Monday, March 30, 2009

Hero-is-me dalam Spirit Komik

(Naskah ini telah dimuat dalam katalog pameran Hero-Is-Me yang berlangsung di Mon Decor Gallery, 25 Maret s/d 14 April 2009. Image di atas karya Andi Wahono, Hero of the Day (Alone) yang juga dipamerakan dalam pameran tersebut)
Oleh Kuss Indarto

[1: Komik dan Substansi]

Ada dua hal penting yang coba dikemukakan dalam pameran ini, yakni (1) ihwal komik sebagai genre dalam seni rupa dan (2) cara pandang seniman (peserta pameran ini) dalam menilik kembali persoalan nilai-nilai heroisme. Tentu pokok-pokok soal ini, idealnya, merupakan dua hal yang perlu pemilahan tegas dalam pembahasannya agar lebih detail dan fokus. Namun, apa boleh buat, beberapa keterbahasan memungkinkan dua hal itu akan saya singgung sedikit dalam ulasan pendek ini. Pada soal komik, aspek tinjauan historis akan memberi warna pada tulisan ini untuk memberi sedikit pemahaman tentang keberadaan komik di Indonesia. Sementara pembahasan ihwal heroisme merupakan hal substansial yang menjadi tali ikat untuk menghubungkan karya-karya yang dipresentasikan oleh para seniman yang tengah memamerkan puluhan lukisan ini.

Dunia komik Indonesia sendiri, dalam beberapa tahun terakhir ini, masih memiliki problem mendasar yang menyebabkan tidak cukup berkembang. Ada tiga persoalan mendasar yang bisa saya tengarai. Pertama adanya problem daya akomodasi dan daya resepsi yang minim pada diri komikus lokal masa kini (entah yang berpola industrial atau pun underground) dengan disiplin ilmu lain semisal sastra, antropologi, ilmu sejarah, kriminologi, dan sebagainya, sehingga belum banyak komik yang menghasilkan cerita memikat dan berkarakter sangat kuat. Tidak sedikit komik yang masih bergelut dengan problem teknis, belum sampai ke soal substansial.

Kedua, problem proses kreatif yang masih mengedepankan pola kerja individual dan bukan kolektif atau komunal. Realitas ini, dalam perspektif industrial, mengakibatkan komik(us) Indonesia gagal masuk dalam jaringan mata rantai sistem produksi massa karena tidak mampu melakukan kontinuitas produksi dengan jangka waktu dan kualitas yang relatif baik dan terjaga.

Ketiga, problem lambatnya komikus Indonesia untuk melakukan percepatan atas pola dan sistem pengetahuan serta teknologi yang begitu cepat berkembang. Poin ini terlihat dengan jelas pada komikus tahun 1980-an. Sementara kecenderungan sekarang ini berkebalikan, yakni pada persoalan pengaplikasian teknologi yang relatif kurang menemukan efektivitasnya.

Tiga hal dasar tersebut kemudian berkembang dalam rimba persoalan yang penuh kompleksitas. Misalnya sistem produksi (karya komik) yang menunggal hanya pada diri komikus tanpa ada struktur kerja yang tersistematisasikan sehingga kurang memberi pengayaan pada hasil produksi – seperti tiadanya riset (lapangan, foto, pustaka) untuk penguat jalinan cerita komik.

[2: Miskinnya Pewacanaan Komik]

Perkara ini lambat-laun berimbas terhadap adanya missing link sejarah komik dengan generasi (komikus) sekarang. Missing link atawa putusnya sejarah itu terpetakan dengan jelas “kemacetan” perkembangan komik lokal pada akhir 1980-an hingga akhir 1990-an. Memang masih ada komik yang sesekali muncul, tetapi kehadirannya sangat tak memadai dan signifikan dibanding banjir besar komik Jepang pada dasawarsa 1990-an itu.

Akhir 1990-an hingga dewasa ini komik terasa mulai bergeliat ditandai dengan tumbuhnya beberapa komunitas komik underground di berbagai kota. Ia agak berhasil menjadi indikator kreatif tapi terlepas dari sejarah yang dulu pernah “melahirkannya”. Perkembangan dan dinamika komik Indonesia seperti berlari di “gang buntu”.

