Friday, October 29, 2010

Aja Dumeh: Belajar pada Tanda-tanda




Oleh Kuss indarto

[satu]

MARSEKAL Muda (Marsda) Sudjadijono, Kol. (purn.) H. Totok Sudarto, dan Ki Djoko Pekik, saya kira, hadir pada pameran ini dalam kapasitas masing-masing, dan tak bisa serta-merta “disatukan” satu sama lain. Artinya, ada sejarah, titik berangkat, dan orientasi yang berbeda satu sama lain dalam memandang dan masuk di dunia seni (rupa).

Dua nama pertama memiliki latar belakang pendidikan militer (angkatan udara), meniti karier militer hingga di level perwira tinggi. Sudjadijono yang hendak memasuki masa pensiun beberapa pekan mendatang, kini menyandang pangkat perwira tinggi dengan bintang dua di pundaknya, dan menjadi salah satu orang penting di Mabes TNI. Sedang Totok Sudarto meminta pensiun dini ketika karier militer merangsek terus hingga berpangkat kolonel untuk kemudian berganti haluan menjadi pejabat politik, yakni wakil bupati, di lingkungan birokrasi kabupaten Bantul. Sementara nama pamungkas, Ki Djoko Pekik—yang pernah mengenyam pengalaman kelam karena militer—menempati level tinggi dalam reputasi kesenimanannya yang telah dibangun sekurang-kurangnya dalam setengah abad. Pendakuan publik atas pencapaian dan prestasinya dalam jagad seni rupa telah melewati jalur akademik dan jalur pengakuan secara sosial.

Dunia seni rupa memang menjadi ruang yang relatif cukup demokratis untuk bisa dimasuki siapa saja, kapan saja, dalam situasi apapun. Dia juga berkemungkinan menjadi ruang bebas untuk mengonstruksi sesuatu bagi siapa saja. Sebagai pilihan profesi, seni rupa telah mampu dijadikan sandaran oleh sekian banyak orang untuk ditapaki dengan segala perolehan dan pencapaian. Tapi justru di sinilah titik menarik dunia seni rupa. Dia bisa dengan relatif mudah dimasuki oleh seseorang yang antusias menggeluti, namun tidak dengan mudah seseorang bisa “menjadi” dan mendapat pengakuan yang “sah” di dalam dunia seni rupa.

Ini berbeda, misalnya, dengan memasuki karier di dunia kedokteran. Seseorang memang wajib melakukan studi penuh di fakultas kedokteran hingga tuntas secara akademis untuk mampu disebut sebagai sarjana kedokteran. Lalu menempuh prasarat berikutnya dengan menjadi co-ast dan seterusnya, maka setelah itu layaklah seseorang menyandang label diri sebagai dokter. Bahkan tak jarang gelar akademik ini menempel terus-menerus meski yang bersangkutan tak lagi melakukan praktik medis seperti yang telah standar dilakukan oleh seorang dokter.

Lain dengan dunia seni rupa. Meski telah “diilmukan” seiring dengan perkembangan Rasionalisme yang awalnya terjadi di Barat beberapa abad lalu, dunia seni rupa banyak menemukan kontradiksi yang menarik. Seni rupa “diilmukan”, “dinalarkan” dan ada sekolahnya. Seseorang bisa menjadi mahasiswa seni rupa hingga ke strata akademik paling tinggi, yakni di level doktor (S-3). Namun selepas itu tidak secara otomatis orang tersebut mampu bekerja di dunia seni rupa (misalnya melukis) dengan label sebagai seniman. Jalur akademis telah berhenti sekadar menjadikan seseorang menjadi sarjana seni (rupa), namun tidak serta-merta memberi label seniman. Seniman lebih sebagai label yang dikonstruksi secara sosial, bukan akademik. Bahkan, dalam dunia seni rupa hari ini, sadar atau tak sadar, diakui atau tidak, ada semacam penjenjangan yang diterapkan dalam penyebutan istilah untuk mengonstruksi sebuah “hierakhi sosial” dalam seni rupa.

Misalnya ada istilah tukang gambar, pelukis, dan perupa (yang lazim pada penyebutan bagi mereka yang bekerja dengan praktik berkarya di seni rupa). Di sini, kata “perupa” seolah menjadi agung karena dia diandaikan bekerja di lingkup estetik dan artistik yang mengelola dunia-gagasan jauh melampaui dunia-bentuk. Artinya, tak hanya melukis (misalnya, bila media ungkapnya seni lukis) namun juga mengelola dunia pemikiran demi kelangsungan karyanya yang konseptual. Sementara kata “pelukis” seolah mengacu pada seseorang yang melakukan praktik melukis dengan lebih banyak penekanannya pada dunia-bentuk ketimbang dunia-gagasan. Dan akhirnya, kata-kata “tukang gambar” seperti mengisyaratkan kondisi seseorang yang melakukan praktik di dunia seni rupa karena ada pihak lain yang lebih kuat yang menyubordinasi posisinya kreatifnya.

Ini, bisa jadi, sekadar asumsi, rumour, atau apapun namanya, namun pada sebagian kalangan di dunia seni rupa sangat mungkin terjadi dan teralami. Orang yang telah lulus sebagai sarjana seni (rupa), lalu menggeluti dunia lukis-melukis, dan itu telah menjadi pilihan hidup dan profesinya, belum tentu juga dikatakan sebagai pelukis bila yang dikerjakan sekadar “karya” yang mereproduksi citra rupa tertentu secara terus-menerus. Orang yang bekerja dengan dunia lukis(an) dan mampu menciptakan gagasan dan isu yang kuat pada karyanya tersebut, dan bla-bla-bla, maka dia kemudian disebut oleh publik seni sebagai perupa. Situasi ini bergantung pada hal-hal yang kompleks: dengan siapa, dimana, dan bersama isu apa dia berkarya. Sulit dirumuskan secara matematis dan eksak. Semuanya sangat bergantung pada konstruksi sosial yang melingkupi.

Maka, sebagai pelepasan atas kerumitan itu, catatan yang tidak dihasratkan sebagai sebuah catatan kuratorial ini, mencoba memberi sedikit eksplanasi atas ketiga orang yang tengah memamerkan karya ini dengan lebih menekankan pada aspek histori personal, dan tidak terlalu masuk pada praktik kekaryaannya. Ini penting karena sosok Sudjadijono dan Totok Sudarto saya kira tak akan memusingkan diri dengan situasi yang terjadi berkait dengan peristilahan “tukang gambar”, pelukis” dan “perupa” yang kompleks tersebut. Mereka berdua bukanlah pribadi yang berhasrat kuat masuk dalam lingkaran tertentu di dunia seni rupa. Apalagi menyerobot posisi-posisi, atau agen tertentu. Bukan. Mereka adalah para pehobi seni yang ingin menuntaskan problem dunia-dalamnya (inner-world) dengan mengekspresikan diri lewat lukisan. Tidak lebih.

[dua]

DUNIA-DALAM dari sosok Totok Sudarto penuh kompleksitas. Bahkan sejak usia remaja. Setidaknya, dalam pengakuannya, ada masa-masa kritis secara psikologis yang dialami yang kemudian mengantarkan dirinya mengambil keputusan-keputusan besar, penting, dan bahkan kontrovesial. Setidaknya bagi dirinya sendiri. Bahkan mungkin bagi orang di sekitarnya. Misalnya, keputusannya untuk masuk di dunia militer (angkatan udara) hingga lulus pada tahun 1977, merupakan langkah pribadinya yang cukup berseberangan dengan keluarga. Ayah-ibunya sebenarnya menghendaki dirinya untuk meneruskan usaha keluarga di lahan agro-bisnis yang telah dirintis puluan tahun. Bahkan sudah secara turun-termurun. Dalam kalkulasi ekonomi, pilihannya untuk masuk di jalur profesi militer jelas jauh dari kondisi ekonomi keluarganya terdahulu yang begitu baik. Pilihan sudah dijatuhkan, nasib baik harus disusun dan diupayakan. Dengan masuk di Akabri Udara, jenjang nasib baik bisa diharapkan.

Keputusan besar dalam hidupnya pun kembali ditorehkan pada tahun 1999, ketika karir militernya sudah dilakoni hingga tahun ke-22. Saat itu, pangkat kolonel udara sudah singgah dengan anggun di pundaknya. Posisinya masuk pada bagian yang “basah” secara ekonomi, yakni di bagian logistik yang banyak diincar. Peluang kariernya masih berpotensi besar untuk meniti di jenjang yang lebih tinggi lagi. Minimal bintang satu sangat berpotensi hinggap di pundak sebelum mengakhiri kemiliterannya menuju masa pensiun. Totok tak betah di situ. Dia ingin mengabikan kemampuannya di lahan yang berbeda, jalur politik di sipil.

Maka, mengundurkan dirilah dia untuk kemudian “bertarung” di kabupaten Bantul sebagai calon wakil bupati yang kala itu dia berpasangan dengan Idham Samawi. Bahkan menurutnya, peluang untuk dirinya sebagai calon bupati (bukan wakil bupati) juga ada karena partai politik yang mencalonkan sebenarnya juga mengarah ke situ. Namun situasi belum sangat mendukung. Apalagi waktu itu, pascareformasi 1998 semangat anti-militer sangat kuat di seantero negeri ini. Terlebih lagi bagi warga Bantul, yang sebelumnya memiliki bupati militer, Sri Roso Sudarmo (seorang kolonel angkatan darat), yang melakukan blunder dengan membuat kasus besar, yakni kasus pembunuhan Udin (wartawan harian Bernas), yang hingga sekarang menjadi dark number, kasus yang (di)gelap(kan). Singkat cerita, tahun 2000 Totok masuk di dunia politik dan birokrasi sipil sebagai wakil bupati Bantul.

Kontroversi (personal) berlanjut. Masa jabatan pasangan bupati dan wakil bupati yang seharusnya diemban hingga tahun 2005, tak berlangsung mulus. Pasangan itu seperti “pecah kongsi”. Sang kolonel seperti dengan mudah melepaskan diri dari ikatan jabatan itu di tengah jalan pada tahun 2003. Ini sebuah keputusan besar bagi dirinya, juga tentu di mata publik. Pasalnya, sudah menjadi perkara lazim bahwa pasangan pemimpin tidak jarang akan menemu situasi yang konfliktual. Ada kalanya mereka menyembunyikan begitu rapat situasi tersebut. Dan bapak kolonel ini, tampaknya, tak perlu penyimpan situasi psikologis yang menekannya. Maka, mundurlah sebagai pilihan. Dalam konteks ini, kita tak melihat sisi benar dan salahnya. Namun keputusan untuk mundur dengan mudah (dan seperti melepas begitu saja) kursi yang banyak diincar orang, tentu sebuah keputusan yang jarang ditemui. Sebagai contoh gigantik dalam dunia perpolitikan di Indonesia, tentu publik ingat dengan keputusan mundur dari seorang Mochammad Hatta yang lengser dari posisi jabatan Wakil Presiden. Demikian juga dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sekitar tahun 1977. Sekali lagi, keputusan mundur ini tak bisa hanya dibaca dalam konteks posisi mereka (atau Totok Sudarto) yang benar atau tidak benar. Melainkan bahwa ada kondisi kebesaran dan kelapangan hati yang berani diungkapkan untuk melepaskan jaring-jaring (kursi) kekuasaan yang biasanya sangat menghauskan bagi banyak kalangan.

Tentu, ini perkara mental. Mental untuk tidak selalu menghalalkan segala cara demi kelanggenagn kekuasaannya. Dan yang penting, mental untuk menerima situasi dan keadaan yang berbeda secara drastis. Laki-laki berdarah Madura ini mengalaminya dengan berusaha tetap teguh. Tahun 1999 masih berpangkat kolonel aktif, tahun 2000 menjadi wakil bupati yang seharusnya hingga 2005, bahkan berpeluang meneruskan kekuasaan untuk satu periode berikutnya hingga 2010. Tapi Totok harus menghentikan secara tiba-tiba keadaan itu di tengah jalan. Dan dengan mental yang nampak terlatih, post power syndrome tak begitu hinggap di dirinya. Barangkali ungkapan Napoleon Bonaparte, Bapak Revolusi Perancis itu, bahwa “dari keadaan penuh kemuliaan menuju kehina-dinaan bisa hanya selangkah saja” cukup dipelajarinya. Dan Totok bisa lepas dari “kehina-dinaan” hanya karena berusaha memeluk erat kekuasaan yang mungkin sudah “bukan lagi miliknya”. Situasi ini sudah dengan gampang diterimanya. Bahkan, sebenarnya, saat masih berpangkat mayor pun, Totok sempat berniat mundur dari jalur militer. Namun sang istri masih mampu mencegahnya.

Termasuk mencegah dari minat dan niat Totok dalam melukis. Ini klangenan lama yang telah ada dan berpotensi ada dalam diri Totok. Mungkin tak terlalu menonjol, namun selalu ada dan menggoda Totok untuk mengekspresikannya. Saat masih menjadi wakil bupati, sekitar tahun 2002, bahkan Totok mengundang sekian banyak seniman Bantul untuk mengadakan pameran lukisan di rumah dinasnya. Ala itu, ada Ki Djoko Pekik, Nurkholis, dan sekian banyak seniman lain yang terlibat dalam perhelatan tersebut. Lukisan karya Totok juga ada di dalamnya, sebagai bagian penting dari hasratnya di dunia seni rupa.

Dan jauh sebelum itu, kala masih menjadi karbol atau taruna angkatan udara di Adisucipto, Yogyakarta, Totok Sudarto telah mengakrabi hal-hal yang berbau dengan artistik visual sebagai cakupan hasrat, minat dan keinginannya. Misalnya, dia acap kali menjadi salah satu tim artistik dalam acara-acara internal di akademinya. Bahkan, penerbitan regular yang dimiliki oleh lembaga akademinya, dia selalu terlibat sebagai “penata artistik”, tentu dengan kapasitas yang khas di dunia militer. Bersama Totok, ada teman seangkatannya yang juga karib dan selalu berkutat di wilayah artistik itu, yakni Sudjadijono yang lazim dikaribi rekan-rekannya dengan panggilan “Jack”.

