Saturday, March 31, 2007

Mengakrabi Kematian


Oleh Kuss Indarto

(Tulisan ini telah dimuat di harian Suara Merdeka, Minggu 18 Maret 2007)

Di manakah pemahaman tentang kematian itu disandarkan? Pun bagaimana “menggauli” kematian? Dalam pemikiran orang Jawa, setidaknya yang terlacak dalam Serat Centhini II pupuh 64, bait 233-234, dengan bernas didaraskan ajaran Syeh Amongraga tentang hakikat dan keberadaan kematian itu:

Allah senet neng sajro ning pati
Rasul Muhammad senet jro ning gesang
Urip kang kahanan kie
Urip iki kawibuh
Pan kawengku ing dalem pati
Pati pan amisesa
Ing urip sawegung
Kabeh ginantungan rusak
Utama ning urip kang prasanak pati
Matia mumpung gesang
Sing sapa kang ngeling-eling pati
ingkang bisa mati jro ning gesang
tinetah supaya teteh
titah ing Hyang Mahagung
kudu eling ing dalem pati
petitis ing kasidan
uripe linuhung
sebab uripe prasanak pati
lawan pati urip tan kenaning pati
yeku dat ing Hyang Suksma

Allah tersembunyi dalam kematian Sang Rasul dan Muhammad tersebunyi dalam hidup Keberadaan di sini adalah hidup Tetapi hidup diresapi dan diliputi oleh kematian Kematian menguiasai seluruh kehidupan Segala sesuatu tunduk kepada kehancuran Hidup ini utama kalau bersahabat dengan kematian Usahakan supaya mati sambil masih hidup
Barangsiapa ingat akan kematian Barangsiapa dapat mati sambil masih hidup Barangsiapa menerima bimbingan agar menjadi jelas baginya Segala peraturan Yang Maha Agung Barangsiapa dengan jelas melihat kesempurnaan Hidup orang itulah luhur Karena hidupnya berkaitan dengan kematian Yang sekaligus tunduk kepada kematian Artinya hakikat Hyang Suksma

(Zoetmoelder, Manunggaling Kawula Gusti, 1991: 200-202)

Dua bait wewarah (ajaran) yang diformat dalam tembang Dandang Gula tersebut secara tegas menjelaskan bahwa problem kematian bukanlah persoalan yang terentang jauh dari kehidupan. Kematian dipahami sebagai bagian penting dan melekat dari kehidupan karena ia menjadi bagian yang integral, yang manunggal, dengan kehidupan itu sendiri. Falsafah tentang urip sajroning mati dan mati sajroning urip (hidup ada dalam mati, mati ada dalam hidup) menjadi alur penting bagi “peta kehidupan” (setidaknya bagi orang Jawa) bahwa kematian bukanlah sekadar peristiwa bio-organik semata yang kemudian memutus relasi sosial karena kebinasaan eksistensial, melainkan lebih sebagai transisi esensial menuju jagat keabadian. Maka kematian diakrabkan dengan kehidupan, dan bukan menjadi momok yang mesti ditakuti kehadirannya. Pun (diekspektasikan) tak mesti selalu “dirayakan” dengan genangan dan kenduri air mata.

Ingatan atas dekatnya garis ulang-alik antara kematian dan kehidupan inilah yang dikuak kembali dalam kesadaran keseharian. Bahkan dihasratkan dengan pendekatan keindahan. Ini sebuah tema kuratorial gagasan Romo Sindhunata S.J. yang sebenarnya menantang karena menawarkan spirit eksploratif. Lewat pameran seni rupa bertajuk A Beautiful Death yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, seniman mendedahkan kembali persepsi, imajinasi ataupun pembongkaran makna perihal kematian lewat kepekaan dan kreativitas visual.
Pameran yang telah berlangsung 13-22 Februari lalu tersebut akan dikelilingkan di tiga kota lain, yakni Orasis Gallery Surabaya pada 2-14 Maret, Darga Gallery Sanur, Denpasar (7-21 April), dan di Gedung Perpustakaan Umum dan Arsip Malang (28-5 Mei).

Ada sekitar 60 perupa Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, dan Bali terlibat dalam pameran ini. Hanya sayangnya penunjukan terhadap para perupa tersebut masih dibarengi dengan spirit “mata terpejam” tanpa melihat sejarah dan basis kreatif masing-masing seniman, sehingga dugaan adanya praktik koncoismepun – sesuatu yang kuno tapi selalu menggerahkan – tak terelakkan. Memang hanya beberapa gelintir kasus, tapi ketimpangan pada pencapaian karya kreatif mereka, tak pelak, nampak membelalak di depan publik. Juga hal yang cukup signifikan mengemuka adalah miskinnya keragaman medium dan material karya sehingga menyempitkan kemungkinan bagi seniman untuk mengakomodasi serakan gagasan dan imajinasi yang mengepung kepala mereka.

