Sunday, July 31, 2011

Bayang Spiritual yang (Masih) Banal






Oleh Kuss Indarto

“SAYA tak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa sentuhan seni. Dunia pasti akan kering,” tutur si rambut putih, Hatta Rajasa, Menko Perekonomian sekaligus Ketua Umum Ikatan Alumni ITB saat hendak membuka Pameran Seni Rupa Kontemporer Islami Indonesia, 27 Juli 2011. “Saya bukan seniman, tapi saya bisa merasakan bahwa seni begitu berarti bagi peradaban manusia. Kita bisa berkaca pada Austria setelah Perang Dunia kedua. Apa yang pertama-tama mereka bangun setelah kehancuran karena perang? Mereka membangun dan membenahi museum-museum seni . Ini sangat penting bagi kondisi psikologis bangsa demi menghidupkan kembali martabat dan identitas kebangsaannya,” papar ‘the real vice president’ ini dengan pelahan dan takzim.

Akhirnya pameran itu dibuka dengan goresan setengah lingkaran yang ditorehkan di atas kanvas kecil sebagai penanda oleh Hatta Radjasa di teras Gedung A, Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta. Beberapa pejabat setingkat dirjen dan di bawahnya menyertai sang menteri. Juga tentu Abdul Sobur selaku ketua panitia sekaligus ketua Yayasan Inisaf yang memayungi perhelatan ini, plus Rizki A. Zaelani yang di-dhapuk sebagai kurator pameran. Ratusan seniman dan tetamu yang hadir segera menyemut dan merangsek memasuki ruang pameran Galeri Nasional Indonesia, terkhusus di Gedung A dan Gedung B.

Dua ratus karya dari 200 seniman yang diundang pun segera berebut “mencari” perhatian apresian. Perupa muda asal Bandung, Faisal Habibie menjadikan karyanya seperti “garda paling depan” ketimbang karya lain. Sekotak mungil berisi pemberitahuan-pemberitahuan ala penguman masjid tertempel di tembok teras Gedung A GNI. Persis di depan pintu kaca utama, berderet alas kaki bertebar: sepatu, sandal, selop dan lainnya. Seolah, pengunjung akan memasuki sebuah masjid atau mushala dan diwajibkan untuk melepas alas kaki tersebut. Pengunjung cukup terkecoh, apakah mengharuskan diri melepas sepatu laiknya hendak masuk ke babul qudus (rumah suci).

Dua ratus nama perupa yang terlibat dalam pameran ini memang relatif cukup beragam. Dari aspek usia, daerah asal, hingga, hmmm, serapan pasar atas karya-karya mutakhirnya. Ada nama Tisna Sanjaya yang mengusung karya instalatifnya berupa rumah yang kini menjelma jadi seperti mushala dengan kubah mungil dan beragam kain dan kostum di ujung bilah-bilah bambu yang menancap di atap. Juga nama-nama senior lain seperti A.D. Pirous, Achmad Sopandi, Dwijo Sukatmo, Iriantine Karnaya, Makhfoed, Narsen Afatara, Syaiful Adnan, Amrizal Salayan dan lainnya. Ada deretan nama yang selama ini dianggap sebagai the most wanted artists oleh “pasar” seperti Handiwirman, Budi Kustarto, Jumaldi Alfi, Nasirun dan beberapa lainnya. Ada nama seniman “laris” yang ditenggelamkan wacana seperti Masdibyo. Juga nama-nama yang relative baru yang beberapa tahun lagi, kalau karyanya konsisten, akan menguatkan eksistensinya seperti Iskandar Fauzy, M. Zikrie, dan masih banyak lagi.

Tema kuratorial “Bayang” yang digagas oleh Rizki A. Zaelani bersama A. Rikrik Kusmara tampaknya memang cukup rumit untuk diterjemahkan secara visual oleh para perupa. Salah satu pokok pikiran dari gagasan kuratorial “Bayang” (“bayangan”, “bayang-bayang”) ini menjelaskan bahwa tema ini setidaknya menunjukkan dua arah jalan penelusuran gagasan. Pertama, memahami persoalan yang menjadi sebab utama dan yang menentukan keadaan ‘bayang’ tersebut, yaitu” kehadiran cahaya dan tentang sumber cahaya. Kedua, memahami masalah ‘bayang’ itu sendiri sebagai hal yang hadir (presentness) dalam cara pemahamannya secara tersendiri.

Pada praktiknya, para seniman yang diundang dalam pameran ini kemudian masih terbebani oleh problem mendasar dari tajuk pameran yang mengusung kata “Islami” tersebut. Puluhan karya (lukisan) tak mampu mengelak dari kurungan kata “Islami” itu dan lalu menempatkan karyanya sebagai medium pengutipan ayat-ayat suci Al Qur’an. Tak salah memang. Namun itu tidak cukup memberi pengayaan bagi tawaran kuratorial yang digagas kurator. Bahkan ada satu dua seniman yang selama ini cukup “sekuler” tiba-tiba menempatkan kutipan ayat-ayat suci dalam kanvasnya. Kesan sloganistik, apa boleh buat, justru menguat pada karya-karya semacam ini. Bukan justru mematangkan gagasan (kuratorial) dan kreativitasnya dengan, misalnya, membumikan teks-teks tersebut lewat visualisasi yang kontekstual dengan realitas sosial yang tengah terjadi di ranah Indonesia. Karya-karya itu menjadi banal.

Di sela karya-karya tersebut ada satu dua karya yang menarik untuk dicermati, di samping karya Faisal Habibie yang disinggung di atas yang berkesan humor. Ada pula karya “Last Journey” gubahan Gabriel Aries. Dia membuat lingkaran dari serbuk marmer dengan diameter sekitar 3 meter. Dalam pusaran garis lingkaran itu ditempatkan patung koper dan sepasang sepatu yang terbuat dari batu. Jarak keduanya 180 derajat: saling berjauhan. Ada dimensi makna spiritual yang kuat dalam karya ini. Sepasang sepatu itu bagai tapak-tapak keberadaan manusia yang telah usai melakoni perjalanan hidup dalam kefanaan dunia. Dan koper itu selaksa aspek (ke)duniawi(an) yang sempat berada dalam genggaman sang manusia, dan keduanya kini terberai setelah kefanaan dunia itu hadir. Dalam dunia keabadian, ruh manusia telah jauh berpisah dengan koper duniawi yang selama ini menyertainya. Karya ini dengan tegas dan membumi seperti ingin mengetengahkan tafsir tentang penggalan episode dalam perjalanan eksistensial manusia. Harta atau hal yang bersifat duniawi sekadar bayang-bayang dari keberadaan manusia. Manusia dengan kontribusinyalah, bukan kebendaan yang menyertainya, yang jauh lebih substansif.

Pameran yang berlangsung hingga 18 Agustus 2011 ini cukup menarik karena juga bertepatan dengan dinobatkannya kota Jakarta oleh Organisasi Islam Dunia (ISESCO) sebagai “Capital of Islamic Culture – in the Asian Region for the Year of 2011”. Apapun maknanya penobatan itu bagi public Jakarta, namun pameran ini bisa diandaikan sebagai salah satu “wisata spiritual” di celah suasana bulan Ramadhan. Siapa tahu? ***