan lainnya. Seolah, pengunjung akan memasuki sebuah masjid atau mushala dan diwajibkan untuk melepas alas kaki tersebut. Pengunjung cukup terkecoh, apakah mengharuskan diri melepas sepatu laiknya hendak masuk ke babul qudus (rumah suci).

Dua ratus nama perupa yang terlibat dalam pameran ini memang relatif cukup beragam. Dari aspek usia, daerah asal, hingga, hmmm, serapan pasar atas karya-karya mutakhirnya. Ada nama Tisna Sanjaya yang mengusung karya instalatifnya berupa rumah yang kini menjelma jadi seperti mushala dengan kubah mungil dan beragam kain dan kostum di ujung bilah-bilah bambu yang menancap di atap. Juga nama-nama senior lain seperti A.D. Pirous, Achmad Sopandi, Dwijo Sukatmo, Iriantine Karnaya, Makhfoed, Narsen Afatara, Syaiful Adnan, Amrizal Salayan dan lainnya. Ada deretan nama yang selama ini dianggap sebagai the most wanted artists oleh “pasar” seperti Handiwirman, Budi Kustarto, Jumaldi Alfi, Nasirun dan beberapa lainnya. Ada nama seniman “laris” yang ditenggelamkan wacana seperti Masdibyo. Juga nama-nama yang relative baru yang beberapa tahun lagi, kalau karyanya konsisten, akan menguatkan eksistensinya seperti Iskandar Fauzy, M. Zikrie, dan masih banyak lagi.

Tema kuratorial “Bayang” yang digagas oleh Rizki A. Zaelani bersama A. Rikrik Kusmara tampaknya memang cukup rumit untuk diterjemahkan secara visual oleh para perupa. Salah satu pokok pikiran dari gagasan kuratorial “Bayang” (“bayangan”, “bayang-bayang”) ini menjelaskan bahwa tema ini setidaknya menunjukkan dua arah jalan penelusuran gagasan. Pertama, memahami persoalan yang menjadi sebab utama dan yang menentukan keadaan ‘bayang’ tersebut, yaitu” kehadiran cahaya dan tentang sumber cahaya. Kedua, memahami masalah ‘bayang’ itu sendiri sebagai hal yang hadir (presentness) dalam cara pemahamannya secara tersendiri.

Pada praktiknya, para seniman yang diundang dalam pameran ini kemudian masih terbebani oleh problem mendasar dari tajuk pameran yang mengusung kata “Islami” tersebut. Puluhan karya (lukisan) tak mampu mengelak dari kurungan kata “Islami” itu dan lalu menempatkan karyanya sebagai medium pengutipan ayat-ayat suci Al Qur’an. Tak salah memang. Namun itu tidak cukup memberi pengayaan bagi tawaran kuratorial yang digagas kurator. Bahkan ada satu dua seniman yang selama ini cukup “sekuler” tiba-tiba menempatkan kutipan ayat-ayat suci dalam kanvasnya. Kesan sloganistik, apa boleh buat, justru menguat pada karya-karya semacam ini. Bukan justru mematangkan gagasan (kuratorial) dan kreativitasnya dengan, misalnya, membumikan teks-teks tersebut lewat visualisasi yang kontekstual dengan realitas sosial yang tengah terjadi di ranah Indonesia. Karya-karya itu menjadi banal.

Di sela karya-karya tersebut ada satu dua karya yang menarik untuk dicermati, di samping karya Faisal Habibie yang disinggung di atas yang berkesan humor. Ada pula karya “Last Journey” gubahan Gabriel Aries. Dia membuat lingkaran dari serbuk marmer dengan diameter sekitar 3 meter. Dalam pusaran garis lingkaran itu ditempatkan patung koper dan sepasang sepatu yang terbuat dari batu. Jarak keduanya 180 derajat: saling berjauhan. Ada dimensi makna spiritual yang kuat dalam karya ini. Sepasang sepatu itu bagai tapak-tapak keberadaan manusia yang telah usai melakoni perjalanan hidup dalam kefanaan dunia. Dan koper itu selaksa aspek (ke)duniawi(an) yang sempat berada dalam genggaman sang manusia, dan keduanya kini terberai setelah kefanaan dunia itu hadir. Dalam dunia keabadian, ruh manusia telah jauh berpisah dengan koper duniawi yang selama ini menyertainya. Karya ini dengan tegas dan membumi seperti ingin mengetengahkan tafsir tentang penggalan episode dalam perjalanan eksistensial manusia. Harta atau hal yang bersifat duniawi sekadar bayang-bayang dari keberadaan manusia. Manusia dengan kontribusinyalah, bukan kebendaan yang menyertainya, yang jauh lebih substansif.

Pameran yang berlangsung hingga 18 Agustus 2011 ini cukup menarik karena juga bertepatan dengan dinobatkannya kota Jakarta oleh Organisasi Islam Dunia (ISESCO) sebagai “Capital of Islamic Culture – in the Asian Region for the Year of 2011”. Apapun maknanya penobatan itu bagi public Jakarta, namun pameran ini bisa diandaikan sebagai salah satu “wisata spiritual” di celah suasana bulan Ramadhan. Siapa tahu? ***

Monday, June 20, 2011

Invasion in Fashion

by Kuss Indarto

(GO Art Space, Surabaya, 25 June until 8 July 2011)The general understanding of fashion is always founded upon “mode”, the newest way to get dressed, to be up to date and to follow the latest trends. Fashion or mode is the popular fashion style in a culture. The development of the understanding of fashion is much wider than clothing, it also includes things like cuisine, language, art, architecture, sports, games and other lifestyles. The problem with style (which includes fashion or mode) is that it has always changed rapidly and dynamically.

The etymological root of the word fashion (from language structure) comes from the Latin word factio which means “to make” or “to do”. From this word the public took the word faksi, which means “group” in technical political terminology. Another word that the word “fashion” is derived from is facere which means “to make” or “to do”. Because of that, the real word “fashion” became the term to describe any activity. So, fashion is something that is “done” with someone. The meaning of the word fashion is not (only) used as it is today, which understands fashion simply as something “worn” by someone.

However, this is what happened in daily reality. In many studies of fashion, the function and meaning covers many aspects, including social behavior. At base, clothes help the user to cover some part of the body, so that the clothes serve the purpose of modesty. From this our clothes can be viewed as functional. Clothes can protect our body from bad weather or even when we play sports, clothes can protect us from injury. In the process, fashion can also show cultural display because it can be cultural communication. For example, somebody can be identified by where they come from through the clothes that they wear because it displays their cultural identity.

In some cases, fashion can improve someones social status. People will make conclusions about who you are from what you wear. You are what you wear. If that conclusion can be proven or not, we do not know. These things influence how people think about you and how they act towards you, in your social life, whether serious or while relaxing, your sense of style and much more.

Fashion, then, can be a metamorphosis like “social skin and our culture”, or to make the body look longer, even though it is not really longer, there are aspects that can not only connect a body with society but also separate them. Besides, fashion is the way that someone expresses their identity, because when someone chooses their clothes, whether in a store or in their house, they can be identifying and displaying themselves.

This is not the case when someone has to wear a uniform because those types of clothes serve to diminish their individuality in order to force a collective identity. As we can see, in the case in which our government employees have to wear a suit or batik korpri. It is not only to raise the esprit de corps in their environment, but also signals their shared ideology through their style of dress and creates a collective identity marking the bureaucrat’s social class, which is still is at the top of the social hierarchy. The style of dress, in this context, clearly displays their status.
Finally, how we dress up is one small part of the issue of fashion in our lifestyle and other aspects of life. From the explanation that was mentioned above we can give a sign that the real fashion problem is not only about the substance or material, it is also about other things, such as attitude and how people think. This also includes any lifestyles and aspects of life that have been “touched” by the fashion world: cuisine, gadgets, language, art, automobiles, architecture, sports games and much more. The way people think is evidence of some new value, practice, luxury, and things like that which are used in all aspects. The existence of these things became fashioned (modiste) and dynamic movement. The fashion world will invade (attack, bother) the way that we think with new things and the latest trends.

Then, in which way will we take this exhibition? For sure, this simple curatorial will try to give the artists of this exhibition ability to explore and create awareness of fashion through art with a broad meaning and a new understanding (artist version). The current meaning of fashion is connected with garments and models. Fashion, once again, is not that narrow.

Precisely, the artists of this exhibition were hoping to give a wider meaning and understanding of fashion from a material aspect, a way of thinking that until now was an ideological question. The sketch of this curatorial also can not impose a strict framework that proper artwork is supposed to be realistic. Clearly not. This will open all the possibilities of visual art work. This theme allows a chance for the artist to create a fashion problem painting from many sides, it can portray fashion from mass media with all its problems. It can be approached from the angle of irony, satire, intimacy, appropriation (change again the base of the art work (for example, monumental from the maestro) which already existed, even in the abstract for this fashion problem.

The simple target from this exhibition, surely, will give a description for the public of the artists’ opinion and simple observations for the “material/illusion” named fashion. Congratulations for the art work.

Monday, May 23, 2011

Siklus dan Sirkus Klowor



Foto: Matador I, 200cmX200cm,Acrylic on Canvas,2009, dan Matador II, 200cmX200cm,Acrylic on Canvas,2009

Oleh Kuss Indarto

[satu]: Identitas Kucing

KUCING hitam-putih adalah Klowor. Klowor adalah “pemilik” kucing di atas kanvas yang meliuk plastis dalam gubahan monochrome hitam putih. Klowor adalah “pelukis kucing”. Inilah identitas, (yang kadang menjelma jadi semacam kerangkeng atau perangkap), yang sebelum pameran tunggal kali ini melekat begitu integral dengan sosok perupa Klowor Waldiyono. Identifikasi ini hadir dari dua lini yang ulang-alik sifatnya: aksi dari sang seniman sendiri yang mendedahkan karya-karya lukis dengan citra kucing lewat gubahan visualnya yang khas, dan sebaliknya, reaksi dari publik yang merespons dengan memberi titik ingatan atas hal yang telah ditampilkan oleh seniman untuk kemudian mengonstruksinya lewat pelabelan atau identifikasi. Ada gerak kausalitas di sini.

Aksi identifikasi-diri Klowor terjadi lima belas setengah tahun silam, persisnya 11 hingga 18 Desember 1995, tatkala seniman muda bertubuh mungil dengan hasrat besar ini menghelat pameran tunggalnya yang pertama bertajuk “Putih-Hitam” di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Kala itu dia berusia 27 tahun. Ada puluhan karya lukisnya yang presentasikan ke hadapan publik waktu itu. Sebagian kecil di antaranya adalah karya-karya yang diajukannya untuk kepentingan akademis, yakni sebagai karya TA (Tugas Akhir) untuk menuntaskan studinya di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FRS ISI) Yogyakarta yang selesai pertengahan tahun 1995 itu. Selebihnya, sebagian karyanya dibuat khusus untuk pameran tunggal tersebut dan dikreasi dalam tarikh yang sama, 1995. Ini mengindikasikan aspek produktivitasnya yang teramat tinggi.

Namun demikian ada upaya Klowor untuk “menahan” produktivitasnya itu dengan kendali yang terjaga. Setidaknya ini terbaca dari pengantar dalam katalogus pameran itu yang ditulis oleh salah seorang dosen seniornya, (almarhum) Soedarso Sp. MA, yang menyuratkan bahwa, “…malahan konon di samping karya-karya hitam putih yang sekarang sedang dipamerkan, ia juga sudah siap dengan seperangkat karya-karya berwarna yang jumlahnya juga sudah hampir layak untuk dipamerkan. Artinya, pelukis Klowor Waldiyono produktif dan sejauh ini keproduktifan yang tentunya didukung oleh virtuositasnya dalam berkarya ini belum dihinggapi oleh semangat menggebu tanpa pandang bulu karena inginnya cepat laku yang umumnya mendorong seseorang untuk tidak terlalu keras memperjuangkan pemunculan tema-tema lukisannya di atas kanvas…”

Kalimat Soedarso Sp. MA itu seperti menggarisbawahi upaya Klowor untuk bersikukuh pada satu tema yang fokus dan berkarakter, baik secara visual maupun substansial, sehingga gugus wacana yang ditawarkan lewat pameran tunggalnya itu bisa melekat dan menunggalkan pemahaman publik atas garis estetik Klowor. Ada positioning yang ingin disampaikan secara tegas waktu itu dengan hanya menghadirkan karya-karya lukis yang menggambarkan kucing dalam citra hitam-putih. Lukisan-lukisan berwarna “ditahan” untuk tidak dipamerkan demi kekuatan pameran agar berkarakter, dan tak ingin (pinjam kalimat Soedarso Sp. MA) “menggebu tanpa pandang bulu karena ingin cepat laku”.

Kucing sebagai subject matter bagi Klowor pada hampir semua karyanya waktu itu, merupakan pilihan konseptual yang dihadirkan tidak sekadar sebagai binatang yang lengkap dalam keutuhannya secara fisik, namun lebih dari itu, muncul sebagai imajinasi yang dengan bebas direka ulang dalam berbagai praktik visualnya. Kala itu, seperti tersurat dalam konsep penciptaan di katalog pameran, Klowor berujar bahwa “kucing dalam kehidupan sehari-harinya merupakan rangkaian gerak-gerik sepanjang pergulatannya dengan hidup, maka pada binatang kucing saya temukan sesuatu gerak-gerik yang sangat memukau dan misterius serta unik. Berangkat dari itu saya mencoba untuk merespons atau menanggapi gerak-gerik atau tingkah laku kucing.”

Konsep singkat dan lugas itu sudah cukup untuk memberi tengara bahwa seniman yang masuk kuliah di ISI Yogyakarta tahun 1989 ini tidak sekadar memindahkan kucing dalam dunia eksotisme kebentukannya yang realistik, namun mencoba memberi perluasan imajinasi dalam cakupan dinamika gerak atas karnivora yang bernama Latin Felis silvestris catus itu. Pada titik inilah karakter personalnya dalam “menguliti” kucing digali. Kucing diwujudkan dalam citra yang esensial: misai (kumis) yang menjuntai atau memburai bebas, dua telinga yang meruncing, ekor yang bergerak kemana-mana, kaki yang berposisi bebas, dan tubuh yang elastis bentuknya. Semuanya digerakkan oleh imajinasi Klowor tentang kucing yang didukung oleh kekuatan garis. Ada garis utuh yang bergerak utuh dan liar, ada pula garis patah-patah yang menjelujur dalam pola yang terstruktur dan disiplin untuk membentuk citra tertentu, ada pula garis tebal-tipis yang tersusun dari tekanan (pressing) yang berbeda sehingga memunculkan karakter bentuk yang artistik.

Maka mengemukalah kucing ala Klowor. Tentu, jelas beda begitu ekstrem dengan kucingnya Popo Iskandar (Bandung) yang jauh lebih senior dan telah mapan secara eksistensial dengan citra kucing-kucing pada kanvasnya nan legam, masif serta esensial. Atau, untuk konteks seni rupa Yogyakarta waktu itu, ada pegrafis Edi Sukarno yang juga banyak menggumuli tema-tema kucing dengan rangkaian garis putus-putus yang khas terbentuk dari efek cukilan hardboard (hardboard cut). Atau ada pula Faisal yang sesekali menempatkan sosok kucing yang colourfull di antara karya-karyanya.

Upaya penguatan karakter karya ini sesungguhnya juga tak lepas dari dorongan bawah sadarnya untuk berkompetisi dengan berbagai komunitas yang melingkunginya, termasuk lingkup teman-teman seangkatannya di Program Studi Seni Lukis angkatan (masuk) 1989. Pada kurun waktu itu beberapa rekannya masing-masing telah berupa menancapkan eksistensi personalnya dalam peta seni rupa, terutama pada ranah yang lebih meluas: “menasionalkan diri”. Ada Erica Hestu Wahyuni, Katirin, (almarhum) Nurkholis, SP (Sugeng Pramuji) Hidayat, Eri Sidharma, Wara Anindyah (hanya setahun kuliah, lalu keluar), Suitbertus Sarwoko, Tarman, dan beberapa lainnya yang timbul tenggelam mengikuti pasang-surutnya dinamika kreatif masing-masing seniman.

Mereka juga berkompetisi dan berebut posisi dengan kakak-kakak kelasnya, angkatan (masuk) 1988, seperti Ugo Untoro, Mochamad Operasi Rachman, dan lainnya. Juga bersaing bersama Nasirun, Entang Wiharso, Pupuk Daru Purnomo, Hadi Soesanto, dan sekian banyak nama lain di angkatan 1987 yang tengah “membintangkan diri” lewat karya-karya kreatifnya.

Proses “pembintangan diri” ini (dalam pengertian positif) dilakukan dengan melakukan pencarian identitas. Tidak mudah memang. Apalagi, seperti biasa, pada setiap kurun selalu menempatkan seniman bintang yang begitu berpengaruh dan sulit untuk dielakkan. Ketika Klowor berproses dan menanam reputasi, termasuk tatkala berpameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta, para bintang (yang relatif) muda masih bertengger dan memberi bias pengaruh secara kreatif begitu kuat. Misalnya sosok Eddie Hara dan Heri Dono. Imbas kreatif mereka masih begitu kuat terjejak pada kanvas dan karya kreatif para adik kelasnya hingga tak jarang terdengar celetukan bahwa karya si A “Ngeddie-Hara banget” atau si B “Ngeheri-Dono sekali”, dan sebagainya. Namun, di tengah celetukan itu, ada sosok seperti Erica Hestu Wahyuni atau Faisal yang dengan terbuka dan berterus terang membilang diri bahwa mereka banyak terpengaruh dan mengacu secara artistik terhadap kecenderungan karya-karya para seniornya tersebut. Dan sang waktu memberi jalan untuk menemu identitas-diri setelah banyak terinspirasi.

Klowor Waldiyono dengan imajinasi kucingnya yang khas, kiranya, adalah sesosok seniman yang berupaya melakukan jelajah kreatif untuk menjumput hal yang tidak baru namun dengan pendalaman yang intensif. Hasil kerja kreatifnya telah membebaskan diri dari citra-citra yang dominatif di/dari luar dirinya.

[dua]: Dari Bentuk Menuju Narasi

Pameran tunggal “Putih-Hitam” tahun 1995 itu menjadi “deklarasi estetik” bagi Klowor. Penting maknanya bagi bangunan reputasi kesenimanannya. Citra kucing begitu integral dalam dirinya, seperti telah baku dan “membatu” sebagai identitas estetik. Dalam beberapa kesempatan pameran kolektif setelah pameran tunggal itu citra kucing hitam-putih banyak bertebar. Tak sedikit pameran diikutinya, seperti di antaranya keterlibatannya sebagai finalis dalam pameran (hasil kompetisi) Philip Morris - Indonesia Art Award tahun 1998 dan 2000, Indofood Art Award 2003, dan beberapa lainnya.

