Thursday, March 09, 2017

Seniman Bukan Tukang

Awal bulan Februari lalu saya bertemu dengan seniman China, Li Guangming, yang sedang ingin berlibur di Indonesia. Dalam peta seni rupa China barangkali nama dan reputasinya bukanlah bintang--atau apalagi megabintang yang sangat cemerlang seperti Qi Baishi, Ai Weiwei, Fang Lijun, Yu Minjun, dan sekian banyak nama tenar lain yang telah mengisi ruang penting seni rupa China dan dunia.

Tapi, bagi saya, Li Guangming tetaplah sosok seniman yang menarik. Saya percaya bahwa setiap orang adalah guru dan reputasi apapun yang telah dibangunnya adalah ilmu. Dalam percakapan sekitar 1,5 jam, Li mengisahkan tentang gerak karya-karya barunya yang telah dirintis sekitar 10-an tahun terakhir, dan terus dikerjakan hingga hari ini.

Dia sebenarnya termasuk seniman yang melukis lukisan khas China (China painting) yang cenderung dikelompokkan sebagai lukisan tradisional--yang penganutnya semakin banyak dan canggih kemampuannya. Guangming termasuk seniman yang sudah termasuk advance, jago dalam menaklukan tehnik tersebut. Dan inilah yang menggelisahkannya. Dia ingin keluar dari pola mainstream atas karya China painting yang sudah menjenuhkan baginya.
Bongkahan es batu yang besar yang ditemui di sekitarnya saat musim dingin menjadi sumber gagasan untuk memperbarui karya-karya seni rupanya. Ya, ide sederhana namun itulah yang membuatnya lumer dari kejenuhannya sebagai seniman yang menggeluti satu karakter karya, yakni karya dua dimensi.

Ide itu dimanifestasikannya (setidaknya) sebagai dua kemungkinan karya, yakni karya dua dimensi (berdasar artifak karya yang final), serta karya ephemeral art (seni sesaat, yakni berupa happening art) yang dilakukannya dalam ruang pameran atau di luar, sebagai bagian dari peristiwa seni. Ephemeral art yang ada dalam praktik seni Guangming adalah dengan membawa balok-balok es yang besar yang diberi warna-warna sesuai dengan keinginannya, lalu diletakkan persis di atas kertas atau kanvas yang tergelar di lantai. Proses pelelehan es berikut cat yang ada di dalamnya itulah yang menjadi momen estetik yang ditunggu karena kemudian secara pelahan akan membentuk citra visual di atas kertas atau kanvas. Citra visual yang menyeruak adalah bentuk-bentuk yang tak terduga, alamiah, bahkan kadang "accidental form" yang tak bisa diperkirakan (sepenuhnya) oleh sang seniman. Inilah nilai artistik yang tampaknya dicari oleh Li Guangming.

"Ice Ink World" adalah tajuk pameran tungal Li Guangming dengan karakter dan tema karya seperti itu. Pameran tersebut dihelat tahun 2016 lalu. Dalam pameran tersebut dia membawa bongkahan-bongkahan besar es yang ditata dalam ruang pameran dan, tentu, dibiarkannya meleleh hingga membentuk karya di atas kertas atau kanvas. Telah beberapa kali karya dengan karakter itu dipamerkan, termasuk pameran tunggalnya tahun 2011 di salah satu venue yang bergengsi di Beijing, yakni NAMOC (National Museum of China).

Li Guangming bukanlah anak muda. Usianya hampir menyentuh kepala 6. Namun spirit pencarian, kegundahannya untuk menemu kebaruan tetap dilakukannya. Bukankah semangat untuk mencari kebaruan menjadi etos kreatif seorang seniman? YA, Guangming tetap ingin menjadi seniman, bukan perajin yang cukup mengulang-ulang pekerjaan ketukangannya. Lalu, Anda siapa? ***


Friday, March 03, 2017

“Teloransi”, Seni yang (Boleh) Cerdas

Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini dimuat dalam katalog pameran Komunitas Seni Bagelen, Purworejo yang bertajuk "Teloransi" di Bentara Budaya Yogyakarta, 3-10 Maret 2017)

       “Creativity takes courage.” ~ Henri Matisse
       “There is nothing more truly artistic than to love people.” ~ Vincent Van Gogh
  
POSISI geografis Purworejo memuat pertanyaan tersendiri ketika dihadapkan dalam perbincangan perihal dunia seni (rupa). Kabupaten ini berhimpitan langsung dengan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, persisnya kabupaten Kulon Progo. Ibukota Purworejo hanya berjarak sekitar 66 kilometer dari kota Yogyakarta (bandingkan dengan jarak Yogyakarta-Solo yang berjarak sekitar 56 kilometer), namun perbedaan yang sangat kontras itu terasa tajam.

Tiap tahun, setidaknya dalam 2-3 tahun terakhir ini, Yogyakarta “dihujani” oleh sekitar 300-400an perhelatan seni rupa yang bertebar di seantero kawasan, di berbagai ruang seni yang dibuat dadakan, hingga yang sudah permanen dan mengantungi surat legal formal dari Negara. Mulai dari pameran yang diprakarsai oleh para mahasiswa yang baru memasuki studi di semester-semester awal hingga perhelatan yang dikelola oleh art management profesional dan kelompok seniman dengan jejaring kerja berlevel internasional.

Sementara di kabupaten Purworejo, dalam setahun hanya ada satu-dua pameran seni rupa yang dihelat oleh para seniman lokal—tentu dengan segala keterbatasannya. Keterbatasan itu meliputi problem kekaryaan yang masih terkendala oleh pencapaian kualitas khas seniman setempat—yang belum banyak bersentuhan dengan sistem pewacanaan seni rupa yang telah terbarukan atau yang mutakhir. Pameran tersebut juga masih terkendala oleh pola manajerial yang belum banyak tersentuh oleh pola yang terkini, sehingga—seperti diakui oleh para seniman setempat sendiri—perhelatan tersebut belum banyak meyakinkan publik untuk datang berduyun-duyun mengapresiasi. Atau juga belum mampu memberi keyakinan yang kuat kepada pemerintah daerah bahwa jagat seni berpotensi memiliki daya untuk memberikan nilai yang baik dan positif kepada masyarakat. Tak ayal, ihwal pendanaan pun akhirnya menjadi problem akut yang menahun dan kronis yang sulit dicarikan celah solusinya.

Posisi geografis tersebut di atas sangat bisa dimafhumi karena adanya problem lain yang diduga memberi titik pengaruh, yakni posisi historis yang memang tidak menempatkan kawasan Purworejo sebagai zona penting pertumbuhan dunia seni (rupa). Pada problem posisi geografis publik bisa bertanya-tanya, kenapa Purworejo tidak bisa tertular oleh daya dan kekuatan seni rupanya oleh sang tetangga, yakni Yogyakarta (yang menjadi salah satu kekuatan seni rupa Indonesia). Ini pertanyaan yang sama persis dilontarkan kepada kawasan Magelang atau Klaten yang juga dianggap stagnan. Namun pertanyaan ini menjadi penuh permakluman ketika hal yang disodorkan itu menyangkut posisi historis. Purworejo jelas tak bisa dibandingkan dengan Yogyakarta—sang tetangga itu. Yogyakarta memiliki sistem pemerintahan monarkhi yang berusia ratusan tahun dan masih bertahan hingga kini, yang membawa implikasi positif pada kelahiran dan pengembangan kulturalnya. Purworejo, jelas, jauh dari itu. Yogyakarta juga merupakan tempat awal bertumbuhnya kampus-kampus seni di Indonesia. Sementara Purworejo patut dibanggakan sebagai tempat kelahiran komponis Wage Rudolf Supratman—pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya—namun, maaf, tidak memiliki titik relasi dan signifikansi dengan pertumbuhan dan perkembangan seni (rupa) yang terus bergerak dinamis seperti sekarang ini.

***

Kalau kali ini ada sekelompok seniman atau perupa yang bergerak masuk ke Yogyakarta untuk mempertontonkan pencapaian visualitasnya, tentu mereka menggenggam kenekatan tersendiri. Ya, nekat. Masuk ke kawasan Yogyakarta, seperti diakui oleh seniman atau kelompok seniman tertentu, seperti masuk ke dalam kawah candradimuka—kawah penggodogan seniman yang penuh spirit kompetisi sangat tinggi.

Kelompok seniman yang “nekat” ini berlabel Komunitas Pelukis Bagelen. Komunitas ini sama sekali tidak berambisi menjadi representasi atas wilayah bernama Purworejo. Meeka masih masuk dalam tahap belajar berkarya dan berorganisasi. Oleh karenanya tak ingin bergegabah seolah menjadi komunitas yang terbaik yang ada di Purworejo.

Komunitas ini masih belia, didirikan oleh Bramantyo Astadi pada tanggal 24 Maret 2016. Tujuan pendiriannya untuk mengakomodasi keberadaan para pelukis yang datang dari berbagai usia dan latar belakang yang ada di Purworejo agar dapat saling memotivasi dan berkarya bersama dan berusaha memberikan warna pada dunia seni rupa di Purworejo. Sebagai dasar obsesi, seperti dinyatakan oleh ketuanya, Komunitas Pelukis Bagelen ini berkeinginan dan berhasrat untuk mengangkat dunia seni rupa Purworejo agar setara dengan dengan kota-kota lain di sekitar seperti Wonosobo, Magelang, atau bahkan kalau mungkin sedikit mengejar keterpautan yang jauh dari perkembangan di Yogyakarta.

Seperti halnya kelompok seni yang heterogen, komunitas ini memiliki latar belakang yang heterogen dalam keanggotaannya, seperti orang-orang yang memasuki masa pensiunan, mahasiswa, guru, wiraswasta, karyawan hingga wartawan. Ini relatif membuat komunitas bergerak dengan cukup dinamis. Mayoritas anggota komunitas ini belajar melukis secara otodidak (self taught), dan selebihnya (ada empat orang) yang menempa kemampuan kesenirupaannya di jalur akademik di UNS (Solo) dan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta).

Bagi ketuanya, Bramantyo, Komunitas Pelukis Bagelen ini bukanlah komunitas yang pertama kali didirikannya. Pada awal tahun 2014, Bram pernah mendirikan Sanggar Perupa Bagelen dengan anggota 15 pelukis yang relatif sudah cukup senior di Purworejo—senior dari tilikan usia fisik dan usia sejarah berkecimpungnya di dunia seni rupa. Seperti halnya banyak komunitas lain, komunitas tersebut bubar setelah menghelat sebuah pameran seni rupa. Perbedaan visi internal angota yang menjadi pangkal masalah.

Itu merupakan pengalaman yang mahal. Maka, kini, komunitas ini menyemai kekuatan antar-anggota dengan berbagai aktivitas. Diskusi seni rupa dan berkarya bersama merupakan agenda rutin bagi komunitas yang beralamatkan di Jalan WR Soepratman No 41 Baledono, Purworejo tersebut. Komunitas Pelukis Bagelen ini juga pernah menggelar pameran dengan tajuk Beautiful of Bagelen: 'Salon des Refuses II' di pengujung tahun 2016 lalu.

Komunitas Pelukis Bagelen ini juga memiliki visi lain untuk memajukan dunia seni rupa di Purworejo, yakni dengan menggagas proyek sosial Gerakan Purworejo Menggambar. Kegiatan ini konkretnya adalah berkeliling ke desa-desa dan mengajari anak-anak menggambar dengan tujuan untuk mengembalikan dunia anak-anak kepada “khittahnya”. Aktivitas ini sebenarnya, sedikit banyak, juga memberi arah kepada para anggotanya bahwa dunia seni itu bukanlah jagat yang bersih dari problem sosial kemasyarakatan di sekitarnya. Seni yang mampu menengok dan melibatkan dengan diri dengan dunia di luar dirinya, diidealkan akan mengayakan dunia seni itu sendiri.

***

Upaya pengayaan atas pemahaan dunia seni rupa itu juga dimanifestasikan dalam pameran ini. Dengan menorehkan tajuk “Teloransi”, perhelatan ini digagas untuk berkarya sekaligus beropini tentang riuhnya persoalan sosial politik kemasyarakatan yang aktual dewasa ini. Kata “teloransi” sudah barang pasti merupakan “plesetan” dari kata “toleransi”. Unsur pembentuk plesetan itu adalah kata “telo” atau ketela. Ya, ada pembalikan huruf vokal “e” dan “o” yang menjadikan makna atau nilai rasanya berbeda.

Terminologi “tela” atau “telo” tidak sekadar merujuk pada benda berupa umbi-umbian, namun dalam konteks peristilahan di Jawa Tengah telah menjadi kata umpatan halus ketika seseorang merasakan atau mengalami sesuatu yang mengecewakan atau kurang pas dalam perasaannya. Teriakan “telo” tidak jarang dikatakan oleh seseorang kepada lawan bicaranya yang biasanya memiliki relasi relatif dekat. Umpatan ini relatif halus ketimbang kata-kata lain yang terasa lebih kasar atau vulgar seperti dengan menyebut organ tubuh manusia: dhengkulmu, matamu, dhapurmu, rupamu, dan sebagainya. Atau menyebut nama hewan, mulai dari asu, wedhus, munyuk, kampret, dan semacamnya.

Maka, ketika “toleransi” dibelokkan menjadi “teloransi”, jelas ada indikasi kekecewaan, ketaksukaan atau ketidaktepatan dalam menerima fakta perihal “toleransi”. Para seniman ini seperti sedang gundah mempersoalkan wacana tentang toleransi yang tergerus oleh berbagai persoalan. Agama, misalnya, yang potensial dan digadang-gadang mampu membawa nilai-nilai toleransi, kebersamaan, sikap tenggang rasa, namun faktanya justru sebaliknya. Agama masuk dalam pusaran persoalan yang merobohkan nilai-nilai toleransi. Agama telah diserobot dan digadaikan oleh sekelompok orang menjadi “telo” yang mereduksi nilai-nilai luhur toleransi.

Catatan pendek yang bukan kuratorial ini ingin menengarai adanya upaya para seniman Purworejo pada komunitas ini dalam memberi sikap, ilustrasi, eksplanasi, atau sekadar opini ringan tentang gejala sikap intoleran atau toleransi yang “telo” dalam dinamika kerumun masyarakat saat ini. Nilai-nilai kenusantaran dalam perikehidupan beragama kita kita terancam oleh gelagat intoleransi yang telah akut, menyimpan bara api, atau mesiu sulut dengan sumbu yang pendek.

Manifestasi dari kegundahan atas tema ini, antara lain, tampak pada karya Muhammad Dian Perjuangan, berupa disain grafis yang diekspreaikan dalam digital print. Karya ini sebetulnya sederhana, namun secara simbolik memberi pesan yang cukup dalam. “Sensitive” judul karya ini. Terpapar dalam karya tersebut sebentuk bibir warna abu-abu dengan beberapa bagian di tepiannya meleleh. Bibir ini tidak biasa karena pada bagian batas-batas dalam bibir, yakni antara bagian bibir atas dan bawah, terbentuk celah berupa lekuk-liku yang telah popular ditengarai sebagai celah atau lubang dalam pisau cukur (= silet). Visualitas ini dengan cukup cerdas memberi penegasan yang menukik atas atas peribahasa Melayu yang telah mengindonesia, yakni: “mulutmu harimaumu”. Ini seolah menjadi “mulutmu adalah pisaumu”. Dan pisau itu siap melukai siapapun: orang lain, atau orang yang bersangkutan, si pemilik mulut tersebut.

Gejala tentang “mulutmu adalah pisaumu” ini, seperti yang dikonsepkan oleh Muhammad Dian Perjuangan, banyak terjadi di dunia nyata dan atau apalagi di dunia maya—khususnya bagi sesama masyarakat penghuni media sosial (medsos). Tulisan atau “ucapan” seperti dengan mudah terlontar untuk mem-bully, menghardik, menghina, memojokkan, dan lain sebagainya ketika dua (atau lebih) kubu saling berseteru karena sebuah pilihan (atas sesuatu hal) berbeda. Titik beda itulah yang dieksploitasi (bukan dieksplorasi) untuk kemudian menghantam satu sama lain dengan semangat saling menjatuhkan. Inilah potongan kecil dari gerak intoleransi atau “teloransi” alias toleransi yang “telo”. Ya, kasihan juga sih makanan nikmat bernama telo ini telah berpindah ruang dengan konteks yang berbeda dan terjadi penurunan nilai rasa kebahasaan.

Secara umum pameran ini memang masih menyimpan persoalan. Lagi-lagi saya mesti mengutarakan hal penting dalam dunia seni rupa, yakni adanya dua hal penting: dunia bentuk dan dunia gagasan. Dunia bentuk itu menyangkut problem teknis dalam praktik kekaryaan seni rupa, yakni bagaimana seorang seniman itu memperhatikan aspek teknis menggambar yang baik dan terampil. Sementara dunia gagasan lebih menyangkut pada soal bagaimana seorang seniman memiliki kepekaan atau sensisbilitas dalam mengisi karyanya lewat gagasan dan konsep yang jelas, tegas, syukur cerdas. Problem bentuk itu menyoal dunia visual, sedangkan problem gagasan itu menyoal tentang dunia substansial. Inilah yang mesti menjadi persoalan besar yang sebaiknya diagendakan untuk ditingkatkan juga diperbarui terus-menerus oleh para anggota komunitas ini. Saya paham bahwa seni itu bebas, namun hal yang lebih mendasar dari tuntutan atas kebebasan adalah bahwa seni itu ya sebaiknya cerdas. Bisa cerdas visual, pun cerdas substansial. Semoga ini bisa diperjuangkan untuk dunia seni masing-masing. Bersiaplah untuk maju! *** 

Kuss Indarto, penulis seni rupa.