Tuesday, March 29, 2011

Seniman adalah Intelektual



Seniman adalah Intelektual
Oleh Kuss Indarto
DALAM konsep dan pemahaman yang konservatif, seorang seniman diidealkan bekerja dengan tiga hal mendasar, yakni 3-H: Head, Heart, Hand. Kepala, hati dan tangan. Dengan head atau kepala, diasumsikan secara jelas bahwa kerja kreatif seorang seniman selalu didahului oleh berbagai soal yang kemudian disarikan atau dimasukan dengan memberi peran otak atau rasionalitas. Letak otak ada dalam kepala. Dan rasionalitas bekerja sebagai mahkota untuk memikirkan secara konseptual tentang karya kreatif apa yang hendak dilahirkan.

Kedua, heart. Ini menyangkut rasa, yang berkait dengan problem sensibilitas, kemampuan untuk memiliki kepekaan dalam menangkap sinyal-sinyal kreatif. Dalam seni, beberapa teori justru memberi penekanan yang lebih atas dominasi kepekaan rasa untuk melahirkan sebuah karya kreatif. Di konteks ini, persoalan nilai-nilai juga mengemuka. Dan ketiga, hand, atau tangan. Ini menyangkut pada problem kemampuan teknis seorang seniman dalam memberi eksekusi konkret atas apa yang telah digelisahkan dan dirasakan oleh heart, dan hal yang telah dikonsepkan, dirumuskan, dipetakan atau dirasionalisasikan oleh head.
Ketiganya, head, heart, dan hand, merupakan trio yang integral, menyatu sama lain untuk menciptakan sebuah karya seni. Semuanya saling dukung dan saling sambung. Lalu, kenapa hal kuno dan konservatif ini perlu diungkapkan kembali?

Dewasa ini, dinamika dan perkembangan seni, termasuk seni rupa, teramat pesat. Akselerasinya, pada sebagian kalangan dan di tingkat praksis, begitu cepat (bahkan) melampaui hal yang teoritik. Dan satu hal penting yang mengemuka adalah bahwa sebuah karya seni rupa adalah sebuah problem gagasan, bukan secara sempit dilihat sebagai sebuah problem fisik karya. Artinya, apresian akan melihat sebuah lukisan, misalnya, bukan sekadar menyimak serangkaian tanda-tanda visual berupa titik, garis, bidang, warna, tekstur, komposisi, dan semacamnya. Namun juga bisa digali lebih lanjut bagaimana sejarah pikiran sang seniman dalam menjumput tanda tersebut.

Contoh klasik yang relatif kuno untuk konteks sejarah seni rupa Indonesia modern adalah karya lukisan “Penangkapan Diponegoro” yang dilukis oleh Raden Saleh. Sjarief Boestaman yang dibuat tahun 1857. Dalam lukisan tersebut, pelukis yang priyayi kelahiran Semarang 1812 (?) ini mengomposisikan dengan begitu bagus jejeran tokoh-tokoh Pangeran Diponegoro dan anak-anak buahnya, serta Jendral De Kock beserta para pasukannya yang bersenjata. Namun, lebih dari itu, ada gagasan tentang nasionalisme yang kuat dan dalam pada karya tersebut. Lukisan itu merupakan bentuk plesetan dari karya lukisan Nicolaas Pieneman sekaligus perlawanan visual yang dilakukan Raden Saleh. Apa yang dilukiskan oleh Pieneman, “digambar ulang” dan dimirip-miripkan oleh Raden Saleh dengan perspektif pandang dan cara berpikir yang berbeda khas Raden Saleh sebagai seorang Hindia Belanda. Maka, yang muncul, menjadi sebuah bentuk pemberontakan visual yang tidak kalah heroiknya dengan para pejuang yang turun ke lapangan dan bertarung secara fisik dengan para penjajah Belanda.

Dari contoh ini terlihat betul bahwa Raden Saleh sebagai seniman tidak sekadar mengekplorasi kemampuan teknisnya (dengan menggunakan hand), namun juga menggali kembali kepekaannya sebagai anak bangsa yang tengah dijajah dan dikebiri kebebasannya. Ini menyangkut sensibilitas yang bertaut dengan heart. Juga, tentu karya ini dipikirkan, dirumuaskan, dan dikonseptualisasikan dengan masak sebelum digarap dengan cermat di atas kanvas. Ini sudah berkaitan dengan head. Bahkan, dalam kajian sejarah yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Passau, Jerman, Prof. Werner Krauss, sebelum menciptakan karya masterpiece tersebut, Raden Saleh terlebih dahulu membuat beberapa rancangannya di atas kertas dengan ketelitian dan kerumitan yang sangat terukur. Ini membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh Raden Saleh sebagai seniman bukanlah kerja spontanitas yang seadanya tanpa banyak dipikirkan dan riset (kecil-kecilan) sebelumnya. Semuanya memakai 3-H. Maka, tak heran kalau kemudian karya tersebut ditanggapi begitu sinis namun penuh kekaguman oleh kerajaan Belanda pada waktu itu. Sinis karena secara esensial karya itu berseberangan pendapatnya dengan apa yang telah diwacanakan atau digembar-gemborkan oleh pemerintah dan kerajaan Belanda. Dan karya Pieneman adalah salah satu corongnya. Di samping itu, kekaguman pun muncul dari mereka karena ternyata di antara anak jajahan itu ada seniman yang mampu berpikir dan berkarya dengan brilliant. Inilah titik penting karya Raden Saleh. Dan ini juga titik penting karya yang dikreasi dengan mengedepankan rasionalitas, kepekaan akan nilai-nilai yang melingkunginya, dan kecanggihannya dalam mengekskusi karya secara kreatif. 3-H ada dalam karya tersebut.

Lalu, apa yang bisa dihubungkan dengan pameran Pratita Adikarya kali ini? Dengan melihat persemaian benih-benih kreatif yang tampak pada pameran ini, saya kira, wacana tentang 3-H tidak ada salahnya untuk dikedepankan kembali. Ini penting karena sebenarnya posisi seniman sekarang ini tidak bisa secara sempit dikelompokkan sebagai seorang tukang yang bekerja dengan tangan secara eksploitatif. Seniman bukan hanya bekerja dengan kemampuannya melukis yang halus, detil, dan cermat, namun diharapkan juga mampu berpikir matang tentang problem di luar seni rupa yang kemudian menjadi bahan baku gagasan yang diketengahkan dalam kanvas atau karya kreatif lain. Kita tentu ingat, seperti yang ditulis dalam novel heboh Da Vinci Code-nya Dan Brown. Di dalamnya sempat disebut bahwa pada jamannya, Leonardo Da Vinci bukanlah dikenal sebagai seorang seniman. Namun pergaulannya sangat luas. Bahkan, dia sempat menjadi ketua perkumpulan para intelektual yang ada di kota Roma, yang anggotanya pada intelektual, politisi, dokter, dan lainnya. Demikian pula kalau kita mengulik sejarah kita sendiri. S. Soedjojono merupakan salah satu teman diskusi Bung Karno pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan, khususnya yang berkait dengan soal kebudayaan dan seni.

Seniman adalah intelektual, yang bisa bekerja dengan metodologi berkarya yang khas dan kreatif. Kalau para peneliti melakukan riset pustaka, lapangan, dan sebagainya, tidak ada salahnya seniman juga melakukan hal serupa ketika akan berkarya dengan tema tertentu yang menuntut pendalaman atas tema. Tentu caranya berbeda dan khas seniman. Kalau hal ini ditekankan pada calon seniman, kelak, karya-karya yang akan muncul tidak sekadar berbicara tentang hal-hal yang berbau keindahan saja, namun juga hal-hal yang memuat nilai-nilai yang penting bagi dorongan moral dan kepekaan sosial masyarakat yang menyimak karya tersebut. Seniman tidak sekadar menjadi penonton bagi keadaan lingkungannya, namun berpotensi sebagai pemberi dan penjaga nilia-nilai di dalamnya. Apakah para calon seniman di sekolah ini, juga para pengajarnya telah banyak menyadari hal ini? Semoga. Selamat berpameran!

Kuss Indarto, kurator, dan editor in chief www.indonesiaartnews.or.id