Sunday, August 31, 2008

Mondar-mandir di Agustus



Ini gedung Museum Akili saat siang hari (paling atas), para seniman finalis dan dewan juri tengah berpotret bersama, dan suasana halaman depan museum saat penyerahan award di malam hari (foto bawah)


Agustus ini ada beberapa acara yang mengharuskanku untuk mondar-mandir ke Jakarta hingga tiga kali. Semuanya, tentu, masih berkait dengan urusan seni rupa, namun cukup beragam variasinya. Dan jelas menyenangkan untuk diikuti.

Pertama, 13-14 Agustus, menghadiri diskusi terbatas untuk membahas hasil laporan penelitian tentang "Pemetaan Pelaksanaan Program Seni di Indonesia". Acara yang diadakan oleh Ford Foundation ini berlangsung di Hotel Alila di kawasan Pecenongan, Jakarta. Diskusi sehari penuh tersebut cukup produktif meski dihadiri oleh sedikit peserta. Ada Ratna Riantiarno, Marco Kusumawijaya, Oscar Motuloh, Iwan Irawan Permadi, Dyan Anggraini, Sudarmadji Damanik (?), dan beberapa orang lain yang aku lupa namanya (karena tidak semuanya ikut diskusi hingga tuntas). Sedang "tuan rumah" adalah dua peneliti, Helly Minarti dan Alex Supartono, serta Heidy Arbuckle, bule Australia yang kukenal bertahun-tahun lalu di Yogya yang ternyata sekarang di Jakarta.

Diskusi membahas paparan Helly dan Alex yang meneliti 5 kasus perhelatan seni dan lembaga seni di Indonesia, yakni Art Summit Indonesia, Festival Teater Jakarta, Jogja Biennale, Galeri Foto Jurnalistik Antara, dan Pasar Tari Kontemporer (Pastakom, Riau). Salah satu poin menarik dari diskusi tersebut adalah bahwa masih kuatnya ketergantungan dan peran negara terhadap perhelatan dan lembaga seni tersebut. Artinya, sokongan kebijakan dan kalau mungkin pendanaan masih dibutuhkan untuk kesinambungan event/lembaga tersebut. Namun, untuk kasus Bienalle Jogja, menurutku, itu lebih sebagai kepemilikan yang sebaiknya dipegang oleh negara (demi netralitas), dan kepengelolaan yang bisa dilimpahkan pada outsourcing karena aparatus kesenian negara tidak mampu.

Aku tak bisa lama-lama di Jakarta karena ada kewajiban untuk ikut menyiapkan pameran Indonesia Contemporary All Star 2008 di galeri baru di Yogyakarta, Tujuh Bintang namanya. Pameran ini melibatkan 37 seniman. Pembukaan pamerannya persis pada 17 Agustus 2008 malam.

Kesempatan kedua, aku harus ke Jakarta pada 21-22 Agustus. Ini untuk keperluan menghadiri pembukaan pameran "Mat(r)a Mata" yang berlangsung di D Gallerie di bilangan Kebayoran Baru. Kebetulan aku menguratori pameran ini yang kupersiapkan dengan waktu yang relatif singkat, yakni 3 bulan dengan melibatkan 6 seniman, yakni Eddy Sulistyo, Joko "Gundul" Sulistiono, Lulus Santosa, Nurkholis, Slamet "Suneo" Santoso, dan Tommy "Tato" Tanggara. Persiapan yang mepet ini membawa risiko cukup merepotkan, karena terpaksa harus menenteng seratus eksemplar katalog saat naik pesawat. Apa boleh buat, dari awal aku juga diberi tanggung jawab oleh pemilik galeri, Mbak Esti Nurjadin, untuk meng-handle mengurusi katalog karena mungkin dia tak ingin repot. Juga berkaca pada pengalaman pameran sebelumnya, bulan Mei lalu, ketika katalog dibuat di Jakarta dan hasilnya ternyata kurang bagus.

Yah, risiko. Tapi aku cukup senang karena respon publik terhadap pameran ini cukup menarik. Banyak tetamu. Apalagi yang buka pameran orang penting, yakni Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Muhamad Lutfi, yang masih muda dan istrinya tergolong public figure, Bianca Adinegoro. Memang, malam itu banyak tante-tante muda nan cantik hehehe...

Seminggu berikutnya, 27-28, kembali aku ke Batavia. Aku berangkat dalam keadaan cukup capek karena sehari sebelumnya pergi ke Wonosobo dan pulang hingga jam 21.00an. Tujuan utama ke Jakarta kali ini untuk menghadiri penyerahan Akili Museum of Art Award (AMAA) 2008, di kawasan Kedoya, persisnya di kompleks Mutiara Kedoya yang mewah. Aku wajib datang karena menjadi salah satu dewan juri yang memilih sang perupa pemenang tahun ini, Agus Triyanto BR, yang akhirnya berangkat ke Central Academy of Art di Beijing, China. Acara tanggal 27 malam ini merupakan puncak dari rentetan aktivitas sebelumnya yang berawal pada akhir Januari lalu. Waktu itu aku dihubungi langsung oleh Pak Jim Supangkat untuk bergabung sebagai salah satu Dewan Juri. Jelas mau dong! Apalagi bergabung dengan para senior dalam seni rupa, jadi bisa banyak menimba pengalaman. Juga yang punya acara adalah lembaga privat yang (tampaknya) punya concern terhadap pembinaan karier seniman, ya aku iyakan. Maka bergabunglah aku dalam tim yang terdiri dari Jim Supangkat, Chusin Setiadikara, Rizki A. Zaelani, dan Suwarno Wisetrotomo.

Acara malam penyerahan itu berlangsung cukup riuh. Ada ratusan tetamu yang silih berganti datang memadati halaman museum yang luas dan asri. Tetamu kemudian juga beralih masuk ke dalam museum yang memajang puluhan karya lukis para seniman senior dan seniman finalis AMAA yang tergabung dalam pameran bertajuk "From the Cam to Com".

Secara umum aku senang karena terlibat dan punya cukup andil dalam mengegolkan nama-nama seniman yang akhirnya jadi finalis, bahkan pemenang. Atau setidaknya mendorong beberapa nama yang belum diperhitungkan untuk masuk dalam pelataran penting seni rupa yang dimungkinkan banyak dibicarakan. Yah, setidaknya, berita tentang perhelatan AMAA tersebut sampai menyita setengah halaman seni harian Kompas edisi hari ini. Aku yakin ada dampaknya, entah bagi lembaga AMA ataupun seniman peserta yang masih belum dianggap penting... Siapa tahu!

Ah, lupakan itu semua! Aku akan segera bekerja dan berbuat yang lain lagi, lebih banyak lagi, sekecil apapun sumbangannya bagi lingkungan di sekitarku. Semoga!

Monday, August 18, 2008

Praktik Konsumsi, Ruang, dan Yogya

Tujuh Bintang Art Space tampak dari depan. venue seni ini dibuka pada 17 Agustus 2008 dengan pameran Indonesia Contemporary All Star 2008 yang melibatkan 37 seniman.
Oleh Kuss Indarto
(Catatan ini dimuat dalam katalogus pameran Indonesia Contemporary All Star 2008 sekaligus launching Tujuh Bintang Art Space, di Jalan Sukonandi 7, Kusumanegara, Yogyakarta. Pembukaan pameran dilakukan pada hari Minggu, 17 Agustus 2008 dengan 37 seniman, antara lain Ugo Untoro, Tisna Sanjaya, Nasirun, Entang Wiharso, Hanafi, Edo Pop, Suraji, Nurkholis, Laksmi Shitaresmi, dan lainnya)
“Marilah kita pikirkan, bahwa di samping segala investasi yang hasilnya kelak di kemudian hari dapat diukur dengan uang, investasi kulturil tidak demikian halnya. Apa yang pernah kita tanamkan sebagai modal seni, modal kebudayaan, akan memberikan bunga dan buah karya-karya seni yang tak ternilai nilainya. Mungkin generasi kita tidak bisa menikmatinya, tapi generasi anak-anak kita, yang akan mengenyam hasilnya. Investasi seni dan budaya mempunyai jangka waktu yang tidak singkat.” Gubernur DKI Jakarta Raya Ali Sadikin, 10 November 1968, pada sambutan pembukaan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta


[satu]

Namanya Imelda. Sehari-harinya sebagai seorang disainer produk, distributor home lifestyle product, dan menetap di Singapura. Perempuan muda nan cantik—ibu dari 2 orang putra yang sedang menggemaskan—pada siang yang terasa kerontang itu mendarat di Yogyakarta bersama sang ayah, Ghozali. Mereka berdua terbang dari bandara Changi di negeri Singa tersebut, transit di Soekarno-Hatta, Jakarta, untuk lalu landing di bandara Adisucipto. “Pendaratan” ke kota Gudeg ini hanya berbekal satu hasrat, yakni menyambangi sebuah pameran/festival seni lukis di pengujung akhir bulan Mei 2008 lalu. Dan kalau ada karya yang “mengganggu” kesadaran artistiknya, merekapun akan mengoleksi.

Sebetulnya kedatangan Imelda terlalu dini karena pembukaan pameran secara resmi baru akan dilakukan dua hari berikutnya. Tapi justru di sini titik pentingnya, karena dia mesti berlomba dengan calon kolektor lain dalam berburu karya lukis. Siapa cepat dia dapat, begitu kira-kira adagium perburuan yang dipakai. Dia tak peduli dengan kemasan yang riuh-rendah hingga heboh bernama seremoni pembukaan pameran karena pada dasarnya hal yang juga tengah dikejar adalah ketajaman cita rasa estetik yang telah dibangunnya tatkala kuliah di Eropa selepas menuntaskan pendidikan dasar hingga menengah di Jakarta.