Tapi tentu saja pameran ini masih sangat layak untuk dibaca ulang sebagai sebuah celah kecil atas pemahaman seniman (= manusia) kini dalam memaknai kematian. Secara arbitrair, rentetan karya tersebut dapat saya kerangkakan setidaknya dalam empat “kotak”. Pertama, karya inversif, yang masih berkutat untuk menampilkan secara visual rangkaian ritus stereotip dan konvensional tentang kematian. Sebut misalnya karya Slamet Henkus, Poleng Rediasa, Agus Burhan, Zhirenk, Laksmi Shitaresmi, Agus Dwi DW, I Made Bakti Wiyasa, Joni Ramlan dan beberapa lainnya. Mereka pada umumnya mengartikulasikan makna kematian sebagai keberangkatan menuju ritus “tidur abadi”, atau ritus pemakaman yang selalu penuh ketakziman. Kedua, karya-karya yang ekstra-mortalitas, yakni karya yang berupaya untuk menjejakkan kaki persoalannya pada ihwal kematian sebagai “alat bantu” demi masuk pada perbincangan yang melampaui kematian itu sendiri. Ini terlihat cukup kuat pada karya Bunga Jeruk Permatasari, atau Dyan Anggraini, lewat karya The Last Memory, yang menarasikan secara sinical tentang manusia bertopeng yang membopong “kematian” sebuah korp, Korpri.

Ketiga, karya yang berkemungkinan melakukan subversi atas tema kematian sebagai sebuah cara untuk memberi makna lebih dalam tentang kematian. Ini nampak pada karya-karya simbolik yang cukup reflektif hingga karya bertendensi guyonan, untuk mempersuasi apresian dalam memproduksi nilai, pemahaman, dan makna baru tentang kematian. Pada karya dalam “kotak” ini muncul kreasi dari para seniman yang sudah begitu terbiasa ditantang untuk menerjemahkan tema kuratorial, dan didukung oleh gagasan dan cara pengartikulasiannya yang memadai. Ada Agus Suwage, Djoko Pekik, Susilo Budi Purwanto, Totok Buchori, dan sedikit lainnya. Kali ini, karya Djoko Pekik, yang biasanya menggali tema-tema sosial politik, nampak berupaya memberi pengkristalan yang substantif tentang keberadaan ruh manusia. Lewat karya Pamoring Suksma, perupa asal Grobogan, Jawa Tengah ini bagai ingin mengabarkan bahwa eksistensi ruh manusia tetap akan sumunar, cerlang, melampaui persoalan fisikalitas dan keduniawian.

Dan berikutnya, keempat, karya-karya “fleksibel”, yakni karya yang bisa (di)lentur(-lenturkan) untuk masuk dalam banyak pameran dengan beragam tema kuratorial apapun, namun berpotensi menjadi “flek” (fleck) yang mengganggu ritme estetik secara keseluruhan ketika dijajarkan dengan karya lainnya. Ini cukup nampak pada karya Ridi Winarno, Edi Arinto, Tarman, Supar Pakis, A. Rokhim, ataupun FX Ary Sujatmiko. Ini, saya kira, berkait dengan problem habitus, manajemen, kecerdasan, dan strategi seniman bersangkutan yang masih minimal dalam menyelaraskan dengan perkembangan jaman.

Dengan demikian, kalau menyimak bentangan karya rupa ini, terutama yang saya pilah dalam “kotak” kedua atau ketiga, apresian akan memperoleh kemungkinan-kemungkinan yang mengayakan tentang gambaran kematian. Dia, kematian itu, adalah sahabat yang senantiasa mengikuti (= mengintai) kemanapun sang manusia pergi dan berada. Tapi memang, akhirnya, nilai falsafi tentang kematian yang menyejukkan akan selalu bertumbuk dengan realitas kedatangan kematian yang acap didisain penuh kesantunan dan eksotisme. Dia bisa saja hadir di puncak orgasme yang menyurga dengan sekaligus merontokkan jantung. Dia bisa mengetuk pintu sukma lewat bumi horeg 5,9 Skala Richter. Pun dia mampu menyapa ketika timah putih panas bersarang di bilik jantung. Dor!

Betapa indahnya kematian. (Eit, tapi hidup itu juga permai, ya!)

No comments: