Wednesday, January 31, 2007

Lanskap Indonesia versi Economist



Ada catatan sangat menarik dari blog-nya Bung Philip Jusario Vermonte, seorang peneliti di CSIS Jakarta, yang pantas untuk aku kutip di sini. Tengkiu abis ya bung PJVer, atas ijinnya.

(Kalok foto nan mooi ini jelas lanskap Ngarai Sianok di pinggir kota Bukittinggi, Sumbar. Hmm, segar banget hawanya, setidaknya itu yang kurasakan awal 2002 lalu).

Ini nih teks dari bung PJVer:


Sore tadi saya dapat kiriman dari majalah The Economist. Karena saya berlangganan majalah ini, saya mendapat hadiah awal tahun sebuah buku kecil berjudul World in Figures 2007 edition. Isinya data-data berdasarkan beragam kategori mengenai negara-negara di dunia, dikemas menjadi handy dan accessible sebesar buku saku, tebalnya 254 halaman.
Saya melakukan quick reading, dan menemukan hal-hal menarik yang bisa dibagi di sini.
Beberapa dari data itu saya kutip di bawah, juga saya sertakan data mengenai negara tetangga seperti Thailand, Filipina, Malaysia atau Singapura.

Ini dia:
A. Largest Population: (1) Cina 1,31 milyar penduduk, (2) India 1,08 milyar, (3) Amerika Serikat 297 juta, (4) Indonesia 222 juta, (5) Brazil 180 juta, (6) Pakistan 157 juta…(9) Jepang 128 juta, (13) Vietnam 82 juta, (14) Filipina 81 juta, (19) Thailand 63,5 juta.

Bandingkan dengan data tahun 1950: (1) Cina 555 juta penduduk, (2) India 358 juta, (3) Amerika Serikat 158 juta, (4) Rusia 103 juta, (5) Jepang 84 juta, (6) Indonesia 80 juta.
Estimasi majalah Economist untuk tahun 2050 (dengan tingkat pertumbuhan penduduk seperti saat ini): (1) India akan memiliki 1,5 milyar penduduk, (2) Cina 1,32 milyar (3) Amerika Serikat 395 juta (4) Pakistan 304 juta (5) Indonesia 284 juta.

B. Most Male Population (negara dengan jumlah pria per 100 wanita terbanyak): (1) Uni Emirat Arab 214 pria per 100 wanita, (2) Qatar 206, (3) Kuwait 150, (4) Bahrain 132, (5) Oman 128, (6) Arab Saudi 117.

C. Most Female Population (negara dengan jumlah pria per 100 wanita tersedikit): (1) Latvia 84 pria per 100 wanita, (2) Estonia 85 (3) Ukraine 85 (4) Armenia 87 (5) Lesotho 87 (6) Lithuania 87 (7) Rusia 87.

D. Biggest Cities (berdasarkan jumlah penduduk tahun 2005): (1) Tokyo 35 juta penduduk, (2) Mexico City 19 juta (3) New York 18,5 juta (4) Mumbai – India 18,3 juta (5) Sao Paolo-Brazil 18,3 juta (6) New Delhi 15,3 juta (7) Kolkata – India 14 juta (8) Buenos Aires-Argentina 13,3 juta (9) Jakarta 13,2 juta (10) Shanghai 12,7 juta…(19) Manila 10,7 juta.

E. Kota dengan Highest Quality of Life (index New York = 100, November 2005): (1) Zurich - Switzerland 108 (2) Geneva-Switzerland 108 (3) Vancouver – Canada 107,7 (4) Vienna – Austria 107,5 (5) Auckland – New Zealand 107,3.

F. Kota dengan Lowest Quality of Life (index New York =100, November 2005): (1) Baghdad 14,5 (2) Brazzavile – Congo-Braz 30,3 (3) Bangui – Republik Afrika Tengah 30,6 (4) Khartoum – Sudan 31,7…(31) Yangon – Myanmar (39) Tehran – Iran
Untuk E dan F, indeks didasarkan pada 39 faktor mulai dari fasilitas rekreasi hingga stabilitas politik.

G. Biggest Economies* (berdasarkan Gross Domestik Produk – GDP): (1) Amerika Serikat 11,7 trilyun dolar (2) Jepang 4,6 trilyun dolar (3) Jerman 2,7 trilyun dolar (4) Inggris 2,1 trilyun dolar (5) Perancis 2 trilyun dolar (6) Cina 1,9 trilyun dolar…(11) Korea Selatan 679 milyar dolar (13) Australia 637 milyar dolar (20) Taiwan 305 milyar dolar (23) Indonesia 257 milyar dolar (24) Arab Saudi 250 milyar dolar (41) Singapura 106,8 milyar dolar
• jangan lupa dibagi jumlah penduduk nantinya…he..he

Majalah Economist juga mempunyai cara penghitungan menarik untuk mengukur exchange rate mata uang sebuah negara terhadap dolar, untuk menilai apakah mata uang yang bersangkutan bisa dikategorikan sebagai under-valued currency atau over-valued currency. Indeks yang digunakan adalah harga sebuah hamburger Big Mac punya McDonald di negara bersangkutan lalu dikonversi ke dolar Amerika. Ini dia hasilnya:

H. Countries with the most under valued currencies (as of May 2006):(1) Cina, dengan harga Bic Mac 1,3 dolar (2) Macau 1,39 dolar (3) Malaysia 1,52 dolar (4) Argentina 1,55 dolar (5) Hong Kong 1,55 dolar (6) Thailand 60 baht=1,56 dolar (7) Indonesia 14,600 rupiah = 1,57 dolar (8) Filipina 85 peso=1,62 dolar

I. Countries with the most over-valued currencies (as of May 2006): (1) Norwegia dengan harga sebuah Bic Mac 7,05 dolar (2) Eslandia 6,37 dolar (3) Oman (!) 6,39 dolar (4) Switzerland 5,21 dolar (5) Denmark 4,77 dolar.

J. Largest Bilateral and Multilateral Donor: (1) Amerika Serikat telah memberi bantuan luar negeri sebesar 19 trilyun dolar (2) Jepang 8,9 trilyun dolar (3) Perancis 8,4 trilyun (4) Inggris 7,8 trilyun dolar (5) Jerman 7,5 trilyun dolar (6) Belanda 4,2 trilyun

K. Largest Recipients of bilateral and multilateral aid: (1) Irak 4,6 trilyun dolar (2) Afghanistan 2,1 trilyun (3) Vietnam 1,8 trilyun (4) Etiopia 1,8 trilyun…(7) Cina 1,6 trilyun (11) Bangladesh 1,4 trilyun (13) Rusia 1,3 trilyun (29) Bosnia 671 milyar dolar (44) Israel 479 milyar (45) Kamboja 478 milyar dolar (48) Filipina 463 milyar dolar (60) Malaysia 290 milyar dolar (68) Mongolia 262 milyar dolar

Ternyata, Indonesia tidak masuk dalam list 68 besar negara penerima bantuan asing, tidak seperti negara tetangga Vietnam, Filipina atau Malaysia misalnya. Artinya, mereka yang berteriak-teriak atas nama nasionalisme bahwa Indonesia terlalu bergantung pada bantuan asing mungkin sekarang harus mulai tutup mulut karena teriakan itu sama sekali tidak berdasar.
L. Ranking Negara berdasarkan Total Pengeluaran untuk Research & Design (R&D) (perhitungan berdasarkan persentase terhadap GDP): (1) Israel 4,3% (2) Swedia 4,2% (3) Finlandia 3,4% (4) Jepang 3,12% (5) Eslandia 3,10% (6) Korea Selatan 2,6% (7) Amerika Serikat 2,59% (8) Switzerland 2,57% …(15) Singapura 2.13% (23) Cina 1,31% (33) India 0,84% (37) Malaysia 0.69% (43) Venezuela 0,46% (44) Kolumbia 0,40% (45) Mexico 0,40%.

Dalam hal alokasi anggaran untuk riset, Indonesia sama sekali tidak muncul dalam list. Maka tidak perlu heran kalau kita banyak tertinggal di segala bidang. Karena tidak ada riset memadai, kita lebih banyak bekerja berdasarkan insting, daripada berdasarkan riset yang mengakumulasi dan memanfaatkan pengetahuan.

Berikutnya, soal bisnis, birokrasi dan korupsi mungkin bisa digambarkan dengan kategori berikut:
M.Number of days taken to register a new company: (1) Haiti 203 hari (2) Laos 198 hari (3) Congo 155 hari (4) Mozambique 153 hari (5) Brazil 152 hari (6) Indonesia 151 hari (7) Angola 146 hari

sementara negara dengan birokrasi termudah untuk membuka perusahaan: (1) Australia 2 hari (2) Canada 2 hari (3) Denmark 5 hari (4) Amerika Serikat 5 hari (6) Singapura 6 hari…(12) Hong Kong 11 hari.

Tentu saja, lamanya proses birokrasi untuk mendaftarkan perusahaan adalah salah satu faktor penyebab tidak kompetitifnya sebuah negara dan enggannya investor menanamkan modal.

N. Business software piracy (persentase software yang dibajak, data tahun 2004): (1) Vietnam 92% (2) Ukraina 91% (3) Cina 90% (4) Zimbabwe 90% (5) Indonesia 87% (6) Rusia 87%.

O. Ranking berdasar jumlah pemenang Hadiah Nobel periode 1901-2005
Nobel Perdamaian: (1) Amerika Serikat 17 orang (2) Inggris 11 orang (3) Perancis 9 orang (4) Swedia 5 orang (5) Belgia 4 orang.
Nobel Ekonomi: (1) Amerika Serikat 29 orang (2) Inggris 8 (3) Norwegia 2 orang (4) Swedia 2 orang (5) Perancis 1 orang
Nobel Sastra: (1) Perancis 14 orang (2) Amerika Serikat 12 orang (3) Inggris 10 orang (4) Jerman 7 orang (5) Swedia 6 orang
Nobel Kedokteran: (1) Amerika Serikat 49 orang (2) Inggris 21 orang (3) Jerman 14 orang (4) Swedia 7 orang (5) Perancis 6 orang
Nobel Fisika: (1) Amerika Serikat 47 orang (2) Inggris 19 orang (3) Jerman 18 orang (4) Perancis 8 (5) Belanda 6 orang (6) Rusia 6 orang…(15) India 1 orang
Nobel Kimia: (1) Amerika Serikat 41 orang (2) Inggris 22 orang (3) Jerman 14 orang (4) Perancis 7 orang (5) Switzerland 6 orang.

P. Negara dengan pengeluaran bidang kesehatan tertinggi (berdasarkan persentase terhadap GDP): (1) Amerika Serikat 15,2 persen (2) Switzerland 11,5% (3) Jerman 11.1% (4) Kamboja 10,9% (5) Eslandia 10,5%

Q. Negara dengan pengeluaran bidang kesehatan terendah (persentase terhadap GDP): (1) Kongo 2% (2) Pakistan 2,4% (3) Somalia 2,6% (4) Iraq 2,7%…(8) Myanmar 2,8% (11) Indonesia 3,1% (29) Malaysia 3,8%.
Masih banyak data dari kiriman majalah The Economist ini. Misalnya ranking berdasarkan human development index, pemilikan televisi berwarna, jumlah surat kabar, presentase pemilik komputer dan pengguna internet dan sebagainya.

Tapi setelah melihat data-data itu, saya jadi bertanya-tanya: data-data itu kabar baik atau buruk untuk Indonesia?

Kutipan "Muara Tanpa Muara"

Ini sekadar kutipan teks dari buku souvenir pernikahanku. Kami sendiri menikah pada hari Minggu, 2 Juli 2006. Yah semacam pengantar kuratorial gitulah, biar keren kedengarannya. Karena kukira souvenir pernikahan itu kan bisa dimaknai sebagai bagian penting dari kultur berterima kasih dalam ritus perkawinan. Makanya aku menulis dengan penuh ekspektasi pada teman2 yang akan ngisi buku pernikahanku itu. Siapa tahu mereka memberikan banyak hal yang berguna untuk memperadabkan (civilizing haha) aku ketika masuk ke garba rumah tangga. Menarik, karena teman2 yang adalah intelektual, aktivis LSM, dosen, seniman seperti halnya mas St. Sunardi dan mbak Damairia Pakpahan, DR. Budiawan, DR. George Junus Aditjondro, Prof. DR. I Made Bandem, Mas Suwarno Wisetrotomo, Adi Wicaksono, Agus Noor, Faisal "Sukribo" Ismail, Agung "Leak" Kurniawan, Arie Sudjito, Abdurrozaki, Kris Budiman, dan lainnya, bisa lepas menulis tentang aku dan perkawinanku dengan sangat menarik. Yah, kado indah mereka untuk perkawinan kami. Tengkiu, tengkiu ya. Zakzakzakzak... Di bawah ini kutipan tulisanku, trus juga teks dari pak George. Ciiiaaaaaatttt!!!

Muara Tanpa Muara

Muara Tanpa Muara:
Sebuah Kuratorial untuk Menikah

Oleh Kuss Indarto dan Narina Saraswati

Akhirnya kami menikah, saudara-saudara! Dan, piye meneh, harus memutuskan menikah untuk mengesampingkan pilihan-pilihan lain yang melelahkan dan tak membuat produktif. Tiga tahun melewatkan masa berpacaran, sejak medio April 2003, relatif bukan waktu yang pendek (atau malah sekaligus bukan waktu yang panjang), untuk dapat saling memahami. Kalau Lao Tse berfilsafat bahwa: “orang yang tahu dikalahkan oleh orang yang kenal, orang yang kenal dikalahkan oleh orang yang mengerti, orang yang mengerti dikalahkan oleh orang yang memahami”, maka – barangkali – fase untuk memahami memang tengah dan akan senantiasa kami bangun.

Atau kalau menjumput secara “ngawur” teorinya Michael J Gelb yang merisalahkan Menjadi Jenius seperti Leonardo da Vinci (2001), kami seperti tengah mencoba merunuti elemen esensial seperti curiosita, yaitu pendekatan berupa keingintahuan akan pasangan kami dan upaya untuk belajar tanpa henti. Lalu elemen dimostrazione, yaitu niat teguh/komitmen untuk menguji pengetahuan melalui pengalaman, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan, hingga elemen sensazione, yaitu penghalusan/penajaman indera untuk menghidupkan pengalaman. Lebih dari itu, tentu, spirit saling kasih dengan sejumput cinta melatari hubungan kami ini. Ck, ck, ck… (bunyi cicak di atas dinding).

Nikah: Nggo Ngapa to?

Menikah, tak pelak, memang jalan linier yang tak bisa ditampik. Ini soal pilihan. Ada beragam soal dan dalih yang niscaya melingkungi keputusan ini. Mulai dari problem sosial yang memberi kerangka tegas bahwa keseriusan sebuah hubungan pacaran kemudian harus dibalut dengan legitimasi (dan seremoni) bernama pernikahan. Wuih! Menikah, memang, terminal akhir dari ritus relasi berpacaran, namun menjadi awal dari upaya relasi antar-diri yang hakiki. Selama ini, masing-masing dari kami – seperti Anda juga – terkadang merasa gagal untuk memahami diri sendiri. Dengan menikah, kayaknya sih, kami sengaja menciptakan ruang dan PR (pekerjaan rumah) untuk melakukan proses pendewasaan diri dengan tahu, kenal, mengerti dan lalu memahami antar-diri kami berdua. Menikah menjadi ruang untuk mempraktikkan negosiasi psikologis yang kami hasratkan untuk bertumbuh dan berproses seterusnya, sampai nanti, sampai mati, sampai lali… (kata grup band Letto). Yah, pasti tak mudah, tapi juga sekaligus tak sulit, karena antara gampang dan sukar kadang nyaris tanpa direntang batas.

Hasrat kami untuk menikah, tentu juga dikuatkan oleh dalih prinsipal yang berlatar agama. Ini antara sok tau, latah, fashion, dan mungkin semacam keyakinan bawah sadar bahwa lembaga agama pun perlu juga diberi kapling eksistensi(al) dalam konteks persoalan penting ini. Lebih dari itu, apa boleh buat, persoalan halal dan haram, juga kesahihan sosial atas legitimasi pernikahan senantiasa berangkat dari kesahihan agama. Apalagi agama juga berupaya memberi akomodasi terhadap janji Tuhan. Tak ada salahnya, misalnya, kalau kita korek lagi petilan Surat An Nur ayat 32: “Dan kawinlah siapa saja di antaramu yang masih bujangan baik pria maupun wanita, atau siapa saja di antara hamba sahayamu baik pria atau wanita yang sudah sepatutnya dikawinkan. Jika mereka dalam kemelaratan, Allah akan memberikan kecukupan pada mereka dengan kemurahanNya”. Atau nukilan hadits Nabi Muhammad SAW yang dulu sesekali terlontar dari mulut pak kiai di mushola saat subuh atau bulan Ramadhan: “Tanaakahuu tanaasaluu fainii ubaahi bikumul umama” (Menikahlah kalian dan beranak cuculah karena sesungguhnya kalian akan Kujadikan kebanggaaan di antara sekian banyak umat). Ck, ck, ck lagi… (bunyi cicak di atas dinding lagi).

Latar agama ini penting bagi kami karena juga berkait dengan dalih lain, yakni soal reproduksi. Kami yang saling mendaku dan mengagumi sebagai tercantik dan tertampan (masya Allah, friend!) ingin mensyukuri keadaan ini dengan melanjutkan kecantikan dan ketampanan kami kepada anak-anak Tuhan yang dilahirkan lewat kami kelak – yang Insya Allah rupawan, cerdas, kreatif, dedikatif, dan takwa. Bukan mendayagunakan anugerah Tuhan sekadar untuk kepentingan irigasi dan rekreasi, tapi diparipurnakan untuk kepentingan fungsi reproduksi. Ini sih kata ustads Wijayanto, M.A. yang ngegaul itu.

Membongkar Souvenir: Ya, Ampun!

Pendeknya, pernikahan dan gerbang emas rumah tangga yang akan kami jelang menjadi pintu masuk penting bagi segenap kisi kehidupan kami kelak. Banyak hal yang masih buta oleh keterbatasan pemahaman kami tentang hakikat serta nilai hidup dan kebersamaan. “Berdua menjadi satu” bukanlah problem kecil bagi kami, dan bagi siapapun yang telah, sedang, dan akan melakoni prosesi pernikahan. Apalagi slogan “Bersama Kita Bisa” yang banyak menelurkan inkonsistensi yang sayup-sayup terdengar menjadi “Bersama Kita Binasa”. Hehehe. Nikah konon bukan persoalan matematis, tapi konteks sosial, antropologis, politis, filosofis dan ideologis (ya, ampuunn!) justru akan banyak beroperasi di ranah ini. Kalau relasi berpacaran secara lazim akan bermuara pada ikatan dalam lembaga pernikahan, senyatanya kami masih meyakini akan ada muara-muara lain yang harus kami masuki. Masih banyak persoalan di atas persoalan yang akan dilalui yang sementara ini belum kami ketahui.

Berangkat dari keterbatasan inilah, maka kami berdua memberangkatkan persoalan tersebut sebagai “konsep kuratorial” yang ditujukan kepada beberapa sahabat, tetangga dan Guru (dengan G besar) kami untuk memohon dengan segenap kerendahan hati guna memberi dan membagi pengetahuan serta pemahaman tentang nilai-nilai kebersamaan dalam lembaga perkawinan. Maka kami pun punya disain kecil-kecilan untuk diimplementasikan dalam wujud souvenir berupa buku mungil ini yang berisi teks dan visual. Perspektif para sahabat dari beragam disiplin ilmu, ketertarikan, usia, gender, dan pengalaman, kami niscayakan akan memberi pencerahan bagi kami – dan barangkali bagi Anda yang memelototi buku ini – dalam menapaki lembaga rumah tangga kelak, atau menimbang ulang keberadaan bangunan suci bernama perkawinan. Wejangan, ular-ular, nasihat, amanah, serta “wasiat” yang menyemangati dalam bentuk tulisan atau pun gambar ini, yang kami beri judul “Muara Tanpa Muara”, akhirnya menjadi sesuatu yang luar biasa bagi kami.

Luar biasa karena kami tak mengeluarkan dana sepeser pun untuk mengapresiasi tulisan dan gambar para sahabat kami yang luar biasa itu. Betul-betul murni berangkat dari sebuah nilai persahabatan, dan tentu permakluman mereka bahwa kami memang tak punya uang, hehehe. Maka kami tak habis-habisnya bersyukur bisa berkerumun di antara mereka, yang dalam buku souvenir ini tetap memberi apresiasi atas sebuah perkawinan dengan perspektif spesifik mereka. Ada yang begitu gegap memandang sebuah lembaga pernikahan. Ada yang memberi semacam legitimasi diri sebagai orang yang intelektual tapi tetap manusiawi dengan menulis penuh “celelekan”, bahkan “cengengesan”. Ada yang berumit-rumit kagak connect bin kagak jelas. Hahaha. Ada yang tiba-tiba seperti kehilangan “orientasi diri” karena tulisannya jadi lebih temuwa (mature) ketimbang yang saya kenal selama ini. Atau malah sebaliknya, hahaha. Atau ada yang ngerjain abis kami yang kiranya, saya sadari, justru memberi ruang bagi kami untuk berusaha belajar dewasa dan andhap asor dengan mentertawakan dan mengolok-olok kekurangan diri sendiri.

Di sinilah sebenarnya kami juga sedang sok heroik untuk mencoba membongkar-bongkar keberadaan souvenir mantenan yang tak jarang dikecilkan dan diremehkan bagi sang mempelai sendiri. Memang jauh penting ijab qabul, tetapi selagi kami diberi kesempatan untuk membuat souvenir, tak ada salahnya kami berupaya memberi tingkat monumentalitas yang lebih kuat pada momentum pernikahan kami ini. Jelas bukan soal mahal murahnya harga, melainkan bagaimana ihwal nilai (kultural) bisa dipertukarkan di sini. Apalagi nilai agamis benda ini juga begitu kuat untuk menderivasikan ayat pertama Allah yang diwahyukan untuk Nabi Muhammad SAW, yakni; Iqra’, atau “Bacalah”. Kalau substansi buku ini mampu memberi sedikit pengayaan positif bagi tetamu atau orang lain, maka berarti kami telah menjadi agen yang dengan baik melakukan diseminasi gagasan secara lebih meluas. Wuih! Semoga kami menabung pahala, hehehe. (Pamrih, ya!) Untuk itu, tiada lain, kami berdua hanya bisa berterima kasih yang tak terhingga pada para sahabat sekaligus Guru kami yang berkenan memberi “respons” atas “konsep kuratorial” kami sehingga buku souvenir ini menjadi teramat berharga.
Judul buku ini, jelas, merupakan bagian penting dari kesadaran atas kerumunan pertanyaan terhadap keberadaan lembaga perkawinan yang akan kami masuki sebentar lagi. Maka, para sahabat dan Guru kami itu telah berusaha memberi jawaban dengan pelbagai perspektif.

Bencana di Celah Rencana

Kini kami memasuki lembaga perkawinan yang begitu lama kami berdua dan seluruh keluarga besar tunggu-tunggu. Banyak prosesi yang harus dilewati. Misalnya, pada rangkaian proses ini tiba-tiba kami diingatkan bahwa lembaga bernama negara yang selama ini hanya dibayangkan (imagined), ternyata hadir di depan mata dengan representasi sosoknya yang menjemukan. Yah, ada jaring-jaring birokrasi, mulai dari RT-RW, kelurahan, kecamatan, Puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), yang harus dilewati tanpa bisa dienyahkan dari prosedur formal. Apa boleh buat, lembaga negara memang acap meminta pengakuan dengan cara semacam ini. Berikut pungutan liar yang tak kunjung berhenti menjadi ritus dan kultur penting dalam tubuh birokrasi yang masih saja kacau ora karu-karuan itu. Mbuh kapan le mari bosoke kelakuan kuwi. Sacilun, dab! Kalau gaji mereka naik sementara etos kerja masih sak penake dhewe, untuk apa ya menikah harus repot-repot melibatkan negara? Jiguri!

Kemudian juga, sesuatu yang tak terelakkan dan tak terperikan terjadi: Gempa bumi berkekuatan 6,3 Skala Richter (SR) pada 27 Mei 2006, jam 05.55 WIB dengan episentrum di wilayah selatan-timur Bantul. Undangan pernikahan kami yang telah tuntas tercetak dengan sempurna sekitar tanggal 23 Mei 2006, mau tak mau harus direvisi. Ini karena tempat yang telah kami rencanakan di pendapa Ndalem Yudhaningratan dhoyong terkena imbas gempa yang luar biasa dahsyat itu. Tak mungkin dipakai, daripada berisiko. Tapi itu tak masalah. Kami masih sangat beruntung dibanding saudara-saudara kita di wilayah lain. Kami hanya bisa bersyukur untuk nasib kami, dan berprihatin untuk saudara-saudara kita yang mendapat cobaan. Ada yang gagal menikah karena rumah ambruk. Bahkan banyak keluarga habis tanpa sisa. Bahkan meninggal tanpa menyisakan harapan. Limaribu lebih nyawa hilang, ratusan ribu jiwa kehilangan rumah tinggal, ratusan ribu jiwa lainnya kehilangan kenyamanan hidup, tentu sesuatu yang teramat menyesakkan. Kami sedih dan prihatin.

Belum lagi “batuknya” Gunung Merapi di utara Yogyakarta yang seolah memberi wejangan penting bagi kami, tentu juga kita semua, bahwa kearifan lokal (local wisdom) yang lambat-laun ditinggalkan mesti ditimbang ulang kembali. Jurukunci Merapi, Mbah Maridjan, sebetulnya telah memberi peta kecil atas kearifan lokal yang dibutuhkan masyarakat, ketimbang “juragannya” yang malah rajin bikin mal. Yah, bencana jelas tanpa rencana, dan kita hanya bisa saling menguatkan diri membentang harapan.

Kalau toh akhirnya bisa melangsungkan pernikahan, dan dalam situasi yang memprihatinkan seperti sekarang ini, tentu bukan berarti mengendurnya empati kami atas hal tersebut di atas. Setengah tahun kami telah berencana, dan kami telah berupaya saling menguatkan diri serta optimis agar segalanya berlangsung dengan baik, lancar tanpa halangan suatu apapun, dan senantiasa dalam ridhlo Tuhan. Gempa bumi dan warning Gunung Merapi lewat wedhus gembel seperti memberi pangeling-eling, pengingat yang baik, pemberi warna hidup yang marak bagi kami untuk meneguhkan niatan suci yang tak bisa kami tunda: Menikah.

Semoga Tuhan meridhloi. Doa dan restu Anda untuk kami semoga akan menguatkan tali kasih kami. Selamanya. Amien!

Thursday, January 25, 2007

Advis Kawin dari Pak George Aditjondro

Hah, semalam aku antar istriku ke dokter untuk periksa kandungan. Baik-baik saja. Kepala si calon jabang bayi sudah di posisi yang bener, gak kayak bulan bulan lalu yang sempat aku waswas kalok ntar sungsang. Hmm, masuk bulan ketujuh kehamilan istriku membuatku makin banyak berharap pada keajaiban2 positif yang kan menimpa keluargaku, yang semoga memberi pengayaan warna pada perkawinan kami.

Ah, aku jadi ingin menampilkan tulisan dosen dan sahabatku, Pak DR George Junus Aditjondro yang memberi wejangan pada buku souvenir perkawinanku 2 Juni 2006 lalu. Buku setebal 140 halaman yang diisi teks dan komik karya temen2ku itu, yang kuberi judul "Muara Tanpa Muara", masih saja jadi monumen kebanggaan atas perkawinan kami. Yah, kalo souvenir cuman untel-untelan duit Rp 50.000,- seperti mantenannya cucunya Soeharto itu sih kampungan dan tidak edukatif. Kalo "cuman" tempat lilin mewah sih sudah stereotip. Nah, kalo buku kan bisa jadi medium pembelajaran publik, setidaknya ya buat aku sendiri hehehe. Bayangin, yang kuundang kan sampai 600 orang, jadi kan yang kemungkinan baca bukuku ya sedikitnya 1.200 orang. Lumayan kan?

Pengin tahu salah satu tulisan dalam bukuku? Nih, berikut tulisan Pak George Aditjondro. (Tapi kalok foto di samping sih gak ada hubungannya. Itu potret salah satu sudut sawah di lingkunganku di kampung Nitiprayan, Bantul. Seger kan?)

Biar tidak Sekadar Keplek-keplek Seperti Ayam:
Buat Rina dan Kuss yang Mau Kawin, eh Nikah


Oleh George Junus Aditjondro

MENGAPA harus ada lembaga perkawinan? Pernah ada seorang kawan bilang, supaya manusia tidak seperti ayam. Begitu sang jago ‘terserang’ birahi, dikejarnya salah seekor ayam betina yang ada dalam ‘kerajaannya’, keplek-keplek, selesai. Sang betina meneruskan kerjaannya mencari-cari biji-bijian, serangga, atau cacing, yang dapat dimakan. Sedangkan sang jago dengan bangganya berkokok, menyatakan kepada dunia perayaman di sekitarnya, bahwa dialah yang telah membuahi ayam betina itu. Besok lusa, atau sebentar lagi, ayam betina lain di-keplek-keplekin-nya.

Soalnya tidak penting di dunia perayaman, siapa ‘ayah’ dari anak-anak ayam yang akan ditetaskan dari telur-telur yang telah dierami oleh sang induk. Tugas sang jago hanya sebagai pejantan, penyumbang sperma (apakah ayam jantan juga punya sperma, ya? Aku agak ragu-ragu. Tampaknya saya bolos waktu itu diajarkan oleh guru ilmu hayat saya di sekolah menengah, puluuuuuhan tahun yang lalu).

Nah, bedanya dengan ayam, bayi manusia sebaiknya punya ayah dan ibu. Supaya ketahuan siapa ayahnya dan siapa ibunya, bukan punya ayah rame-rame dan ibu rame-rame, maksud saya, ayah dan ibu kolektif, anak harus dilahirkan dalam keluarga dengan seorang ibu dan seorang ayah. Ini tentu saja, pandangan yang berangkat dari paradigma kesetaraan gender yang menganut prinsip monogami. Ini bukan hanya prinsip di agama Kristiani, tapi juga di agama Islam. Cuma, banyak laki-laki egois yang sering kali tidak membaca ayat tiga surat an-Nisa secara utuh, yang berbunyi sebagai berikut:

“Dan jika kamu takut tidak dapat berbuat adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, dan empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

Berbicara soal melahirkan dan membesarkan anak dalam lingkungan keluarga, berarti salah satu fungsi pernikahan adalah untuk reproduksi biologis. Prokreasi, dalam istilah teologisnya. Namun dalam pernikahan, yang antara lain bertumpu pada hubungan seks antara dua orang yang saling mencintai (bisa berlainan jenis, bisa juga sejenis), seks tidak hanya punya fungsi prokreasi, melainkan juga rekreasi. Dalam arti, hubungan seks itu sendiri diikat oleh hasrat dan cinta, begitu kata seorang teman saya yang selain feminis, juga seorang konselor. Jadi, hubungan seks tidak lagi merupakan hak dan kewajiban, sebagaimana prinsip yang dianut oleh ortu kita dulu, di mana buat laki-laki seks merupakan hak dan buat perempuan, kewajiban.
Tentu saja, betapapun nikmatnya seks bagi dua orang yang saling mencintai, seperti Rina dan Kuss ini, kalian berdua tidak bisa beradegan ranjang terus, seperti Yoko Ono dan John Lennon. Makanya, berdasarkan pengalaman saya yang manis maupun pahit, jatuh dan bangun lagi dalam kehidupan berkeluarga, saya simpulkan bahwa pernikahan hanya bisa langgeng kalau ada komplementaritas di tiga bidang. Tentu saja, pandanganku ini terpengaruh oleh bias kelas, yakni bias kelas menengah terpelajar.

Pertama-tama, isteri dan suami sebaiknya komplementer di bidang intelektualitas. Artinya, keduanya harus punya minat dan pengetahuan yang dapat saling melengkapi, sehingga mereka bisa berdiskusi secara menyenangkan tentang berbagai bidang. Jangan keliru. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa isteri harus selalu membenarkan apa kata suami, melainkan suami dan isteri sebaiknya punya bidang yang dapat dijadikan percakapan bersama. Janganlah suami hanya senang membicarakan Piala Dunia, sedangkan isteri hanya senang membicarakan rempah-rempah yang diperlukan untuk memasak makanan khas Natal atau Lebaran. Jauh lebih indah kalau suami belajar memasak, dan isteri ikut nonton Piala Dunia, sehingga dapat ‘bertaruh’ dengan suaminya, siapa yang bakal keluar sebagai juara. Atau isteri ingatkan suami, bahwa Piala Dunia adalah salah satu bentuk ‘pembiusan kolektif’, supaya kaum miskin kota di favelas di Rio de Janeiro dapat untuk sementara melupakan penderitaan mereka, dengan harapan dapat melahirkan Pele, Ronaldo, atau Ronaldinho generasi berikut.

Itu tadi soal komplementaritas intelektual. Kedua, isteri dan suami sebaiknya komplementer di bidang emosional. Jadi jangan sampai rumah tangga merupakan ajang perlombaan tarik suara, bukan tarik suara merdu, tapi tarik suara siapa yang lebih sadis dalam memaki pasangannya. Saya perlu ingatkan Rina, dan bersamanya juga kaum perempuan, bahwa orang dapat menyakitkan hati pasangannya, tidak hanya dengan menaikkan volume suara, dibarengi dengan melepas para penghuni Kebun Binatang, tapi juga dengan menegur suami atau isteri pada saat yang tidak tepat. Yakni, pada saat yang diharapkan oleh pasangan adalah pengertian. Atau katakanlah, keberpihakan.

Seringkali terjadi, terutama dalam pasangan di mana isteri dan suami sama-sama bekerja di luar rumah, di bawah perintah orang lain, atau bersama kerabat kerja yang tidak menyenangkan, sehingga membawa hawa marah waktu pulang ke rumah. Adalah jauh lebih baik, suami atau isteri, menunjukkan kepedulian, empati, terlebih dahulu dengan pasangannya. Baru pada saat angin topan telah mereda, suami atau isteri mengajak pasangannya membicarakan episode itu kembali, sambil menjajaki, mengapa sampai konflik dengan atasan atau teman kerja terjadi, dan mungkin menemukan, bahwa konflik itu dapat dihindarkan apabila suami atau isteri bertindak lebih bijaksana di lingkungan kerjanya.

Saya pernah pulang dari Jakarta ke Semarang, karena sedang mengunjungi ibuku bersama isteriku, dan dengan sangat sedih menceriterakan pencurian laptopku di ruang makan sebuah hotel kelas menengah di Jakarta. Aku bukannya mendapatkan pernyataan simpati, melainkan teguran, bahwa aku memang selalu ceroboh dalam meletakkan barang-barangku. Begitu saja vonis keluar, tanpa menanyakan, bagaimana itu sampai bisa terjadi. Terang saja aku sangat jengkel. Sebab pada saat kejadian itu, aku sengaja demi keamananku sudah mengajak seorang teman ikut menginap di situ, dan pada pagi yang naas turun bersama-sama ke coffee shop, untuk sekadar ngopi, sebelum kami pergi ke kencan dengan beberapa orang koresponden asing. Karuan saja kami berantem, tentu saja, setelah ibuku dan adik-adikku masuk kamar masing-masing atau sudah berangkat kerja.

Sebaliknya ada hal-hal kecil, yang sering diremehkan oleh laki-laki, tapi sangat dihargai oleh perempuan, yang aku temukan dari kehidupan rumah tangga saya. Misalnya, tanggal lahir isteriku, yang berulangkali aku lupa. Aku juga sering meremehkan pentingnya menelepon isteri, setiba di sebuah kota lain, apalagi di negara lain. Memang, kini ponsel telah memperat komunikasi di antara orang-orang yang saling mencinta. Tapi betapa seringnya laki-laki yang kurang peka bersikap, seperti saya, no news is good news. Emang-nya apa yang mau diceriterakan, kalau tidak ada berita penting? Begitu seringkali sikap laki-laki atau perempuan yang belum menghargai kesinambungan komunikasi. Makanya semboyan no news is good news, sebaiknya diganti dengan semboyan “jauh di mata, dekat di pulsa”. Ini bukan iklan salah satu produsen ponsel atau server, lho!

Last, but certainly not least, walaupun secara intelektual sangat komplementer, begitu juga secara emosional, kalau di bidang seksual tidak komplementer, ranjang bisa cepat menjadi sangat dingin. Ini bahaya, sebab ranjang yang dingin akan cepat mendinginkan kehangatan rumah tangga. Makanya, keterbukaan dalam hubungan seks, keterbukaan untuk memberitahu teman tidur, apa yang disenangi dan apa yang tidak, sangat diperlukan. Ini terutama sangat penting bagi pasangan dengan perbedaan umur yang agak besar, apalagi bilamana suami jauh lebih tua dari pada isteri.

Mengapa? Sebab keperawanan lebih merupakan sesuatu yang sangat dipentingkan oleh masyarakat kita terhadap perempuan, dan tidak terhadap laki-laki. Jadi, suami yang jauh lebih tua dari isterinya, seringkali punya “jam terbang” yang jauh lebih tinggi ketimbang isterinya. Itu tidak perlu menjadi bibit friksi di antara suami dan isteri, asal saja sang suami tidak egois, seperti ayam jago di awal ceritera kita. Suami yang punya jam terbang yang jauh lebih tinggi ketimbang isterinya dapat lebih menahan diri dan menghargai pentingnya foreplay maupun afterplay bagi isterinya.

Banyak lelaki yang sudah menghargai pentingnya foreplay, tapi masih terlalu sedikit yang menghargai pentingnya afterplay bagi perpaduan kasih dengan bidadarinya. Padahal, afterplay itu indah, seperti cahaya di ufuk barat, setelah matahari tenggelam ke balik katulistiwa. Perempuan juga lebih menghargai suami atau kekasih yang tahu menghargai afterplay, dan tidak langsung mendengkur dan membalikkan punggungnya, selesai orgasme, pada saat isteri atau kekasihnya, masih merasakan ombak-ombak kenikmatan bermain di tepi pantai cintanya, sampai setengah jam setelah matahari tenggelam di ufuk barat. Sang bidadari akan tertidur dengan senyum di bibirnya, sementara dipeluk kekasihnya dari belakang. Mereka pasti akan melanjutkan pendakian cinta mereka dalam mimpi.

Sedikit catatan: laki-laki juga akan lebih menghargai perempuan, yang tidak segera pergi ke kamar mandi untuk cuci-cuci, selesai mendapat semprotan kenikmatan dari kekasihnya. Sebab kalau itu dilakukan, apalagi berulangkali, itu akan menimbulkan kesan bahwa sang perempuan merasa jijik terhadap danum kaharingan, air kehidupan sang lelaki. Padahal buat dua orang yang saling mencintai, tidak ada cairan tubuh perekat cinta, baik saliva maupun love juice, yang menjijikkan.

Begitulah sedikit bincang-bincang buat bekal kalian berdua, Rina dan Kuss, dalam memasuki ikatan pernikahan. Dengan ucapan selamat setulusnya dari sahabat dan abangmu, George Junus Aditjondro.

DR. George Junus Aditjondro, peneliti ilmu-ilmu sosial, dan dosen tamu pada Program Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB), Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis buku: Korban-korban Pembangunan: Tilikan terhadap Beberapa Kasus Perusakan Lingkungan di Tanah Air (Pustaka Pelajar, 2003), Kebohongan-kebohongan Negara: Perihal Kondisi Obyektif Lingkungan Hidup di Nusantara (Pustaka Pelajar, 2003), Pola Gerakan Lingkungan: Refleksi untuk Menyelamatkan Lingkungan dari Ekspansi Modal (Pustaka Pelajar, 2003), dan Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa (LKiS, 2006).

Saturday, January 13, 2007

"(P)leasure" ala Bupati Bantul


Sabtu pagi ini aku dan beberapa teman seniman ketemu Pak Idham Samawi, Bupati Bantul. Intinya sih mo nglaporin perhelatan Festival Segara Kidul akhir tahun kemarin yang lumayan berhasil, dan mediasi ke publik lumayan bagus. Bupati pun salut dan sependapat. Kecuali acara pak Djoko Pekik, pelukis satu miliar rupiah itu, yang gagal. Lihatlah siluet aut wajah kecewanya di foto sebelah ini hahahahaha! (Sadis amat ya komentarnya).

Tapi obrolan resmi dengan bupati justru menyita waktu yang cukup singkat. Malah sebagian besar waktu pertemuan berjalan santai banget. Pak Idham malah crita banyak soal hobi mancing di Segara Kidul (Samudra Hindia) yang berombak besar. Pengalaman "heroiknya" ya saat mendapat ikan tengiri seberat 26 kilogram. Sementara seorang lurah yang diajak mancing malah sibuk muntah-muntah karena hemasan ombak besar hingga membuat wajah sang Lurah pucat bagai kertas HVS.

Juga cerita keterlambatan Pak Idham ketika menemui kami karena, katanya, dari pagi sudah menerima 26 tamu dengan 26 masalah. Antara lain ada tamu suami istri yang minta pekerjaan sementara mereka adalah seorang insinyur dan dokter! Lalu seorang ibu pegawai PNS yang minta nasihat sebelum cerai karena sudah ditinggal kabur suaminya hingga 3 tahun! Hwarakabruk! Atau cerita pak Bupati yang pagi2 ditemui seorang ibu tua bersandal jepit tipis yang nangis2 karena tanahnya "diserobot" oleh lurah. Setelah diusut, ternyata tanahnya sudah dijual oleh anaknya sendiri tanpa sepengetahuan si ibu karena sang anak membuat surat kuasa dengan pembubuhan (= "pencurian") cap jempol ibu itu saat si ibu tidur lelap! Sudah pasti deh kalau kemudian acara pertemuan itu isinya cuma ketawa ngakak.

Situasi ini terjadi karena pak Idham sadar siapa yang sedang dihadapinya. Ya, kami teman2 seniman yang sering kagok untuk masuk dalam situasi formal seperti tamu lain yang sering ditemui Bupati. Jadi ya kami jadi medium untuk '(p)leasure' bagi bupati. Bahkan sesekali dengan enteng beliau "menyeletukkan" pisuhan/umpatan ala Jogja seperti "Bajigur" atau "Asu". Ini rasanya kecil kemungkinannya saat menemui pada kepala dinas, atau tamu lainnya. Aku sendiri pun, waktu di luar ruang sempat dilirik bolak-balik dengan sinis oleh beberapa tamu lain yang nunggu giliran ketemu. Maklum, aku cuma pake kaos oblong dan jaket, sementara mereka jelas pada rapi jali klimis nylekuthis.

Intinya, pertemuan Sabtu pagi tadi pak Idham sebagai bupati memberi peluang banyak bagi kami di MTB (Masyarakat Tradisi Bantul) untuk mengkreasi bangyak event yang untuk sementara ini dikonsentrasikan di sepanjang pantai Segara Kidul (Laut Selatan). Dana ratusan juta dalam setahun ini pun sudah dialokasikan. Moga2 jalan dengan baik deh. Dan tentu tak ada yang jadi silau untuk kemudian menyelewengkan dana dan lainnya, untuk kemudian bubar dengan citra yang boyak. Semoga tidak!

Thursday, January 11, 2007

Kurang Produktif...


Selama setahun lalu, sepanjang 2006, aku masih belum terlalu produktif menulis. Entah di media massa atau untuk yang keperluan lain. Seperti di katalogus pameran dan lainnya.

Data yang sempat kucatat adalah ada dua tulisanku yang termuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Lalu ada 7 tulisan di Media Indonesia, Jakarta. Jumlah yang sama, tujuh, juga tersebar di koran Suara Merdeka, Semarang, dan di harian Kompas, Jakarta tiga (3) tulisan. Sedang tulisan lain, ah, tak terdata dengan baik. Mungkin kurang lebih sama dengan yang kutulisakan di media massa.

Ah, moga2 tahun 207 ini bisa lebih produktif. Semoga!

Friday, January 05, 2007

Is She Smiling for Two?

by Laurie Hurwitz
From Artnews, edisi Januari 2007

Photo caption: Out of the box and ready for her close-up: the Mona Lisa undergoes examination by X-ray fluorescence.

Space-age technology allowed restorers to see details of the Mona Lisa they never could before Newspaper headlines recently gave the Louvre’s most famous resident a new name. Maybe, they suggested, we should call her “Mama Lisa,” because a team of researchers who examined Leonardo’s masterpiece last September concluded that the Mona Lisa was pregnant.
Under her thick coat of dirty varnish, the researchers said, she is wearing not a shawl but a fine, gauzy veil attached to a white bonnet that is no longer visible. Such garments were typically worn by Italian Renaissance women when they were pregnant.

Leonardo’s portrait of the young wife of a Florentine silk merchant, painted between 1503 and 1506, is so famous and popular that the Louvre has given it its own gallery and keeps it in a special humidity- and temperature-controlled box, protected from harm—and its admirers—by a double layer of triple-laminated, fireproof, and bulletproof glass.

The work is removed from its case once a year so that the poplar panel on which it is painted can be measured for warping or expansion, and the silica gel used to maintain the box’s humidity can be changed. Over the past two years, a team of French and Canadian researchers also undertook the first major study of the painting in half a century. Using a state-of-the-art three-dimensional high-resolution laser scanning system, the scientists carried out the most precise and extensive analysis of the portrait to date. Their results, along with the findings of 39 researchers contributing to the project, were recently published in Mona Lisa: Inside the Painting (Harry N. Abrams), written by Bruno Mottin, Jean-Pierre Mohen, and Michel Menu, from the team of researchers at the French Museums’ Center for Research and Restoration, located in the Louvre.

The scans were made by researchers from the National Research Council of Canada (NRC), who were invited by the Louvre to travel to Paris in the fall of 2004 with a portable version of the apparatus, which is capable of creating 3-D images at a depth of ten micrometers (roughly one-tenth of the diameter of a strand of human hair) and is also used by NASA to check space shuttles for damage during flight.

NRC researchers produced the scans in two nighttime sessions last October to make a “virtual model of the Mona Lisa, so we could zoom in and look at features on the surface and back in great detail, in a way you really can’t see on the real picture,” John Taylor, an NRC imaging applications specialist, told ARTnews. Under tight security, with groups no larger than four—one restorer, one expert from the French team, and two of the Canadian technicians—allowed near the painting in order to maintain temperature and humidity conditions, the 3-D laser scanned the painting’s entire surface—back, front, and sides—in bands some 11?2 inches wide, never in direct contact with the canvas. The team then digitally stitched the scans together to construct a model that would allow them to study the painting’s color, relief, and craquelure.

Their main objective was to record the warping of the support; the portrait is painted on a thin panel of poplar, a soft wood that is particularly vulnerable to variations in humidity. A small split, about 4.7 inches long, located at the top of the painting and repaired a century ago, was monitored, as was the craquelure, the network of fine cracks in the paint surface, which can give clues as to how well paint layers adhere to the support. The researchers concluded that the painting will remain stable if it stays in its temperature- and humidity-controlled box. The scans also showed that the paint layers are still firmly attached to the panel.

But the most surprising conclusions came from Bruno Mottin, whose close observation of the subject’s clothing and hair convinced him that the sitter, identified by Vasari as Lisa Gherardini, wife of the wealthy, socially prominent silk merchant Francesco del Giocondo, was pregnant or had recently given birth.

Her faded bonnet and the attached veil draped around her shoulders had been obscured by the thick, dark varnish that covers the painting. The new scans make these elements much easier to read. “Until now, the fabric around her shoulders was considered a shawl, but no one wore shawls at the time,” Mottin explains. “Scans uncovered evidence that it was in fact a gauzy veil. Da Vinci loved geometry; he was fascinated by regularity. I started out by studying the pattern. When I saw that the movement in the fabric was different, I asked myself what it meant. Da Vinci was so meticulous that I felt it had to be intentional.”

The veil reminded Mottin of a garment worn by the subject of Botticelli’s Portrait of a Lady (ca. 1470–75), in the Victoria & Albert Museum in London, who is pregnant. It was, he says, typically worn by “nursing mothers during the Italian Renaissance.” This accorded with the findings of scholarly research suggesting that Leonardo’s painting was commissioned to commemorate the birth of Lisa Gherardini’s second child (she ultimately had five). “This helps us date the painting more precisely, to around 1503,” Mottin explains.

Mottin’s studies of the Mona Lisa’s coiffure revealed that her hair is not unbound and flowing freely, as was once believed—an idea that “surprised historians, because wearing your hair loose at the time was typical of young girls or women of little virtue,” Mottin says. In fact, her hair is pinned into a chignon and covered by her bonnet.

Scans also showed that Leonardo changed his composition: he had initially painted one of her hands clenched, rather than in a relaxed position, suggesting that she may originally have been depicted in the process of rising from a chair rather than seated. According to Matthew Landrus, a Renaissance and Baroque scholar who has taught Renaissance and medieval history at Oxford University and is currently an art history professor at the Rhode Island School of Design, Leonardo “changed hand positions in a lot of paintings, including Christ’s in The Last Supper—information that came out in the recent cleaning of the painting.”

Landrus, author of The Treasures of Leonardo da Vinci (HarperCollins, 2006), is also researching a copy of the Mona Lisa in a private collection that was once owned by Sir Joshua Reynolds. In an article by Michael Burrell in last September’s Apollo magazine, the copy (on view at the Dulwich Picture Gallery in London through February 11) is compared with other early copies that reveal details no longer visible in Leonardo’s painting. Reynolds’s Mona Lisa was executed in the early 17th century, probably by a French copyist who seems to have had access to the French court at Fontainebleau. It may even have been traced from the original, Landrus believes. It “retains many of the original colors of the Mona Lisa,” he says, “and almost the same proportions. It has aged less than the original. In particular, it shows that the original colors included a deep blue sky, yellow sleeves, and dark green gown.”

The Mona Lisa, Landrus adds, is a “very dirty painting in very good condition, despite the fact that it was in the steamy atmosphere of the French king’s bathroom for a while, and even stolen.”

He continues, “But the painting attracts more than 6 million visitors a year, 90 percent of whom come to see the painting, more than half from out of the country. Taking it out of the box to clean it for even a day might be disastrous.”

Considering the controversy that erupted when the museum undertook a cleaning of Leonardo’s The Virgin and Child with Saint Anne in 1994, the Louvre is unlikely to attempt to clean the Mona Lisa anytime soon.

Laurie Hurwitz is the Paris correspondent for ARTnews.

Tuesday, January 02, 2007



Satu Januari pagi aku dalam keadaan capek. Semalaman, dan tentu dengan persiapan beberapa waktu sebelumnya, aku memanitiai Festival Segara Kidul di pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Puncaknya memang saat mala pergantian tahun. Penonton melimpah di depan panggung. Setidaknya memnucak hingga sekitar 2.000-an orang menyemut di areal itu. Ini lumayan mengobati kekecewaanku pada happening art-nya pak Djoko Pekik di sepanjang pantai yang gagal. Serabut kelapa dan kain yang terentang sekitar 2 kilometer gagal dibakar saat sunset karena angin yang kencang. Puluhan wartawan tak menemukan momen istimewa yang sangat ditunggu2. Sayang memang, tapi apa boleh buat. Pak Pekik tampaknya kurang memperhitungan kekuatan alam itu.

Seharian penuh tiduran aja. Diselingi dengan kondangan tak jauh dari rumah pada jam 12.0-an. Abis itu tidur lagi.

Malam hari, aku dan istriku keluar rumah. Mo ke pameran buku di gedung Pamungkas di timur stadion Kridosono, Kotabaru. Cukup ramai, meski kota belum banyak bergeliat. Kukira ini pameran buku pertama di gedung kepunyaan militer. Menarik, karena dalam setahun terakhir di Yogya dipenuhi oleh sejumlah pameran buku. Mungkin ada sekitar 5 atau enam kali. Tentu menguntungkan bagi orang sepertiku yang pengin belanja buku sebanyak mungkin dengan harga yang dibanting hehehe. Ada 8 judul buku yang kami beli. Bukan buku yang baru2 amat, tapi penting untuk kubaca dan siapa tahu buat referensi bagi tulisanku mendatang. Beli buku, bagiku, pasti berguna meski tak seketika.

Saat mo pulang, istriku ngajak dulu ke toilet lewat pintu samping. Baru mo keluar pintu, eh, ada yang manggil2 namaku. Setelah dari toilet, kesamperi mereka. Ada teman2 yang selama ini berbisnis buku. Ada Anas dan Buldanul Khuri, dan teman lain yang aku lupa berkenalan. Juga ada Kelik Pelipur Lara yang lagi moncer di media tv sebagai komedian. Ngobrol sekitar setengah jam sambil nunggu gerimis reda.

Sama Kelik alias Ucup Kelik aku sempat ngobrol berdua. Aku sih sebetulnya akrab dengan kakaknya, Japrak yang sekarang juga berkarier di Jakarta. Kata Kelik, "Mbok kamu banyak nggambar aja. Bikin komik yuk. Aku punya naskahnya." Wah, tanganku sudah tak cukup fasih lagi buat nggambar je. Pasti memori Kelik masih menguat ihwal aku yang ngartun dan ngarikatur di koran lokal Bernas dulu. Apa boleh buat!

Ah, tahun baru. Banyak mimpi dan harapan baru yang terealisasi dengan baik deh! Semoga!

Tahun Baru 2007

Hmm, kalender harus dicabut dari dinding, dan kuganti dengan almanak baru, 2007. Waktu memang tak bisa dihentikan, seperti denyut nadi yang memompa darah dari jantung dan aorta. Rasanya ingin menjelajah waktu sewaktu-waktu.

Ingin tiba2 masuk ke tahun 1974 saat aku masuk TK Bayangkara di asrama Brimob Baciro, Yogyakarta yang cukup ajaib bagi masa kanak-kanakku. Atau menerobos ke tahun 1978 saat aku dan teman2 masa kecilku berombongan naik bus asrama ke kantor Polwil (?) di Malioboro yang sekarang telah dulap jadi arela perluasan Hotel Natour Garuda. Atau tiba2 ingin melesat ke tahun 2019 saat usiaku 50 tahun. Pasti ada keajaiban dengan lingkunganku, dengan habitus baruku, dengan sistem sosial yang memerangkap komunitasku.

Apa boleh buat, aku tak bisa berpaling ke belakang kecuali berimajinasi menembus waktu yang telah lampau untuk menyuguhkan secuil nostalgi atau memori yang kadang sangat penting untuk merenung.

Selamat Natal bagi yang masih merayakan.

Selamat Idhul Adha bagi yang juga merayakan.

Selamat Tahun Baru 2007.

Ini tahun yang bisa jadi penuh keberuntungan kalau mengikuti kepercayaan orang Tionghoa. Angka 2007 kalau dijumlahkan ya muncul angka 9. Angka paling tinggi. Penuh hoki. Aku tak sepenuhnya percaya, tapi kayaknya bukan waktunya lagi untuk banyak habiskan waktu tanpa mengerjakan sesuatu tanpa makna. Sekecil apapun, akan kulakukan untuk memberi makna bagi diriku sendiri. Syukur bisa berguna untuk orang lain. Dan hal selalu luput dari kesadaranku, meski itu kadang telah kulakukan, adalah keberanian untuk mengambil risiko. Kesadaran mempraktikkan sesuatu yang berimplikasi pada risiko untuk ditolak dan dijauhi orang lain, misalnya, hmmm, harus kupahami betul itu aka selalu terjadi.

Biarin! Aku bekerja, ayo berbuat, ayo bikin sesuatu untuk perubahan. Aku berubah, maka dunia pun (belum tentu) berubah! Hahaha! Salam...

Poros Trio-Parang: Dari Mitos ke Pengharapan

(Ini tulisan untuk 'genep-genep', daripada gak ada hehehe, untuk buklet Festival Segara Kidul 2006 yang berlangsung di pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, Minggu 31 Desember 2006)

Menyebut ikon wisata pantai di Yogyakarta, dengan serta merta ingatan kolektif kita, tak pelak, akan mengerucut pada nama Parangtritis dan Parangkusumo. Ini tentu tak bertendensi mengesampingkan kawasan pantai lain. Dua nama pantai ini bagai pasangan ‘kembar identik’ karena kebetulan berada dalam satu wilayah yang hanya terentang oleh jarak sekitar 2,5 km. Di antara keduanya, meski belum sangat populer, ada pantai atau dusun Parangbolong yang kini juga terus berbenah merapikan diri. Kelak, siapa tahu, bakal menjadi ‘kembar tiga’ sebagai trio pantai (Parangtritis-Parangbolong-Parangkusumo) yang terintegrasi untuk saling berjajar dan saling bermutualisma sebagai mata rantai wisata bahari di kabupaten Bantul, D.I Yogyakarta.

Kawasan trio pantai ini juga gampang ditempuh dari kota Yogyakarta yang berjarak kira-kira 27 km ke arah selatan. Apalagi jalan penghubung menuju pantai segara kidul (laut selatan) tersebut relatif telah mulus. Kalau lancar, dari Yogyakarta hingga segara kidul bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor kurang dari satu jam. Oleh pemerintah daerah yang juga sepenuhnya didukung oleh warga, kawasan trio pantai ini diekspektasikan memiliki cakupan target sebagai ‘tri-tunggal wisata’, yakni wisata spiritual, wisata kultural, dan wisata natural. Ekspektasi (harapan) ini tentu tak berlebihan karena latar belakang sejarah, modal kultural, dan kondisi alam telah memberi bekal atas asumsi dan harapan tersebut.

***

Misalnya saja dari nama Parangtritis yang berasal dari kata parang dan tumaritis, yakni air yang menetes (tumaritis) dari atas batu (parang). Ini adalah bagian dari kisah legenda dan mitos yang masih menebar di celah lidah warga Yogyakarta, khususnya warga setempat. Konon, dulu ada seorang pelarian dari kerajaan Majapahit bernama Dipokusumo yang menyepi dan bersamadi dalam gua di punggung bukit yang terletak di sehadap pantai. Di sekitar tempat bersamadi itu ada tetes-tetes air di atas bebatuan yang kelak menjadi asal-usul nama kawasan tersebut. Oleh para pengikut Dipokusumo beserta keturunannya, tempat itu dikeramatkan. Dan tak heran, mitos pun kemudian lahir mengikuti Sang Kala yang menggenapkannya sebagai bagian penting dari kearifan lokal.

Di kawasan itu juga banyak ditemui petilasan-petilasan yang ramai dikunjungi orang untuk ngalap berkah pada hari-hari tertentu, misalnya Gua Langse. Gua Langse ini berada di kaki tebing Parangtritis merupakan tempat tetirah yang terkenal, di samping banyak kawasan serupa, seperti Gua Tapan, Sendang Beji, maupun Gua Siluman. Sejarawan Dr. H.J. de Graaf menyebut Gua Langse sebagai Gua Kanjeng Ratu Kidul. Oleh sebab itu, gua ini merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh reraja Mataram. Di gua ini konon pernah bersemedi pula Syekh Siti Jenar maupun Sunan Kalijaga. Banyak orang yang menyambangi gua ini, terutama pada malam Selasa atau Jumat Kliwon dan bulan Sura. Bahkan bila memasuki bulan Sura pengunjungnya bisa ratusan orang tiap hari. Dari pantai Parangtritis untuk menuju Gua Langse masih harus berjalan sekitar 3 km ke arah timur. Jika malas berjalan ada ojek yang siap mengantarkan. Namun ojek ini tidak sampai di pinggir tebing sehingga masih harus berjalan kaki sekitar 750 m menyusuri jalan setapak di antara rerimbunan ladang.

Situs lain yang menjadi titik identifikasi atas kawasan itu adalah petilasan Parangkusumo, makam Syekh Bela-Belu, Syekh Maulana Maghribi, dan Kyai Selohening. Mulai dari muara Kali (sungai) Opak sampai Gua Langse terdapat tempat-tempat petilasan yang hingga kini masih dikeramatkan oleh penduduk. Kali Opak memang seperti "jalur tol" untuk menuju lokasi ini. Sedangkan wisata kultural berupa berbagai upacara yang diselenggarakan rutin tiap tahun, seperti labuhan atau malam 1 Sura. Sementara wisata natural ditunjukkan dengan keberadaan obyek-obyek wisata pantai Parangtritis, Parangendog, serta sumber air panas Parangwedang.
Di situs penting Parangkusumo sendiri terdapat dua buah batu terpisah yang diasumsikan sebagai tempat bagi Panembahan Senapati untuk bersembahyang atau berkomunikasi dengan Kanjeng Ratu Kidul, sesembahan segara kidul yang bermukim di pantai Parangkusumo dan juga "istri" spiritual para raja Mataram. Dua batu itu berada tak jauh dari lapangan Parangkusumo. Konon, di sinilah dulu Panembahan Senopati, sang pendiri kerajaan Mataram ini, sering bersembahyang maupun memanggil penguasa Laut Selatan. Kini, kedua batu yang dikeramatkan tersebut dipagari, dan untuk masuk kawasan itu harus minta izin pada sesepuh setempat. Pada titik kawasan inilah muara garis imajiner yang diyakni warga Mataram ini berujung, setelah berpangkal dari titik utara di gunung Merapi, tugu Golong-Gilig, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kandang Menjangan Krapyak, dan akhirnya di Segara Kidul. Garis imajiner ini seperti mengimajinasikan wilayah kekuasaan fisik, kultural, dan spiritual bagi pemimpin kerajaan Mataram.

***

Selain narasi-narasi mitos yang bertebaran itu, ada juga fakta natural di Parangkusumo yang tak bisa diabaikan dari perhatian. Di lokasi ini terdapat hamparan padang gurun berbukit-bukit, yang disebut dengan gumuk atau bukit pasir (sand dunes). Fenomena gumuk ini terjadi karena alam Parangtritis-Parangkusumo yang sangat mendukung, serta seperti seringnya gunung Merapi mengeluarkan lava. Lava ini, melalui sungai Opak dan Progo, diendapkan di gisik Parangtritis. Angin laut, yang diperkuat oleh dinding terjal di sebelah timur, menerbangkan pasir yang telah terdampar di gisik ke daratan dan membentuk bukit-bukit pasir yang berubah-ubah bentuk maupun lokasinya. Kecenderungan ini terbentuk melewati proses alamiah yang berlangsung selama ribuan tahun. Di Parangkusumo ada beberapa tipe bentuk gumuk langka, yaitu barchan dune (berbentuk sabit), parabolic dune (berbentuk parabola), comb dune (berbentuk sisir), serta longitudinal dune (bukit yang memanjang). Saat ini tipe-tipe tersebut sudah tak lengkap lagi. Yang sering muncul hanyalah barchan dan longitidunal.

Gumuk di kawasan ini, dalam tinjauan geomorfologis, merupakan hal yang langka terjadi untuk daerah tropis basah. Bahkan untuk regional Asia Tenggara, diperkirakan gumuk hanya terdapat di kawasan ini. Lainnya, gumuk dapat ditemui di Arab Saudi dan Gurun Gobi, Cina.

***

Akhirnya, memang paparan semua fakta singkat atas kekayaan yang ada di wilayah Yogyakarta, khususnya Bantul ini bisa dikuak dan dibaca ulang untuk dikayakan kembali dengan banyak perspektif. Eksplorasi (awas, jangan dikelirukan dengan eksploitasi!) atas kawasan ini tentu menjadi keniscayaan untuk dilakukan demi memajukan turisme di sini. Hal penting yang bisa digarisbawahi untuk kepentingan itu adalah agar kita tidak selalu mengedepankan paradigma fisikal sebagai satu-satunya cara dan alat ukur dalam menilai perkembangan. Pemerintah daerah tidak harus mengucurkan sekian milyar dana hanya untuk kepentingan pembangunan material atau fisik semata yang belum tentu sesuai dan dimaui oleh warga setempat.

Namun hal yang paling urgen adalah membangun dan mematangkan sistem dan cara berpikir, juga mengayakan perspektif pandang masyarakat dalam melihat industri pariwisata dengan muatan semangat lokal dan kultural ini – tentu tetap dengan cara kerja global profesional. Banyak kearifan lokal yang tak bisa dengan serta-merta ditinggalkan untuk memaksa diri mengadopsi sesuatu yang datang bukan dari dirinya. Tentu menarik, misalnya, kalau di kita melihat warung-warung di pantai segara kidul ini berdiri kukuh dengan mengedepankan arsitektur lokal (yang inovatif). Alangkah menyegarkan kalau kita bisa mendapatkan minuman jahe atau serai botolan produksi lokal di samping coca cola dan sprite yang membanjir.

Yah, marilah kita berbuat untuk kawasan ini dengan cara berpikir baru.

(kuss indarto)