Sekitar dua jam dia mengitari seluruh ruang pajang yang belum tuntas didisplai oleh para kru perhelatan pameran tersebut. Sesekali dia bertanya mengenai detail sebuah karya lukis yang menyedot minat dan perhatiannya. Mulai dari judul karya, siapa senimannya, bagaimana konsep kreatifnya, latar belakang proses pencitaannya, pencapaian teknisnya hingga—tentu saja—harga nominal lukisan tersebut. Ketika beberapa karya yang diminati “lulus” screening dan seleksi dari penilaian subyektivitas, segera Imelda bilang untuk me-reserve karya tersebut. Beberapa karya dia reserve sekaligus. (Meski ini tak menjamin baginya untuk mendapatkan karya yang diinginkan karena waktu itu panitia “terpaksa” memberlakukan sistem lotere untuk “memenangkan” calon kolektor dalam mengoleksi sebuah karya).

Urusan utama selesai. Seusai itu dia pergi makan siang, jalan-jalan sebentar di seputar Malioboro sekadar menghabiskan waktu sebelum sore itu juga harus kembali ke bandara Adisucipto dan bertolak ke Singapura. Beberapa hari berikutnya, Imelda mengirim perasaan kecewanya via e-mail ke penulis karena “kalah lotere” dan tak mendapatkan satupun karya yang diminati. Namun, apapun, dia tetap harus menghargai kenyataan itu sebagaimana dia memberi penghargaan terhadap rekan kolektor lain yang juga bersusah payah berburu karya. Imelda tidak sendirian. Karena pada momen yang sama juga ada beberapa orang (muda) lain yang bergerak dan atau landing beberapa jam di Yogya, melakukan deal-deal dan transaksi finansial di ruang pameran seni rupa, lalu cabut meninggalkan Yogya sembari menerakan angka-angka rupiah yang tidak kecil jumlahnya.

Inilah salah satu penampang kecil dari arus praktik konsumsi yang tengah begitu menggejala pada kanvas seni rupa di Indonesia, khususnya yang bisa diamati di Yogyakarta. Kawasan ini, memang, menjadi situs penting dari perkembangan seni rupa paling dinamis ketimbang kota lain di Indonesia. Sosok semacam Imelda seperti yang terpapar singkat di atas kini telah menjadi pemandangan yang tak sulit ditemui pada banyak perhelatan pameran seni rupa. Mereka inilah para kolektor seni rupa generasi baru dengan latar belakang dan perbendaharaan pengetahuan yang cukup berbeda dengan generasi sebelumnya. Usia mereka relatif masih muda, berkisar 25 hingga 40-an tahun, tak sedikit yang mengecap pendidikan di mancanegara, sudah memegang kendali bisnis (entah mewarisi generasi sebelumnya atau gigih membangun sendiri), dan kemauan untuk mencerap pengetahuan di luar dunianya cukup tinggi. Setidaknya, jangan-jangan, ini dibentuk oleh sistem pengetahuan yang memadai tatkala mereka menimba ilmu di bangku kuliah, pergaulan yang luas, dan serapan atas gelombang arus informasi yang bergulung kuat lewat jaring-jaring teknologi internet dan media lainnya.

Realitas ini sedikit banyak telah mengetengahkan adanya pencerdasan pengetahuan estetik (aesthetic literacy) pada diri kolektor. Dengan amunisi kosa pengetahuan seni lewat jalur informasi yang banyak berseliweran di sekitarnya, para kolektor ini telah mulai memiliki sistem filtrasi tertentu—dengan segala subyektivitasnya—untuk memberi penilaian terhadap sebuah karya yang menurutnya memadai untuk dikoleksi atau tidak. Atau kalau meminjam terminologi ilmu pemasaran (marketing) seperti yang diintroduksikan oleh Kotler, Hermawan Kartajaya atau Tung Desem, ada tiga tahapan yang telah terserap oleh para kolektor ini dalam proses resepsi atas karya, yakni tahap eye share, brain share, dan heart share. Ini adalah tahapan yang bertingkat secara hierarkhis dimana para kolektor sebagai apresian tersebut telah melampaui jenjang awal ketika mereka (1) dipasok terus-menerus oleh penampakan visual karya, lalu (2) disodori perihal dunia gagasan di balik praktik kekaryaan tersebut, dan akhirnya (3) diberi sebentuk jembatan komunikasi dan persuasi bersifat personal lebih lanjut yang membangun relasi intim antara seniman, karya, dan apresian.

Dua poin pertama merupakan penggalan pengalaman yang telah banyak dilalui, yakni pengalaman melihat dan kemampuan kognitif untuk memberi rasionalisasi atas teks visual. Artinya, mereka ini sudah mulai tahu dan mampu membedakan mana karya Jean-Michel Basquiat, mana Keith Harring, berikut latar belakang penciptaan karya seniman tersebut. Mereka mulai cukup paham mana Andy Warhol, mana Galam Zulkifli. Mana Banksy, mana Arie Diyanto. Mana Takashi Murakami, mana seniman Indonesia yang berkecenderungan ke pola-pola street art yang mulai menggejala dengan melimpah. Sedang pada poin ketiga mengisyaratkan sebuah “diplomasi kultural” dalam format kecil-kecilan untuk melakukan tawar-menawar nilai antara seniman sebagai kreator dan kolektor yang mencoba meresepsi karya seni.

[dua]

Akhirnya sebuah galeri kembali hadir. Tujuh Bintang Art Space brand name-nya. Kehadirannya seperti mengisi sekaligus menguatkan kesadaran psikologis atas kota Yogyakarta yang menabalkan diri sebagai kota seni budaya. Kota dengan kepemilikan atas pemimpin yang berjuluk Sultan (Hamengkubuwana X) yang tidak saja diandaikan sebagai pemimpin politik, pemimpin administratif namun juga pemimpin kultural. Sebuah posisi dengan “derajat” yang melampaui pemimpin kawasan lain karena diekspektasikan mengisi atmosfir humanisme yang dibutuhkan warga pada komunitas di dalamnya ketimbang atmosfir politis seperti yang terjadi di kawasan lain. Meski pola relasi yang terjadi seperti meneruskan praktik feodalisme antara raja dan hamba sahaya di seberangnya, namun bangunan praktik yang terjadi seperti ayah-anak, ketimbang relasi “feodalisme modern” antara gubernur-rakyat yang justru sering terjerembab seperti relasi raja-budak. Maka, ekspektasi besar yang mengemuka adalah kepemilikan atas pemimpin yang mampu memangku aspek budaya di dalamnya, termasuk (dan terutama) pada ranah kesenian.

Hadirnya galeri ini tentu diniscayakan akan memarakkan geliat dinamika kehidupan seni rupa yang telah ‘larut’ di kota ini. Jauh melampaui kota-kota lain di Indonesia. Sebagai ilustrasi yang cukup kuno—seperti dicatat oleh Yayasan Seni Cemeti, sekarang Indonesia Visual Art Archive (IVAA)—sepanjang 2005 lalu, di sekujur kota Yogyakarta dan sekitarnya telah tergelar 223 perhelatan seni rupa yang bertebaran di 60-an venues atau ruang seni. Mulai dari acara besar yang dikerumuni ribuan pengunjung hingga perhelatan mungil di rumah kontrakan yang disambangi segelintir apresian. Venue yang relatif dinamis seperti Bentara Budaya mampu menyelenggarakan pameran hingga 27 kali setahun. Kemudian Rumah Budaya Tembi 17 event, Griya KR (15), Rumah Seni Cemeti (11), Kedai Kebun Forum (11), Via-Via Café (13), Lembaga Indonesia Perancis (7). Sedang gedung milik pemerintah seperti Benteng Vredeburg tercatat 11 perhelatan dan Taman Budaya Yogyakarta (5).

Juga tak sedikit venues lain yang relatif baru dan dimiliki secara perorangan, telah mempunyai program yang cukup tertata. Pun dengan ruang-ruang lain yang awalnya tidak ditendensikan sebagai ruang seni rupa. Misalnya Museum dan Tanah Liat dengan 8 event, Galeri Biasa (4), Parkir Space (7), Wisma Ary (3), Gramedia (3), Hamursava (5), Ministry of Café (6), dan lainnya. Dari keseluruhan banyaknya perhelatan itu, maka bila dihitung rerata dalam sebulan ada lebih dari 18 event, atau lebih dari 4 kali event per minggu. Ini sebuah capaian angka yang bisa menguatkan maklumat kota ini sebagai kota seni dan budaya. Capaian ini tentu tak lepas dari masyarakat penyangganya yang punya militansi kuat pada dunia seni rupa dengan jumlah yang tidak banyak (di antara 3,2 juta penduduk DIY) – yang ditumbuhkan oleh sekolah dan kampus seni rupa, komunitas seni, dan lainnya. (Dengan segala maaf, data “jadul” ini justru sengaja dikemukakan untuk memberi penekanan bahwa situasi paling mutakhir terdapat realitas yang lebih berbeda: ada ruang seni yang mampat dan “terbunuh” oleh ketakmampuan pengelola(an)nya, ada pula ruang-ruang seni yang makin bertumbuh padat dengan frekuensi perhelatan seni rupa yang kian kerap).

Lantas, bagaimana Tujuh Bintang Art Space akan mengambil posisi dan peran di celah belantara ruang dan perhelatan seni rupa Yogyakarta?

Dengan positioning sebagai galeri (komersial), tentu bukan perkara mudah untuk memainkan perannya. Publik seni rupa Yogyakarta sendiri – secara bergurau – sepertinya telah (pernah) kadung punya garis justifikasi bahwa Yogyakarta adalah kuburan bagi galeri komersial. Beberapa di antara mereka yang sebenarnya dikelola dengan cukup serius telah pernah tumbuh di sini, namun kemudian berkalang tanah tak lebih dari usia dua tahun. Misalnya galeri Embun atau galeri Oktober – untuk menyebut beberapa nama. Artinya galeri yang menghasratkan diri sepenuhnya hidup dari hasil transaksi finansial atas karya-karya seni rupa di dalamnya, belum cukup memungkinkan bertumbuh di Yogyakarta.

Ini memang memuat masalah yang kompleks. Mulai dari problem manajemen, jaringan pasar yang belum cukup terbangun pada masing-masing galeri, hingga pada problem code of conduct dalam mekanisme dan sistem pasar seni rupa yang masih teramat sulit terbentuk (karena sebenarnya nyaris masih nirsistem, tanpa sistem). Artinya – sebagai contoh kasus – tak ada aturan baku yang memungkinkan seorang kolektor seni rupa hanya akan mengoleksi lukisan dari ruang-ruang pajang di sebuah galeri saja, dan bukan dengan cara door to door di rumah atau studio seniman. Tak ada aturan yang secara santu “membikin malu” orang-orang kepanjangan tangan balai lelang yang ikut-ikutan berkeliaran melambai-lambaikan segepok uang dari rumah ke rumah seniman, sehingga mekanisme pasar seni rupa kian penuh silang-sengkarut. Oleh karenanya, adagium “untuk apa beli di toko kalau bisa memborong langsung di pabriknya” terus berlaku di sini. Kolektor merangkap jadi kolekdol (mengoleksi dan dijual lagi). Ini memang tak sepenuhnya salah karena ada relasi yang mutualistik dengan seniman. Namun, apa daya, mentalitas sepeti inilah yang kerap mematikan keberadaan galeri komersial di Yogyakarta (atau Indonesia).

Kelimun persoalan berikutnya yang segera menyergap saya yakin akan kian banyak dan kompleks. Maka, bagi sebuah galeri baru, persoalan latent yang mesti dilakukan sebagai siasat untuk bernafas panjang adalah menerapkan tiga hal penting, yakni membangun citra, meluaskan jaringan, dan menguatkan program. Tiga hal itu bisa saling berintegrasi satu sama lain.

Membangun citra jelas berkepentingan untuk menanamkan kesadaran yang lebih dalam atas keberadaan dan positioning ruang ini di mata publik. Bahwa Tujuh Bintang Art Space adalah galeri yang berorientasi ke pasar namun tidak pasaran, misalnya, adalah hal elementer yang mesti dicarikan titik hubungnya dengan kualitas program pameran yang matang dan terencana, menyeimbangkan antara kepentingan yang pragmatis dan idealis, memberi kontribusi dengan mengakomodasi seniman (yang di)pinggir(k)an, melepaskan praktik koncoisme dan nepotisme yang akut, dan pelbagai persoalan ikutan yang berderet mengikutinya.

Atau kalau brand-name galeri sudah berimplikasi secara melekat membawa citra kota, maka pencitraan sudah bisa diharapkan mampu memberi imbas balik yang elegan dan mutual bagi citra kota Yogyakarta. Ini bisa diimplementasikan dengan meluaskan jaringan dengan galeri atau art space di kota-kota dunia lainnya, misalnya. Ini pun bisa lebih lanjut membangun program kota kembar atau sister city yang berorientasi pada program seni rupa. Misalnya dengan kota Kyoto yang bekas kota kekaisaran di Jepang sehingga punya kesetaraan. Atau dengan kota-kota lain di dunia yang sesama anggota Liga Kota Bangsa sedunia karena kesetaraan garis sejarahnya dan sederajat status administrasinya. Misalnya dengan kota Sidney di Australia, Amsterdam (Belanda), Madrid (Spanyol), Singapura, Seoul (Korsel), Basel (Swiss), dan lainnya.

Beberapa seniman atau lembaga seni di Yogyakarta-pun, saya percaya, sebenarnya telah pernah menjalin relasi dan kooperasi yang baik dengan ruang-ruang seni penting di kota-kota tersebut, dan karenanya bisa diharapkan keterlibatannya untuk membangun jaringan.

Dengan demikian, program kegiatan galeri pun nantinya bisa lebih kaya, meluas, dan mematangkan citra sebagai ruang seni penguat simbol kota Yogyakarta sebagai kota seni budaya. Toh label sebagai art space tidak sekadar dicitrakan dengan habis-habisan membuat pameran, “rebutan” seniman, dan menghitung denting rupiah yang dapat tertangguk karenanya. Namun juga investasi kultural yang sudah barang pasti diagendakan untuk memberi pengayaan batin, pencerdasan estetik bagi senimannya sendiri, dan publik seni yang menjadi masyarakat penyangganya.

[tiga]

Bagaimanapun, ada banyak kolektor dengan segala jenis dan kepentingan di balik praktik konsumsinya. Termasuk seorang kolektor lukisan yang menceritakan pengalamannya ketika melihat kesulitan posisi para seniman ketika iklim ’pasar’ semakin meruyak di masyarakat, seperti yang saya angkat kembali dari artikel ”Kolektor Dua Jaman” di Majalah Visual Art, 2004, hlm 011:

”(Kondisi) tidak berkembang, sulit menemukan sesuatu yang baru, agaknya menjadi tantangan terbesar pelukis saat ini. Kebutuhan akan lukisan – terutama untuk kepentingan interior bangunan – yang terus meningkat membuat semua pelukis seperti terburu-buru. Melukis lebih banyak. Melukis lebih cepat. Menjual lebih sering. Mereka seperti ketakutan kehilangan momentum harga yang tinggi hingga lupa belajar, merenung, dan terus mengaktualisasikan diri.”

Ia melanjutkan berbagai pandangan sebagai kolektor lukisan: ”Saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa seseorang dilahirkan sebagai artis besar. Bakat memang penting. Namun seoarng artis harus terus menerus mengembangkan diri. Semua usahanya itu akan tercemin pada karya-karya yang dihasilkannya. Jangan lupa, tingkat intelektual kolektor atau investor akan terus meningkat. Kalau artis tak bisa mengimbangi kecepatannya, lambat laun akan ditinggalkan orang.


Seorang penari latin andal pasti menguasai dasar-dasar menari balet. Begitu juga dengan pelukis. Miro dan Picasso misalnya. Sebelum menemukan bentuknya seperti yang sekarang kita kenal, mereka melukis naturalis dengan sangat baik. Lihat saja karya Picasso Garcon a la Pipe yang Mei 2004 terjual US$ 104, 1 juta di lelang Sotheby’s New York. Lukisan itu tidak bisa dibilang biasa-biasa saja.


Tapi kita semua tak perlu khawatir. Apa yang terjadi sekarang tak akan berlangsung selamanya. Anggap saja ini masa peralihan yang sayangnya kita tidak ketahui kapan akan berakhir. Kita ingin cepat berakhir, namun semua bergantung pada semua lapisan masyrakat seni rupa. Ya pelukisnya, ya kolektornya. Jika terpaksa harus ada yang namanya lost generation, anggap saja itu sebagai harga yang harus kita bayar untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Saya yakin, pada saatnya nanti, akan ada pelukis yang lebih sibuk belajar dan mengembangkan diri ketimbang terus menerus membuat dan menjual lukisan.


Apa boleh buat, inilah penggalan persoalan yang mesti kita jadikan titik picu untuk pembenahan, di dalam dan di luar diri kita. Selagi kita mau dan berhasrat untuk itu.

Kuss Indarto, kurator seni rupa.

Friday, August 08, 2008

Realitas Sketsa ala Arsitek-Seniman

(Catatan ini dimuat dalam buku kumpulan sketsa Eko Prawoto yang diluncurkan pada pembukaan pameran tunggalnya di Cemeti Art House, Kamis, 7 Agustus 2008)

Oleh Kuss Indarto

Saat kecil, saya merasa beruntung memiliki secuil minat untuk membaca. Di samping buku-buku pelajaran yang menjemukan dengan metode pengajaran beberapa guru yang membosankan, di sekolah dasar (yang saya kenyam di Yogyakarta dan Banyumas pada awal 1980-an), ada pilihan lain untuk menyimak bacaan yang cukup mengayakan pengalaman batin. Setidaknya ada tiga majalah anak-anak yang cukup rajin saya baca waktu itu, yakni Kawanku, Si Kuncung (keduanya terbitan Jakarta), dan Gatotkaca (terbitan grup harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta). Majalah anak-anak lainnya yang sesekali menyita perhatian adalah Bobo (Gramedia, Jakarta) dan Putera Kita (terbitan grup harian Bernas, Yogyakarta). Ya, sesekali mereka itu menjadi pelarian yang mengasyikan dari kerumunan rutinitas di kelas.

Seperti pada umumnya anak-anak, saya mendahulukan ketertarikan terhadap bacaan tersebut karena aspek visual yang amat membetot perhatian, untuk kemudian menelusuri dan menyimak kata demi kata yang menyertai gambar. Gambar-gambar itu, yang tampil “hanya” hitam-putih dan sering ditorehkan dengan “tidak selesai”, ternyata memberi impresi yang membekas begitu dalam. Bahkan hingga bertahun-tahun. Setidaknya, saya masih ingat nama-nama para “juru gambar” itu seperti Ryadi S., Syahwil, Mulyadi W., dan Ipe Ma’aruf yang acap muncul di Kawanku dan Si Kuncung, serta ada nama Herry Wibowo di Gatotkaca.

Nama dan karakter karya mereka kian menukik kuat dalam ruang ingatan setelah pada tahun-tahun berikutnya—lewat media bacaan yang selaras dengan usia yang bergeser—saya “temukan” kembali dalam nuansa yang berbeda. Umpamanya, pada sebuah edisi, ada koran yang memberitakan tentang pameran sketsa karya Ipe Maa’ruf, berikut foto karya yang terpampang di samping berita. Dari situ kemudian penalaran yang sederhana bergerak untuk mengilas balik karya-karya Ipe Ma’aruf yang pernah saya lihat bertahun-tahun sebelumnya, yang ternyata “sekarang” dikerangkai dengan nama sketsa.

Dan pemahaman ihwal sketsa ini kemudian saya pelajari banyak secara praktik dan diawali dengan cara yang “penuh kenangan” ketika terdampar masuk kuliah di Jurusan Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Saya wajib mengikuti mata kuliah Sketsa selama dua semester pertama, yang seluruhnya diampu oleh dosen senior bernama Herry Wibowo. Ya, saya katakan “penuh kenangan” karena adanya pertautan antara pengenalan tentang sketsa lewat majalah yang dibaca ketika masa kanak-kanak, dan pelajaran tentang sketsa yang diserap saat di bangku kuliah dengan guru yang sama. Dalam gradasi tertentu, apa ini bisa disebut sebagai déjà vu? Tak tahulah…

***

Sketsa-sketsa yang saya simak di masa kecil menjadi mengesankan, karena secara subyektif mampu menghadirkan sekaligus mengekalkan benda-benda, potongan-potongan peristiwa, dan keping-keping waktu dalam sebuah panel. Dan inilah kiranya ciri-ciri karya sketsa. Dalam pemahaman awal, karya jenis ini menjadi kanal bagi sang sketser untuk memuntahkan ekspresi visualnya di atas kertas. Ekspresi itu berujud rangkaian garis, noktah, atau bidang dengan segala fleksibilitas dan dinamikanya untuk memotret subyek benda secara on the spot. Cara pengekspresian ini dimungkinkan kalau ada external model yang bisa direkam secara langsung atau diserap terlebih dahulu sebagai bekal yang hendak dipindahkan dalam media tertentu seperti kertas. Di samping itu, dimungkinkan juga munculnya imajinasi yang distimulasi dari inner model untuk kemudian menelurkan karya-karya sketsa. Ini hanya soal pilihan yang tidak bisa diurutkan dengan kerangka hierarkhis satu sama lain.

Ada kalanya sketsa dibuat serupa visual diaries seperti diistilahkan oleh Albert W. Porter (The Art of Sketching, 1977), yakni catatan harian bergambar ketika seseorang mengekspresikan reportase mata, gagasan-gagasan imajinatif berikut eksperimen-eksperimen visualnya. Sketsa menjadi salah satu jalan alternatif yang kuat untuk menumpahkan ide-ide yang ada di depan mata yang bisa dilakukan dengan kepraktisan material dan efisiensi waktu. Hal ini menjadi kelebihan kecil bila dibandingkan dengan kerja praktik kreatif yang lain seperti menggambar, melukis, mematung atau lainnya.

Pada konteks ini kemudian bisa berkembang asumsi kita tentang posisi karya sketsa yang berkait dengan ihwal proses dan tujuan. Pertama, karya sketsa bisa dipahami sebagai sebuah bagian atau tahap awal dari rangkaian kerja kreatif berikutnya. Artinya, kata “sketsa” seperti memiliki pengertian yang integral dengan kata “rancangan”, sehingga karya sketsa seolah dihasratkan sebagai “miniatur” atau “bahan mentah” dari karya lukisan dan lainnya, yang dibuat pada tahap selanjutnya. Kedua, berseberangan dengan pengertian sebelumnya, karya sketsa dapat diasumsikan sebagai sebuah karya yang utuh, mandiri dan otonom, seperti halnya karya lain semisal lukisan atau patung. Artinya, sketsa telah berhenti sebagai “tujuan”, sebagai karya yang independen dan tak berkait dengan proses kreatif lainnya.

***

Kalau kemudian ketika kita dihadapkan pada rentetan karya-karya sketsa karya Agus Eko Prawoto, maka secuil paparan di atas bisa sedikit diaplikasikan untuk menyimak lebih dalam hasil kerja kreatifnya selama bertahun-tahun. Sebagai seorang arsitek yang juga seniman, Eko nampak memiliki kepekaan artistik dan estetik yang seolah bergerak kuat secara organik dalam dirinya. Karya sketsanya yang dibuat di berbagai kawasan, beragam negara, pada variasi waktu yang terentang cukup panjang—bagi saya—mengisyaratkan adanya segi kebutuhan dasariahnya yang dalam untuk mengenal dan mencoba karib dengan external model yang tiba-tiba terpapar di hadapannya.

Desa Tenganan di Bali, kampung di lembah Sungai Code, Yogyakarta, sudut jalan di Gwangju, Korea Selatan, pojok Topkapi Palace di Istanbul, Turki, Rijkmuseum, Amsterdam, gereja Roros di Norwegia, street café di Melbourne, dan lainnya, telah menjadi external model yang cukup inspiratif untuk dipindahkannya di atas kertas-kertas kuarto putih.

Di sebalik aktivitas Eko ini, sekarang, tak banyak lagi perupa kita yang “sanggup” merepotkan diri menjumput sepotong peristiwa-sekelebat waktu-sebongkah benda yang ditemui di belahan kawasan lain. Teknologi fotografi telah sanggup mendokumentasikan obyek benda-peristiwa relatif secara detail, dan ini telah berkontribusi untuk menyingkirkan aktivitas membuat sketsa.

Saya belum tahu persis dalih Eko menyisakan kesempatan untuk membuat sketsa di banyak tempat yang diziarahi. Namun kehadiran karya-karya ini—saya duga—menjadi sangat penting karena beberapa hal, yakni sebagai (1) perangkat ekspresi, (2) alat dokumentasi, serta (3) inspirasi dan preparasi atas karya berikutnya. Sebagai seniman yang bentuk ungkap ekspresinya banyak dicurahkan lewat material tiga dimensional, seperti instalasi dengan bahan bambu, maka karya sketsa menjadi penting kehadirannya untuk menilik kemampuan dasar “konvensional”-nya. Apalagi dalam ranah pergaulan masyarakat seni rupa, masih saja ada anggapan “konservatif” yang tak bisa seutuhnya ditampik bahwa kemampuan menggambar dan membuat sketsa menjadi salah satu ukuran untuk melihat pencapaian karya yang lain/berikutnya, seperti melukis, mematung, membuat instalasi, dan lainnya, di samping sistem dan cara berpikir sang seniman yang kini juga punya peran besar dalam menentukan di posisi mana dia akan berada. (Faktor luck tentu sulit untuk diperbincangkan di sini). Dan dalam posisinya sebagai arsitek, karya sketsa-sketsanya ini—yang sebagian besar berupa lanskap bangunan—akan memberi imbas yang inspiratif bagi kreasi karya arsitertur berikutnya.
***

Secara umum, sketsa-sketsa karya Eko memiliki karakter yang spesifik. Kekuatannya dalam menarik jalinan garis lurus tanpa putus memberi warna pada sebagian besar karyanya. Meski kecenderungan umum ini sudah menjadi kekhasan pada sketsa para arsitek, namun pada karya Eko ada “kekurangannya”, yakni—pada beberapa karya—cenderung tidak rapi dan cukup ekspresif. Dalam kerangka pandang seni rupa, justru aspek tersebut menjadi kelebihan karena proses membuat sketsa ini tak lagi sekadar memindahkan subyek benda-peristiwa yang ada di seberang mata sang kreator, namun juga dimungkinkan memasukkan gejolak ekspresi dan persepsi pribadi di dalamnya.

Hanya saja, karakter garis yang diguratkan Eko cenderung monoton karena memakai perangkat kerja yang sudah menjadi pilihannya bertahun-tahun, yakni sejenis track pen yang pada satu sisi kurang banyak mendukung adanya improvisasi dan variasi garis. Maka tak akan banyak ditemui jalinan garis tebal dan tipis yang secara ekstrem berdampingan untuk membentuk subyek benda tertentu. Namun sebaliknya, di sisi yang berseberangan, akan banyak ditemui dalam buku ini beberapa detail sebuah sudut tempat dan benda, dan lalu dampingkannya dengan bidang kosong. Di sinilah kelebihan Eko dalam bermain komposisi bentuk dan ruang. Maka, “realitas sketsa” yang dibangun Eko tentang sudut kampung Klitren, Yogyakarta, misalnya, memiliki dimensi yang spesifik ketimbang realitas faktual kampung tersebut yang sesungguhnya. Meski kampung tersebut digambarkan begitu lengang (sebagian sketsa juga menggambar kesenyapan serupa), namun ada eksotika dan nilai lebih yang inspiratif, yang menggoda untuk (kembali) berkunjung ke kampung tersebut.

Akhirnya, penerbitan buku kumpulan sketsa ini serasa penting untuk diapresiasi setelah sekian lama kering dari kehadiran buku sejenis. Kita pernah disuguhi buku sketsa karya Henk Ngantung, Ipe Ma’aruf, Fadjar Sidik, dan lainnya yang mengayakan pengalaman reseptif. Dan kini, karya Eko sangat berpeluang masuk dalam lingkaran ekspektasi tersebut. Memang tidak kinclong dan hingar-bingar seperti buku lelang seni rupa atau buku “biografi” perupa yang kadang cenderung chauvinistik, namun banyak nilai bisa dijumput dari sini. Semoga.

Kuss Indarto, kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta.