Tuesday, February 28, 2012

Cermin dari Suvenir

Potret candi Borobudur dengan "catra" di ujung atas stupa utama.

Oleh Kuss Indarto

KEBIASAAN Haji Hermanu, pengelola Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), untuk gresek-gresek (mencari-cari barang-barang yang tersembunyi dan jarang diperhatikan) acap kali memberi semangat dan energi untuk membuat sesuatu yang bersahaja menjadi penuh pesona makna. Dari gresek-gresek di lapak seorang pedagang buku-buku tempo dulu, kembali mas Manu—begitu lelaki kalem ini kerap disapa—mendapatkan sebuah album foto penting. Album tersebut bertajuk “Souvenir Album Midden Java”. Ukurannya nyaris seperti format kertas kuarto (A4), yakni 23x27 cm. Kertasnya cukup tebal, 120 gram seperti yang sering digunakan sebagai kertas halaman isi katalogus pameran seni rupa di Indonesia dewasa ini. Menurut Manu, diduga album itu dicetak di kota Haalem, Belanda sekitar tahun 1920 karena ada tanda-tanda keterangan waktu pada beberapa bagian.

Dari 19 buah foto yang berkualitas bagus inilah kemudian Hermanu memanfaatkannya sebagai “bahan dasar” untuk mengonstruksi ingatan publik tentang Yogyakarta. Maka, tajuk pameran foto-foto tempo dulu itu adalah: “Yogyakarta”. Pameran ini berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru Yogyakarta, 17-28 Januari 2012. Ada puluhan karya-karya foto yang membincangkan perihal kota Yogyakarta dan sekitarnya diseleksi dan dimasukkan sebagai materi pameran ini. Sebagian tentu saja merupakan karya-karya fotografer (lokal) pertama Yogyakarta, Kasian Chepas. Karya Chepas sendiri rata-rata memiliki tengara waktu seputar tahun 1880-an hingga 1902-an. Sementara foto-foto paling “muda” ya yang termuat dalam album “Souvenir Album Midden Java” itu. Sayang tak dijelaskan dengan rinci siapa fotografer yang berperan dalam pembuatan album tersebut.

Sebutan sebagai fotografer untuk orang yang berada di balik kamera pada album ini kiranya juga masih “meragukan”. Tentu ini kalau merujuk pada terminologi “modernisme” yang memilah dengan cukup tegas antara “tukang foto” dan “fotografer”. Ini terlihat dari sebagian besar foto-foto yang terpampang. Di sana ada potret yang memvisualkan orang atau sekelompok orang yang seperti dengan sengaja di-setting secara manis, tertib dan dengan perhitungan tata cahaya untuk mendapatkan hasil potretan yang memadai. Inilah yang kira-kira dipilah sebagai “foto salon” yang kadang dianggap minim narasi karena lebih menguatkan aspek visualitas semata.

Memang yang tampak dalam foto-foto ini antara lain segi keindahan gambar. Ada foto yang mempertontonkan seorang gadis dengan rambut panjang basah terurai tengah menjeratkan kain jariknya untuk menutup seluruh tubuhnya yang usai mandi. Potret bertajuk “Setelah Mandi” ini kelihatan sekali dibuat dalam studio karena latar belakangnya berupa lukisan kain besar berujud lanskap desa dengan pohon kelapa, pagar bambu, sepotong sawah juga pengaron (tempat air dari terakota). Juga ada “Gadis Penari Tandak” yang berpose frontal menghadap kamera dan berdiri di atas permadani. Tangan kanannya berpose seolah tengah menari: ada selendang terjimpit di sela jemarinya. Pun dengan potret “Pijat”  yang memperlihatkan seorang gadis (kemungkinan putri ningrat) yang tengah berpose tidur telentang di atas tempat untuk merebahkan diri berlapis kain dan karpet. Komposisinya tampak manis, indah penuh eksotisme meski cukup feodalistik karena ada sesosok gadis kecil bertelanjang dada yang tengah memijat bagian kaki dari sang putri ningrat. Dua orang itu tampak berdandan dan berpose dengan penempatan hirarkhi sosial yang tegas: yang satu menikmati kuasa-sosialnya sementara yang lain tengah tunduk dalam kerendahan “kasta” sosialnya.

“Suasana” foto salon makin kuat ketika apresian menyimak foto “Pengrajin Tembaga”. Di samping “ketertiban dan kemanisan” situasi dibangun dengan sadar namun juga ada kejanggalan. Di antara tiga pengrajin yang seolah-olah sedang “mengolah” tembaga, ada satu orang yang dengan santai duduk di sebelahnya dan bersiap menyeruput secangkir minuman. Mungkin dia sang juragan para pengrajin yang tengah “memandori” pekerjaan bawahannya, atau entah untuk apa. Yang jelas, ada ketidakrelevansian yang kentara pada foto ini yang membuatnya jadi janggal.

Apapun, pada album itu tetaplah menarik sebagai salah satu jendela untuk menyimak fragmen situasi pada potongan jaman tertentu. Misalnya tatkala menyimak foto yang menggambarkan pemandangan candi Borobudur. Candi tampak seperti baru dibenahi sehingga cukup rapi pada bagian landasannya. Pepohonan  juga belum tampak apalagi merimbun. Bagian paling menarik dan jarang ditemui tentu saja pada bagian stupa utamanya. Ujung atas stupa puncak itu tampak ada “catra”, yakni semacam ulir dengan sedikit ornamen di bagian atasnya. Ini jelas berbeda dengan stupa yang selama ini dikenali oleh masyarakat. Kalau benar pengambilan gambar itu dilakukan tahun 1920 atau beberapa tahun sebelumnya, ini juga lebih menarik lagi. Pasalnya, dalam bidikan kamera Kasian Chepas tahun 1872 stupa candi buatan abad ke-8 yang diarsiteki oleh Gunadharma itu lebih tidak utuh lagi.

Kalau merujuk pada beberapa kajian sejarah, candi Borobudur ditemukan kembali dari belukar sejarah pada tahun 1814. Sir Thomas Stanford Raffles yang berkuasa waktu itu sebagai “Wali Negara” (1811-1816) sangat bersemangat dan lalu mengutus Cornelius, orang Belanda yang berpengalaman dalam masalah percandian untuk melakukan investigasi di lapangan. Dari laporan Cornelius inilah Raffles mendapatkan bahan tentang Borobudur untuk bukunya yang legendaris: “The History of Java” (1817). Candi Borobudur sendiri baru dipugar secara besar-besaran untuk pertama kalinya pada tahun 1907 dan berakhir 1911. Proyek pemugaran itu diketuai oleh seorang perwira zeni, Theodoor van Erp. Pascapemugaran inilah tampaknya stupa di puncak Borobudur memiliki “catra” yang ornamentik dan unik. Puluhan tahun setelah itu kondisi candi Budhha termegah dan terbesar di dunia itu memprihatinkan kondisinya, hingga kemudian kembali dipugar secara besar-besaran selama sepuluh tahun (1973-1983). Dan stupa muluslah yang ada di ujung atas Borobudur kini. Tak ada “catra”. Dan potret “Souvenir Album Midden Java” yang tengah dipamerkan itu mengingatkan kembali tentang sepotong masa lalu yang tak lagi utuh seperti muasalnya dulu. Inilah suvenir masa lampau yang cukup manis untuk dijadikan untuk cermin tentang pentingnya rasa memiliki, pentingnya rasa cinta atas apa yang kita punyai. ***

Monday, February 27, 2012

Hidden Passion



Painting "Hidden Power of Woman", created by I Made Toris Mahendra.

By Kuss Indarto

I Made Toris Mahendra has—yet—never acclaimed himself as a male feminist. He might not know the big and “scary” names such as Mary Woolstonecraft, Betty Friedan, Dorothy Dinnerstein, Simone de Beauvoir, Iris Young, Helene Cixous, Luce Irigaray, Julia Kristeva, Vandana Shiva, Maria Mies, and many other names of world’s feminist thinkers, be it liberal, radical, Marxist-Socialist, existentialist, post-modern, or eco-feminism, among many other “genres” in such-ism.

He might not notice local activists and feminist thinkers who pass by in mass media such as Ratna Megawangi, Gadis Arivia, Maria Hartiningsih, Maria Pakpahan, Mariana Aminudin, and so forth. He might not know much about the map or connecting dots among theoretic landscape produced by aforementioned feminists and all of their derivatives, how they practice the thoughts in most sophisticated discussions, or among the pickets held by protesters and blocking the traffic.

But that’s the appealing point of an artist called Toris that represents in visual language. Dozens of his exhibited paintings—in certain gradation—give way to harmonious value and meaning to the ones pronounce by the feminists in assessing their womanly rights, undoubtedly in his point of view as an artist and as a male. True, not all of his paintings assertively carried out the values emphasized by those feminists, but there are distinct traces on some. There is no method of neither academic nor scientific studies around the struggle against dominant, patriarchal culture. Yet, vaguely or firmly, Toris tries to dig deeper into his inner self to aesthetically surface his personal experience about similar matters.

Culture and Domination of the Males

Before plunging deeper into Toris’ paintings, it is better to refresh our memories around the practice of patriarchal domination. Historical perspective around male domination and superiority towards female could be traced from the commonly known story of human creation in the Holy Book: at first there was Adam, and Eve came later from his rib. Hence, Adam was Eve’s creator, and she was created to help him. Socially and morally, Adam becomes more superior because in that perspective, it was because of Eve that they were exiled from the Garden of Eden.

Even Pythagoras, as told by Aristotle, had made classification table of binary opposition. From the table, it is seen that male and female are not only placed as “different” but also “opposite”. Such differences are not only associated physically, but also linked with other matters. For example, male is associated with everything inherently light, good, right, and one. All metaphors worn by male retaliate the meaning of God. Meanwhile, female is identified as everything bad, left, oblong, and dark. Just like Pythagoras, even Aristotle considered male has higher position than female. In his view, it is natural for a male to be superior as to female inferior.

Even culturally, patriarchy is later on constructed, institutionalized, and socialized through establishments such as family, school, society, religion, workplace, up to state policies. Sylvia Walby, a feminist, makes an interesting theory about patriarchy. She differentiates it into two: private and public. The core of her theory is how the form of patriarchy expands, from private spaces such as family and religion, to wider area of state. This expansion strengthens the hold and preserves the domination in the lives of both male and female.

From Walby’s theory, it is known that private patriarchy sourced from household area. It is in a household the male and female initially reign. Public patriarchy takes place in public spaces such as work vacancy and state. The expansion of such patriarchy form changes the holder of “power structure” and the condition in both areas, be it public or private. In private area, power is in the hand of the individual (male). In public, the key to power is in collective hands (management of the states and management of a manufacturing plant are both in the hands of numerous people).

Subconsciously, perhaps an artist like Toris is able to experience the manifestation of patriarchy operating in the areas so close with himself and his surrounding, both in public and private as stated by Walby’s theory, directly and indirectly, frontal or vague, yet systematically there. This is the point where his empiric experience with Eastern culture upbringing that considered as patriarchal. The reality brings about restlessness that later on becomes his departure point for various works, specifically in his solo exhibition this time. From his position as a male who moved to talk about female’s “ideology” problem, he tried to uncover the matters in his paintings. He mixes his restlessness about the theme, along with common sense that enables him to produce synthesis of thought based on aesthetic approach. In visual appearance, Made Toris’ works are not too frontally “screaming”. In Eastern style euphemism with a slight of seriousness but consistently displaying effective irony, he presents his paintings.

Hence, visual idioms are borrowed and they are scattering to emphasize the preferred “target of irony”. Those idioms are quite popular in the public’s mindset, makes it easier to fathom.

Visual Idiom

Almost all of Toris’ paintings are “locked” with one significant visual idiom that appears in the canvas. It is the image of undressed female’s bodies with dynamic gestures, especially on the limbs. At the end of the lower part of those bodies, right at the feet, the image is always wearing high heel. There are still one or two pairs of those legs wearing boot yet represents the feminine side nonetheless. Most of the head visualized as blurry or stirred with other images like hurricane produced from various colors. In other work, there are the head of the animals, and the image of tigress is quite dominant. There are also symbolic images of women’s consumer products such as perfume, lipstick, and luxurious pumps.

I captured two important points from Toris’ work. First, Toris tries to show female’s effort in reducing the practice of male domination by presenting woman’s image as subject. Second, opposite from the first, female’s effort to pursue her gender equality along with inherent rights are extremely based on ironic matters, such as exploiting her body as her power and becoming a source of domination practice.

Working on the first point, Toris executes all of his works with numerous images of woman. Symbols of power appear as “supporting accessories” by pinching the head images of a tiger, a bull or a deer on top of a female’s body. It is as if Toris wants to say that the intensity of hidden passion embedded in female is that strong. The message can clearly be seen in his works entitled Hidden Power of Woman, Instinct, Mind Conqueror, Nightmare, Psycho Intimidation, and Role Play.

On the second point, contradictories are presented as a clinging part in the issue of domination practice. Among the patriarchal culture domination, woman puts a lot of effort and spirit in struggling to win her gender equality. Yet, the irony oozes, and contradictory occurs. Take examples of exploiting woman’s body and excessive consumption culture. Those two are intertwining. Take a look at how a “beautiful” woman is defined in a single criterion and takes shape into dominative “scourge” though slyly vague to the eyes.

In Western standard, for instance, criteria for beautiful are shaped to be tall, slim, light complexion, long neck and fingers, teardrop-shaped and proportional breasts, and so forth. Those are stereotyping standard that could be constructed and benefitting—exploitatively—by other powers, which are the market and the consumer companies. Therefore, in the paintings entitled The Affinity and Stick No Bills, Toris is eager to show his urge to speak about such consumer practice. He vaguely bursting the notions that the principles functions of consumer goods have shifted from “necessities” to “desirable”, implying the effort of selection towards such goods. Bit by bit, it becomes something similar with “ideology”. To meet the needs of the “desirables” hence the excessive consumption practice to catch up with “beautiful” stereotyping that could be read as the symptoms of reducing the effort to pursue gender equality.

Generally, Toris’ works have thematically shifting from the previous “back-and-forth” of themes. But he has more focus and concise. From the visual side, Toris has not moved dramatically from his paintings style created 4-5 years ago that initiated the images of female bodies. His choice of combining expressive yet realistic visual, along with splashing, brush stroke and many other techniques are able to enrich his creative process all these times. His determination and consistency for not hopping around the techniques, and his sorting of contemporary visual idioms are contribution to the visual vocabularies
on nowadays’ fine art works. Bravo, Toris! ***

Kuss Indarto, art curator.

Friday, February 24, 2012

Kendi Sindiran Totok?




Oleh Kuss Indarto

“GERABAH” sederhana itu berujud kendi, tempat untuk menyimpan air minum. Posisinya menjulang meski agak memiringkan diri hingga cucuk atau moncong lubangnya seperti hendak menuangkan cairan dari kendi itu. Julang tubuhnya seperti hendak menantang angin yang terus mendesak-desak tubuhnya. Sekitar 9 meter titik paling atas kendhi itu berada. Gembung tubuhnya berdiameter kira-kira 5,4 meter. Di bawah, di sekitar kendi berserak  8 “gerabah” berujud genthong yang seolah bergerak melingkar. Kendi berada di tengah dan tinggi memenara, sementara genthong-genthong yang bertinggi sekira 125 sentimeter bagai bergerak melindungi sang kendi.

Pemandangan itu sejak akhir Januari 2012 menyedot perhatian bagi siapapun yang melintasi titik seratusan meter menjelang pintu utama TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di pantai Depok, Bantul, Yogyakarta. Letaknya di sebelah timur jalan, atau di kiri jalan kalau Anda datang dari arah Yogyakarta. Persis beberapa senti sebelum gerbang tembok “klasik” buatan Pemda Bantul.

“Gerabah” itu didisain oleh Totok Sudarto, seorang pensiunan kolonel TNI Angkatan Udara yang kini ingin menikmati masa tuanya dengan aktif berkarya seni. Memang bukan gerabah atau keramik karena sesungguhnya kendi raksasa dan genthong-genthong itu diwujudkan dari semen yang masif. Sedikitnya 130 kantong semen dihabiskan untuk itu. Totok berkolaborasi dengan teman perupa lain, Azf. Tri Hadiyanto. Pada awalnya, sebenarnya, gagasan awal muncul secara kolaboratif bersama beberapa perupa muda lainnya. Kepentingannya untuk diikutkan pada program parallel event Biennale Jogja (BJ) XI 2011 lalu. Disain awal yang juga berujud gerabah telah disetujui oleh panitia BJ XI. Namun tak ada proses eksekusi.

Disain pun kemudian bergerak dengan konsep yang bergeser. Totok menekankan visualisasi kendhi sebagai unsur utama dan dominan dalam proyek seni ini. Kendhi membimbing pada ingatan ikon masa lalu tentang solidaritas sosial yang begitu karib dengan masyarakat di Jawa, setidaknya yang pernah dialami langsung dalam fase masa silam Totok. Dulu, banyak orang Jawa menyediakan tempat untuk kendhi berisi air minum yang diletakkan di ujung halaman rumahnya yang mepet dengan jalan umum. Para musafir atau siapapun yang lewat bisa singgah dan memanfaatkan air minum itu tatkala dia kehausan setelah bepergian jauh. Kisah-kisah seperti ini sekelebat dapat disimak dalam novel panjang S.H. Mintardja, “Nagasasra Sabuk Inten” dan judul lainnya. Kendhi itu menjadi representasi masa lalu atas karib hubungan batin antarwarga dan kuatnya garis kesetiakawanan dalam masyarakat (Jawa) tempo dulu. Titik inilah yang kembali ingin diangkat oleh Totok Sudarto sebagai sebuah spirit yang kiranya dapat dikontekstualisasikan dengan masa kini: pentingnya kebersamaan dan kesetiakawanan sosial.

Kendi dan genthong-genthong itu diturunkan dari fase gagasan menuju ke ranah karya secara fisik mulai 9 Desember 2011. Sejak saat itulah, nyaris tiap hari Totok Sudarto dan kawan-kawan “ngantor” di utara pantai Depok—hanya sepelemparan batu dari kantor polisi—untuk berkarya bersama beberapa tukang yang membantunya. Selama satu setengah bulan lebih proses itu dilalui. Panasnya udara pantai menjadi sahabat bagi mantan wakil bupati Bantul—yang dijabatnya (hanya) sekitar 2 tahun pada periode pertama kepemimpinan bupati Idham Samawi. Panas udara itu pula yang kemudian, tampaknya, ikut menguji kesetiaan pada komitmen bersama. Awalnya beberapa seniman terlibat aktif dalam proses pembuatan karya itu. Tapi tak berlangsung lama karena lambat-laun, satu persatu, mereka mbrodholi, “tumbang” seorang demi seorang dengan berbagai alasan. Dan tinggalah Totok Sudarto dan Tri Hadiyanto.

Problem tambahan, bahkan utama, yang menyusul dihadapi Totok adalah masalah klasik: dana. Anggaran tentu sudah dirancang dari awal, namun pada kenyataannya tak sesuai perkiraan. Improvisasi, kemungkinan-kemungkinan tak terduga, seperti biasanya, banyak bermunculan. Untung Totok pernah memegang jabatan penting di kabupaten Bantul dan memiliki kemampuan pendekatan yang relatif baik sehingga topangan dana yang dibutuhkan dapat dikucurkan. Dari pemda Bantul, setelah melobi sang bupati Ida Idham Samawi, proyek patung kendi itu dibantu dana segar Rp 14.000.000,- plus dana pribadi bupati Rp 5.000.000,-. Kemudian ada lembaga Laboratorium Geospasial Pesisir yang hingga proyek itu selesai telah mengucurkan dana Rp 5.000.000,- dari rencana sekian belas juta rupiah. Secara keseluruhan, kebutuhan dana untuk itu sekitar Rp 40.000.000,-, dan Totok Sudarto beserta Tri Hadiyanto yang bahu membahu berpatungan untuk mewujudkan obsesinya tersebut.

Apapun kualitas karya ini, ada hal positif yang bisa diapresiasi dari pencapaian Totok Sudarto dan Tri Hadiyanto ini. Totok bukanlah seniman dari jalur akademik dan karyanya sama sekali tidak atau belum diperhitungkan. Selama ini pula belum banyak karya-karyanya yang “lepas” dan diapresiasi oleh kolektor dengan harga yang memadai. Apakah proyek ini sebagai jalan untuk membuka akses dirinya menuju altar kesenimanan yang lebih terhormat dan dilirik oleh banyak kalangan? Ya, eksistensi diri seniman tentu penting, namun belum tentu Totok menganggap ini sebagai sebuah jalan untuk menanamkan eksistensi, meski kecurigaan ke arah itu sudah barang pasti bertebaran.

Justru poin penting yang bisa ditangguk dari karya Totok ini adalah pertanyaan perihal kontribusi seniman atau perupa dewasa ini terhadap lingkungan sosialnya: seberapa banyak seniman sebagai homo socius (makhluk sosial) mampu memberi sumbangsih bagi pengayaan gagasan dan seni terhadap masyarakatnya? Ini pertanyaan klasik namun bisa kembali diangkat ke permukaan. Apalagi ketika kini banyak perupa yang telah dihidupi oleh seni sebagai pilihan hidupnya, apakah bisa berbalik seniman menghidupi dunia seninya? Jawabannya tentu banyak. Pilahan kontribusi pun juga pasti beragam. Dan Totok Sudarto mencoba memberi “sinyal” kecil atas hal itu dengan cara menghadirkan karya seni beserta filosofi yang diusung di dalamnya lewat karya kendi raksasa. Masyarakat dipersuasi—meski barangkali kecil pengaruhnya—untuk memulai mengapresiasi karya seni di ruang publik. Sebaliknya, sosok seperti Totok mencoba melakukan “proyek estetisasi” di tengah masyarakat yang tak cukup karib dengan benda yang dikonstruksi dan dilabeli sebagai karya seni.

Pasti Totok tidak sedang menyindir para seniman yang telah kaya secara finansial di sekitarnya agar mereka juga memiliki krenteg (ketergugahan hati) untuk berbuat hal yang serupa. Pasti toh mereka punya kepekaan dan kreativitas yang berbeda untuk memberi kontribusi pada masyarakatnya, kecuali seniman bebal yang hanya rajin mengagungkan egosentrismenya. Karya kendi ini seolah juga mengkili-kili telinga para pemuka seni dan budaya di kawasan Bantul, semisal mereka yang aktif di Masyarakat Tradisi Bantul (MTB), Dewan Kebudayaan Bantul dan lainnya, sembari bertanya: sudah bikin apa engkau dengan dana ratusan juta rupiah lebih selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin juga segera tertelan gemuruh ombak Laut Selatan. Tapi karya Totok dalam beberapa waktu ke depan dimungkinkan akan memberi secuil inspirasi bagi lingkungan sekitar, entah secara sosial, estetik, dan sebagainya. Dan pensiunan kolonel TNI AU dengan tiga orang putra ini tak bisa berbangga hati terus-menerus karena masih punya tanggung jawab yang mengiringi karya tersebut, yakni masalah maintenance. Kendi dan genthong-genthong itu harus dirawat terus, dicat ulang secara rutin, dibersihkan dari rumput-rumput liar agar tak mengulang kebiasaan lama: karya seni di bulan-bulan pertama, setelah itu sampah visual! Apalagi kendi itu berpotensi menjadi landmark di kawasan pantai Depok itu.

Kendi-kendi itu sekarang telah cukup kokoh berdiri di atas areal sekitar 100 meter persegi di depan gapura yang agak kumal karena cat murahan yang ditempel oleh pemda Bantul. Sayang di depan-bawah kendi raksasa itu ada tulisan dari logam yang cukup masif dan mencuri perhatian: “Laboratorium Geospasial Pesisir”. Memang lembaga itu punya andil sebagian dana untuk pembuatan kendi raksasa. Tapi apakah itu bukan seperti klaim kepemilikan atas sang kendi? Atau pola-pola semacam itu sudah lazim dilakukan oleh lembaga seperti itu: Nyumbang dikit tapi nyerobot-nya banyak? Ah, Indonesia…

Rencananya, penyelesaian kendi raksasa ini akan diresmikan dengan seremoni pada hari Sabtu, 11 Februari 2012, pukul 14.00 WIB dengan pertunjukan seni. Ikut? ***

Wednesday, February 22, 2012

Erotika Mendoktorkan Edi Sunaryo

Dr. Edi Sunaryo bersama para mahasiswanya seusai Ujian Terbuka berlangsung di kampus ISI Yogyakarta. (foto: kuss)

oleh Kuss Indarto 

PROBLEM erotika telah mengantarkan seniman Edi Sunaryo meraih jenjang akademik doktor. Dalam sidang terbuka di ujung akhir studi program doktor penciptaan seni pada Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, seniman yang juga staf pengajar Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta ini berhasil mempertahankan disertasinya yang bertajuk “Sublimasi Erotika”.

Senin siang, 16 Januari 2012, hampir 200 pasang mata menjadi saksi penabalan Edi di altar akademik yang terhormat itu. Ada rektor ISI Yogyakarta Prof. Dr. AM. Hermien Kusumayati, SST. SU., Dekan FSR Dr. Suastiwi Triatmojo, MDes, hingga para dosen senior di lingkungan ISI Yogyakarta seperti Wardoyo Sugianto, Subroto SM, Anusapati MFA., Alexandri Luthfi, Suwarno Wisetrotomo, Prof. Dr. Kasidi, dan masih banyak lagi. Juga tampak para seniman seperti Tisna Sanjaya, Ong Hari Wahyu, Hermanu, Dr. Narsen Alfatara, hingga para mahasiswa S2 dan S3 di lingkungan almamater ISI Yogyakarta.

Sementara di altar akademik Edi Sunaryo “dikepung” oleh 9 penguji yang dipimpin oleh Prof. Dr. Johan, MSi. Para penguji lain masing-masing Prof. Dr. I Made Bandem, MA, Prof. Drs. M. Dwi Marianto, MFA, PhD, Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA, PhD, Prof. Drs SP. Gustami SU, Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA, Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA, Dr. M. Agus Burhan, M.Hum dan Dr. St. Sunardi.

Artefak Erotik

Dalam paparan awal yang berdurasi sekitar hampir setengah jam seniman kelahiran Banyuwangi, 4 September 1951 ini memberi gambaran dasar bahwa “sublimasi” diartikan sebagai usaha atau proses perubahan ke arah penampakan keindahan bentuk yang lebih tinggi dan halus. Sembari mengutip gagasan si Bapak Psikoanalisa Freud, pak kumis ini menjelaskan bahwa sublimasi merupakan pemindahan yang menghasilkan prestasi kebudayaan yang lebih tinggi. Dari sublimasi dapat ditempuh arah yang ditentukan oleh dua faktor penting, yakni pertama, kemiripan objek pengganti dengan objek aslinya, dan kedua, sanksi-sanksi serta larangan-larangan yang diterapkan oleh masyarakat. Sedang pemahaman perihal erotik, dari sekian banyak definisi, Edi merumuskannya sebagai bentuk penggambaran hubungan laki-laki dan perempuan dalam persekutuan seksual sebagai ungkapan perasaan cinta birahi dengan bersuka ria. Dan realitas erotik itu sendiri adalah sebuah konstruksi sosial yang bersubjek pada percintaan.

Bertitik berangkat dari figura definisi tersebut kemudian karya-karya yang digubah dan dipresentasikan oleh Edi membuahkan beragam bentuk yang mengungkapkan simbol erotik seperti bentuk-bentuk deformatif figuratif, terutama bentuk-bentuk kuno (archaic) seperti patung, ukiran pada papan kayu dan lambang-lambang lama dalam candi Hindu, dan sebagainya.

Dalam eksekusinya, peraih penghargaan Jakarta Art Award 2008 ini banyak mengumpulkan informasi tentang hal yang berkait lewat mendokumentasikan foto-foto erotik. Eksplorasi ini berlanjut dengan “mundur kembali ke masa lalu” lewat pengamatan atas artefak-artefak erotik yang banyak terdapat dalam candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama candi Sukuh dan candi Cetho. Juga pengamatan atas realitas masayarakat yang telah marak terjadi ketika tidak sedikit perempuan—dalam pengamatan Edi—yang dengan terbuka mempertontonkan balutan kostum yang menerbitkan pesona erotikanya di ruang publik seperti mal, galeri, jalan, dan sebagainya. Ini semua menjadi bahan yang diserap sebagai materi penting gagasan karya-karyanya.

Apa Beda Rasa Perempuan Asia? 

Dalam sesi pengujian setelah paparan Edi berakhir, suasana tegang hanya sedikit terjadi. Tanya-jawab berlangsung dalam situasi yang tidak terlalu angker seperti lazimnya sebuah ujian terbuka seorang (kandidat) doktor. Hanya Dr. Agus Burhan yang dengan tertib (dari awal sampai akhir) menyapa dan “memanggil” Edi Sunaryo dengan sebutan formal: “saudara promovendus”. Prof. Made Bandem memanggil “Mas Edi”, demikian juga Prof. Sabana, dan lainnya. Demikian juga Edi Sunaryo menyebut para pengujinya dengan sebutan “Pak Bandem” atau “mas Soeprapto” tanpa menyebutkan gelar (kehormatan) akademiknya: “Profesor Doktor”, dan seterusnya.

Kesempatan pertama untuk menguji adalah Prof. Made Bandem. Dia antara lain mempertanyakan basis teoritik dan filsafat tentang erotika. Kemudian giliran kedua Prof. Dwi Marianto yang mempertanyakan ihwal erotika yang selalu hanya menunggal pada problem genital yang terlalu fisikal, bahkan hingga ke aspek eksekusi karya. Dia juga mempertanyakan perasaan Edi sendiri ketika hendak membuat karya yang cukup terbuka, “takut atau tidakkah Anda?” Edi mengaku masih ada ketakutan dengan landasan etika dan moral. Sayang sekali, atas pertanyaan Dwi Marianto juga pertanyaan para penguji lain yang berkait dengan hal tersebut, Edi masih melandaskan jawabannya dengan masalah etika. Bukan, misalnya, problem estetika yang kiranya bisa mengayakan jawaban yang menyentuh pada masalah kekaryaan itu sendiri.

Pertanyaan awal penguji selanjutnya, Prof. Soeprapto Soedjono juga berdekatan dengan hal yang dipertanyakan oleh Dwi Marianto, yakni kenapa erotika masih dibatasi pada problem visual semata, bukan merasuk pada ihwal tekstual. Lebih jauh, pada pertanyaan lanjutan, Soeprapto mempertanyakan eksekusi karya-karya Edi yang “belum begitu dalam” dan bahkan uncohesiveness (tidak nyambung lagi) dengan sejarah kreatif karya-karya sebelumnya. Ini dirasakan oleh doktor perbandingan seni lulusan Amerika Serikat tersebut pada banyak karyanya kali ini. Namun Edi berkelit bahwa masih cukup kuat ciri yang ada pada karyanya kini bila dibandingkan dengan karya-karya lamanya, yakni adanya unsur ornamen, warna-warna yang cerah, dan unsur abstraksi sebagai bagian yang selalu melekat.

Pada menit-menit berikutnya, ruang sidang terbuka yakni gedung concert hall ISI Yogyakarta menjadi cukup hingar, penuh canda tawa dan celotehan kecil. Ada yang masih terkikik tertahan karena rikuh dengan suasana siding. Namun tak sedikit yang mulai lepas tertawa. Ini terjadi untuk merespons pertanyaan-pertanyaan “usil” dari Prof. Andrik Purwasito: “Saudara Edi, apakah Anda bisa membedakan rasa perempuan Jawa dan perempuan Asia lain?”

Entahlah, Edi seperti terkesiap dan tersipu mendengar pertanyaan itu. Tentu ini seperti pertanyaan Andrik dalam konteks sebagai teman yang paham bahwa Edi pernah berkunjung beberapa lama ke Taiwan untuk berpameran, dan mungkin “mengeksplorasi” gagasan awal tentang “sublimasi erotik”. Edi sempat menjawab di tengah keriuhan para undangan, hingga kemudian seperti melempar wajah dan jawaban ke hadapan forum: “Yo, piye iki yo, dik?” Undangan pun riuh.

Pada bagian lain Prof. Andrik sempat memberi pengayaan pemahaman bahwa kata “sublime” itu sendiri berkait dan akan merujuk pada konteks lain yang mendukung seperti pure (memurnikan), solid (memadatkan), modify (menggubah), change (mengubah), dan beberapa kata lain yang setara.

Sangat Memuaskan 

Setelah situasi cair, pertanyaan-pertanyaan relatif makin substansial dan mengarah pada pokok bahasan, meski ada juga yang cukup elementer. Pada giliran Prof. Setiawan Sabana, guru besar FSRD ITB ini mempertanyakan positioning Edi Sunaryo: “Dalam posisi untuk membahas ihwal erotika ini, Anda lebih mengedepankan sebagai orang Jawa, pemeluk agama Kristen, sebagai laki-laki, atau seniman?”

Kemudian giliran Prof. Gustami. guru besar dari Jurusan Kriya ini mempertanyakan ihwal positioning juga, yakni bagaimana sih kondisi kreatif yang bisa dibangun ketika Edi berkarya sebagai seniman “biasa”, dan ketika Edi menjadi seniman yang berkarya dalam tuntutan akademik di level doktor? Pertanyaan serupa juga ditanyakan oleh Prof. Johan Salim di ujung ujian berlangsung.

Sedangkan Dr. Agus Burhan kembali menegaskan tentang posisi “integrated professional artist” pada diri Edi, dan pertanyaan mendasar yang juga dibutuhkan ketika seorang seniman atau (calon) doktor mendalami sebuah tema penting: “Apa yang telah Anda temukan dari sekian lama menggeluti tema “Sublimasi Erotik” ini?” Namun, entah sengaja atau karena kurang puas dengan sekian banyak jawaban Edi, penguji terakhir, Dr. St. Sunardi justru membuka kemungkinan temuan yang tak disadari oleh Edi sendiri. Kata Sunardi, dari sekian banyak karya-karya baru bertema tentang Sublimasi Erotik ini, justru ada yang tampak tersublimasikan dalam karya, yakni salib. Salib seperti tersublimasikan pada tubuh-tubuh perempuan, pada visualisasi tentang mandala, pada karya-karya yang menyoal tentang “imaji tabu”, dan lainnya. Ini menjadi menarik karena “temuan” Sunardi ini tidak begitu disadari dan dikonstruksi dari awal (justru) oleh sang seniman sendiri.

Secara umum, Edi memberi jawaban yang berkisar pada ilustrasi dan contoh, belum banyak menyentuh pada substansi pertanyaan yang dimaksud oleh para penguji. Tak heran, ketika tengah memberikan detil ilustrasi, beberapa penguji seperti tak sabar sehingga memotong keterangan Edi dan menegaskan dengan pertanyaan kembali, atau mengajukan pertanyaan baru.

Akhirnya, Program Pascasarjana ISI Yogyakarta, meluluskan secara resmi Edi Sunaryo sebagai doktor baru di bidang Penciptaan Seni dengan hasil “Sangat Memuaskan”. Edi menyelesaikan studi hingga 5,5 tahun. Dia menjadi doktor keenam yang telah diluluskan oleh ISI, atau doktor ke-5 dari disiplin Penciptaan Seni. Selamat, pak Doktor Edi! ***