Jack sendiri, yang berdarah asli Yogyakarta, memiliki darah seni yang mengalir dalam garis keturunannya. Sang ayah sangat fasih menggambar dan melukis wayang kulit purwa. Lingkungan dekatnya sangat kondusif bagi talenta yang terpendam dalam dirinya: menggemari dunia seni (rupa). Maka, tak heran, sempat pula dia mendaftarkan diri dan masuk sebagai siswa SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta sekitar tahun 1972-73. Namun minat dan tuntutan lain yang lebih besar mengalahkan itu. Apalagi waktu itu pilihan untuk menjadi seniman belumlah jadi alternatif yang sangat berprospek baik. Haluan pun segera diubah. Jack segera masuk SMA 3 Yogyakarta, dan kemudian berkarier di dunia militer, persisnya angkatan udara. Kariernya bahkan dimulai dari nol puthul karena waktu itu mendaftar dengan ijazah dari lembaga pendidikan yang lebih rendah. Setelah beberapa tahun, Jack langsung ambil keputusan untuk menjalani jalur akademi militer angkatan udara.

Ada kesetiaan yang kuat baginya untuk melakoni diri sebagai prajurit. Ada tuntutan yang besar baginya untuk membawa dan menjaga citra diri dan keluarganya dengan berdisiplin pada pilihan profesi dan karier militernya. Kalau kemudian Jack dapat melampaui sekian banyak persoalan dan kukuh di jalur militer hingga menempatkan bintang dua di pundaknya, itulah buah kesetiaan dan keseriusannya sebagai prajurit.

Dan beberapa karya yang dibuat dan dipamerkan kali ini seperti menguatkan prinsip dan filosofinya sebagai prajurit yang bersetia dengan lembaga yang dibelanya. Ada sosok-sosok Hanoman pada beberapa karyanya itu. Dalam dunia pewayangan di Jawa, tokoh Hanoman merupakan representasi sosok prajurit yang senantiasa berani tampil pertama dan di depan kala yudha (perang) terjadi. Tokoh Hanoman pulalah yang digambarkan sebagai tokoh paling tua, lahir relatif lebih dulu ketimbang lainnya. Ini mengarahkan pada pemahaman serta pengandaian bahwa dirinya seolah menjadi salah satu “hanoman” yang loyal terhadap komunitas yang membesarkannya, pada korps yang menghidupinya.

Dunia-dalam Jack memang tak jauh dari dunia seni tradisi. Keinginannya untuk masuk sekolah di SSRI dulu tentu juga ingin menjadi bagian dari hasrat untuk merawat talenta personalnya yang ada. Kini, di sela-sela kesibukannya sebagai perwira tinggi di Mabes TNI yang sangat padat, tetap diagendakannya untuk melukis. Wayang menjadi subyek utama pilihan visualnya. Dan menjelang pensiun, bangunan rumah megah telah didirikannya pada sebuah kampong tak jauh dari jalur utama Yogyakarta-Wonosari. Ingatan masa kecilnya tak bisa diceraikan begitu saja: gamelan. Ada seperangkat gamelan lengkap di sana, pun dengan tim nayaga yang siap menabuh kala Jack tengah berkunjung di rumah tersebut. Demikian juga dengan tim musik keroncong yang relatif komplit. Ini menjadi bagian dari memori personal masa lalunya yang kembali dihadirkan untuk menghubungkan dengan masa kini dan masa depannya yang segera mendekat. Masa pensiun yang jauh dari post power syndrome tentu akan membahagiakannya tatkal bergelut dengan akrab bersama jagad seni.

[tiga]

Lalu, di tengah sosok Totok Sudarto dan Sudjadijono, Ki Djoko Pekik mendampingi pameran ini. Bukankah seniman Lekra ini mengalami salah satu masa kelam dalam hidupnya ketika berhadapan dengan militer, khususnya angkatan darat?

Inilah salah satu titik penting dari hadirnya pameran ini. Dan inilah buah indah dari sikap legawa, sikap lega lila, kelapangdadaan seorang Djoko Pekik yang mampu mengatasi noktah hitam masa lalunya dengan bergabung pada pameran ini. Juga sebaliknya, bagi Totok Sudarto dan Sudjadijono, mereka tak hendak mewarisi kesumat institusionalnya di masa lalu. Melainkan justru memberi tauladan yang bijak dan dewasa untuk duduk bersanding dalam kebersamaan. Sebagai ritus sosial, inilah contoh konkret—meski kecil—untuk diingatkan kepada publik bahwa bangsa ini bisa didewasakan dengan praktik hidup bersama dalam level psikologis setara. Tak ada mantan wakil bupati, tak ada jenderal, tak ada seniman cemerlang yang mesti mempertontonkan kepongahannya masing-masing dalam satu forum. Tapi mencoba mengurai persoalan dalam spirit kebersamaan akan memberi warna lebih dalam sebuah pameran.

Publik tentu tahu persis bagaimana narasi personal Pekik yang telah acap kali dimediasikan di berbagai forum, media dan kesempatan mengenai masa lalunya. Sebagai seniman aktivis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dianggap sebagai onderbouw PKI (Partai Komunis Indonesia), dirinya termasuk salah satu dari sekian banyak Lekra-is yang diincar oleh militer setelah kejatuhan Soekarno. Dia masuk di benteng Vredeburg yang kala itu diposisikan sebagai panjara bagi para tahana politik. Tak ada proses pengadilan atas dirinya hingga dia dikeluarkan beberapa tahun kemudian. Masa-masa kelam di Vredeburg itu, diakuinya dalam sebuah kesempatan, menempatkan dirinya seperti seekor binatang. Dia dengan sangat gampang dikenai hukuman yang sangat memberatkan tanpa dia tahu persis apa kesalahannya. Sepatu lars yang keras dan beberapa bagiannya runcing, kerap sekali menghunjam kaki, tangan, dada hingga kepalanya. Bogem mentah yang keras acap kali menyodok kesadarannya sebagai orang yang bernalar dan bernurani untuk tidak merawatnya sebagai sebuah kesumat yang dalam. Apalagi ditularkan pada anak-cucunya. Dia berusaha tidak dendam, meski tidak sedikit rekan-rekannya yang terbunuh dengan sia-sia dan lewat modus yang mengenaskan.

Pekik berusaha untuk melapangkan kedewasaannya dengan, salah satunya, menganggap bahwa selamatnya dia dari kematian barangkali juga dari niat (meski sedikit) dari komandan CPM waktu itu, Mus Bagyo. Tentu ada sebabnya. Mus Bagyo adalah salah satu perwira yang hadir dalam pelantikan taruna AMN di Magelang sebelum Soekarno dijatuhkan kekuasaannya oleh Soeharto. Pada kesempatan itu, setelah tahu bahwa kekuasaannya sudah hampir habis, Soekarno sempat berbicara kepada Mus Bagyo. Boeng Besar itu dengan tegas menitipkan nasib para seniman Lekra yang dipenjara untuk jangan dihabisi. “Kalau menciptakan insinyur itu mudah. Tinggal disekolahkan, maka luluslah ia menjadi seorang insinyur. Tapi kalau menciptakan seorang seniman itu jauh lebih sulit. Dia tak hanya sekolah, tapi harus melewati proses yang terlatih dan lama!” begitu kira-kira pesan Boeng Karno kepada Mus Bagyo.

Kita tak bisa memastikan secara persis apakah pesan Boeng Karno itu didengar penuh oleh Mus Bagyo dan diterapkan di lapangan. Namun kalau Pekik mengandaikan bahwa lepasnya dia dari kematian dengan kaitannya pesan Boeng Karno itu, saya kira, itulah sebuah titik kedewasaan seorang Pekik yang sempat “dibinatangkan” untuk mendaku sisi baik manusia lainnya.

Bertahun-tahun nasib hidupnya sulit karena dipenjara secara sosial lantaran menjadi seorang tapol. Ini menguatkan dirinya sebagai seniman dengan pencapaian dan kualitas karyanya yang mumpuni. “Berburu Celeng”, karyanya besarnya yang diciptakan dan dipamerkan secara tunggal tahun 1998 lalu telah menempatkan diri seniman lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta ini sebagai seniman dengan karya yang kuat setidaknya dalam dua dasawarsa ini. Bukan karena harga karya tersebut yang menyentuh angka Rp 1 milyar, namun lebih karena nilai sosial-kulturalnya yang tinggi berkait dengan konteks waktu yang sangat tepat dalam menghadirkan gagasan visual pada kurun tersebut.

Akhirnya, kalau Sudjadijono, Totok Sudarto, dan Ki Djoko Pekik bertemu dalam satu ruang dan forum kali ini, tentu ada banyak nilai ekstra-estetika yang menyembul darinya. Publik tentu bisa membaca lebih cermat dan cerdas atas pameran ini. Lalu di dataran filosofis, kalau kemudian perhelatan ini diikat dalam tajuk “Aja Dumeh”, spirit filsafat Jawa itu terasa kuat dan bisa dibaca lebih dalam secara bersama. “Aja Dumeh” (jangan mentang-mentang) menjadi kontekstual untuk menelusuri situasi sosial mutakhir. Dari perspektif Sudjadijono yang jendral berbintang dua aktif, kita bisa memberi tafsir bahwa “kita jangan mentang-mentang berkuasa lalu tidak mau turun ke bawah dan duduk bersama”. Dari sisi Ki Djoko Pekik, publik bisa mengandaikan tafsir bahwa “kita jangan mentang-mentang dengan kebintangan sebagai seniman yang kemudian serta-merta menciptakan jarak terhadap ruang sosial dan penghuninya yang selama ini turut mendukung proses kebintangannya”. Dan dari sisi Totok Sudarto, publik diandaikan bisa belajar untuk “jangan mentang-mentang (pernah) memiliki pengaruh, kekuasaan, dan pangelaman, maka tidak mau belajar banyak pada sesamanya”.

Memang, pameran ini seperti memberi pelajarn penting sebagai homo politicon (mahluk social) bagi publik yang mau singgah, menyimak, dan membaca tanda-tanda atas perhelatan ini. Selamat membaca tanda! ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa.

Thursday, October 07, 2010

Wathathitha dan Keberanian untuk Memilih


Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran "Wathathitha" yang berlangsung di Museum Barli, Bandung, 8-22 Oktober 2010)
[satu]: Wathathitha dan Nilai Homo Ludens
SESUNGGUHNYA, ini bukanlah sebuah catatan kuratorial. Apalagi catatan yang hendak berhasrat besar untuk membedah secara serius pada berbagai aspek kekaryaan pameran ini, plus catatan kaki yang merimbun di sekujur tubuh teks. Tidak! Ini sekadar tulisan pendek—dan ngalor-ngidul ke mana-mana—yang ingin mengiringi dan sedikit melongok hiruk-pikuk gairah kreatif yang cukup menyala dari sebuah keluarga, dengan subyek utama karya: sang bapak.

Ya, pameran ini bagai sebuah ode (lagu kepahlawanan) yang dihunjukkan kepada almarhum ayahanda dari anak-anaknya. Kelima anak itu: Lugiono, Untung Wahono, Soeyoedie, Klowor Waldiono, dan Didiek “Nano” Rahnyono hendak memberi “momentum ingatan” terhadap mereka sendiri atas sosok sang bapak, Gatot Tjokrowihardjo atau yang karib disapa sebagai Gatot Lelono, yang telah berpulang sekitar 9 tahun lalu.

Figur bapak, bagi kelima pelukis ini, memang tak lepas dari ingatan mereka akan “idola kampung” yang kerap hadir dalam pertunjukan akrobat individunya yang digelar dari kampung ke kampung. Dengan mengandalkan kondisi fisiknya yang kekar, dan pengalamannya ikut dalam sebuah grup akrobat yang banyak berkeliling seputar kota Surabaya, almarhum Gatot Lelono—seperti dikisahkan secara singkat oleh salah satu anaknya, Klowor Waldiyono—pada kurun akhir 1970-an hingga 1980-an “bersolo karier” di dunia akrobat di seputar Yogyakarta. Tak hanya sebagai pemain, Gatot bahkan memposisikan diri sebagai organizer yang mengelola pertunjukannya dari hulu hingga hilir. Misalnya ketika menjelang liburan sekolah, Gatot Lelono meminta ijin kepada beberapa kepala Dinas P dan K (Pendidikan dan Kebudayaan, sekarang Diknas) pada wilayah kecamatan untuk berpentas di hadapan murid-murid sekolah yang usai menjalani masa-masa ujian catur wulan menjelang liburan. Pada kurun itulah masa-masa yang padat bagi jadwal pentas Gatot untuk berakrobat. Semua dilakukannya demi mengamankan asap dapur, demi tujuh anak dan satu istri yang ada di belakang tanggung jawabnya.

Lugiono, Klowor, dan anak lainnya, bila waktu dan kemampuan mereka memadai, acap kali membantu akrobat sang bapak. Mereka tak segan membantu mengangkat barang atau perangkat dan semua aksesoris yang mesti dikenakan noleh Gatot saat berpentas. Tak ada rasa malu, enggan, atau rendah diri. Namun justru kebanggaan dan loyalitas terhadap bapaknya yang lebih kuat ada dalam perasaan mereka. Anak-anak itu sadar, dari situlah daya hidup dinyalakan dan harapan-harapan dihidupi. Dan kemudian masing-masing terus menggenggam harapan untuk meraih banyak kemungkinan ke depan.

Dan, “Wathathitaaaaaaaaa…!” Itu teriakan lantang yang seolah menjadi ikon penting atas gairah dan harapan-harapan keluarga Gatot Lelono. Teriakan itu jadi sebuah penanda khusus yang nyaris selalu terlontar dari mulut Gatot Lelono saat memuncaki sebuah adegan akrobat yang memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan tertentu. “Wathathita!” seperti menandai lepasnya sebuah beban, memberi garis batas antara pekerjaan yang berat dan permainan yang mesti dinikmati, sebagai homo ludens yang tak lepas dari permainan hidup. Teriakan ini, bagi anak-anak Gatot, telah khas melekat dalam citra diri sang ayah tatkala bekerja (bisa jadi juga bertaruh nyawa) di depan massa.

Meski khas, namun teriakan ini relatif anonim: tidak jelas siapa yang mengawali atau “penemunya”, dan tak jelas pula arti leksikalnya. Bahkan mungkin tak ada. Teriakan itu seperti telah menjadi milik bersama bagi publik yang menetap di kawasan Yogyakarta pada kurun akhir 1970-an dan awal 1980-an. Wathathitha terlontar seperti halnya kata lain yang juga menetap di lidah para warga Yogyakarta: “horotoyoh”, “mak plekenyik”, “klonthang”, dan lainnya. Namun juga sedikit bisa disepadankan dengan kata “hwarakadhah” yang telah menjadi trade mark Panji Koming, tokoh komik strip rekaan Dwi Koendoro yang menetap di harian Kompas edisi Minggu. Atau semacam kata “onde mande” yang acap kali terucap bagi orang Minangkabau dalam mengekspresikan perasaan tertentu. Atau mirip kata lain yang ada di hampir tiap kota di manapun. Tapi ini jelas bukan kata pisuhan atau makian semacam “diancuk” yang telah cukup melekat bagi orang Jawa Timur. Karena telah menjadi milik kolektif inilah pemusik Djaduk Ferianto (muda), awal dasawarsa 1980-an lalu menjumput kata itu untuk mempopulerkan grup musik baru bentukannya bersama teman-teman. Ya, grup musik Wathathita, yang lahir setelah grup Rheze yang juga dibentuk Djaduk, seperti “memanfaatkan” popularitas dan “keajaiban” kata itu. Seperti merayakan keagungan orang Yogyakarta yang begitu karib menggayuti nilai “ketidakseriusan yang amat serius”, yang menjalani hidup dengan “serius lewat modus yang tak mesti serius”.

[dua]: “Nggolek Jeneng kaliyan Jenang”
Ya, spirit Wathathita, bagi Lugiono, Untung Wahono, Soeyoedie, Klowor Waldiono, dan Didiek “Nano” Rahnyono telah memberi tanda atas daya hidup untuk terus menanamkan pengharapan, dan menjadikannya sebagai gaya hidup untuk tidak gampang menyerah pada keadaan. Mereka berlima—dengan segala pencapaiannya—telah bersetia dengan pilihan hidupnya untuk berkesenian. Dua anak Gatot Lelono yang lain, yakni Mamiek Sugito dan Waldiyah, tak ikut dalam pameran ini.

Pilihan hidup yang telah dibangun oleh mereka berlima dalam dunia seni rupa pun bukannya mudah seperti “sekadar” berteriak “wathathitha”. Kalau publik mencoba meneropong secara obyektif dalam peta seni rupa di Indonesia, memang, mereka berlima ini bukanlah nama-nama yang telah sangat cemerlang dalam dunianya. Mereka belumlah disebut sebagai perupa yang dianggap penting dan (apalagi) mengisi ruang-ruang selebritas dalam jagad seni rupa. Dan tentu bukan itu satu-satunya soal penting. Karena, saya kira, ada poin loyalitas terhadap profesi yang tak bisa dibenamkan begitu saja untuk memberi nilai atas mereka.

Lugiono, sebagai anak kedua, dan yang tertua dalam kelompok ini, merupakan titik penting bagi pilihan-pilihan hidup yang kemudian hinggap dalam batok pikiran empat adik-adiknya yang lain. Lugi sama sekali tak berminat meneruskan kecenderungan profesi yang telah dilakoni sang bapak, namun mencoba menemu dunia seni rupa sebagai alternatif untuk memperbaiki nasib hidupnya ke depan. Lugi memilih sekolah di SSRI Yogyakarta (Sekolah Seni Rupa Indonesia, yang berganti nama menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa, dan sekarang masuk sebagai Sekolah Menengah Kejuruan). Kemudian berlanjut studi di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta, meski tak tamat. Dia telah “keburu” lari ke Jakarta, persisnya di Pasar Seni Ancol, untuk membiayai studinya sendiri dan adik-adiknya. Namun Lugi terlanjur “betah”, dan tidak kembali untuk menamatkan studinya.

Lugi berposisi seperti jangkar bagi adik-adiknya. Dia bertanggung jawab untuk, setidaknya, memikirkan kelangsungan studi adik-adiknya. Dan niat serta pilihannya di dunia seni rupa telah memberi atmosfir penting bagi keluarganya untuk menggeser “ideologi” keluarganya dalam memandang masa depan. Dan seni rupa kemudian telah menjadi “ideologi” keluarga anak-anak Gatot Lelono. Adik-adiknya, meski tak semua, memilih untuk studi di SSRI atau SMSR. Bahkan Klowor Waldiyono menempuh studi di Fakultas Seni Rupa (dan Disain), Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, setelah usai tamat di SMSR.

Meski belum sangat menonjol, namun nama Klowor Waldiyono telah masuk dalam ingatan sebagian publik seni rupa di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Publik akan selalu diingatkan oleh kekhasan karya garapannya yang selalu menjadikan kucing sebagai pokok soal dalam tiap kanvasnya. Apalagi keberaniannya untuk menetapkan pilihan kreatifnya dengan karya-karya yang selalu hitam-putih (tidak colourful), memuarakan namanya untuk mulai dikenal secara meluas.

Menonjolnya Klowor dalam keluarga, pada konteksnya di dunia seni rupa, sudah barang pasti tak lepas dari tempat di mana dia bernaung dan studi, yakni di ISI Yogyakarta. Ini menjadi ruang penting baginya untuk mengasah dan menguji kemampuannya dalam merunuti jalan di dunia kreatif. Kebetulan juga, Klowor masuk di ISI Yogyakarta pada tahun 1989 yang mempertemukannya dengan teman-teman satu angkatan yang relatif cukup menonjol pada waktunya, seperti Erica Hestu, Katirin, S.P. Hidayat, Masriel, Nurkholis, Tarman, Eri Sidharma, Achmad Chotib Fauzie, dan lainnya. Mencoba menempa diri sebagai seniman hingga level perguruan tinggi memang akan memberi nilai tambah, mental, dan rasa percaya diri yang berbeda (bahkan lebih) ketimbang ketika Klowor studi di tingkat sekolah menengah. Lingkungan pergaulan akademis, sekecil apapun pengaruhnya, tetap akan berimbas pada kemungkinan yang positif bagi para pelakunya, seperti jejaring kerja, akses pergaulan, di samping tentu saja pengayaan sistem pengetahuan yang membuat Klowor bisa mungkin berubah lebih progresif.

Sementara saudara-saudaranya yang lain: Untung Wahono, Soeyoedie, dan Didiek “Nano” Rahnyono, dengan pilihan latar belakang pendidikan masing-masing, tak lepas dari risiko dan pencapaian yang berbeda. Dalam khasanah kultur Jawa mengenal istilah yang berbau filosofis dalam pencapaian atas pilihan karier seseorang, yakni “nggolek jeneng kaliyan jenang” (mencari reputasi dan harta). Ada pilihan bagi seseorang yang memungkinkan untuk mendapatkan jeneng (reputasi, citra, popularitas) terlebih dahulu dengan mengabaikan jenang (harta kekayaan). Ada pula yang sebaliknya. Dan nilai paling ideal tentu saja adalah meniti karier hingga mendapatkan jeneng dan jenang sekaligus secara bersamaan. Klowor Waldiyono merasakan betul sejak menempuh studi di ISI Yogyakarta bahwa dia tengah memilih untuk mengejar jeneng (reputasi), sedang kebanyakan adik-adiknya memilih jenang. Tak ada yang salah baginya, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Saudara-saudaranya, bahkan adiknya yang terkecil, telah lebih dulu merasakan buah jenang yang manis sejak dini ketimbang Klowor. Namun itu, ternyata, tak memudahkannya untuk mendulang citra dan reputasi (jeneng) dengan segera.

[tiga]: Hidup Memang Soal Keberanian
Kanvas-kanvas kelima seniman kakak beradik ini, niscaya tak akan lepas dari ingatan kolektif mereka atas sosok sang bapak, Gatot Lelono, yang mempensiunkan diri sebagai pemain akrobat sekitar tahun 1985, sebelum berpulang sekitar tahun 2001. Tubuh yang perkasa, sehat hingga usia senja, dan tentu teriakan “wathathitha” yang masih membekas dalam kilasan ingatan, tak pelak, menjadi sumber gagasan utama karya-karya “kelompok” ini.

Saya tak hendak bergegabah untuk memberi penilaian atau apalagi justifikasi lebih lanjut atas karya-karya mereka pada pameran ini. Saya hanya ingin memberi penekanan atas etos hidup keluarga ini yang “berbelok arah” untuk memilih menjadi seniman dengan segala risiko dan kemungkinannya. Mereka bukanlah para pewaris nilai kesenimanan para tetua atau leluhurnya yang ingin dijaganya dengan meneruskan tradisi itu. Mereka bukanlah, sebagai amsal, seperti seniman Butet Kertaradjasa dan Djaduk Ferianto yang meneruskan tradisi dan darah kesenimanan ayahnya, Bagong Kussudiardjo, yang di garis keturunan sebelumnya masih mengalir darah seni dan ningrat yang mengemban titisan sebagai pihak yang dekat dengan seni. Bukan! Lugiono dan adik-adiknya hanya bertetangga (jauh) dengan seniman Harjadi (seniman yang acap mendapat proyek besar membuat relief dari Bung Karno) di kampung Blunyah, di kawasan Yogyakarta utara yang sebelumnya tak akrab dengan jagad seni rupa.

Maka, di sinilah nilai lebih mereka: mencoba untuk terus bertahan atas pilihannya untuk bersetia dengan dunia seni rupa. Mungkin mereka belum menjadi bintang, dan bahkan mungkin ada yang “tak akan sempat kebagian kebintangan” itu. Namun, berkesenian mesti terus dilakoninya. Dan ini jauh lebih penting untuk diapresiasi ketimbang mereka yang selalu takut memilih, dan lalu takut dengan pilihan-pilihan hidupnya.

“Wathathitha!” Hidup memang soal keberanian untuk memilih! ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa.