Wednesday, May 28, 2008





(Dua karya di atas masing-masing karya Andi Wahono, Inabsolute, dan karya Tarman, Yang Tersudut, Yang Terbakar. Ini 2 di anatar 50 karya yang terpajang dalam pameran Freedom, 21 Mei s/d 5 Juni 2008)

Selamat datang dalam pembukaan pameran Mon Decor Painting Festival 2008: FREEDOM. Pameran dibuka Sabtu, 31 Mei 2008 pkul 19.00 WIB di Taman Budaya Yogyakarta. Verlangsung hingga 5 Juni 2008. Di bawah ini catatan ringkas ihwal latar belakang pameran Freedom, yang akan dimuat dalam katalog pameran.
Awalnya adalah Kebebasan…

Oleh Kuss Indarto

Apa sih kebebasan itu, dan bagaimana pemahaman dasarnya? Dalam perspektif Frans Magnis-Suseno, lewat buku Etika Dasar (1990), ihwal kebebasan ditengarai dalam dua kategori, yakni kebebasan eksistensial dan kebebasan sosial. Kebebasan eksistensial dibingkai dalam sistem makna sebagai sejumput kemampuan manusia untuk menentukan tindakannya sendiri, atawa dirinya sendiri. Sementara itu kebebasan sosial dipahami sebagai kebebasan yang diterima dari orang lain, yakni kebebasan dalam relasinya dengan orang atau pihak lain. Dua kutub ini, kebebasan eksistensial dan kebebasan sosial, berhimpit erat secara relasional bahwa kebebasan sosial menjadi prasarat dasar bagi tegaknya kebebasan eksistensial. Di lain pihak, dimilikinya kebebasan eksistensial dapat membantu menegakkan kebebasan sosial.

Kebebasan, oleh karenanya, merupakan kebutuhan dasariah dan kepentingannya bersifat fundamental, sehingga tidak mengherankan andai kemudian intelektual Soedjatmoko dalam buku Etika Pembebasan (1985) berpendapat bahwa manusia memiliki kesanggupan intrinsik untuk hidup bebas. Namun demikian, pada titik ini tercatat ada perbedaan persepsi tentang kebebasan dalam kelompok masyarakat satu sama lain. Perbedaan itu nampak menggejala dalam realitas historik bahwa banyak kebudayaan tradisional di kawasan Asia tidak merasakan keperluan dan kepentingan menjadikan kebebasan manusia sebagai nilai yang eksplisit dalam persepsi mereka sendiri mengenai kebudayaan yang mereka peluk. Kelangsungan hidup dan kepaduan masyarakat-masyarakat mereka dibangun di atas jalinan yang rapat atas tugas-tugas juga kewajiban-kewajiban, dan bukannya di atas individu manusia dan hak-haknya. Kalaupun ada pencarian kebebasan dalam masyarakat seperti ini, kebebasan ini membopong arti yang berbeda.

Dalam konteks ini Soedjatmoko mendedahkan dengan baik bahwa—kecuali dalam tradisi Islam—kebudayaan-kebudayaan besar di daratan Asia secara tradisional bergulat dengan pencarian kebebasan melalui pelepasan jiwa atau “penyelamatan pribadi dari dosa”. Walaupun mereka melakukannya dalam konteks totalitas pengalaman keberadaan seseorang, tetapi ini dilakukan dalam pengertian yang sangat fundamental yang terpisah dari—dan tak ada hubungannya dengan—realitas serta kesejarahan hidup sosial.

Kalau pandangan-pandangan di atas dapat dijadikan sebagai titik tolak pembicaraan ihwal kebebasan yang dikaitkan dengan struktur sosial dalam masyarakat, maka diyakini bahwa diperlukannya beragam kondisi, seperti kondisi sosial politik, ekonomi politik, dan sosial kultural bagi sebuah kebebasan. Hal pertama masih menyangkut kemampuan masyarakat yang sedang berkembang untuk mengolah perubahan secara “tertib”. Di sini dapat ditengarai bahwa tanpa perubahan struktural dan secara fundamental, kebebasan tidak punya kesempatan untuk mengemuka. Sedang hal yang kedua, berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk berkembang, antara lain, mencapai dan memelihara keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesamarataan. Ini menyangkut ihwal persepsi manusia yang mendasari dirinya. Maka dibutuhkan pelahiran kesadaran-diri sebagai individu dalam proses individualisasi. Bagaimanapun, memang, kita bisa mengamini bahwa konsep dan gagasan perihal kebebasan pada dasarnya bermuasal dari tradisi dan kultur Barat yang menggenggam individualisme sebagai paham yang melekat di dalamnya.

***

Ketika modernisme sebagai ideologi menyebarkan pengaruh dan dominasi dari titik sumbunya di Eropa menuju setiap kisi jagad, kultur dan pola hidup banyak bangsa mengalami pergeseran, termasuk dalam kebudayaan-kebudayaan di kawasan Asia. Arus besar ideologi modernisme, antara lain, membawa agenda untuk berupaya memerdekakan individu demi merengkuh keparipurnaan dan kemandirian atas ketergantungan pada persoalan-persoalan yang diasumsikan begitu “hakiki” seperti kuasa alam juga konstruksi-konstruksi primordial yang telah menempel kuat sebagai sistem nilai jauh sebelumnya.

Bila dikaitkan dengan pemahaman tradisi dan kebudayaan di kawasan Asia—termasuk Indonesia di dalamnya—ideologi juga kredo modernisme senantiasa menjemput kebuntuan-pandang terhadap primordialisme yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia yang tak dapat dilepaskan begitu saja dari pola kehidupan agrikultural dan komunalnya. Maka, kalau kita menilik secara lebih mendalam, pemahaman atas subjek (individu) sebagai sebuah entitas yang mandiri atau munculnya otonomi pribadi dalam penciptaan karya seni telah menghasilkan perubahan besar dalam metode dan makna berkesenian bagi si pencipta.

Dari sini kita bisa sejenak berkesimpulan bahwa upaya individualisasi yang berimplikasi pada kebebasan eksistensial atau kebebasan sosial telah memberi atmosfir positif terhadap proses penciptaan. Situasi ini dapat menyeruakkan pandangan optimistik seperti yang lontarkan oleh sosiolog John Stuart Mill, yakni bahwa “semakin luas kebebasan berekspresi dibuka, maka akan semakin maju dan berkembang peradaban atau masyarakat tersebut”. Benarkah pernyataan ini jumbuh (dapat bertemu) dengan realitas dunia penciptaan yang berkembang di Indonesia?

Kalau kita bersepakat bahwa kebebasan adalah berarti keliaran, bukanlah pemberadaban yang terjadi, namun lebih sebagai jalan lurus menuju pembiadaban. Akan tetapi andai kita bersepaham bahwa kebebasan itu sama artinya dengan keteraturan, maka penciptaan dan pengayaan kebudayaan akan terus bergulir menuju keparipurnaan. Karena kebebasan yang berarti keteraturan itu akan membentuk dan menciptakan deretan sistem-sistem yang menciptakan harmoni di antara berbagai sektor dalam masyarakat. Dalam konteks ini kita masih harus belajar, yakni belajar—misalnya—menegakkan kepastian hukum, belajar menerima kritik, belajar berdemokrasi, dan lainnya. Dewasa ini kita serasa telah menggenggam kebebasan, namun nampaknya kebebasan itu serasa masih merupakan potensi. Di seberang itu, negara juga masih cukup terasa menyisakan tekanan terhadap publik. Namun parahnya, justru tidak didasarkan pada kebijakan kebudayaan yang sistematis seperti di RRC atau Eropa Timur. Artinya, sedominatif apapun, posisi negara tetap memegang kendali sistem dan disain besar lengkap dengan target-targetnya. Sementara di Indonesia, politik negara di masa lalu hingga zaman kini masih filistin, artinya miskinnya kepedulian terhadap kebudayaan.

Poin penting lain yang juga patut digarisbawahi adalah bahwa apa yang dikatakan John Stuart Mill tersebut menghambur dari suatu kultur yang telah mengembangkan Pencerahan (Renaisans) sejak Abad Pertengahan (di Eropa, yang menelurkan tiga hal penting: science, ethic, dan aesthetic). Sehingga ritus kebebasan mampu menghasilkan liberal arts. Kesenian itu untuk orang-orang bebas. Dan realitas ini diimplementasikan dalam berbagai lembaga pendidikan dan kebudayaan mereka. Fakta ini tentu saja begitu berjarak dengan realitas yang bergerak di kawasan Asia, termasuk di Indonesia.

***

Lalu, kini, untuk apa kita membincangkan kembali ihwal kebebasan? Adakah persoalan yang amat riskan, genting lagi krusial hingga menyeret-nyeret lagi topik pembahasan kebebasan itu? Saya kira nilai penting dari pemunculan kembali perbincangan tentang kebebasan tak lepas dari upaya mengulik lagi problem historik. Bangsa ini, secara kolektif, pernah mengimajinasikan sebuah order (tatanan) yang sama sekali berbeda dari situasi yang mengungkungnya waktu itu, yakni kolonialisme yang dominatif. Seratus tahun lalu, kiranya, mimpi-mimpi tentang kebebasan—yang eksistensial dan berpadu dengan yang sosial lewat berdirinya Boedi Oetomo sebagai (salah satu) titik picu pergerakan nasional—menjadi hasrat bersama yang terimplementasikan lewat banyak nilai dan praktik, di antaranya ihwal kejuangan. Genit memang mengulik perkara itu, namun itulah fakta historik yang tak terendapkan oleh waktu. Lalu juga, di negeri ini sepuluh tahun lalu, hasrat kolektif mengemuka untuk mengimajinasikan pada berpulangnya otoritarianisme dan militerisme Soeharto. Maka, gempita Gerakan Reformasi menjadi perangkat menuju mimpi bersama untuk mengonstruksi sistem nilai yang baru (berbeda) yang lebih mengedepankan aspek dan nilai kebebasan.

Kalau kemudian 50 karya lukis dari 50 seniman di sekujur ruang ini mencoba menerjemahkan secara subyektif dengan kerangka kreatif akan nilai-nilai kebebasan, maka saya kira, hal ini merupakan bagian penting dari upaya bersama untuk mengekspresikan, menandai, merayakan, membayangkan, menggagas, memikirkan dan mungkin mendefinisikan kembali makna kebebasan. Penting kiranya karena kebebasan (liberty) dalam kerangka pandang Freire-ian menjadi titik pokok untuk mengarah pada pembebasan (liberation). Dari sanalah kesadaran kritis (critical consciousness) berpangkal…

Salam FREEDOM!

Friday, May 16, 2008

Pameran Seni Rupa MANIFESTO



(Ini patung karya Nyoman Nuarta, Durjana, yang bertinggi kira-kira 3,5 m, dan sengaja ditempatkan di bawah kanopi depan Gedung A Galeri Nasional, Gambir, Jakarta. lanskap di atas kupotret Kamis malam, 15 Mei 2008, kira-kira pukul 23.00 WIB. Ada sekitar 350 seniman peserta yang masing-masing mengikutkan satu karya, yang terlibat dalam Pameran Besar seni Rupa Indonesia 2008: MANIFESTO)

MANIFESTO

PAMERAN BESAR SENI RUPA INDONESIA 2008
(kurator: Jim Supangkat, Rizki A. Zaelani, Kuss Indarto, Farah Wardani)

Galeri Nasional Indonesia
22 Mei – 15 Juni 2008

Terbuka untuk Umum
Setiap hari pukul 10.00 – 20.00 WIB

Dilaksanakan dalam kerangka:
-World Cultural Forum – Indonesia
-Visit Indonesia Year 2008

Peresmian Pameran:
Rabu, 21 Mei 2008 / Pukul: 19.30 WIB – selesai
Oleh: Bpk. Ir. Jero Wacik, SE
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI

Menyertai peresmian pameran, akan dilangsungkan acara:
Peresmian Patung Publik Galeri Nasional Indonesia
[Hasil Lomba Rancang Patung Ruang Terbuka GNI tahun 2006]

Peluncuran Buku"DEPICTING HISTORY OF INDONESIA IN TRANSITION:
Selected Masterpieces from The Indonesia National Gallery"
Ditulis oleh Amir Sidharta

Acara Publik:
SEMINAR "Menimbang Kembali 'Seni'
"Kamis, 22 Mei 2008/ Pukul: 09.00 – 17.00 WIB
R. Seminar Galeri Nasional Indonesia (Terbuka untuk umum)

Seminar akan diresmikan oleh:
Bpk. Drs. Tjetjep Suparman, Msi
Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film - DEPBUDPAR

Pembicara:
Jim Supangkat,
Radhar Panca Dahana,
John McGlyn,
I Bambang Sugiharto,
ST Sunardi,
Agus Burhan

Moderator:
Afrizal Malna,
Rizki A. Zaelani

Detil acara ini bisa disimak di:http://www.manifesto2008.info/

Thursday, May 08, 2008

Mon Decor Painting Festival 2008: FREEDOM




Seniman Peserta Mon Decor Painting Festival 2008: FREEDOM

Setelah dilakukan seleksi terhadap 713 proposal karya, maka Tim Juri yang terdiri dari DR. M. Agus Burhan (Ketua), Jim Supangkat, Ivan Sagito, dan Kuss Indarto, telah memutuskan sebanyak 30 karya/seniman untuk lulus menjadi peserta pameran Freedom. Pameran akan berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, 30 Mei-4 Juni 2008, dan di Galeri Nasional, 23 Juni-3 Juli 2008. 30 karya/seniman hasil seleksi tersebut akan berpameran bersama karya para seniman undangan. Berikaut nama-nama tersebut. (Pengumuman ini juga bisa disimak di www.mondecorpaintingfest.com dan www.mondecor.com)

DAFTAR SENIMAN HASIL SELEKSI

1. Agung Gunawan, Judul karya: Free Your Act! (Bebaskan Aksimu)
2. Agus Mediana Adiputra, Indonesia dalam Karung
3. Ahmad Ghozaly, Hore…
4. Amrianis, Eksploture
5. Andi Wahono, Inabsolute
6. Agung "Pekik" Hanafi Purboaji, Gak Rampung-Rampung
7. Ahmed Zafli, Kebebasan untuk Kemenangan
8. Anis Ekowindu, Freesoner
9. Awi Ibanezta, Refleksi
10. Daan Yahya, Founding Father
11. Fariko Edwardi, Esc (Escape)
12. Hery Sudiyono, Yang Tidak Bisa Dituliskan
13. Herman Lekstiawan, Pesta
14. I Made Wirata, Kebebasan Gerak Warna
15. Irawan Banuaji, Dawn Attack
16. Ismu Ismoyo, Khusyuk dan Sah
17. Muh. Alimin, Big Sale
18. Maslihar (Panjul), Dengan Segala Kerendahan Hati
19. Nur Khamin, Trafficking
20. Purwanto, Introspeksi (Satu Bumi Untuk Semua)
21. Restu Ratnaningtyas, On The Way
22. Riono Tanggul Nusantara Tatang, Ralat Of Marat
23. Sadarisman, Batas
24. Sigit Bapak, Studio Murni
26. Susanto, Berteduh Di Payung Rapuh
27. Suyono, Sesak
28. Tarman, Yang Tersudut dan Terbakar
29. Tri Wahyudi (TW Yudi), Freedom Of Expression
30. Wan Yulianto, Kehancuran

DAFTAR SENIMAN UNDANGAN

1. Agus Triyanto BR, Yogya
2. Artadi, Yogya
3. Bambang Pramudyanto, Yogya
4. Deddy PAW, Magelang
5. Doel Ahmad Besari, Semarang
6. Hadi Susanto, Yogya
7. Heri Kris, Yogya
8. Indieguerillas, Yogya
9. I Nyoman Darya, Yogya
10. Julnaidi MS, Yogya
11. Mujiharjo, Yogya
12. Rieswandi, Bandung
13. Riduan, Yogya
14. Rizal, Bandung
15. Robi Fathoni, Yogya
16. Setyo Priyo Nugroho, Yogya
17. Suitbertus Sarwoko, Magelang
18. Totok Buchori, Yogya
19. Ugy Sugiarto, Wonosobo
20. Zirwen Hazri, Padang

Saturday, May 03, 2008

Candi Gebang









Siang yang terik awal bulan lalu, 1 April 2008, aku janjian untuk bertemu dengan seseorang di bilangan ringroad utara Condongcatur, Yogyakarta. Tapi karena terlalu semangat barangkali, aku datang terlalu awal. Setengah jam lebih cepat, sehingga orang yang akan kutemui justru belum datang.

Maka kuputuskan untuk jalan-jalan dulu, melihat candi mungil, candi Gebang namanya. Jarak candi tersebut sekitar 2,5 kilometer dari pasar Condongcatur di sisi ringroad. Dari pasar menyusur jalan utama kira-kira 1 km hingga menemui jembatan, lalu persis di utara jembatan belok kanan atau ke timur kira-kira 1,5 km. Dari jembatan ke candi harus menyusuri jalan tanah, dan akan salah arah kalau tak cermat. Aku heran, ternyata di kawasan yang sebetulnya sangat berkembang ini, justru rute menuju situs sejarah ini nyaris tak ada perubahan dibanding keadaan sepuluh tahun lalu, saat pertama kali aku berziarah ke candi ini.

Candi Gebang yang berada di kelurahan Wedomartani, kecamatan Ngemplak, Sleman masih dikepung oleh sawah dan kebun tebu. Bererapa ratus meter di timur candi, sekarang ada bangunan baru yang “mewarnai” latar belakang lanskap candi, yakni stadion sepakbola milik pemda Sleman.

Dari catatan yang terpampang di papan informasi di depan pintu masuk, candi ini pertama kali ditemukan oleh penduduk pada bulan November 1936, berupa Arca Ganesha. Dinas Purbakala waktu itu (jaman Hindia Belanda, tentunya) langsung mengadakan penelitian, dan ditindaklanjuti dengan penggalian subyek benda di lapangan. Hasilnya, ditemukan reruntuhan bangunan yang terdiri dari atap candi, sebagian kecil bagian tubuh dan kaki Ganesha yang masih utuh.

Dari hasil temuan itu lalu direkonstruksi meski sebagian dari tubuh candi digunakan dengan batu pengganti. Akhirnya, konstruksi Candi Gebang dapat dipugar secara utuh untuk pertama kalinya antara tahun 1937-1939 yang dipimpin langsung oleh arkeolog Prof. DR. Ir. VR Van Romondt.

Kalau disimak secara rinci, tampang candi ini tak terlalu besar. Bahkan termasuk candi yang sangat mungil. Tingginya 7,75 m, dan panjang serta lebarnya masing-masing “hanya” 5,25 m. Bagian kaki candi memiliki proporsi yang tinggi dan polos tanpa relief. Tubuh candi memiliki satu bilik yang menghadap ke timur yang di dalamnya juga terdapat yoni. Di kiri pintu masuk terdapat relung yang dihiasi dengan arca Nandiswara. Sedang di kanan pintu, seharusnya dihiasi arca Mahakala, tapi telah lenyap. Di sisi barat tubuh candi terdapat arca Ganesha yang duduk di atas yoni dengan cerat yang menghadap ke utara. Sedang bagian atas terdapat lingga yang berada di atas bantalan saroja.

Latar belakang pendirian candi masih belum diketahui. Apakah dia sebagai ruang pemujaan, tempat upacara tertentu, simbol kekayaan tokoh tertentu, atau lainnya. Dugaan yang sudah bisa dipastikan adalah bahwa candi ini bersifat Hinduistis. Hal ini dapat ditengarai dari adanya lingga, yoni, dan arca Ganesha. Di samping itu, dengan merujuk pada proporsi kaki candi yang tinggi, dapat diduga bahwa Candi Gebang termasuk candi dari periode tua, yakni dibuat kira-kira antara tahun 730-800 M. Coba bandingkan dengan candi Borobudur yang diperkirakan didirikan oleh Samaratungga tahun 824 M (menurut disertasi DR. J.G. de Casparis tahun 1950), atau candi Prambanan yang didirikan oleh Rakai Pikatan tahun 850 Masehi.

Candi semacam ini, yang jumlahnya sekian puluh dan berserak (terutama) di sekitar Candi Prambanan, sayangnya, tak banyak dikenal oleh orang di sekitarnya. Anak-anak muda yang kuliah di sekitar candi ini, seperti di UPN, UII, STIPPER, atau USD, mungkin lebih mengakrabi term “candi Gebang” sebagai nama kampung, nama perumahan, atau identitas tempat, bukan mengetahuinya sebagai beradanya situs purbakala yang layak dikenal, Candi Gebang.

Aku juga tak tahu bagaimana strategi pemda Sleman atau DIY untuk memperkenalkan lebih jauh situs semacam ini ke publik. Yang pasti, menurut penjaga candi yang kutemui waktu itu, dalam sebulan candi ini kira-kira dikunjungi oleh 100 orang. Itupun oleh beberapa anak muda karena keblusuk ketika mencari tempat untuk pacaran. Bukan dengan motif dasar untuk menyimak candi ini. Sayang ya!