Tuesday, February 28, 2017

Bean


DALAM sebuah wawancara yang cukup panjang dengan Nickolas Baume pada tahun 2008, perupa Anish Kapoor menyatakan bahwa “artist don’t make objects. Artist make mythologies”. Seniman bukan (sekadar) membuat objek karya seni, namun juga menciptakan mitologi. Hasil wawancara—yang dimuat dalam katalog pameran tunggal Kapoor di ICA, Boston, Amerika Serikat tahun 2008, bertajuk “Anish Kapoor: Past, Present, Future”—itu mengisyaratkan kegelisahannya sebagai seorang seniman yang ingin melakukan lompatan besar dalam proses kreatifnya. Juga ingin keluar dari arus utama (mainstream) dalam dunia seni patung dan menciptakan karya melewati cara berpikir out of the box. Latar belakangnya bisa sedikit dilacak bahwa dia berasal dari India, lalu berkehendak untuk masuk di akademi seni rupa di London, Inggris, dan ingin menjadi seniman berlevel dunia. Tentu bukan perkara mudah ketika seniman Asia ingin merangsek ke jenjang penting seni rupa dunia karena Barat juga tetap punya kepentingan untuk menentukan dan menguasai jagat seni rupa dunia. Kapoor dianggap bagian dari the other, liyan.

Perlu waktu bertahun-tahun bagi Anish Kapoor untuk masuk ke pusaran seni rupa dunia setelah dia menyelesaikan studinya di kota London dan Chelsea—salah satu “situs” penting yang menganggap sebagai salah satu “pusat” seni rupa dunia. Hasilnya, antara lain, bisa kita lihat pada “Cloud Gate”, sebuah patung karya Kapoor yang dipajang sejak tanggal 15 Mei 2006 di Millenium Park, Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Patung stainless steel berukuran 10 m x 13 m x 20 m tersebut selama satu dasawarsa ini, secara pelahan, telah menyulap diri sebagai ikon visual penting bagi kota Chicago. Masyarakat dunia mendapatkan perbendaharaan identitas baru atas kota Chicago setelah kehadiran patung “Cloud Gate” itu—yang sekarang mendapat julukan sebagai “The Bean”.

Anish Kapoor telah membuktikan ujarannya sendiri bahwa “seniman bukan (sekadar) membuat objek karya seni, namun juga menciptakan mitologi”. Dalam skala tertentu, karya Anish di kota Chicago itu tidak sekadar berdiri sebagai patung, namun telah menjelma sebagai monumen penanda ruang. Identifikasi yang dibangun oleh publik terus melekat atas diri “The Bean”, yang lama-kelamaan juga berpotensi menciptakan bangunan mitos-mitos tersendiri .

Hal penting yang bisa dikatakan dari kasus Anish Kapoor ini, saya kira, adalah upayanya yang keras untuk keluar dari perspektif umum. Visinya tentang (ber)karya seni dengan mengembangkan ide yang berasal dari akar kulturalnya, India, lalu persentuhannya dengan dunia baru (Eropa) dan modernitas, membuat artifak karya-karyanya menjadi kaya dan khas. Perspektif dan visi seperti inilah yang layak untuk ditularkan dan dibenamkan dalam pikiran banyak seniman di berbagai kawasan—meski saya yakin di Indonesia juga tidak sedikit seniman yang berupaya seperti yang telah Anish Kapoor lakukan. ***

Turis Manca

Berapa jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia dalam 7 tahun terakhir?
Tahun 2010 = 7,00 juta
tahun 2011 = 7,65 juta
Tahun 2012 = 8,04 juta
Tahun 2013 = 8,80 juta
Tahun 2014 = 9,44 juta
Tahun 2015 = 10,41 juta
Tahun 2016 = 11,52 juta


Apa yang bisa dibaca? Selama masa pemerintahan SBY, kenaikan jumlah wisatawan asing tiap tahun di bawah 10%. Sementara sejak masa Jokowi naik di atas 10%. Jumlah dan persentasenya bisa kian melonjak kalau bandara-bandara baru berskala internasional sudah jadi dan melayani rute internasional.

Dunia seni (rupa) juga bisa ikut berperan atau mengambil peluang dari fakta ini. Misalnya dengan menghelat peristiwa seni di banyak kota di Indonesia yang berskala internasional. Ini lebih konkret dan kontributif daripada ribut soal agama yang dipolitisasi, misalnya. Mari bergerak! ***

Tuesday, February 07, 2017

Cium Kaki


Perupa Heri Dono dengan takzim mencium kaki kiri perupa Tisna Sanjaya. Tisna cukup kaget, lalu dengan segera menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. Adegan ini terjadi di Breeze Art Space, BSD, Tangerang, ketika Tisna melakukan performance art yang melibatkan Heri Dono. Tisna menyiapkan setengah toples air yang digunakannya untuk menyuci kaki kiri Heri Dono. Lalu, sebaliknya, setengah toples air yang lain dipakai oleh Heri Dono untuk menyuci kaki kiri Tisna.

Sejimpit air hasil cucian kaki itu dicipratkan ke atas kanvas. Lalu, tiga jenis serbuk disebarkan di atas kanvas yang basah oleh air basuhan kaki. Ada serbuk kunyit atau kunir, serbuk ketumbar, dan serbuk hasil bakaran buku. Hasilnya seperti tampak dalam foto. 

Performance art seperti telah dilakukan oleh Tisna beberapa kali dengan melibatkan banyak orang yang terpilih oleh seniman yang juga dosen FSR ITB ini. Orang penting yang diajaknya untuk performance art ini adalah ibunya sendiri. Ya, surga berada di telapak kaki ibu. Tisna seolah beranggapan bahwa ketika seseorang dengan tulus membersihkan kaki orang lain, maka seseorang itu telah mampu menyerap energi positif dari titik yang dianggap paling kotor dari orang lain tersebut. Ini seperti sebuah kedewasaan sikap seseorang untuk mampu menerima kelemahan orang lain. Wah, aksi seni yang "relijius" dan menarik.

Performance art ini berlangsung sore hari sekitar pukul 18.00-an setelah kedua seniman tersebut menjadi narasumber dalam diskusi seni "Seni, Penggalian Gagasan, dan Jejaring Kerja". Diskusi itu sendiri berlangsung seru, serius tapi santai dan berdurasi sekitar 2,5 jam. ***