Lambat-laun, identitas ini terasa menjadi sangkar yang menyesakkan bagi seseorang yang terus berhasrat menggayutkan kembara artistik dan estetiknya sebagai seniman. Sepertinya, repetisi telah sering terjadi. Inilah titik penting ketika seorang perupa menemu satu persoalan “klasik”: tetap bersikukuh pada pilihan untuk bergulat dengan tema dan konsep lama (estetika citra kucing dalam balutan hitam-putih) yang berarti masuk dalam perangkat stagnasi atau kemandegan; ataukah menggeser dengan cukup tajam atas kecenderungan karya-karya yang selama ini telah menjadi ingatan publik ketika melihat karya Klowor. Bersikukuh dengan konsep lama mendorong Klowor hanya untuk menjalani proses involusi, bergerak berputar-putar di tempat dalam pencapaian yang tiada beda. Sementara keberanian untuk lepas dari identitas yang telah melekat memungkinkan dia mempraktikkan penjelajahan serta eksperimentasi visual dan konseptual. Ini tidak saja penting bagi perjalanan sejarah kreatif dirinya, namun juga bagi publik seni rupa secara umum yang membutuhkan berbagai penyegaran estetik.

Dan inilah, setelah limabelas setengah tahun berlalu, “deklarasi estetik” kembali dilakukan oleh Klowor Waldiyono lewat pameran tunggalnya sekarang, “Siklus dan Sirkus Klowor”. Di dalamnya, berbagai risiko pun siap dipertaruhkan.

Kalau dikatakan bahwa ritus pameran ini semacam siklus kiranya tidaklah berlebihan. Ada putaran waktu dan kesempatan bagus yang datang berpihak kepada anak keenam dari pasangan almarhum Gatot Tjokrowihardjo dan almarhumah Painten ini. Dalam situasi pasar seni rupa yang lesu pada rentang waktu dua tahun terakhir, menghelat sebuah pameran tunggal dengan mengeksposisikan banyak karya lukis berukuran besar tentu sebuah kemewahan tersendiri. Tidak sedikit seniman yang mengundurkan atau membatalkan sama sekali pameran yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari hanya karena situasi pasar yang tidak lagi kondusif. Beda dengan situasi saat booming seni rupa pada kisaran sekitar 2007 hingga 2009 lalu. Kini, Klowor justru mendapat kesempatan bagus untuk menjalani siklus ini. Yayasan Seni Budaya, Jakarta, dalam dua tahun terakhir memberi peluang dan dukungan hingga seniman ini berpameran tunggal.

Andai siklus dipahami sebagai “putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara tetap dan teratur”, maka perhelatan pameran ini, pada satu titik soal, menemukan kebenarannya. Klowor mengulang ritus pameran tunggalnya setelah terjadi belasan tahun lalu, tetapi berusaha untuk berjarak dengan pencapaian estetik yang telah dilakukannya dulu.

Pada kerangka estetik dan artistik, bagaimana gubahan visual karya-karya Klowor sekarang terimplementasi di atas kanvas?

Pertama, jelas, pameran kali ini menempatkan karya-karya suami Christin Ariyani ini menjadi penuh warna, colourful. Warna dalam pengertian denotatif. Bukan lukisan-lukisan hitam-putih (monochrome) seperti saat pameran tunggal yang pertama 15,5 tahun lalu. Secara teknis, lapis-lapis warna yang tertoreh diandaikan menguatkan kemungkinan imajinasi bagi apresiannya. Citra sesosok manusia, misalnya, dibuat dari lapis-lapis warna yang bertumpuk dengan bayangan gesture yang berbeda. Perbedaan gesture pada bayangan dan subyek di depannya itulah yang dimungkinkan membangun lapis imajinasi.

Kedua, citra kucing relatif masih bertebaran pada kanvas Klowor, namun telah “melompat” dalam asosiasi dan konotasi yang berbeda. Kalau dulu seniman yang pernah studi di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta (sekarang SMK 4 Bantul) ini banyak menangkap dinamika gerak kucing dengan segala improvisasi visualnya, maka kini karya-karya Klowor mencoba mempersonifikasi kucing dalam banyak ragam persoalan. Para “manusia kucing” banyak bergerak masuk dalam berbagai tema: sebagai subyek pelaku, sebagai komentator kasus, sebagai penonton yang cerewet dan tetap berjaga jarak dengan persoalan, dan sebagainya. Karya Klowor serupa dongeng fabel yang menempatkan kucing sebagai pelakon utama.

Ketiga, karya-karya Klowor bergeser dari mengeksplorasi aspek improvisasi kebentukan atas satwa kucing menjadi penggalian aspek penceritaan dengan tetap menyandarkan kucing sebagai subyek. Kini karya-karya Klowor digiring untuk memberikan narasi lebih luas. Citra “manusia kucing” atau hal yang berkait tentang kucing yang dikemukakannya sekarang telah melampaui “nilai-nilai” tentang kucing itu sendiri. Kucing telah “dimanusiakan” sebagai pencerita. Ini berbeda dengan dulu ketika berkutat untuk mengeksplorasi kucing secara fisik dan gerak dengan berbagai dinamikanya.

Ini bisa ditengarai, misalnya, dari segi penjudulan karya. Sederhana memang, namun ini memberi kekuatan tanda kuat atas keberbedaan antara yang dulu dan yang kini. Karya-karya dalam pameran tunggal “Putih-Hitam” antara lain bertajuk: Kucing-kucing Liar, Kucing Tengah Malam, Kucing Hitam Berkaki Delapan, Kotak-kotak Kucingku, Nuansa Garis dan Kucing, Fantasi Garis dan Kucing Hitam, Kucing Putih Terbang, dan semacamnya. Dari aspek pem-bahasa-an dan pem-bahasan-nya relatif masih terkurung, fokus dan berpijak kuat dari subyek satwa kucing. Sementara kini, judul telah bergerak terbuka melampaui aspek “peri-kekucingan”. Misalnya: Adam dan Eva, Anak Perkasa, Anugerah, Serial Angel, Badut Sirkus, Barongsai dan Kelenteng, Berebut Air Susu Ibu, Bertahan Hidup, Bertinju, Seri Merapi, dan lainnya.

Perluasan cakupan dari cara pandang Klowor atas “kucing sebagai dunia kebentukan” menjadi “kucing sebagai perangkat narasi” bisa diduga sebagai perkembangan sistem pengetahuan seniman ini dalam memandang persoalan di lingkungan sekitarnya. Mungkin tidak (semuanya) menghadirkan sebentuk kritisisme, namun inilah kesaksian visual dan komentar dalam merespons dunia di luar dirinya. Dan hal ini memberlakukan seni tidak sekadar ekspresi personal namun juga meluaskannya sebagai penanda zaman sekaligus secuil simbol kepekaan sosial seorang seniman.

Siklus kreatif Klowor, dengan demikian, bisa ditandai dengan berkembangnya sandaran nilai artistiknya yang dulu “sekadar” mengelola dunia bentuk, lalu meluas menjadi dunia gagasan, sekecil apapun dunia gagasan tersebut termunculkan dalam karya-karyanya kali ini. Memang belum sangat tajam titik beda secara visual antara sekarang dengan 15, tahun sebelumnya, terutama dalam pemunculan ikon visualnya. Tapi inilah nilai penting sebuah konsistensi, yang kemudian dirawat hanya dengan menggeser beberapa unsur-unsur penting di dalamnya secara evolutif, bukan mengubah secara revolutif atas hal yang ada sebelumnya, yang terkadang dicurigai tanpa landasan dan akar estetik di dalamnya.

Sementara terminologi “siklus” dalam konteks ini, di antaranya, lebih mengacu pada rentang waktu antara dua pameran tunggal seniman kelahiran 31 Januari 1968 ini, 1995 dan 2011. Bagi seniman yang bergerak dalam dunia kreatif dengan segala output-nya, tentu, siklus ini terlalu panjang dan diekspektasikan bisa jauh diperpendek. Karena sebenarnya blank yang terjadi di antara waktu 15,5 tahun itu bukan berarti Klowor tidak bergerak sama sekali, meski dengan orientasi dan pencapaian yang berbeda. Di dalamnya, ada “sirkus” tersendiri dalam menyiasati hidup dan dunia kreatifnya. Dan ini juga banyak dialami oleh banyak seniman di Indonesia. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, dan editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id