Masalah pun berlapis-lapis. Ada missing link lain yakni kurangnya media (cetak) berbasis komik atau pun yang mengakomodasi komik-kartun lokal. Memang pada tahun 2001 dan 2002 pernah terbit tabloid Komikku dan Komik SAP. Juga ada majalah KumKom (Kumpulan Komik, terbitan Gramedia 1994), majalah HuMor (1990) yang bermetamorfosis dua kali pada tahun 1980-an setelah berganti nama dari majalah Stop, majalah Eppo (juga tahun 1980-an) dan yang tertua majalah Pop-Comics. Pun sempat populer Lembergar atawa Lembaran Bergambar suplemen dalam harian Pos Kota sejak pertengahan 1970-an hingga awal 1990-an yang tak dapat dilupakan kontribusinya dalam sejarah komik lokal dengan menghadirkan tokoh Doyok kreasi Keliek Siswoyo, Budi (Otoy) serta tokoh lain yang tak kalah populer seperti Kubil, komik karya Martono, Dhika Kamesywara, dan lainnya. Sayangnya suplemen ini “terguling” oleh krisis moneter 1998.

Sampai kini komik strip cenderung kurang berkembang. Kalaupun ada hanya dimiliki grup besar saja seperti Kompas, atau media yang memang peduli seperti Suara Merdeka di Semarang, Bali Post di Denpasar, koran Sindo, Jawa Pos, dan lainnya. Sesungguhnya jika penerbit sedikit memberi kesempatan, dapat membantu perkembangan komik lokal.

Uniknya, perkembangan kartun dan karikatur – genre yang dekat dengan komik – cenderung lebih baik ketimbang komik. Perkumpulan kartunis di Indonesia – entah masih solid atau sekadar “papan nama” – bahkan menjadi sindikat tersendiri seperti Kelompok Kartunis Kaliwungu yang disebut “Kokkang”. Sindikat yang bergerak sejak awal 1980-an ketika media cetak memberi perhatian cukup besar pada kartun ini memiliki akses cukup kuat sehingga karya-karyanya mendominasi banyak media massa. Para anggota Kokkang pun ada juga yang menjadi komikus. Kokkang sendiri pun diam-diam menjelajah mancanegara. Beberapa karyanya ada yang dimuat di Yomiuri Shimbun Jepang selain aktif mengikuti festival kartun seperti Nasreddin Hodja Contest (Turki), The Magna Cartoon Exhibition Hokaido Japan, dan lain-lain. Selain Kokkang, ada Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), Terkatung (Terminal Kartunis Ungaran), Pakarso (paguyuban Kartunis Solo), Kelakar (Keluarga Kartunis Purwokerto), SECAC (Semarang Kartunis Club), dan lainnya. Sedang untuk level nasional ada Pakarti (Perkumpulan Kartunis Indonesia).

Buku telaah tentang komik atau kartun pun minim. Sampai kini yang baru terbit hanya beberapa judul, misalnya Komik Indonesia (Marcel Bonneff, 1998), Karikatur dan Politik (Augustin Sibarani, 2001), Menakar Panji Koming (Muhammad Nashir Setiawan, 2002), dan Kartun (I Dewa Putu Wijana, 2004). Selebihnya sekadar tinjauan singkat yang terselip sebagai pengantar buku komik dan kartun saja seperti Wimar Witoelar (pada buku Lagak Jakarta), Seno Gumira Ajidarma (Sebuah Tebusan Dosa karya Teguh Santosa), Goenawan Mohamad (Palestina karya Joe Sacco edisi Indonesia, Mizan 2003), Hikmat Darmawan (Dari Gatotkaca Hingga Batman, Orakel 2005) dan lain-lain. Ini indikator miskinnya perhatian dan pewacanaan komik kita.

[3: Relasi Mutualistik]

Hal menarik yang kerap tercecer dari perhatian adalah bahwa kehadiran karya komik banyak dihidupi oleh komunitas penggemar tersendiri. Komunitas dengan karakternya (yang dibentuk dengan latar kultural, sosial, pendidikan, dan lainnya) ini kemudian memberi pengaruh kepada sistem cara berpikir komikusnya. Ada relasi imbal-balik yang mutualistik di sini. Dengan demikian apresiasi terhadap karya komik diimbangi oleh penghargaan komikus terhadap “masukan” dari audiens.

Misalnya ketika memasuki dekade 70-an hingga 80-an dengan kehadiran komik-komik impor dan terjemahan Barat (Eropa dan Amerika) komik lokal melahirkan tokoh superhero adaptasi Barat ala Marvel (Gundala, Maza, dan Godam) walau di masa itu ada komik wayang R.A Kosasih. Kosasih sendiri bahkan pernah terpengaruh superhero dengan menciptakan superhero wanita Sri Asih. Disusul dekade 90-an hingga saat ini serbuan dari komik terjemahan asal Jepang membentuk pengaruh pula pada komikus. Mulai dari Kungfu Boy hingga Sinchan dan lainnya. Dalam konteks perbincangan kali ini kita tidak sedang berbincang secara sinis ihwal epigonisme karya seni.

Persoalan keterpengaruhan komik impor justru dapat disebut sebagai indikasi positif karena kemudian muncul kegairahan komikus mengeksplorasi karya barunya. Memang ada risiko terjadinya stereotiping karena komik yang terbit waktu itu rata-rata memiliki identifikasi serupa atau stereotip: tokoh-tokoh superhero (untuk komik tahun 70-an dan 80-an yang banyak terisnpirasi oleh komik Amerika Serikat) dan manga (pada komik 90-an sampai sekarang. Jelas terpengaruh oleh komik Jepang). Dari sini bisa diandaikan bahwa jika tak terjadi missing link, komikus masa kini dapat melakukan ”perlawanan” seperti Hasmi dan Wid N.S. yang membuat komik fiksi ilmiah-superhero ketika di masa itu sedang tren komik silat karya Ganes Th. Seperti kita tahu Hasmi dan Wid N.S. banyak melakukan resistensi atau perlawanan kreatif (bahkan) atas komik yang diadopsinya dengan mockery atau mengejek bahkan mimikri – istilah acap dipakai oleh kalangan poskolonialis bagi minoritas yang “melawan” dominasi budaya kaum mayoritas. Misalnya tokoh Godam yang heroik itu (sebagai tokoh yang diadopsi dari sosok Flash) dalam kesehariannya adalah sopir truk AKAP yang jauh dari pencitraan “suci” atas heroisme Godam tersebut.

Ruh “perlawanan” ala Hasmi dan Wid N.S., sayangnya, belum banyak ditangkap oleh banyak komikus Indonesia saat ini. Sehingga belum banyak karya komik kuat yang muncul dewasa ini. Namun, dalam ranah yang berbeda, muncul kemungkinan-kemungkinan yang lain dengan pencapaian yang menarik untuk dicermati. Misalnya Benny Rachmadi yang memunculkan seri Lagak Jakarta tahun 1998 dan seterusnya menjadi kreator komik-strip Mice di Kompas edisi Minggu. Demikian juga Ahmad ”Sukribo” Ismail. Karyanya mulai spesifik terlihat pada komik Ayam Majapahit. Sayang tidak didukung oleh jalur distribusi yang baik sehingga komik itu sepi dalam perbincangan yang lebih luas. Karya-karya lainnya sekarang yang banyak diserap oleh LSM atau instansi pemerintah, tapi dengan diseminasi terbatas pula.

Kemudian muncul komikus Beng Rahardian Selamat Pagi Urbaz! yang mencoba membawa gaya novel-grafis ala Will Eisner. (Will Eisner sendiri membuat sejarah baru perkomikan dunia dengan memunculkan karya graphic-novel tahun 1978, A Contract with God). Juga trio Ipot, Oyas, Iput (1001 Jagoan) yang karyanya berhasil melicinkan pengaruh referensi komik Amerika dan Jepang sehingga mampu melepaskan dominasi pengaruh anime dan manga sebagai mainstream pasar buku komik Indonesia. Secara acak, nama lain yang berhasil muncul menunjukkan jati diri tanpa pengaruh mainstream bisa disebut Wahyoe (Gibug), Donny Kurniawan (Alakazam) dan Alfi ”Sekte Komik”. Juga perupa Samuel Indratma dan Eko Nugroho di Yogyakarta yang memberangkatkan hasrat berkomik dengan tendensi sebagai karya seni rupa murni (seni visual). Karya-karya lukis atau instalasinya yang telah membawa mereka ke luar negeri ditimba secara langsung dari komik untuk kemudian diberdayakan dalam cara ungkap yang berbeda. Mereka adalah sebagian dari anak-anak muda yang menyuntuki dunia komik dengan tetap memperhatikan semangat jaman masyarakat yang melingkupinya.

Pada tahun-tahun terakhir ini kecenderungan memasukkan unsur komikal dalam karya seni rupa, khususnya seni lukis, kian menderas. Kita bisa menyimak karya-karya tersebut digubah oleh para seniman muda di beberapa kota, seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan kota lain.

[4: Bangunan Heroisme Kini]

Pameran kali ini, saya kira, juga memberi penekanan yang lebih khusus pada karya-karya yang bergenre komik. Setidaknya, beberapa di antara seniman yang terlibat dalam pameran ini sebelumnya juga pernah mencecap pengalaman mengeksplorasi karya komik.

Misalny Donny Kurniawan yang telah cukup banyak melahirkan buku-buku komik seperti Alakazam, juga komik-komik yang diproduksi dan diterbitkan di Amerika Serikat. Juga Andi Wahono yang sempat bekerja paruh waktu di perusahaan animasi. Demikian pula dengan Yudi Sulistyo yang hingga kini masih bergelut sebagai ilustrator dan komikus di sebuah perusahaan advertising ternama di Yogyakarta. Pandu Mahendra, menjadi salah satu perupa dalam kelompok ini yang telah cukup lama intens berjibaku dengan dunia kartun dan komik di mana dia juga masuk sebagai salah satu anggota PAKYO (paguyuban Kartunis Yogyakarta). Sedang Indieguerillas (sebuah identitas sekaligus trade mark bagi pasangan suami istri Miko Bawono a.k.a. Bung Otom dan Santi Ariestyowanti) yang selama ini bergerak banyak di dunia disain grafis telah memberi tengara penting bahwa dunia kreatifnya dalam disain bisa dengan mudah mengulang-alik ke ranah seni visual yang melepaskan diri dari problem karya bertendensi industrial. Dan terakhir, Aji Yudalaga, meski tidak sangat kuat mengarahkan karyanya sebagai bagian dari karya yang komikal, namun beberapa karyanya yang telah dikreasinya (seperti karya Tugas Akhirnya untuk kepentingan studi) sedikit banyak bisa ditengarai melibatkan spirit berkomik di dalamnya, meski tak begitu kental.

Ketika masuk dalam kerangka substansi tema yang disodorkan kepada mereka ihwal hero atau (ke)pahlawan(an), maka cara pandang masing-masing perupa ini menjadi kaya dan menarik. Titik menariknya adalah bahwa para perupa berusaha untuk mengembalikan problem kepahlawanan kepada dirinya sendiri. Memang, tidak semua perupa mengarah pada asumsi tersebut secara banal dan transparan secara visual. Namun kita bisa menyimak titik menarik itu pada karya-karya Donny Kurniawan dan Pandu Mahendra. Kedua seniman ini kiranya tidak tengah membangun egosentrisme yang berlebihan dengan mempahlawankan diri-sendiri, namun bagai berusaha menciptakan pertanyaan ihwal keberadaan dan nilai kepahlawanan itu sendiri. Apakah keluarga, anak, atau bahkan diri-sendiri tidak bisa diapresiasi lebih jauh dengan menjadikannya sebagai pahlawan, hero, karena mereka adalah bagian penting dari kebutuhan dan alternatif solusi atas problem kita (= saya) sendiri?

Cara pandang semacam ini tampaknya merupakan sebuah gejala umum yang telah merebak di berbagai belahan dunia. Tak berlebihan kiranya kalau konteks pembicaraan atas menguatnya gejala personalisasi ini dikaitkan dengan pergeseran sistem sosial budaya yang dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi. Ini berimplikasi pada mengendurnya identitas-identitas yang khas pada suatu kelompok hingga pada cairnya identifikasi atas sebutan hero. Hero tidak lagi menjadi sebutan yang mitologis, berada di ujung imajinasi yang mengawang-awang, namun bisa dibumikan sebagai bagian dari diri kita sendiri. Hero bukanlah sosok yang jauh dari diri kita.

Bertalian dengan persoalan ini, kita bolehlah terkejut dengan majalah berita terkemuka Amerika Serikat, Time, yang pada bulan Desember 2006 lalu mengeluarkan edisi akhir tahun dengan memproklamirkan sosok “aneh” Person of the Year. Time tidak menyebut nama-nama tokoh tertentu sebagai Person of the Year (tahun-tahun sebelumnya bertajuk Man of the Year) seperti sebelumnya, namun menunjuk “You” atau “Anda”, “Kamu”, sebagai Person of the Year! Ya, mulai tahun 2006, dunia (setidaknya menurut pengamatan Time) telah mencium gelagat tiap-tiap orang di dunia ini mampu menaikkan peran dirinya dalam lingkungan, atau menjadikan diri (sendiri) sebagai kerangka dasar untuk membincangkan dunia.

Dengan demikian teori sejarah tentang The Great Man, bahwa “sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar dan ternama” seperti yang dikemukakan oleh filosof Skotlandia, Thomas Carlyle, telah mulai meredup dan tak lagi menemukan jalinan kesesuaiannya. Teknologi informasi dan perkembangan yang pesat pada dunia maya telah menyingkirkan secara perlahan teori Thomas Carlyle tersebut. Sekarang, publik yang “biasa-biasa saja” bisa berperan banyak di ruang publik yang baru. Ada Wikipedia yang memungkinkan seseorang dengan kemampuan terbatas dapat mengemukakan “teori” dan “definisi” tertentu. Ada Youtube yang mampu menduniakan dengan lekas sesuatu yang sebelumnya privat, lokal, dan tersembunyi di laci dokumentasi keluarga. Ada MySpace, Friendster hingga Facebook yang menjelmakan seseorang (= Anda, You) menjadi tokoh dengan definisi “baru” di luar pemahaman teori the Great Man-nya Carlyle. Maka, kinilah saatnya “You” atau “Anda” membangun pemahaman “dunia jenis baru” yang tidak harus dikonstruksi oleh para politisi atau para orang besar, namun bisa oleh sesama warga, orang per orang yang “biasa-biasa saja”. Dan dari sini, heroisme atau kepahlawanan pun bisa dibangun oleh, dengan dan untuk diri sendiri.

Sebagian karya dalam pameran ini, kiranya, juga tengah bergulat untuk melakukan pendakuan atas diri mereka sendiri sebagai sosok yang mungkin saja adalah sosok hero. Hero sangat mungkin ada di dalam diri kita, karena dia bukanlah sosok yang terbayang jauh di atas langit mitologis.

Kuss Indarto, kurator seni rupa.

Sunday, March 15, 2009

Pasar Widodo, Sebuah Petilan Catatan Personal


Oleh Kuss Indarto
(Catatan ini dimuat di katalog pameran tunggal seni rupa Widodo, Flea Market, 17-26 Maret 2009, di Taman Budaya Yogyakarta. Bus dalam foto di atas adalah salah satu materi pameran tersebut)

[1]: Posisi Kesenimanan Widodo

Dalam posisi apakah kesenimanan Widodo kini berada? Kalau bergegabah dengan pilihan dualisme yang menjebak, apakah Widodo menjadi seniman yang berhasil atau gagal?

Pertanyaan itu muncul, tentu, dengan sederet risiko. Pertama, publik (kemudian hanya) akan digiring untuk masuk dalam perangkap kategorisasi yang banal dalam melihat ukuran-ukuran keberhasilan seorang seniman, baik dalam proses kreatifnya, maupun kontribusinya (yang berelasi dengan praktik seni dan sosial) dalam lingkungan sekitar yang menghidupinya. Ini pola-pola mainstream yang baku dan biasa terjadi. Kedua, dualisme berhasil-gagal dan semacamnya, tampaknya, menjadi kurang penting ketimbang persoalan lain seperti: berbuat atau tidak, kemampuan untuk berbagi peran atau bersikukuh pada egosentrisme, dan lainnya.

Kita bisa berkaca dari nukilan sejarah yang sedikit banyak berbicara ihwal itu. Contoh klasik, tentu saja, adalah Vincent van Gogh yang dianggap sebagai seniman gagal pada jamannya karena spirit jaman di lingkungannya waktu itu tak berpihak padanya. Karyanya nyaris tidak banyak diapresiasi. Hanya satu kanvas karyanya yang direspons pasar, itupun dibeli secara diam-diam oleh saudara kandungnya, Theo. Atau dalam gradasi yang berbeda, publik seni Indonesia mengenal seniman Nashar yang mengetengahkan Konsep Tiga Non dalam praktik kreatifnya. Karyanya oleh sementara pihak dianggap tak cukup penting bagi perkembangan seni rupa, terlebih jika dikaitkan oleh parameter lain yang naïf dan menyesatkan, yakni diukur dari respons pasar. Tentu Anda, siding pembaca, masih memiliki stok kisah dan contoh yang lebih kontekstual untuk kasus semacam ini.

Saya tidak mencoba menempatkan garis kesejajaran yang utuh antara para “pendekar” di atas dengan Widodo. Masih sangat jauh dan kontras. Saya berusaha obyektif untuk mengatakan bahwa Widodo bukanlah (atau belumlah menjadi) seniman yang penting di medan sosial seni rupa Yogyakarta, apalagi di Indonesia. Belum banyak pencapaian penting yang telah ditorehkannya ketimbang rekan seangkatannya di ISI Yogyakarta angkatan 1984, seperti Bambang “Benk Mobil” Pramudyanto, Gusti Alit, Ichlas Taufik, dan lainnya yang telah cukup berkibar. Namun justru di titik inilah yang perlu untuk dibahas.

Proses menjadi seniman tidak harus selalu diukur pencapaiannya secara tunggal dalam kerangka ekonomis dan eksistensial. Dia tak harus bermuara pada kemapanan yang begitu melimpah-ruah pada segi ekonomis, juga pada pencatatan (sebagai pembuktian eksistensi) yang bertabur di banyak indeks buku atau entry dalam mesin pencari di situs-situs penting.

Lalu apa yang dicari dan bagaimana mengukurnya? Saya kira, kesetiaan untuk terus-menerus melakoni itulah salah satu titik penting yang perlu direkomendasi untuk diajukan sebagai sampel. Dalam banyak keterbatasan, Widodo tetap berusaha untuk melakukan praktik kreatif dalam kerangka mengaktualisasikan “baju seragam” kesenimanannya. Mungkin Widodo tak cukup peduli dengan ihwal pencapaian-pencapaian, dan itu bisa dikatakan sebagai kenaifan. Namun titik penting yang bisa ditelusuri dari laku kreatifnya adalah: Widodo begitu lepas dari ketertekanan yang menjerat posisinya sebagai seorang kreator. Pasar tak banyak mendikte dan menekan! Saya kira bukan sekadar karena kualitas out-put kreatifnya yang bermasalah, namun lebih pada aspek kebebalan Widodo terhadap hal yang berupaya meringkus kebebasannya. Seniman ini tak cukup peduli untuk kemudian habis-habisan berkompromi dengan pasar. Garis keyakinannya untuk bebal, saya kira, adalah juga garis kesenimanannya. Inilah point “kewaguan” Widodo yang tidak banyak ditemui di kerumunan seniman Yogyakarta kini.

[2]: Tentang Soto yang Jancuk dan Kanalisasi

Kesenian adalah jalan hidup Widodo. Dan, kehidupannya penuh jalan kesenian. Kita bisa melihat petilan fragmen kesenimanannya di rumah tinggalnya di pinggiran barat kota Yogyakarta (persisnya kampung Sonopakis), yang di bagian depan dijadikan sebagai warung soto ala Jawa Timur, “Jiancuk”.

Ya, jiancuk, ancok, jancuk atau dancok adalah sebuah kata khas Surabaya yang telah banyak tersebar hingga meluas ke daerah kulonan (Jawa Timur sebelah barat, Jawa Tengah, dan lain-lain). Jancok berasal dari kata 'encuk' yang memiliki padanan kata bersetubuh atau fuck dalam bahasa Inggris. Berasal dari frase 'di-encuk' menjadi 'diancok' lalu 'dancok' hingga akhirnya menjadi kata 'jancok'. Ada banyak varian kata jancok, semisal jancuk, dancuk, dancok, damput, dampot, diancuk, diamput, diampot, diancok, mbokne ancuk (= motherfucker), jangkrik, jambu, jancik, hancurit, hancik, hancuk, hancok, dan lain-lain. Kata jangkrik, jambu adalah salah satu contoh bentuk kata yang lebih halus dari kata jancok.

Makna asli kata tersebut sesuai dengan asal katanya yakni 'encuk' lebih mengarah ke kata kotor bila kita melihatnya secara umum. Normalnya, kata tersebut dipakai untuk menjadi kata umpatan pada saat emosi meledak, marah atau untuk membenci dan mengumpat seseorang.

Namun, sejalan dengan perkembangan pemakaian kata tersebut, makna kata jancok dan kawan-kawannya meluas hingga menjadi kata simbol keakraban dan persahabatan khas (sebagian) arek-arek Suroboyo. Kata-kata ini bila digunakan dalam situasi penuh keakraban, akan menjadi pengganti kata panggil atau kata ganti orang. Misalnya, "Yak opo kabarmu, cuk", "Jancok sik urip ae koen, cuk?". Serta orang yang diajak bicara tersebut seharusnya tidak marah, karena percakapan tersebut diselingi dengan canda tawa penuh keakraban dan berjabat tangan dong.

Kata jancok juga bisa menjadi kata penegasan keheranan atau komentar terhadap satu hal. Misalnya "Jancok! Ayune arek wedok iku, cuk!", "Jancuk ayune, rek!", "Jancuk eleke, rek", dan lainnya. Kalimat tersebut cocok dipakai bila melihat sesosok perawan cantik yang tiba-tiba melintas di hadapan.

Akhiran 'cok' atau 'cuk' bisa menjadi kata seru dan kata sambung bila penuturnya kerap menggunakan kata jancok dalam kehidupan sehari-hari. "Wis mangan tah cuk. Iyo cuk, aku kaet wingi lak durung mangan yo cuk. Luwe cuk." Atau "Jancuk, maine Arsenal mambengi uelek cuk. Pemaine kartu merah siji cuk."

Ya, akhirnya publik bisa sedikit tahu Widodo, mulai dari nama warungnya yang merupakan kata umpatan Jawa Timuran yang menjadi penanda penting baginya untuk menyodorkan pola komunikasi yang karib terhadap pengunjung dan pelangan di sana. “Jiancuk” menjadi lontaran kata penuh keakraban, bukan sebuah hardikan. Orang yang datang tidak disuguhi dengan nama atau penanda yang eksotik seperti halnya kebanyakan warung lain, semisal “warung Padang” yang menyajikan makanan khas etnis Minangkabau.

Saya kira ini juga menjadi representasi kecil atas perilaku “seenaknya”, atau “slengekan”, yang khas dari sosok Widodo. Rekan-rekan dekatnya, sebagai misal, bisa paham betul betapa problem “pendidikan” seksual bagi anaknya dilakukan secara inheren dalam laku sehari-hari, dan tanpa banyak sekat eufemisme berlebihan khas “keluarga Jawa” yang konservatif. Widodo bisa menyebut nama alat kelamin sekenanya di depan anak-anaknya sejak kecil dengan siasat komunikasi yang karib dan penuh humor, hingga (menurut Widodo) sang anak bisa memahaminya dengan alamiah. Tanpa banyak gejolak dan berimplikasi negatif yang meresahkan Widodo sebagai sang bapak. Artinya, dengan standar dan sistem sosial Kejawaan yang masih melingkupi lingkungan rumah keluarga Widodo, hasil tempaan dan didikannya (ihwal masalah seksual ala Widodo terhadap anak-anak), belum menuai masalah yang membuat sengkarut keluarga dan lingkungannya.

Maka, kalau publik menyimak karya-karyanya yang banyak menampilkan aspek erotisme tubuh atau visualitas seksual yang cukup transparan pada banyak karyanya, saya kira, itulah bagian yang inheren dan “organik” antara antara hidup keseharian dan laku kreatif yang saling melekat dan menunjang satu sama lain dari seniman Widodo. Dia tidak sedang bergenit-genit di atas kanvasnya dengan membincangkan sesuatu yang berupa angan-angan dan berada jauh dari kesehariannya.

[3]: Tentang Pasar

Pameran tunggalnya yang ke 13 ini, problem pasar diangkat Widodo sebagai bagian penting dari kesadarannya untuk membincangkan berbagai persoalan di dalam dan di luar dirinya. Di dalam dirinya sebagai seniman, pasar adalah bagian yang tak terkesampingkan ketika memandang karya seni sebagai barang produksi. Output kreatif adalah juga seonggok barang konsumsi yang acap dihadirkan ke tengah pasar dengan berbagai ragam responnya yang dinamis. Pasar sendiri, dalam pemahaman yang sangat elementer merupakan tempat di mana calon penjual dan pembeli berkumpul dan untuk melakukan tawar-menawar barang dan jasa. Ini kalau dilihat dari segi fisiknya, yang tentu sudah begitu kedaluwarsa kalau dikontekstualusasikan dengan situasi aktual dewasa ini. Dinamika pasar itulah yang membuat perbincangan atas pasar mampu melampaui perbincangan yang hanya bergerak pada aspek fisikal semata.

Booming seni rupa yang hingga akhir tahun lalu mengarus di berbagai kawasan di dunia, termasuk di Indonesia, memberi gambaran yang jelas tentang peran aspek ekonomi yang begitu kental. Karya seni tidak lagi dipandang dalam kerangka yang suci dan berjarak, namun justru menjadi bagian dari mata rantai praktik konsumsi yang telah menggejala di dunia sekian lama. Di tengah kelimun problem tersebut, kompleksitas acap terjadi karena masuknya peran-peran kepentingan seperti aspek politik, pertarungan simbol, kompetisi antar-nilai, dan sebagainya.

Pada kesadaran inilah pameran ini dihadirkan oleh Widodo. Dia dengan sengaja memberi representasi sekaligus memindahkan praktik konsumsi yang biasa terjadi lingkungan yang secara umum disebut sebagai pasar. Dinamika atas representasi pasar juga cukup lengkap dipindahkan dalam ruang pajang karya Widodo ini.

Ada lukisan dengan segala coreng-moreng khas garis estetik Widodo, ada pula onggokan beberapa buah mobil milik seniman ini yang nongkrong sebagai “barang dagangan” sekaligus sebagai presentasi karya estetiknya. Ada pula barang dagangan yang biasa nongkrong di pasar klithikan (berisi barang-barang bekas). Pasar klithikan yang bertumbuh dengan cepat dan meluas di Yogyakarta, seperti kita tahu, berbarengan dengan maraknya praktik konsumsi dan hedonisme yang kian meningkat di satu sisi, serta di sisi lain, menjadi salah satu indikator kecil atas merangkaknya angka pengangguran pada sebagian kelompok masyarakat. Untuk dugaan yang terakhir itu, tertunjukkan pada melimpahnya barang-barang privat pada kelompok masyarakat itu yang dilemparkan ke pasar klithikan untuk ditukar dengan rupiah demi menyambung hidup.

Ada pula, dalam eksposisi Widodo ini, deretan poster dan baliho kecil milik para caleg (calon legislatif) Pemilu 2009 yang meramaikan makna pasar dalam ruang sosial yang lebih luas. Ruang public yang akhir-akhir ini dengan kentara dijadikan medan pertarungan antar-simbol, produk konsumsi hingga parpol dan caleg, dipindahkan ke ruang pamernya sebagai bagian dari dinamika pasar. Inilah jagad pasar yang berbaur antara pihak yang yang santun dan berangasan untuk berkompetisi satu sama lain. Dan Widodo seperti dengan “semena-mena” seolah sedang “menjual” semua yang disimak serta dimilikinya dalam pameran ini. Dia dengan sadar tengah memasarkan sebuah pasar dengan cara yang “tidak pasaran”. Selamat “berbelanja” di Pasar Widodo!

Kuss Indarto, kurator seni rupa. Dapat disapa di kuss.indarto@gmail.com