Thursday, February 28, 2008

Entang Wiharso's Exhibition in USA




(Pictures: Entang Wiharso – Melt: Cooked, Eaten and Imagined, 2007, dimension variable, multimedia installation)

Mead Art Museum, Amherst, USA
Upcoming Exhibitions

The Third Space: Cultural Identity Today
February 28 – June 8, 2008

This exhibition considers cultural identity in a global society. It explores the effects of displacement, alienation, exile, diaspora, transnationalism, hybridity, and cosmopolitanism. The title The Third Space is taken from the work of the influential cultural and post-colonial theorist Homi Bhabha; it refers to the interstices between colliding cultures, a liminal space “which gives rise to something different, something new and unrecognizable, a new area of negotiation of meaning and representation.” In this “in-between” space, new cultural identities are formed, reformed, and constantly in a state of becoming. Artists at work in “the third space” speak of a creative edge that derives from the condition of being in a place that simultaneously is and is not one’s home. Organized by Carol Solomon Kiefer, Curator of European Art at the Mead, the exhibition consists of fifteen works by nine artists. Included are pieces from the permanent collection and loans in a range of artistic media – video, photography, painting, and installation.

The Third Space: Cultural Identity Today is part of a year-long interdisciplinary initiative at Amherst College on the theme of “Art and Identity in the Global Community.” Two of the artists in the show, Indonesian Entang Wiharso and Ghanaian-German Daniel Kojo, are resident Amherst College Copeland Fellows for the 2007-2008 academic year. French-Algerian Zoulikha Bouabdellah is resident Amherst College visiting artist for the spring semester. The other artists in the exhibition are Moroccan Lalla Essaydi, Palestinian Mona Hatoum, Vietnamese-American Dinh Q. Lê, Iranian-American Shirin Neshat, Nigerian-Cuban-American Maria Magdalena Campos-Pons, and Native American Jaune Quick-To-See Smith.The exhibition is generously supported by the Hall and Kate Peterson Fund, the Templeton Photography Fund, and the Amherst Arts Series Fund.

AMHERST COLLEGE EVENTS

Thursday, March 27, 4:30 p.m.
Gallery Talk - Exhibition Curator Carol Solomon Kiefer, Amherst College Department of Art and Art History Resident Artist Zoulikha Bouabdellah, and Amherst College Copeland Fellows Daniel Kojo, and Entang Wiharso
Reception to follow
Free and open to the public

Thursday, April 3, 4:30 p.m.
Artist Lecture - Zoulikha Bouabdellah, Artist in Residence, Department of Art and Art History, Amherst College
Pruyne Lecture Hall, Fayerweather Hall
Reception to follow
Free and open to the publicMonday, April 7, 7:30 p.m.

Monday, April 7, 7:30 p.m.
Artist Conversation - Copeland Fellow (Amherst College resident artist) Daniel Kojo, Mead Art Museum
Reception to follow
Free and open to the public

Amherst College has five resident Copeland Fellows for 2007-2008. The Copeland program is intended “to bring together people of diverse backgrounds and different perspectives to engage with faculty and students at Amherst College in a way designed to promote the cross-fertilization of ideas.” Fellows are nominated by members of the faculty and selected from many different disciplines, vocations, and professions. For the first time in 2007-2008, the Copeland Colloquium has a thematic focus: “Art and Identity in the Global Community.”

RELATED EVENTS Opening February 15, 2008
Film - Persepolis, 2007
Amherst Cinema Arts Center
info@amherstcinema.orgAnimated film by Marjane Satrapi and Vincent Paronnaud based on the award winning graphic novel Persepolis by Iranian author Marjane Satrapi.

April 1-April 25, 2008
Exhibition - Zoulikha Bouabdella, Artist in Residence, Department of Art and Art History, Amherst College
Eli Marsh Gallery, Fayerweather Hall, Amherst College

Thursday, April 3, 7:00 p.m.
Reading and Reflection - Marjane Satrapi
John M. Greene Hall, Smith CollegeThis event is sponsored by the Smith College Office of the Dean of the College, Smith College Office of Student Affairs, Smith College Office of the Dean of the First Year Class, Smith College Lecture Fund, Hampshire College Center for Academic Support and Advising, Mount Holyoke College Office of the Dean of the College, Five Colleges, Inc., and the Mead Art Museum, Amherst College.

Friday, April 4, 5:30 p.m.
Lecture - Maria Magdalena Campos-Pons, Fifth Annual Dulcy B. Miller Lecture in Art and Art History
Weinstein Auditorium, Smith College
Campos-Pons is featured in The Third Space: Art and Cultural Identity

Friday, Saturday, April 4-5
Symposium - GLOBAL EYES: New Ways of Seeing Art
Smith College Museum of Art
413-585-2760, www.smith.edu/artmuseum
A Smith College symposium to explore how global influences are reshaping our understanding of the meaning of art.

Tuesday, February 19, 2008

Mencatat yang (Acap) tak Tercatat







(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran seni rupa "MEMO" di Galeri Mondecor, 21 Februari - 2 Maret 2008. Gambar di atas berturut-turut (dari atas) karya Agus Triyanto B.R., Robi Fathoni, Riduan, dan Slamet "Suneo" Santoso)

Oleh Kuss Indarto

Setiap orang pasti memiliki “harta” bernama ingatan. Begitupun, sebuah masyarakat nyaris senantiasa memiliki “warisan” berupa ingatan kolektif. Ingatan, menurut Haryatmoko (2004), bukan keseluruhan dari masa lampau, melainkan keping-keping masa lampau yang terus hidup dalam diri orang atau kelompok masyarakat dan tunduk kepada representasi serta kerangka pandang masa kini. Maka, praktik mengingat pada lazimnya melibatkan upaya untuk memberi makna, upaya memberi verifikasi atas beragam hipotesa pengingat untuk membangun kembali makna. Pandangan retrospektif atas masa lalu tak hanya merupakan pengalaman yang memberi makna, tetapi juga hasrat untuk mengupayakan proyek yang bermakna. Ini teramat penting karena – dalam bahasa yang lebih “heroik” – seseorang yang nihil tanpa ingatan adalah seseorang tanpa visi untuk melangkah maju melampaui masa lalunya. Demikian juga, sebuah negara tanpa ingatan kolektif bisa berarti juga negara tanpa masa depan.

Pada lingkar spektrum pemikiran seperti inilah, saya kira, karya seni rupa seperti lukisan, mampu dihasratkan untuk mengimplementasikan gagasan tentang pentingnya menghadirkan ingatan. Tentu termasuk pengayaan ingatan personal sebagai bagian penting dari munculnya ingatan kolektif (atau sebaliknya, ingatan kolektif yang menyumbang atas munculnya ingatan personal) yang berkerumun dalam setiap pribadi dan sebuah komunitas atau masyarakat. Dan karya seni menjadi salah satu perangkat penting untuk membuat artifak dari (atau tentang) ingatan seseorang.

Seperti halnya empat perupa muda penuh talenta yang menggelar pameran kali ini. Mereka bagai tengah menggali kemampuan dalam mengulik kilasan ingatan yang banyak berkelebat dari masa lalu, dan dikerangkai dengan konteks pemikiran masa kini. Robi Fathoni, Riduan, Agus Triyanto B.R., dan Slamet “Suneo” Santoso, tengah menjadi sutradara bagi kelahiran karya-karyanya yang sebagian mereka ungkit dari ingatan kurun waktu sebelumnya, yang kemudian dikerangkai dengan perspektif paling aktual versi mereka. Ingatan sebagai teks, dan karya seni itu menjadi artifak teks yang dibumbui dengan konteks. Sehingga karya-karya ini menjadi jalinan penting atas jagat ingatan personal mereka yang diberi muatan makna dari cara berpikir dan bersikap mereka kini.

Tajuk kuratorial Memo sendiri, kiranya bisa dipahami sebagai ungkapan pendek dari kata “memory” (ingatan, kenangan), “memorable” (sesuatu yang patut dan dapat diingat), “memorial” (sesuatu yang diandaikan sebagai tanda peringatan), ataupun “memorandum” (catatan untuk diingat). Dalam budaya sehari-hari yang populer di sekitar kita, terminologi “memo” dikenal sebagai catatan singkat untuk memberi peringatan atau pengingat untuk seseorang bagi agenda tertentu. Bisa beragam bentuknya, mulai lembar kertas kecil yang ditempel di depan pintu kamar, di atas arloji meja, atau di depan layar monitor komputer.

Sketsa-sketsa Ingatan

Memo juga bisa berupa benda ungkap lainnya yang representatif. Ada contoh kecil yang bisa dijadikan sebagai titik berangkat untuk menjelujuri ihwal ingatan ini dalam konteks seni rupa yang erat pertautannya dengan problem sosial politik. Ingatan itu berupa artifak yang mewujud sebagai karya sketsa sebanyak ratusan halaman karya Adrianus Gumelar Demokrasno. Dia seorang tahanan politik (tapol) yang dipenjarakan oleh pemerintah Orde Baru selama kurang lebih 8 tahun di pulau Buru. Alumnus ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta (sekarang Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta) ini tak tahu kesalahannya, dan itu tak pernah dibuktikan secara hukum di lembaga peradilan jaman Soeharto.

Buku sketsa yang diterbitkan PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta) awal tahun 2006 itu bertajuk Dari Kalong Sampai Pulau Buru. Isinya merupakan rentetan kilas balik ingatannya terhadap peristiwa yang dialaminya tatkala menjadi penghuni hotel prodeo di pulau tapol itu. Karya-karya itu dibuatnya setelah dia pulang ke Jawa dari pengasingan. Pulau Buru menjadi “pulau hantu” yang nyaris tak memungkinkan baginya untuk berkarya seni. Ingatannya atas penderitaan lahir batin membuatnya begitu antusias untuk memvisualkan secara detil segala aspek yang menjadikannya mengalami tahun-tahun penuh teror. Misalnya, ada narasi visual tentang kisah seorang teman yang tewas di tangan sipir militer gara-gara dia membeli gorengan yang dibungkus dengan sesobek koran. Sobekan koran yang hanya secuil itu, ketika dibaca, telah dianggap sebagai tindakan subversif, dan lalu dianggap layak untuk dianiaya hingga tewas.

Gumelar yang tetap menerima hukuman sosial selepas dari penjara, berupa stigmatisasi komunis oleh pemerintah Orde Baru, dalam karya-karya lain bisa dengan fasih dan rinci mengeksposisikan ingatannya tentang gereja, surau, bukit dengan kawat berduri, ladang sayuran, dan lainnya.

Ini sebuah contoh ekstrem betapa kemudian Gumelar mampu menarik kembali ingatan itu untuk dikenang sebagai memori sosial dan kolektif yang tak bisa dihilangkan selamanya. Dalam konteks perbincangan seni rupa, betapa garis-garis sederhana dalam karya sketsa mampu menjadi “sistem” representasi baru yang penting untuk mengulik kembali sepotong peristiwa pada cuilan masa lampau.

Subject Matter(s)

Dalam gradasi, konteks perbincangan, dan spirit yang berbeda meski dalam ritme yang kurang lebih sama, empat seniman ini mencoba membongkar-bongkar kembali koper ingatan mereka tentang segala hal yang paling mengental dalam ingatan dan ketertarikan mereka. Memo tentang kurun-kurun waktu yang mengambang itu seperti ditarik dan digiring oleh para seniman untuk dikerucutkan kembali dalam subject matter (pokok soal) yang mereka inginkan.

Maka lahirlah karya-karya menarik yang merujuk dari ingatan masa lalu. Ingatan itu dijumput, lalu dijemput dengan pergeseran cara memandang atas pokok soal itu. Inilah hal yang menghasilkan sintesa persoalan menjadi relatif lebih kompleks.

Taruh misalnya pada karya-karya Riduan. Lukisan yang terpampang itu menggambarkan citra tentang hamparan lanskap tanah dengan warna tunggal dengan pengembangannya lewat gradasi. Di tengah itu semua, sebagai identitas visual yang cukup melekat pada semua karya Riduan dalam kurun kurang lebih 3-4 tahun terakhir, adalah larik-larik citra kain yang merenggang. Larik-larik itu menjadi baris-baris yang menjadi “dasar utama” pada karya Riduan. Di sana, ada impresi keteraturan visual yang disubversi secara kecil-kecilan dengan ketidakteraturan pada banyak karyanya.

Kali ini tema tentang tanah menjadi perkara cukup menarik bagi Riduan. Pada karyanya berjudul Titik Persoalan, menjadi contoh karya paling representatif untuk menggambarkan ingatan Riduan tentang kasus-kasus tanah, tanah warisan misalnya, yang akhirnya telah membuyarkan ikatan kekeluargaan. Tanah menjadi sumber konflik ketika akan dipetak-petak dalam jatah-jatah yang ditentukan.

Sementara Robi Fathoni mencoba mengangkat ihwal praktik konsumsi, khususnya yang terjadi pada kaum perempuan, sebagai basis persoalan utama atas karya-karyanya. Di sini, ada dua lapis persoalan yang berkait dengan ihwal ingatan. Pertama, bagaimana bapak muda dengan satu jabang bayi ini diberi “memo” tentang kompleksitas kebutuhan untuk dikonsumsi oleh perempuan. Ini mungkin menjadi kesadaran personalnya. Kedua, bagaimana praktik konsumsi pada perempuan tersebut banyak dipersuasi, dan malah diberondong oleh gencarnya iklan di semua media sebagai bentuk teror ingatan. Pada poin kedua ini kita bisa berbuncah-buncah membincangkan ihwal iklan ini dari perspektif budaya populer yang kian dikerumuni peminat kajian budaya akhir-akhir ini. Iklan yang pada dasarnya berkodrat seducing (menggoda), telah menjadi ujung tombak di garis depan dalam praktik “ideologi” libidonomics (Yasraf A. Piliang, 1998) atau “ideologi” yang mendistribusikan (nemein) energi atau hawa nafsu (libido). Lima karya Robi, secara tersirat mendedahkan hasil dari kuatnya ingatan yang didistribusikan oleh iklan.

Dua seniman lain, Agus Triyanto B.R. dan Slamet “Suneo” Santoso memberi gambaran ke apresian tentang ingatan mereka terhadap hal yang cukup personal. Agus menyoal tentang dirinya sendiri, mengeksplorasi potret wajahnya dengan segala mimik dan gerak tangan yang impresif dan dinamis di seputar wajah hingga mencitrakan tentang bunga lotus. Sementara Slamet Suneo begitu detil mengulas jagad alam, terutama bebatuan dan satwa, sebagai basis perbincangan. Kiranya ada hal utama yang diingatnya ketika membincangkan tentang nilai hakiki kehidupan adalah mengelola keselarasan dan keseimbangan dengan menjaga hubungan dengan alam.

Lalu, apa yang bisa dimaknai lebih lanjut dari puluhan bentang kanvas, sebagai artifak ingatan, yang tertata rapi dalam ruang pajang ini? Pertama, saya kira jika ini dipahami sebagai sebuah bentuk mengelola ingatan, maka dimungkinkan sebagai upaya penyangkalan (sekecil apapun itu) terhadap gejala amnesia pada banyak aspek. Dalam gradasi yang lebih akut, amnesia mampu memotong sejarah. Kedua, kalau proses mengingat kembali dimaknai dalam koridor istilah Yunani anamnesis (mimneskein: mengingat; dan ana: kembali), maka kenangan atau ingatan merupakan basis pengetahuan akan forma atau ide sebagai pengetahuan yang sempurna yang dimiliki jiwa secara genetik (bawaan) sebelumnya (Loren Bagus, 2002). Ini kalau kita mengacu pada doktrin Plato tentang mimesis (kenangan, tiruan).

Ingatan memang tak bisa diabaikan untuk mengonstruksi sistem pengetahuan seseorang atau sebuah komunitas. Ia layak untuk dijumput dan dicatat.

Thursday, February 14, 2008

Kabar untuk Kampung




Lukisan karya Ade Pasker, LAIN SUKU, 120 x 120 cm, mixed media on canvas


Oleh Kuss Indarto

(Teks ini dimuat untuk katalog pameran Kaba Rang Rantau, di Ego Gallery, Warung Buncit Jakarta. Pameran dibuka mulai 14 Februari 2008)

Kenapa orang Minangkabau memiliki semacam “ritus organik” untuk merantau? Dalam kerangka berpikir seperti apa yang menyebabkan urang awak ini merantau? Barangkali ini pertanyaan klise yang senantiasa bergulir tatkala menemukan seseorang atau sekelompok orang yang teridentifikasi sebagai “orang Padang” di luar geografis Ranah Minang.

Pada awalnya, diduga aksi merantau ditengarai sebagai perilaku yang dibangun oleh konsep geo-ekonomi, yakni bagaimana manusia Mingkabau mengatasi keterlibatan teritorial dalam kerangka mencari penghidupan dan perbaikan kehidupan. Aksi merantau merupakan sebuah proses deteritorialisasi (deterritorialisation), yakni meninggalkan teritorial, menjauh dari teritorial bahkan terusir dari teritorial (yang terakhir ini menjadi bagian juga dari budaya teritorial Mingangkabau). Seseorang meninggalkan teritorial untuk satu motif geo-ekonomi dan geo-kultur. Akan tetapi seseoang “terusir” dari teritorial, dan pergi ke rantau, karena alasan adat atau agama karena, misalnya, melanggar konvensi dan tata aturan adat serta agama.

Pada mulanya orang Minangkabau merantau didasarkan oleh dalih untuk mencari sumber penghidupan yang lebih baik, sehingga lebih sebagai alasan ekonomi. Tatkala tiga luhak yang ada di Minangkabau, yakni Luhak Agam, Luhak 50 Koto, dan Luhak tanah Datar, tidak lagi memadai untuk dijadikan sebagia lahan bercocok tanam, maka dicarilah tempat penghidupan yang baru, yang disebut “rantau”. Pada awalnya, konon, rantau hanya di sekeliling Luhak nan Tigo. Kemudian meluas ke pantai barat Sumatera, sehingga terbentuk rantau pesisir. Ke arah Timur terbentuk rantau Timur, sampai ke kawasan Rokan, Siak, Kampar, Batanghari, Inderagiri, dan Asahan bahkan hingga ke Malaysia.

Ada semacam “mantera” penting yang seolah menjadi pengingat mengapa orang Minangkabau pergi merantau: karantau madang di ulu, babuah babungo balun / marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun. Melepaskan diri dari tanah air atau merantau dalam kebudayan Minangkabau, pada konsep awalnya, bersifat temporer atau sekadar sementara waktu. Praktik merantau bukanlah tujuan akhir, melainkan sekadar sebuah proses. Merantau bukanlah sebuah posisi keberadaan atau eksistensi (being), tetapi sebuah proses menjadi (becoming). Paguno balun menunjukkan kondisi seorang anak muda Minangkabau yang belum menjadi ‘manusia”, atau belum “menjadi orang”.

Maka merantau merupakan sebuah temporalitas penempaan untuk “menjadi orang” (human being). Merantau dengan demikian selalu bersifat “ruang antara” (temporary space), yakni sebuah ruang sementara tempat pembentukan diri seorang Minang, sehingga suatu waktu kelak setelah seseorang sukses ia akan kembali ke tanah air asalnya. Oleh karena itu, merantau adalah sebuah proses yang selalu menempatkan orang Minangkabau dalam kondisi “tarik-menarik” atau “tegangan” secara terus-menerus, yaitu antara tanah asal dan rantau, antara teritorialisasi (menetap) dan deteritorialisasi (berpindah).

Dengan demikian, ketika daerah rantau yang menjajnjikan berbagai bentuk kesebnangan, perubahan dan status melupakan seseorang akan tanah asal, dan menetap selamanya di rantau (reterritorialisation), ia akan mendapatkan sebuah status yang tidak baik secara adat, yaitu status sebagai marantau Cino, yakni merantau yang telah “terputus” dengan tanah darek, baik secara fisik, psikologis, emosi, maupun sosial. Meski pada awalnya “merantau” adalah sebuah upaya membuka wilayah baru, akan tetapi code of conduct adat Minangkabau mengajarkan bahwa merantau itu tidak untuk menguasai daerah rantau, seperti konsep new foundland atau new frontier yang ada dalam kebudayaan kolonial modern Barat, yang menjadikan daerah-daerah baru sebagai teritorial kekuasaan dengan menaklukkan penduduk pribuminya.

***

Orang Minangkabau memiliki batas-batas pemahaman akan hal itu yang “didoktrinkan” dalam pepatah lama yang telah mengindonesia: di ma bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang. Ini dapat dipahami bahwa daerah rantau bukanlah daerah kolonial, melainkan sebagai ruang temporer tempat pengasahan dan penggemblengan diri manusia Minangkabaau (sebagai self), yang di dalamnya kebudayaan dan adat istiadat setempat dijunjung tinggi. Konsep “merantau”, dengan demikian, menunjukkan sifat kebudayaan Minangkabau itu sendiri, yakni kebudayaan yang sangat menghargai perbedaan (difference), keberagaman (pluralirasme), ciri-ciri yang juga dituntut dalam arus globalisasi seperti dewasa ini.

Menilik perkembangan jaman seperti dewasa ini, konsep merantau mengalami pergeseran atau persisnya perluasan, baik itu dari aspek motif awal, geo-kultur, maupun makna semantiknya (semantic expansion). Dari aspek motif awal, merantau yang sebelumnya lebih dilandasi oleh motif ekonomi, yaitu guna mendapatkan perbaikan dalam ranah kehidupan, pada perkembangan berikutnya telah bergeser ke arah motif awal yang penuh kompleksitas, antara lain motif kultural (seperti menuntut ilmu, memperluas wawasan, meningkatkan ketrampilan), ataupun motif sosial (karena status sosial, prestise sosial, dan lainnya).

Secara geo-kultural, rantau selalu mengalami perluasan dalam pemaknaan. Sebagaimana telah dijelaskan di atas rantau pada awalnya bersifat setempat atau lokal, yang dapat disebut rantau lokal, sekarang lebih meluas, mencakup hampir seluruh kepulauan Indonesia, sehingga hampir di semua tempat di Nusantara akan bisa ditemui orang Minangkabau, yang mengonstruksi “rantau nasional”. Rantau itu terus meluas melampaui kepulauan Indonesia, sehingga banyak orang Minang yang merantau ke wilayah-wilayah sekitar Indonesia, seperti Malaysia dan lainnya, yang membentuk semacam “rantau regional”. Kini perluasan rantau itu secara geografis telah melingkupi “desa global” ini sehingga merantau kini merupakan sebuah perpindahan global, seperti ke Australia, Amerika Serikat, Eropa, yang menciptakan semacam “rantau global”.

Sedangkan dalam tinjauan semantik ada pergeseran makna kata ‘rantau”. Dalam pepatah lama dikatakan bahwa kalau sudah sukses di rantau jan lupo asa atau jan lupo kuliknyo. Artinya, seseorang tidak diperkenankan hanyut di rantau, sehingga lupa sama sekali tanah asal, yang disebut marantau Cino. Sebab sejauh-jauhnya merantau, suruiknyo ka kubangan juo. Berapa lamapun seseorang di rantau pada akhirnya akan kembali juga ke tanah asal. Tetapi kini interpretasi terhadap suruiknya ka kubangan juo ini menghasilkan makna semantik baru, yang tidak lagi kembali secara fisik (atau tinggal kembali ke kampung asal), melainkan bisa cukup secara simbolik. Dalam pengertian bahwa meskipun fisik tetap di rantau, tetapi hati tetap tertambat di tanah asal, dengan tetap memberikan dorongan dan semangat moral, material maupun pemikiran-pemikirannya untuk kemajuan tanah asal. Atau setidaknya memberi penghormatan kepada tanah asal dengan cara membawa citra (nama baik) tanah air lewat cara mengguratkan prestasi di tanah rantau.

***

Dalam kerangka seperti itulah sebenarnya para perupa asal Ranah Minang yang tengah berpameran kali ini, seperti halnya dengan para perupa asal Ranah Minang lain sebelumnya, seolah tengah mendedahkan upaya pencitraan dirinya sebagai orang rantau yang tengah berproses membentuk dirinya. Ada dua hal penting yang tengah mereka laukan, yakni pencitraan personal dan pencitraan komunal.

Pencitraan personal lebih merujuk pada pencapaian masing-masing seniman, baik dalam kerangka estetik maupun dalam sistem pengetahuan yang telah diserapnya selama beberapa tahun merantau di kota Gudeg Yogyakarta. Sementara pencitraan komunal seperti tengah ingin ditunjukkan oleh kelompok pameran ini dalam upaya untuk memberi pengingat kepada publik bahwa para seniman ini masih memiliki pengalaman batin dan ingatan kolektif terhadap kampung halamannya.

Ini hal yang menarik kalau kemudian kita rujuk capaian visual yang tengah dieksposisikan dalam pameran. Karena sebagian besar gelaran kanvas yang terpampang tidak secara tegas membawa visualitas ikonik yang “khas” Ranah Minang, seperti misalnya rumah gadang, lanskap Ngarai Sianok, kampung atau pegunungan nan mooi ala lukisan Wakidi. Tetapi yang diangkat ke kanvas merupakan spirit atas ke-Minang-an yang telah cukup sublim dalam ingatan mereka kini. Tak berlebihan sebenarnya kalau kemudian ditengarai bahwa gejala visual ini sebagai bagian penting dari operasionalisasi atas spirit di ma bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang. Di sinilah saya kira, penghormatan para perantau ini terhadap “tanah airnya” yang baru, sekaligus kemampuan urang awak dalam mengabsorbsi sistem pengetahuan yang berbeda dari yang didapatkan pada waktu dan tempat sebelumnya.

Atau dalam gradasi yang lebih luas, gejala ini seolah merupakan penerapan atas falsafah ibu cari, dunsanak cari, induak samang cari dahulu (kalau di kampung halaman ditinggalkan ibu, maka di tanah perantauan ibu pun harus dicari) yang dapat dipahami sebagai kepiawaian anak-anak Minang dalam mencari “ibu baru” di tanah rantau. Maka, kultur yang berbeda merupakan “ibu baru” untuk pemicu bagi tantangan kreatif berikutnya. Ya, pameran ini adalah cara kecil dalam mengungkapkan cara berkabar kepada kampung halaman.

Sunday, February 10, 2008

Kasus Cover Majalah Tempo







(Keterangan foto: Cover majalah Tempo, karya The Last Supper versi Leonardo da Vinci, lalu versi Dieric Bouts, dan versi Jacopo Tintoretto)

Oleh Kuss Indarto

Tampilan sebuah media massa kembali diributkan dengan prasangka (presumption) pelecehan terhadap sebuah agama. Kali ini giliran majalah berita mingguan Tempo terkena sasaran. Edisi Khusus Soeharto, yang terbit pekan ini (4-10 Februari 2008), menampangkan cover yang kemudian menjadi pangkal kontroversi. Cover itu memvisualkan sosok Simbah Soeharto yang berbaju koko putih di tengah enam anak-anaknya. Ada citra Tommy, Tutut, dan Titik Soeharto di sebelah kiri, dan tiga anak lain diktator ini di sisi kanan, yakni Bambang Trihatmojo, Sigit Hardjojudanto, dan Mamiek. Mereka menghadap satu meja yang sama dengan taplak putih berikut perangkat makan seperti piring, mangkuk, lepek (piring kecil), asbak dan gelas serta cangkir. Semua perangkat itu nampak telah kosong tanpa menyisakan bekas makanan. Entahlah, mereka habis makan dengan rakus hingga tanpa sisa, atau sebaliknya, menunggu sajian untuk perjamuan. Karya grafis ini dikerjakan oleh salah satu anggota tim kreatif Tempo, Kendra Paramita.

Titik krusial dari gambar tersebut, jelas, pada keseluruhan lukisan yang diprasangkakan sebagai bentuk plesetan dari salah satu karya besar seniman maha bintang jaman Renaisance, Leonardo da Vinci (1452-1519), yang bertajuk The Last Supper dan dibuat antara tahun 1495-1498. Dalam bahasa Italia, bahasa ibu da Vinci, judulnya: Il Cenacolo atau L'Ultima Cena. Kalau teman kurator dari Bandung, Rifki Effendi a.k.a. Goro, mungkin akan menyebut gejala visual yang ditampilkan Tempo ini sebagai “apropriasi”. Kalau aku lebih cenderung menyebutnya sebagai “mockery”, semacam olok-olok sembari mempraktikkan sebuah resistensi.

Cover Tempo ini diasumsikan melecehkan keyakinan kaum Katolik atau Nasrani secara umum karena mengambil dan lalu mengalih-ubah secara sewenang-wenang salah satu artifak penting ihwal Jesus dengan segala kesuciannya. Maklum saja, karena lukisan mural berukuran 4,6 x 8,8 m dan menempel di Santa Maria delle Grazie, di kota Milan ini, dianggap sebagai visualisasi atas salah satu ayat dalam Injil, John (?) 13:21, yang menarasikan tentang Jesus yang men-syiar-kan adanya pengkhianat di antara 12 pengikut setianya.

Aku tak begitu cermat menyimak satu persatu email tentang kontroversi cover Tempo yang berseliweran dengan riuh dalam milis FPK (Forum Pembaca Kompas, bukan Front Pembela Katolik hehe...) itu. Namun pro-kontra yang terjadi, sepertinya sekadar mengulang kembali sejarah tentang pembelajaran untuk berlaku dewasa dalam praktik beragama. Ada yang marah, geram, dan nyinyir untuk memojokkan Tempo, namun tak sedikit pula yang berlaku dewasa dengan menganggap apa yang dilakukan Tempo sebagai hal yang wajar dan tak bermasalah, pun tak mengurangi sedikitpun keyakinan mereka dalam beragama.

Dalam aspek tinjauan estetik, aku melihat apa yang telah dilakukan oleh da Vinci sekitar 500 tahun lalu, dengan melukis The Last Supper, telah mencuatkan pencapaian yang luar biasa, yang kemudian menghasilkan lapis pencapaian lain di luar perkara estetik. Bahwa karya da Vinci itu hebat, ya, nyaris semua orang mengakui. Tetapi bahwa kemudian karya itu, setelah berusia ratusan tahun, dianggap sebagai bagian penting yang melekat dan integral dari simbol kesucian dalam (praktik beragama) Nasrani, persoalan menjadi bergeser. Dan inilah titik soal krusialnya.

Aku sementara tak melihat da Vinci dengan kebintangannya, meski itu menjadi faktor penting. Namun ada hal elementer yang banyak dilupakan dalam perbincangan pro-kontra soal cover Tempo itu, bahwa pada awalnya da Vinci sekadar melakukan imajinasi yang direalisasikan dalam lukisan mural. Atau sebaliknya merealisasikan imajinasinya tentang sebuah ayat dalam Kitab Injil itu. Bahwa kemudian dia bisa menampilkan pancapaian estetik yang luar biasa itu adalah satu hal. Tapi bahwa karya itu kemudian disucikan seperti layaknya artefak penting dalam (ritus) keagamaan bagi sementara orang Nasrani yang sangat fanatik atau fundamentalis, itu hal lain yang berbeda dan berseberangan. Tak bisa satu dan lainnya dijalin dalam satu ikatan pemikiran dan keyakinan.

Karya The Last Supper-nya da Vinci “sekadar” sebuah tafsir visual atas teks ayat suci. Dan tak hanya da Vinci yang melakukannya, karena beberapa bahkan mungkin puluhan seniman lain mengerjakannya. Misalnya seniman Dieric Bouts yang juga menafsir ayat tersebut tahun 1464 di atas kanvas seluas 180x150 cm. Atau Jacopo Tintoretto menorehkan imajinasinya di kanvas berukuran 365x569 cm, pada tahun 1592. Juga sebelumnya, seniman Castagno membuatnya tahun 1447. Gagasan dasarnya sama, namun output-nya banyak berbeda. Dan karya da Vinci yang merupakan pesanan dari pasangan bangsawan Duke Ludovico Sforza dan Beatrice d'Este ini menjadi karya yang “kanonik” kalau kita membincangkan ihwal Perjamuan Terakhir Jesus. Kukira, inilah “kemenangan” da Vinci untuk mempertautkan “yang estetik” menjadi begitu relijius, dan seolah tak boleh dijamah. Yang sehari-hari menjadi begitu suci.

Akhirnya, lebih dari itu, ah, Soeharto tetap saja menjadi biang ribut meski sudah mati. Ah, tiba-tiba aku jadi ingat kasus stiker yang menyeret aktivis politik Nuku Sulaeman masuk bui di Jakarta, sekitar tahun 1994. Bunyi stiker itu: SDSB (Soeharto Dalang Semua Bencana)…

Friday, February 01, 2008

Mon Decor Lifetime Achievement Awards



(Ini foto di selatan beringin eks kampus ASRI/STSRI/FSRD ISI Yogyakarta, 28 Januari 2008. Dari kiri ke kanan: Suwarno Wisetrotomo, Dyan Anggraini, Anggi Minarni, Sujud Dartanto, Edhi Sunarso, Prof. Sudarso Sp., Martha Gunawan (Galeri Mon Decor), dan Kuss Indarto)

Sambutan/Pengumuman
Penganugerahan Mon Décor Lifetime Achievement Awards
Kepada Prof. Soedarso Sp., M.A. dan Edhi Sunarso


Yang saya hormati hadirin semuanya,
Yang saya hargai kawan-kawan seniman, perupa, para jurnalis dari media cetak maupun elektronik,
Assalamualaikum Wr Wb

Salam sejahtera bagi kita semua

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas semua karunia yang telah dilimpahkan kepada kita semua, sehingga malam ini kita bertemu dalam suasana gembira, sehat dan selamat. Malam ini, seperti telah kita ketahui bersama, adalah malam penutupan Perhelatan Pameran Seni Visual Jogja Biennale IX-2007, yang berlangsung dari 28 Desember 2007 hingga malam ini, 28 Januari 2008.

Sejak penyelenggaraan Biennale Jogja ke-8, 2005 yang lalu, dimulai sebuah tradisi baru, yakni pemberian penghargaan Life Time Achievement Awards, kepada seseorang yang dianggap memiliki dedikasi, kreativitas dan pencapaian yang memberikan inspirasi bagi siapa saja, atau khususnya bagi dunia seni rupa di Indonesia.

Demikian pula pada Biennale Jogja IX-2007 kali ini, kami (kurator dan manajemen) merasa terpanggil untuk menjaga dan meneruskan tradisi pemberian penghargaan ini. Kami memandang, memberikan penghargaan adalah salah satu cara yang bermartabat untuk menyatakan pengakuan atas sebuah pencapaian seseorang atau komunitas yang memberikan inspirasi dan juga diakui oleh khalayak luas. Karena itu, penghargaan Life Time Achievement Awards ini tidak ada hubungannya dengan tema kuratorial yang tengah digunakan atau dicanangkan untuk membingkai peristiwa Biennale Jogja IX-2007. Penghargaan atas "pengabdian sepanjang hidup" dalam dunia pemikiran, pendidikan dan praktik seni rupa di Indonesia, kepada seseorang atau komunitas, hampir tidak pernah ada. Persoalannya adalah, Manajemen Biennale Jogja belum memiliki kemampuan untuk memberikan penghargaan yang memadai, di samping muncul kehendak untuk melibatkan para pemangku kepentingan (stake holder) agar bersama-sama menyangga dan mewujudkan penghargaan ini. Dalam kaitan itulah, maka penghargaan kali ini bernama Mon Décor Life Time Achievement Awards.

Kurator yang difasilitasi oleh TBY dan Manajemen, telah melakukan pengamatan dan riset yang cukup cermat, menginventarisasi para kandidat. Akhirnya, dengan sejumlah pertimbangan dan argumentasi, maka penghargaan Mon Décor Life Time Achievement Awards-Biennale Jogja IX-2007 Neo-Nation, diberikan pertama, kepada seseorang yang sepanjang kehidupanya hingga kini berusia 72 tahun, sepenuhnya didedikasikan pada dunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan Seni Rupa. Ia merintis karier sejak lulus ASRI tahun 1960, menyelesaikan master di Nothern Illinois University US tahun 1964, menduduki berbagai jabatan birokrasi, menerbitkan sejumlah buku, seperti " Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar untuk Apresiasi Seni", "Sekarah Perkembangan Seni Rupa Modern", dan menjadi kurator Pameran Seni Rupa Modern di AS (1990-1992), dan memimpin Jurnal Seni, serta menerima berbagai anugerah/penghargaan seni. Pendeknya, ia memiliki komitmen, dedikasi, loyalitas dan pencapaian, dalam dunia pendidikan seni rupa di Indonesia, dan diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang. Ia yang dimaksud adalah Bapak Profesor Soedarso Sp., M.A,

Yang kedua, penghargaan diberikan kepada seseorang yang kami anggap menjadi pionir dalam dunia seni patung, khususnya dalam tradisi seni patung monument, dan tetap berkarya hingga kini, dalam usianya yang ke-76 tahun. Karya-karya seni patung monumentalnya, hasil kolaborasi pemikiran dan perintah dari Presiden RI I Bung Karno, menyebar di berbagai posisi strategis di kota besar di Indonesia, dan akhirnya menjadi landmark, penanda kota, yang sekaligus memiliki latar belakang histories. Karya-karya itu antara lain, patung monument Tugu Muda Semarang, patung Monumen Selamat Datang, Patung Dirgantara, Monumen Pembebasan Irian Barat (semuanya di Jakarta), monument pahlawan Nasional Slamet Riyadhi di Ambon, dan sejumlah diorama sejarah. Ia juga memiliki latar belakang sesuai Pejuang Kemerdekaan. Memiliki pengalaman internasional, baik sebagai seniman maupun dalam rangka studi. Ia juga memiliki berbagai penghargaan nasional maupun internasional. Pendeknya, ia memiliki komitmen, dedikasi, loyalitas dan pencapaian dalam dunia seni rupa, khususnya seni patung di Indonesia, dan diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dan yang akan dating. Ia yang dimaksud adalah Bapak Edhi Sunarso.

Kedua tokoh ini memberikan isyarat penting, bahwa untuk mencapai dan meraih kemampuan dan kepercayaan, baik sebagai pendidik seni maupun sebagai seniman, harus melalui proses yang idak sederhana, dan memerlukan komitmen yang tinggi. Untuk melengkapi pengetahuan kita tentang kedua tokoh ini, mari sejenak kita saksikan prosil singkatnya.

Demikian pengumuman peserta beserta latar belakang penghargaan ini kami sampaikan, atas perhatian hadirin kami sampaikan terimakasih.

Yogyakarta, 28 Januari 2008

Kurator: Suwarno Wisetrotomo, Eko A Prawoto, Kuss Indarto, Sujud Dartanto