Thursday, October 07, 2010

Wathathitha dan Keberanian untuk Memilih


Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran "Wathathitha" yang berlangsung di Museum Barli, Bandung, 8-22 Oktober 2010)
[satu]: Wathathitha dan Nilai Homo Ludens
SESUNGGUHNYA, ini bukanlah sebuah catatan kuratorial. Apalagi catatan yang hendak berhasrat besar untuk membedah secara serius pada berbagai aspek kekaryaan pameran ini, plus catatan kaki yang merimbun di sekujur tubuh teks. Tidak! Ini sekadar tulisan pendek—dan ngalor-ngidul ke mana-mana—yang ingin mengiringi dan sedikit melongok hiruk-pikuk gairah kreatif yang cukup menyala dari sebuah keluarga, dengan subyek utama karya: sang bapak.

Ya, pameran ini bagai sebuah ode (lagu kepahlawanan) yang dihunjukkan kepada almarhum ayahanda dari anak-anaknya. Kelima anak itu: Lugiono, Untung Wahono, Soeyoedie, Klowor Waldiono, dan Didiek “Nano” Rahnyono hendak memberi “momentum ingatan” terhadap mereka sendiri atas sosok sang bapak, Gatot Tjokrowihardjo atau yang karib disapa sebagai Gatot Lelono, yang telah berpulang sekitar 9 tahun lalu.

Figur bapak, bagi kelima pelukis ini, memang tak lepas dari ingatan mereka akan “idola kampung” yang kerap hadir dalam pertunjukan akrobat individunya yang digelar dari kampung ke kampung. Dengan mengandalkan kondisi fisiknya yang kekar, dan pengalamannya ikut dalam sebuah grup akrobat yang banyak berkeliling seputar kota Surabaya, almarhum Gatot Lelono—seperti dikisahkan secara singkat oleh salah satu anaknya, Klowor Waldiyono—pada kurun akhir 1970-an hingga 1980-an “bersolo karier” di dunia akrobat di seputar Yogyakarta. Tak hanya sebagai pemain, Gatot bahkan memposisikan diri sebagai organizer yang mengelola pertunjukannya dari hulu hingga hilir. Misalnya ketika menjelang liburan sekolah, Gatot Lelono meminta ijin kepada beberapa kepala Dinas P dan K (Pendidikan dan Kebudayaan, sekarang Diknas) pada wilayah kecamatan untuk berpentas di hadapan murid-murid sekolah yang usai menjalani masa-masa ujian catur wulan menjelang liburan. Pada kurun itulah masa-masa yang padat bagi jadwal pentas Gatot untuk berakrobat. Semua dilakukannya demi mengamankan asap dapur, demi tujuh anak dan satu istri yang ada di belakang tanggung jawabnya.

Lugiono, Klowor, dan anak lainnya, bila waktu dan kemampuan mereka memadai, acap kali membantu akrobat sang bapak. Mereka tak segan membantu mengangkat barang atau perangkat dan semua aksesoris yang mesti dikenakan noleh Gatot saat berpentas. Tak ada rasa malu, enggan, atau rendah diri. Namun justru kebanggaan dan loyalitas terhadap bapaknya yang lebih kuat ada dalam perasaan mereka. Anak-anak itu sadar, dari situlah daya hidup dinyalakan dan harapan-harapan dihidupi. Dan kemudian masing-masing terus menggenggam harapan untuk meraih banyak kemungkinan ke depan.

Dan, “Wathathitaaaaaaaaa…!” Itu teriakan lantang yang seolah menjadi ikon penting atas gairah dan harapan-harapan keluarga Gatot Lelono. Teriakan itu jadi sebuah penanda khusus yang nyaris selalu terlontar dari mulut Gatot Lelono saat memuncaki sebuah adegan akrobat yang memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan tertentu. “Wathathita!” seperti menandai lepasnya sebuah beban, memberi garis batas antara pekerjaan yang berat dan permainan yang mesti dinikmati, sebagai homo ludens yang tak lepas dari permainan hidup. Teriakan ini, bagi anak-anak Gatot, telah khas melekat dalam citra diri sang ayah tatkala bekerja (bisa jadi juga bertaruh nyawa) di depan massa.

Meski khas, namun teriakan ini relatif anonim: tidak jelas siapa yang mengawali atau “penemunya”, dan tak jelas pula arti leksikalnya. Bahkan mungkin tak ada. Teriakan itu seperti telah menjadi milik bersama bagi publik yang menetap di kawasan Yogyakarta pada kurun akhir 1970-an dan awal 1980-an. Wathathitha terlontar seperti halnya kata lain yang juga menetap di lidah para warga Yogyakarta: “horotoyoh”, “mak plekenyik”, “klonthang”, dan lainnya. Namun juga sedikit bisa disepadankan dengan kata “hwarakadhah” yang telah menjadi trade mark Panji Koming, tokoh komik strip rekaan Dwi Koendoro yang menetap di harian Kompas edisi Minggu. Atau semacam kata “onde mande” yang acap kali terucap bagi orang Minangkabau dalam mengekspresikan perasaan tertentu. Atau mirip kata lain yang ada di hampir tiap kota di manapun. Tapi ini jelas bukan kata pisuhan atau makian semacam “diancuk” yang telah cukup melekat bagi orang Jawa Timur. Karena telah menjadi milik kolektif inilah pemusik Djaduk Ferianto (muda), awal dasawarsa 1980-an lalu menjumput kata itu untuk mempopulerkan grup musik baru bentukannya bersama teman-teman. Ya, grup musik Wathathita, yang lahir setelah grup Rheze yang juga dibentuk Djaduk, seperti “memanfaatkan” popularitas dan “keajaiban” kata itu. Seperti merayakan keagungan orang Yogyakarta yang begitu karib menggayuti nilai “ketidakseriusan yang amat serius”, yang menjalani hidup dengan “serius lewat modus yang tak mesti serius”.

[dua]: “Nggolek Jeneng kaliyan Jenang”
Ya, spirit Wathathita, bagi Lugiono, Untung Wahono, Soeyoedie, Klowor Waldiono, dan Didiek “Nano” Rahnyono telah memberi tanda atas daya hidup untuk terus menanamkan pengharapan, dan menjadikannya sebagai gaya hidup untuk tidak gampang menyerah pada keadaan. Mereka berlima—dengan segala pencapaiannya—telah bersetia dengan pilihan hidupnya untuk berkesenian. Dua anak Gatot Lelono yang lain, yakni Mamiek Sugito dan Waldiyah, tak ikut dalam pameran ini.

Pilihan hidup yang telah dibangun oleh mereka berlima dalam dunia seni rupa pun bukannya mudah seperti “sekadar” berteriak “wathathitha”. Kalau publik mencoba meneropong secara obyektif dalam peta seni rupa di Indonesia, memang, mereka berlima ini bukanlah nama-nama yang telah sangat cemerlang dalam dunianya. Mereka belumlah disebut sebagai perupa yang dianggap penting dan (apalagi) mengisi ruang-ruang selebritas dalam jagad seni rupa. Dan tentu bukan itu satu-satunya soal penting. Karena, saya kira, ada poin loyalitas terhadap profesi yang tak bisa dibenamkan begitu saja untuk memberi nilai atas mereka.

Lugiono, sebagai anak kedua, dan yang tertua dalam kelompok ini, merupakan titik penting bagi pilihan-pilihan hidup yang kemudian hinggap dalam batok pikiran empat adik-adiknya yang lain. Lugi sama sekali tak berminat meneruskan kecenderungan profesi yang telah dilakoni sang bapak, namun mencoba menemu dunia seni rupa sebagai alternatif untuk memperbaiki nasib hidupnya ke depan. Lugi memilih sekolah di SSRI Yogyakarta (Sekolah Seni Rupa Indonesia, yang berganti nama menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa, dan sekarang masuk sebagai Sekolah Menengah Kejuruan). Kemudian berlanjut studi di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta, meski tak tamat. Dia telah “keburu” lari ke Jakarta, persisnya di Pasar Seni Ancol, untuk membiayai studinya sendiri dan adik-adiknya. Namun Lugi terlanjur “betah”, dan tidak kembali untuk menamatkan studinya.

Lugi berposisi seperti jangkar bagi adik-adiknya. Dia bertanggung jawab untuk, setidaknya, memikirkan kelangsungan studi adik-adiknya. Dan niat serta pilihannya di dunia seni rupa telah memberi atmosfir penting bagi keluarganya untuk menggeser “ideologi” keluarganya dalam memandang masa depan. Dan seni rupa kemudian telah menjadi “ideologi” keluarga anak-anak Gatot Lelono. Adik-adiknya, meski tak semua, memilih untuk studi di SSRI atau SMSR. Bahkan Klowor Waldiyono menempuh studi di Fakultas Seni Rupa (dan Disain), Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, setelah usai tamat di SMSR.

Meski belum sangat menonjol, namun nama Klowor Waldiyono telah masuk dalam ingatan sebagian publik seni rupa di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Publik akan selalu diingatkan oleh kekhasan karya garapannya yang selalu menjadikan kucing sebagai pokok soal dalam tiap kanvasnya. Apalagi keberaniannya untuk menetapkan pilihan kreatifnya dengan karya-karya yang selalu hitam-putih (tidak colourful), memuarakan namanya untuk mulai dikenal secara meluas.

Menonjolnya Klowor dalam keluarga, pada konteksnya di dunia seni rupa, sudah barang pasti tak lepas dari tempat di mana dia bernaung dan studi, yakni di ISI Yogyakarta. Ini menjadi ruang penting baginya untuk mengasah dan menguji kemampuannya dalam merunuti jalan di dunia kreatif. Kebetulan juga, Klowor masuk di ISI Yogyakarta pada tahun 1989 yang mempertemukannya dengan teman-teman satu angkatan yang relatif cukup menonjol pada waktunya, seperti Erica Hestu, Katirin, S.P. Hidayat, Masriel, Nurkholis, Tarman, Eri Sidharma, Achmad Chotib Fauzie, dan lainnya. Mencoba menempa diri sebagai seniman hingga level perguruan tinggi memang akan memberi nilai tambah, mental, dan rasa percaya diri yang berbeda (bahkan lebih) ketimbang ketika Klowor studi di tingkat sekolah menengah. Lingkungan pergaulan akademis, sekecil apapun pengaruhnya, tetap akan berimbas pada kemungkinan yang positif bagi para pelakunya, seperti jejaring kerja, akses pergaulan, di samping tentu saja pengayaan sistem pengetahuan yang membuat Klowor bisa mungkin berubah lebih progresif.

Sementara saudara-saudaranya yang lain: Untung Wahono, Soeyoedie, dan Didiek “Nano” Rahnyono, dengan pilihan latar belakang pendidikan masing-masing, tak lepas dari risiko dan pencapaian yang berbeda. Dalam khasanah kultur Jawa mengenal istilah yang berbau filosofis dalam pencapaian atas pilihan karier seseorang, yakni “nggolek jeneng kaliyan jenang” (mencari reputasi dan harta). Ada pilihan bagi seseorang yang memungkinkan untuk mendapatkan jeneng (reputasi, citra, popularitas) terlebih dahulu dengan mengabaikan jenang (harta kekayaan). Ada pula yang sebaliknya. Dan nilai paling ideal tentu saja adalah meniti karier hingga mendapatkan jeneng dan jenang sekaligus secara bersamaan. Klowor Waldiyono merasakan betul sejak menempuh studi di ISI Yogyakarta bahwa dia tengah memilih untuk mengejar jeneng (reputasi), sedang kebanyakan adik-adiknya memilih jenang. Tak ada yang salah baginya, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Saudara-saudaranya, bahkan adiknya yang terkecil, telah lebih dulu merasakan buah jenang yang manis sejak dini ketimbang Klowor. Namun itu, ternyata, tak memudahkannya untuk mendulang citra dan reputasi (jeneng) dengan segera.

[tiga]: Hidup Memang Soal Keberanian
Kanvas-kanvas kelima seniman kakak beradik ini, niscaya tak akan lepas dari ingatan kolektif mereka atas sosok sang bapak, Gatot Lelono, yang mempensiunkan diri sebagai pemain akrobat sekitar tahun 1985, sebelum berpulang sekitar tahun 2001. Tubuh yang perkasa, sehat hingga usia senja, dan tentu teriakan “wathathitha” yang masih membekas dalam kilasan ingatan, tak pelak, menjadi sumber gagasan utama karya-karya “kelompok” ini.

Saya tak hendak bergegabah untuk memberi penilaian atau apalagi justifikasi lebih lanjut atas karya-karya mereka pada pameran ini. Saya hanya ingin memberi penekanan atas etos hidup keluarga ini yang “berbelok arah” untuk memilih menjadi seniman dengan segala risiko dan kemungkinannya. Mereka bukanlah para pewaris nilai kesenimanan para tetua atau leluhurnya yang ingin dijaganya dengan meneruskan tradisi itu. Mereka bukanlah, sebagai amsal, seperti seniman Butet Kertaradjasa dan Djaduk Ferianto yang meneruskan tradisi dan darah kesenimanan ayahnya, Bagong Kussudiardjo, yang di garis keturunan sebelumnya masih mengalir darah seni dan ningrat yang mengemban titisan sebagai pihak yang dekat dengan seni. Bukan! Lugiono dan adik-adiknya hanya bertetangga (jauh) dengan seniman Harjadi (seniman yang acap mendapat proyek besar membuat relief dari Bung Karno) di kampung Blunyah, di kawasan Yogyakarta utara yang sebelumnya tak akrab dengan jagad seni rupa.

Maka, di sinilah nilai lebih mereka: mencoba untuk terus bertahan atas pilihannya untuk bersetia dengan dunia seni rupa. Mungkin mereka belum menjadi bintang, dan bahkan mungkin ada yang “tak akan sempat kebagian kebintangan” itu. Namun, berkesenian mesti terus dilakoninya. Dan ini jauh lebih penting untuk diapresiasi ketimbang mereka yang selalu takut memilih, dan lalu takut dengan pilihan-pilihan hidupnya.

“Wathathitha!” Hidup memang soal keberanian untuk memilih! ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa.