Thursday, November 26, 2015

Santri Nusantara: Beragama Secara “Artistik”


Oleh Kuss Indarto 

ISU tentang praktik beragama (Islam) selalu muncul dari berbagai konteks waktu, tempat, dan senantiasa membawa respons serta implikasi yang beragam—bagi banyak pihak, dan di berbagai kawasan. Isu ini membawa aktualitasnya sendiri dari waktu ke waktu seiring dengan kompleksitas persoalan yang mengikutinya. Agama dan nilai-nilainya, ketika berhadapan manusia dengan konteks ruang dan waktu yang berbeda, mendapatkan perlakuan yang beragam pula. Problem adat dan budaya yang berlainan pada tiap bangsa, termasuk di ruang bernama Indonesia, akan membawa cara dan praktik beragama yang sedikit banyak memiliki “titik beda”.

Bertahun-tahun lalu, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sudah memberi tengara tentang isu ini lewat sebuah artikelnya yang sangat menarik dan fenomenal, yang bertajuk “Pribumisasi Islam”. Menurutnya, agama (Islam) itu bersumberkan wahyu dan memiliki norma-normanya sendiri, atau bersifat normatif, sehingga ia cenderung menjadi permanen. Sedangkan budaya adalah buatan manusia, maka ia berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan cenderung untuk selalu berubah. Perbedaan ini tidak menghalangi kemungkinan manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk budaya. “Tumpang tindih” antara agama dan budaya akan terjadi terus-menerus sebagai suatu proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang.

Bagi Gus Dur, jawaban atas pertautan agama Islam dan konteks budaya yang ada di wilayah tertentu adalah dengan konsep “pribumisasi”. Pribumisasi bukanlah upaya menghindarkan timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan budaya setempat, akan tetapi justru agar budaya ini tidak hilang. Inti pribumi Islam—masih menurut Gus Dur—adalah kebutuhan, bukan untuk menghindari polarisasi antara agama dengan budaya, sebab polarisasi demikian memang tak terhindarkan. Sebaliknya, pribumisasi Islam bukanlah “jawanisasi” atau sinkretisme, sebab pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa menambah hukum itu sendiri. Juga bukannya upaya meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman “nas”, dengan tetap memberikan peranan kepada Ushul Fiqh dan Qidah Fiqh. Muara yang menjadi ekspektasi dari konsep (dan proses) pribumisasi Islam itu adalah mengokohkan kembali akar budaya Indonesia atau Nusantara dengan tetap menciptakan masyarakat yang taat beragama.

***

GAGASAN dan isu tentang praktik beragama (Islam) yang bertalian erat dengan akar budaya Nusantara tampaknya mesti memerlukan perangkat untuk mendistribusikan secara lebih meluas, dan dengan pendekatan yang lebih populis. Karya seni rupa, terkhusus lagi karya kartun, merupakan tawaran yang bisa disodorkan sebagai alternatif untuk mendekatkan isu sensitif dan penting ini kepada publik luas. Seperti halnya karya seni (rupa) pada umumnya, kartun diekspektasikan mampu melakukan proses mimesis atas artifak dan gejala visual yang ada di alam, serta kemudian membumbuinya dengan aksi kritis atas gejala sosial yang melingkungi problem kemasyarakatan secara umum. Kritisisme atau aksi kritis yang bisa ditawarkan oleh karya kartun pada umumnya dengan pendekatan humor. Dalam humor tersebut pesan-pesan yang penuh kritik, ironi, satir—entah diguratkan dengan cara yang sarkastik maupun eufemistik—relatif akan bisa diterima oleh publik dengan cepat karena sifat populisnya jenis karya seni ini.

Khusus pada karya kartun, konsep tentang “indah” tidak cukup memadai untuk dijadikan materi argumen bila pendekatannya masih memakai konsep Plato(nian) yang memperhatikan aspek-aspek satu ukuran, proporsi, harmoni, bebas konflik dan sebagainya. Maka hal yang berseberangan dengan pemahaman itu, seni pun bisa diposisikan untuk memberi penyadaran bahkan perlawanan atas fakta-fakta sosial yang perlu dikritisi. Tak ada salahnya bahwa karya seni dihadirkan untuk menelisik kesadaran akan negativitas kehidupan demi membangkitkan perbaikan-perbaikan setelah itu. Kalau Theodor W. Adorno menyatakan bahwa “di setiap karya seni yang sejati tampil sesuatu yang belum ada”, maka karya-karya seni rupa (termasuk karya kartun) juga bisa diandaikan memuat cercah gagasan yang bisa memberi tawaran-tawaran solutif atas problem sosial kemasyarakata—termasuk problem praktik beragama. Atau dalam bahasa kartunis senior Indonesia, GM. Sudarta, karya kartun itu memuat “early warning” (peringatan dini) atas sekian banyak gejala sosial kemasyarakatan yang ada.

Deretan seratusan karya seni kartun dalam pameran ini mungkin belum menjadi sebuah “karya seni yang sejati yang menampilkan sesuatu yang belum ada”. Namun bisa diandaikan bahwa di dalamnya terdapat sekian banyak pemikiran dari para kreatornya yang seorang seniman (homo ars) namun juga sekaligus berposisi sebagai makhluk sosial (homo socius), pemeluk agama, dan menjadi pribadi-pribadi yang resah dengan perikehidupan keberagamaan di Indonesia dewasa ini. Maka, karya-karya seni kartun yang ada dalam perhelatan ini, ternyata, tidak bisa disederhanakan sebagai “karya hasil lomba” yang seolah hanya berorientasi pada aspek pencapaian finansial, namun bisa disimak betapa ada sekian banyak cercah kegundahan personal yang—bisa jadi—menjadi representasi atas kegundahan sosial atas praktik keberagamaan di negeri kita dewasa ini. Ada upaya untuk menjemput pencapaian nilai-nilai moralitas dalam karya-karya ini.

Dalam pameran ini, ada karya seniman kartun yang menyoal tentang agama sekadar sebagai selubung yang bisa dengan gampang dipakai atau dibuang untuk kepentingan politik. Ada karya yang mengetengahkan fakta bahwa praktik beragama kini sudah tak lepas dari praktik konsumtivisme atau kapitalisme. Ada fakta-fakta sosial perihal ancaman kerukunan sosial yang dipicu oleh problem agaman yang terus berkembang direpresentasikan dalam karya kartun di sini. Semua itu memberi potongan kesadaran kita bersama bahwa—lewat karya seni yang populis ini—masyarakat dikonfirmasikan kembali akan (potensi) gejala rapuhnya praktik kerukunan beragama di Nusantara.

Karya kartun tentu hanya bisa lebih banyak memberi informasi berbumbu ironi dan satir atas fakta sosial ini, tanpa memberi tawaran solusi yang jauh lebih lengkap, komprehensif dan detail. Ya, memang hanya itulah peran seni kartun yang bisa diketengahkan.

Maka, peran serta 600 kartunis (dari berbagai kota di Indonesia dan mancanegara) yang telah mengirimkan lebih dari seribu karya dalam lomba kartun ini patut diapresiasi. Namun, tentu tak bisa semua karya tersebut dipresentasikan dalam perhelatan ini karena keterbatasan tempat. Lebih dari itu, dengan melihat gejala antusiasmenya para kartunis di tanah air ini, maka tak berlebihan kiranya andaikan perhelatan semacam ini bisa digelar secara periodik setiap setahun atau dua tahun sekali, dengan skala yang lebih besar dan meluas. Selamat mengapresiasi! *** 

Kuss Indarto, anggota dewan juri Lomba Kartun “Santri Nusantara 2015”.


Wednesday, November 18, 2015

Sosok Butet Kertaradjasa: Seni, Idealisme, dan Uang

Bambang Ekolojo Butet Kertaradjasa tampak begitu santai dan cerah pagi itu. “Jangan motret dulu ya. Aku belum mandi. Ngobrol-ngobrol santai sajalah,” tuturnya mengawali perbincangan dengan Majalah Tong Tjie Lifestyle. Ini memang kesempatan santai bagi Butet yang agendanya padat dan mobilitasnya begitu tinggi. Sehari sebelumnya, seniman ini berada di Jakarta, dan besoknya dia kembali ke Jakarta beberapa hari untuk syuting di sebuah stasiun televisi dan aktivitas lain. Maka, hari itu dia banyak beristirahat di rumahnya yang berhalaman cukup luas di kawasan Kembaran, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Sang istri tercinta, Rulyani “Rully” Isfihana, selalu setia mendampingi di rumah. Kebetulan hari Senin itu Warung Bu Ageng—restoran yang mereka bangun sejak empat tahun lalu—libur, sehingga banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Memang tak lengkap benar karena anak tertua Butet, Giras Basuwondo telah berkeluarga dan tinggal di tempat lain. Dari Giras itulah kini Butet mendapatkan seorang cucu yang imut-imut. Alera namanya. Sementara dua anak lainnya yang masih serumah, Suci Senanti dan Galuh Paskamagma, sudah beranjak ke kampus untuk kuliah sejak pagi.


Di meja tempat Butet duduk, terserak benda-benda yang akhir-akhir ini menjadi hobi yang banyak diburunya: batu akik. Ada sekotak batu akik dalam kemasan bagus yang dikirim untuknya dari Dadang Christanto—seorang teman seniman Indonesia yang kini bermukim di Australia. Di tengah perbincangan yang seru, Butet meminta istrinya untuk membawakan satu tas batu akik yang dibelinya dari Rawa Bening, Jakarta. “Ini semua tidak akan berakhir menjadi batu akik yang melingkar di jari. Saya punya ide lain,” kata Butet dengan mimik serius. Tak jauh di seberang meja itu, pada lantai pendapa, juga tergeletak beberapa batuan besar dengan motif indah di permukaannya. Batuan itu beratnya lebih dari satu kilogram. “Batu-batu ini saya dapatkan dari sungai Karangsambung, di Kebumen, Jawa Tengah,” jelas pemeran Sentilun dalam program talkshow humor “Sentilan Sentilun” di sebuah stasiun televisi tersebut. Menurutnya, batu-batu itu diperolehnya setelah turun langsung ke sungai, lalu dipasrahkan kepada para perajin batu untuk dikuliti dan dihaluskan sehingga menjadi batu hias. Orang Jepang menyebut batuan hias seperti itu sebagai suiseki.


“Saya sudah punya rancangan untuk batu-batu ini menjadi bentuk-bentuk hiasan atau karya seni yang lain. Misalnya kelak akan terpajang mewah dengan bentuk seperti es krim, atau lainnya. Kalau dipotong kecil-kecil, di-embanke, lalu jadi hiasan di jari, itu kan sudah mainstream. Biasa,” terang Butet dengan semangat. Lebih jauh, katanya, bupati Kebumen yang wilayahnya penuh sumber daya batu indah itu pun sudah ditemui dan diberinya banyak masukan untuk memberdayakan lebih jauh tentang potensi seni dari batu-batu tersebut. Semua itu kelak akan berbalik positif untuk daerah itu sendiri: mulai dari sumber pendapatan tambahan bagi warga, serta kemungkinan ikon dan identitas baru bagi daerah tersebut.

Antara Pemberontakan, Kepepet, dan Cocot Kencono

Berbincang dengan Butet, akhirnya, memang banyak membicarakan tentang dunia seni, ide, kreativitas, dan pergulatan di sekitarnya. Apalagi posisinya sebagai seniman yang datang dari keluarga yang suntuk dengan dunia seni, menjadikan dunia tersebut sebagai sesuatu yang mesti terus-menerus didinamisasi dengan cara pandang yang berbeda, selalu menawarkan pembaruan, bahkan juga “pemberontakan”—tentu dengan konotasi positif. Karena pemberontakan, Butet Kartaredjasa bisa menjadi sosok penting di dunia seni seperti sekarang ini.

Gelagat untuk pemberontak itu muncul setidaknya sejak dia duduk di bangku SMP. Sang ayah, seniman besar Bagong Kussudiardja, menjadi “sumber” pemberontakan itu. “Saya ini masuk dalam situasi yang dilematis sejak kecil. Kalau saya menekuni dunia seni tari seperti bapak, orang tak akan menganggap saya dengan nilai lebih. Andaikan saya kelak terkenal sebagai koreografer atau penari, orang-orang pasti akan pasti akan bilang: ‘Ya maklumlah, anak penari ya pasti jago menari. Sebaliknya kalau saya menekuni dunia tari tapi kurang berprestasi, orang-orang pasti akan ngrasani (menggunjing): ‘anak penari top kok tak bisa menari ya.’ Itu sangat menantang bagi saya,” ungkap Butet.


Maka sejak itulah, anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan Bagong Kussudiardja (meninggal tahun 2004) dan Sofiana (wafat tahun 1997) tersebut memulai pergulatannya sendiri dalam dunia seni yang berbeda dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Namun pemberontakan itu sesungguhnya bukanlah upayanya untuk menjauhi keluarga. Bahkan, diam-diam Butet sangat mengagumi sang ayah dari banyak segi. Misalnya, dia menjadi salah satu anak yang paling gemar melahap bacaan. Apapun bahan bacaan milik ayahnya yang tersedia di rumah, disantap habis dalam usia yang relatif masih dini. Hingga dia membaca-baca banyak tulisan pak Bagong yang dibuat saat berusia muda. Dari situlah kemudian dia mengagumi dan termotivasi untuk bisa berkarya seperti sang ayah, di antaranya lewat menulis—dan berikutnya dengan berteater.


Di sisi lain, ayahnya sebagai seorang seniman seni pertunjukan, juga tak jarang mengajak anak-anaknya untuk menyaksikan banyak pertunjukan seni—termasuk teater. “Saya ingat saat masih SMP diajak bapak menyaksikan pentas teaternya W.S. Rendra di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Judul lakon pementasannya Sekda. Saya menyaksikan lakon tersebut sepanjang 4 jam tanpa henti. Dan kala itu saya membatin: ‘Suatu ketika saya akan bisa seperti dia (Rendra)’” kenang Butet.


Hal yang dibatinkan oleh seniman kelahiran 21 November 1961 itu tak berhenti sekadar sebagai imajinasi kosong. Tahun-tahun berikutnya, Butet aktif masuk teater di sekolahnya, SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, setingkat SMA, sekarang SMK 4 Bantul, Yogyakarta). Dan dalam usia remaja itu, capaian prestasi ditorehnya: terpilih sebagai aktor terbaik sebanyak dua kali, dan sekali sebagai sutradara terbaik dalam kompetisi teater antar-SMA se-propinsi DIY. Ini menjadi dorongan yang lebih kuat lagi baginya untuk menggeluti jagat teater hingga kini. Uniknya, prestasi tersebut belum diakui oleh sang ayah. Pak Bagong tidak membuatkan pesta atas kemenangan Butet itu. Beda dengan ketika saudara-saudaranya menjadi juara tari, pasti acara pesta atau setidaknya makan di restoran bersama-sama.


Di seberang soal itu, mulai dalam usia remaja pula, passion untuk menulis juga kuat. Itu seperti ritus yang otomatis setelah banyak membaca, lalu diserap, dan diaktualisasikan kembali dengan menulis. Nyaris semua media massa yang ada di Yogyakarta pernah diserbu dengan kiriman tulisannya. Pun dengan media di kota lain seperti Jakarta. Butet menulis apa saja, terutama tentang dunia seni. “Tapi ya menulis itu banyak karena kepepet,” pendakuannya setengah becanda setengah merendah. Dengan menulis, tak sekadar honorarium yang didapatnya, namun juga relasi dan jejaring kerja yang penting bagi perjalanan karier dan nasib selanjutnya. Bukan hanya uang untuk menebus susu dan makanan bagi anak istrinya, namun lambat laun Butet bisa mengenal bahkan akrab dengan sekian banyak orang penting yang dijadikan narasumber bagi tulisannya.


Maka ketika dia lebih serius menggeluti dunia teater sebagai panggilan hidup, jalinan relasi dan persahabatan yang telah dibangun bertahun-tahun sebelumnya, bisa manfaatkan secara positif. Tentu saja itu juga berjalan seiring dengan perkembangan pengetahuan dan pengalamannya tentang manajemen yang diterapkannya di dunia seni. Ketika akan mementaskan sebuah lakon teater, kini, Butet dengan mudah dan meyakinkan bisa menggaet sponsor untuk diajak bermitra. Bahkan kadang tanpa bekal proposal yang terlalu detail, tapi cukup dengan modal cocot kencono. Ya, lobi yang dilontarkan oleh mulut Butet telah bisa dipercaya, dan bisa mendatangkan dana sponsor karena “mulut emas” atau cocot kencono-nya. Ini yang sedikit bisa dicapai oleh kebanyakan seniman di Indonesia—bahkan yang sudah punya popularitas berlebih.

Manajemen Hidup dan Seni

Kepemilikan atas cocot kencono itu sebenarnya sangat nyambung dengan bakat seni yang kuat, kerja keras, disiplin, dan kemampuannya untuk mengelola (manage) segala hal yang teranyam dengan dunianya. Jauh-jauh hari sebelum sekarang merebak trend tentang art management, Butet sudah melakukannya, bahkan dengan raihan kesuksesan. Misalnya, sekitar tahun 1994 dia menghelat acara pameran tunggal Faizal, seorang perupa muda yang mulai meroket namanya. Urusan tetek-bengek pameran, dari A sampai Z dikelola semuanya oleh Butet.

Keberhasilan itu membuat Butet menggebu-gebu. Tak lama kemudian, kemjelaampuan manajemen seni itu kian konkret diwujudkan dengan mendirikan sebuah advertising bernama Santano di bilangan Jomegatan, Kasihan, Bantul. “Proyek” ini, lagi-lagi tak direspon dengan positif oleh sang ayah. Bahkan Pak Bagong menentang keras. Pasalnya, tutur Butet mengingat sang ayah: itu bukan dunianya. Advertising itu dunia bisnis yang dianggap jauh berjarak dari seni.


Penentangan itu berbuah konflik. Pak Bagong tak berkenan. Marah. Dan sang ayah tidak menegur-menyapa anaknya sejak saat itu hingga hampir tiga tahun. Butet pun tetap bersikap keras pada pilihannya itu hingga bertahun-tahun, sampai usaha advertising-nya itu akhirnya tumbang—sementara di sisi lain kariernya sebagai aktor dan produser teater terus menemukan jalan memuncak. “Saya tidak pernah belajar manajemen secara khusus. Semua learning by doing. Tahun-tahun berikutnya saya baru membaca buku tentang manajemen, dan dari situ saya bisa melakukan semacam konfirmasi atas semua yang telah saya kerjakan dalam mengelola dunia seni,” kata Butet.


Uniknya, selepas sang ayah meninggal dunia tahun 2004, Butet—sang pemberontak dalam keluarga itu—justru menjadi figur penting yang digadang-gadang bisa menyelamatkan keberadan Padepokan Seni Tari Bagong Kussudiarja. Enam saudara kandung Butet Kertaradjasa dengan aklamasi mendaulat dirinya untuk meneruskan mengelola padepokan tari yang sudah punya reputasi nasional—bahkan internasional itu.


Kini, situs seni warisan koreografer besar Bagong Kussudiardja itu tetap meneruskan eksistensinya. Tidak tumbang oleh nama besarnya yang tak mampu disangga oleh anak turunannya. Tidak. Sekarang sudah ada Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) yang dikelola dengan manajemen modern. Ada pula lembaga-lembaga lain di situ, termasuk Kua Etnika, sebuah institusi berbasis seni musik kontemporer milik adik bungsu Butet, Djaduk Ferianto—yang kurang “dianggap” oleh Bagong sehingga bermarkas di luar lingkungan padepon dan harus menyewa rumah sendiri. Semua itu berkat tangan dingin sang pemberontak, Butet Kertaradjasa. ***

Thursday, November 05, 2015

Potongan Kecil Dunia Seni Rupa Indonesia


Oleh
Kuss Indarto

Seni lukis yang menggambarkan pemandangan alam memiliki sejarah yang cukup panjang di Indonesia. Raden Saleh Sjarief Boestaman (1811-1880) merupakan pelukis modern pertama Indonesia yang telah membuat cukup banyak lukisan pemandangan alam. Karya-karyanya yang dibuat di Indonesia maupun ketika dia menetap puluhan tahun di daratan Eropa tampak jelas kecenderungan naturalismenya. Ada pemandangan yang menggambarkan keindahan alam di Jawa Barat seperti di kawasan Buitenzorg (sekarang menjadi kota Bogor), lalu di Puncak Pass Megamendung, sekitar gunung Gede Pangrango, dan lainnya. Juga tentang pemandangan kawasan Jawa Tengah seperti sekitar dataran tinggi (plateau) Dieng, gunung Merapi yang tengah tenang dan saat meletus, serta masih banyak lagi. Tentu itu tidak termasuk karya-karya pemandangan yang di dalamnya terdapat, misalnya, aksi pertarungan antara banteng dan harimau, singa dan kuda, atau aksi pemburu yang sedang berburu singa, harimau, dan lainnya.

Di Indonesia, lukisan pemandangan alam terus tumbuh setelah itu. Di Sumatera Barat ada tokoh utamanya, yakni pelukis Wakidi yang banyak membuat karya pada kurun waktu sekitar dekade 1930-an hingga 1960-an. Untuk level nasional publik sangat akrab dengan karya-karya lukian Basoeki Abdulah yang menjadi salah satu bintang utamanya. Keberadaan lukisan yang berkecenderungan pemandangan alam atau naturalisme ini bahkan sempat menimbulkan pro dan kontra, terutama pada dekade 1940-an. Ketika itu ada sebutan “mooi Indie” atau “Hindia yang molek”. (Hindia Belanda adalah sebutan lama untuk Indonesia). Sebutan itu merupakan bentuk sinisme terhadap para pelukis yang hanya melukiskan pemandangan alam karena dianggap sangat “turistik” dan tidak peka terhadap irama dan situasi sosial dan perjuangan bangsa kepada penjajah. Kondisi seperti itu, tentu, berkaitan antara teks dan konteks. Karya lukis sebagai “teks visual” pada sekelompok pihak diharapkan memiliki konteks ruang, waktu, dan persoalan yang bertalian secara erat. Itu merupakan hal yang biasa dalam dunia seni rupa. Selalu ada lapis-lapis persoalan yang berlainan, tergantung konteks, persepsi dan jiwa jamannya. Tapi pada prinsipnya, di Indonesia karya lukis panorama atau pemandangan alam nyaris tidak pernah mati. Selalu dibuat, digeluti dan ditekuni oleh banyak seniman di Indonesia.

***

Deretan karya lukisan dalam pameran kali ini, saya kira, adalah salah satu potongan bukti bahwa dunia seni lukis dengan subyek utama pemandangan alam tumbuh dan berbiak terus-menerus tanpa henti. Kita bisa melihat dalam pameran ini ada karya Arok yang melukiskan tentang pemandangan kampung-kampung di Bali—sebuah pulau dengan mayoritas penduduk beragama Hindu dan kulturnya yang relatif kuat terjaga. Pemandangan tersebut memberi potret yang berbeda dibanding realitas scene pulau Bali yang lain yang telah banyak tergerus oleh pembangunan berbagai hotel dan berbagai property lain sebagai konsekuensi dari dunia turisme yang sangat pesat. Lukisan-lukisan permai tentang alam pesedaan karya Arok ini seakan memberi ingatan kembali bahwa masih ada celah-celah pedesaan yang sejuk, tenang, damai, yang memberi energi positif bagi hidup.

Juga ada karya-karya Mozes Misdy dan Mois yang membincangkan tentang lanskap perahu-perahu di tepian pantai. Lukisan ini seperti mengingatkan sebuah kilasan sejarah tentang Indonesia atau Nusantara yang berabad-abad lalu banyak berkembang bahkan berjaya di kawasan bahari. Indonesia sebagai Negara maritime yang 2/3-nya terdiri dari lautan seperti diingatkan oleh karya ini—agar laut tidak lagi “dipunggungi” (seperti yang diistilahkan oleh presiden Jokowi), namun mestinya kembali diakrabi. Teknik karya lukis ini menarik, yakni dengan torehan palet yang kasar namun mengena karena senimannya telah sangat menguasai subyek benda yang dilukisnya.

Pun dengan lukisan pemandangan pegunungan, hutan, sawah, sungai seperti yang dipresentasikan oleh Jaka SP., terasa manis dan melengkapi karya-karya pemandangan alam lainnya. Pola visual seperti yang diketengahkan oleh Jaka SP. ini telah ribuan dibuat oleh sekian banyak seniman di Indonesia. Namun, selalu saja ada titik beda satu sama lain yang membuat karya tersebut diminati oleh banyak kalangan masyarakat. Apalagi di Indonesia deretan pulau-pulaunya memanjang hingga sekitar 3.000 kilometer ini memiliki banyak kawasan yang permai situasinya. Di mata pelukis seperti Jaka SP. ini (atau lainnya), pemandangan itu dipindahkan dengan baik ke bidang kanvasnya. Jaka SP. tampaknya termasuk pelukis yang terbiasa menyeleksi fakta-fakta yang sesungguhnya kurang menarik dalam subyek benda di alam, dan menjadikannya lebih manis, indah, dan eksotik di dalam kanvas. Ini sah dan dialami oleh banyak seniman karena itulah pilihan “ideology estetik” dar tiap-tiap seniman.

Di tengah karya-karya yang mengeksplorasi pemandangan alam, terdapat pula penggambaran tentang wayang. Nyoman Gunarsa melukiskan wayang dengan pilihan karakter yang ekspresif. Dia tidak menggambarkan sosok-sosok wayang secara realistik dengan detail yang penuh kerumitan. Sebagai seniman senior dan termasuk deretan seniman papan atas Indonesia, pola visual yang meluiskan subyek benda dengan detail sudah pernah dilaluinya puluhan tahun lalu. Itu adalah bagian dari proses kreatif seorang Nyoman Gunarsa. Kini, seniman ini tidak sekadar memindahkan wayang ke dalam kanvas. Namun juga spirit tentang tokoh wayang tersebut. Spirit yang segera tampak sekilas dalam lukisannya adalah tentang gerak, kegagahan tokoh wayang, dan sebagainya. Dalam konteks ini, Nyoman tidak sedang melakukan mimesis atau menirukan bentuk fisik wayangnya saja, namun lebih dari itu, mencoba untuk melakukan tafsir atas dunia wayang itu dengan perspektifnya yang subyektif. Subyektivitas yang personal dalam dunia seni lukis—atau secara umum dalam dunia seni rupa—sangat penting untuk proses pencarian identitas atau jati diri. Nyoman Gunarsa adalah salah satu seniman yang telah masuk dalam proses penemuan identitas kreatif. Meski, tentu saja, identitas bisa saja terus bergerak.

Lebih dari itu, karya-karya yang tergelar dalam pameran ini bisa memberi salah satu potongan kecil atas kekayaan dunia seni rupa atau seni lukis yang terus berkembang pesat di Indonesia. Pameran ini bisa memberi jendela untuk melongok keluasan seni rupa Indonesia. ***

Kuss Indarto, kurator dan penulis seni rupa. Pengelola situs www.indonesiaartnews.or.id

(Catatan ini untuk mendampingi pameran seni rupa dalam acara "Indonesia Showcae 2015" di bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, 29 Okt - 1 Nov. 2015)

Wednesday, November 04, 2015

Rumah Tumbuh Butet


 
 
Memasuki rumah Butet Kertaradjasa serasa memasuki dunia penuh tanda (sign) dan simbol. Semua hal yang bertalian dengan mimpi, cita-cita, perjuangan, dan dunia Butet beserta istri dan anak-anak ada dalam rumahnya. Tanda dan simbol itu ada yang memang sengaja dibuat, ada pula yang seiring jalannya waktu, artifak atau benda tersebut bisa dibaca dengan makna yang makin kaya. Rumah yang sekarang berdiri di atas tanah seluas 1.800 meter persegi itu dirancang oleh Eko Prawoto, seorang arsitek lulusan UGM dan menyelesaikan masternya di Berlage University, Belanda. 
 
“Dulu, saya sekeluarga datang ke rumah mas Eko untuk membincangkan rumah yang kami mau. Saya menyampaikan usulan saya, istri mengusulkan kamar yang seperti apa, dan anak-anak curhat tentang karakter kamar jenis apa yang mereka inginkan. Dari situlah baru mas Eko bergerak mendisain rumah kami,” tutur Butet yang bernama lengkap Bambang Ekolojo Butet Kertaradjasa.

Hal unik pertama yang bisa dilihat adalah tangga penghubung menuju lantai dua. Tangkai pegangan tangga terbuat dari kayu bekas wluku atau bajak yang biasa dipasang di belakang sapi atau kerbau untuk membajak di sawah. Sedangkan lantai tangga terdiri dari kayu hasil potongan lumpang atau alat penumbuk padi—yang di jaman modern ini sudah diganti dengan rice mill. Kalau dilihat lebih detil, ada yang menarik pada tiap lantai tangga tersebut. Potongan lumpang yang aslinya berlobang itu ditutup dengan bahan resin bening. Dan di tengah kebeningan resin tersebut terdapat potongan kertas wesel yang didapat dari berbagai redaksi media massa tempat Butet dulu mengirimkan tuisan. Ya, potongan-potongan wesel itu adalah tanda bukti pengiriman honorarium bagi Butet. “Itu menjadi pengingat bagi anak cucu bahwa segala sesuatu itu ada prosesnya. Apa perjuangannya,” tutur Butet.


Dan rumah seniman ini memang “rumah tumbuh” yang memalui proses panjang hingga menjadi seperti sekarang. Awalnya, saat mengawali membangun rumah, tanah yang dimiliiki seluas 500 meter persegi. Ketika proses pembangunan rumah baru berjalan sekitar 30%, tetangganya menawari tanah yang berimpitan dengan bagian belakang rumah. Tanpa banyak berpikir, apalagi rezeki sedang lancar, maka dibelilah tanah tersebut.
Dalam areal tanahnya itu terdapat sebatang pohon ketapang yang dibiarkan tumbuh tanpa pernah dikepras sama sekali cabang dan rantingnya. Semua menjurai lepas sehingga meneduhkan suasana pendapa yang dibangun Butet di halaman belakang. Namun, pada perkembangannya, dia dikomplain oleh tetangga sebelah karena guguran dedaunan ketapang dianggap mengotori halaman rumah. Pikiran iseng namun serius pun dilontarkan Butet, “Dari pada capek nyapu, gimana kalau tanah bapak saya beli saja?” kenang Butet. Ternyata gayung pun bersambut. Sang tetangga memang akhirnya menjual tanahnya, dan pohon ketapang milik Butet mendapatkan perluasan lahan untuk tumbuh. Kini, tanah di lingkungan rumahnya menjadi 1.800 meter persegi.

Seiring penambahan luas tanah itu, lagi-lagi Butet mempercayakan Eko Prawoto untuk mendisain ulang bangunan tambahan seperti garasi (belakang), pendapa dan lainnya. Di antara proses pendisainan rumah sebelumnya, ada hal menarik. Di dekat batas antara tanah pertama dan tanah yang dibeli Butet pada periode kedua ada tumbuh pohon nangka. Pertumbuhan pohon itu terlihat sangat lambat sehingga tampak kecil dan nyaris kering. Ketika harus memperluas dapur, Butet berpesan agar pohon itu jangan ditebang, tapi justru diberi “hak hidup” berupa ruang yang cukup. Oleh sang arsitek, pesan itu menjadi ide yang bagus dengan memberi jeda ruang yang artistik untuk pohon itu hingga menjulang ke atap. Disain justru “mengalah” demi pohon ini. Kini pohon itu telah melampaui atap agar tiap pagi bisa berfotosistesis dengan baik. Hasilnya, pohon yang akarnya berada dalam rumah itu tumbuh subur. Buahnya pun bergerombol banyak hingga menyentuh tanah. Butet menyebut itu sebagai “pohon spiritual” karena seperti berterima kasih kepada tuan rumah dengan berbuah lebat ketika hak hidupnya dipertahankan dengan layak.
 

Butet yakin, manusia atau makhluk tuhan yang lain pun akan berlaku positif ketika diperlakukan dengan baik. Dia mengaku bahwa dalam rumahnya terdapat satu jin yang sekarang setia menunggu. Awalnya dia datang dan “menampakkan diri” di depan salah satu anaknya. Butet tak merasa perlu mengusir jin tersebut, namun mengundang temannya yang punya kemampuan supranatural untuk berdialog dan “menjinakkannya”.


Hal serupa yang “mengerikan” bagi orang awam juga sudah ada di rumah teaterawan ini. Lantai tegel warna kuning yang ditempatkan di teras rumah adalah lantai bekas yang dulunya dipasang di ruang jenasah sebuah rumah sakit di Semarang. Apa tidak takut? “Tidak. Tidak ada hal-hal yang aneh sampai sekarang,” tegasnya. Lantai itu seperti mengingatkan bahwa kematian pasti datang menjemput tiap manusia.


Rumah bagi Butet, seperti sebuah ruang untuk hidup bersama, termasuk dengan makhluk Tuhan yang tidak kasat mata. ***