Thursday, September 11, 2008

Filsafat Soto dalam Kanvas




"Gunjingan" tentang (ke)seniman(an) Widodo yang pameran tunggal di Studio 83, di Kim Yam Road, Singapura, 3-17 Oktober 2008

Oleh Kuss Indarto

Sosok seniman Widodo, sesungguhnya, melakukan ritus berkesenian tidak sekadar di atas kanvas seperti yang terpapar pada pameran tunggalnya kali ini. Namun juga dalam kehidupan sehari-harinya. Di hadapan sang istri yang dinikahinya belasan tahun lalu, di depan anak-anaknya yang kini beranjak dewasa, dalam pandangan beberapa karyawatinya yang bekerja di warung soto Jawa Timuran-nya, juga dalam perspektif teman-teman sesama seniman, Widodo tak jarang membopong atmosfer kesenimanan dan bentuk kesenian yang lebih luas.

Tak berlebihan andai dikatakan bahwa kesenian adalah jalan hidupnya. Dan kehidupannya penuh jalan kesenian. Kita bisa melihat petilan fragmen kesenimanannya di rumah tinggalnya di pinggiran barat kota Yogyakarta, yang di bagian depan dijadikan sebagai warung soto “Jiancuk”. Ya, mulai dari nama warungnyapun merupakan kata umpatan khas Jawa Timuran yang—saya kira—menjadi penanda penting baginya untuk menyodorkan pola komunikasi yang karib terhadap pengunjung di sana. “Jiancuk” menjadi lontaran kata penuh keakraban, bukan sebuah hardikan. Orang yang datang tidak disuguhi dengan nama atau penanda yang eksotik seperti halnya kebanyakan “warung padang” yang menyajikan makanan khas Minangkabau.

Kita juga tak habis pikir dengan keputusannya untuk membeli sebuah minibus bekas pakai yang sekarang nongkrong di depan rumahnya. Dia tak berkehendak untuk banting stir dengan menjadi supir angkutan tentu saja. Juga tak berhasrat menambah pundi-pundi hariannya dengan menyewakan minibus tersebut kepada supir penyewa. Kendaraan tersebut jelas tidak mungkin diperuntukkan sebagai kendaraan keluarga karena di samping sudah memiliki kendaran keluarga yang cukup ideal, minibus tersebut tak layak kondisi dan ukurannya. Harus dibenahi pada banyak bagian karena memang bekas pakai, dan ukurannya terlalu besar untuk keluarga kecil yang dimilikinya.

Dia mengambil keputusan membeli minibus itu untuk menjadikannya sebagai kendaraan sekaligus ruang atau studio melukis di luar rumah. Ya, menjadi “bohemian” kecil-kecilan nampaknya menjadi obsesinya. Widodo sudah menggunakan minibus itu secara atraktif, yakni ketika dia melakukan demonstrasi melukis (di atas minibus) di tengah-tengah acara diskusi seni pada Sabtu malam, 9 Agustus 2008 lalu. Penampilannya begitu mencuri perhatian di tengah keriuhan orang memperhatikan diskusi yang kala itu dokter Oei Hong Djien menjadi salah satu narasumbernya. Saya kira, ini sebuah aksi kesenian yang menarik ditinjau dari prosesnya, yang tak menutup kemungkinan diagendakan dengan lebih serius dan dikerangkai lebih lanjut sebagai sebuah art project yang lebih serius dan terarah program dan targetnya. Bukan berhenti sekadar sebagai have fun.

Entahlah, apakah usulan sebuah art project ini bisa diterima karena pada dasarnya sosok Widodo ini memiliki tabiat dan perilaku berkesenian yang cukup eksentrik, dan tak cukup betah berlama-lama dengan cara berkesenian yang memapankan identifikasi atas dirinya. Makanya, sulit diduga untuk mengurutkan praktek keseniannya ini dalam tata urutan yang sistematis seperti yang kita harapkan. Coba simak sebutan yang sempat melekat dengan dirinya sekitar lebih dari sepuluh tahun lalu, yakni sebagai “pelukis buta”. Yakni melakukan praktik melukis di atas kanvas dengan mata tertutup kain. Sepertinya dia ingin serius membuat satir bahwa karya lukis adalah “jiwa yang ketok” (ketok = nampak) seperti yang didogmakan oleh tokoh pelukis modern Indonesia, S. Soedjojono. Makanya, Widodo mencoba memperlihatkan “jiwa yang ketok” itu dengan melukis lewat caranya sendiri. Karena bukanlah hasil karya yang menjadi titik pusat dari ritus berkesenian, namun proses berkarya itulah yang dikedepankannya. Begitulah kira-kira praduga yang bisa saya pahami dari “perilaku” kreatif Widodo.

Sebutan yang mulai melekatnya itu kemudian coba ditepisnya dengan melupakan seluruh proses dan modus kreatif sebagai “pelukis buta”. Semua itu seperti dia gulung dari ingatan publik dan dirinya dengan kembali ke kanvas.

Menghindari Mainstream

Kalau kemudian bentangan-bentangan kanvas itu memberi daya tarik bagi Widodo untuk meneguhkan kesenimanannya, sedikit pasang-surut pun telah dialaminya. Pada potongan kurun tertentu, ada beberapa bentang karyanya yang “tiba-tiba” memiliki kecenderungan realisme yang cukup kental. Ini terlihat dalam pameran “Buzer” yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, sekitar September 2007. Saya katakan tiba-tiba karena tampaknya jalur corak realisme kurang mendapat perhatian yang serius dalam sejarah kreatif Widodo. Saya duga, ini memiliki relevansi yang kuat dengan kecenderungan yang tengah terjadi di medan seni rupa di Indonesia, dimana gelombang (hiper)realisme China kontemporer tengah menerpa. Banyak perupa di Indonesia yang seolah berbondong-bondong kembali atau berbalik menekuni realisme yang pada waktu tertentu kurang cukup menjadi trend, ditelan oleh hiruk-pikuk corak dan gaya seni lukis yang lain. Booming pasar seni rupa yang penuh hingar-bingar—setidaknya mulai tahun 2005 akhir—banyak mendasari beralihnya para seniman ini kepada corak realisme.

Demam ini tak lama menimpa kanvas Widodo. Dia berhenti setelah melukis bercorak realisme hingga 6 bentang kanvas, dan kembali ke gaya asalinya. Sekarang, seperti yang terpapar dalam pameran tunggalnya kali ini, rangkaian karya dengan kecenderungan abstrak figuratif seperti menjadi pilihan kreatif seniman Jawa Timur tersebut. Seniman berambut gondrong ini terasa menikmati pilihannya untuk melukis dengan corak dan kecenderungan yang kini dianggap kurang boom. Tapi justru di sinilah, saya kira, letak keteguhan seniman Widodo dalam menentukan pilihannya yang berupaya menghindari kecenderungan mainstream. Realisme tak menjadi ketertarikannya, juga apalagi gaya grafitti, street art yang dewasa ini mulai terangkat dengan meluap di banyak kanvas seniman muda di Yogyakarta atau bahkan Indonesia.

Pilihan pada corak kreatif ini melepaskan diri dari kecenderungan serupa yang dialami oleh lingkungannya. Widodo mencoba mandiri dengan pilihannya. Bahkan kecenderungan abstrak figuratif pada karyanyapun tak dikaitkannya dengan hal serupa yang telah menjadi teori dan praktek di belahan Barat dunia. Artinya, dia tak menjadi epigon atau pengekor gaya (seniman) tertentu dalam khasanah seni rupa Barat atau dunia. Semuanya mengalir dengan otomatisme. Karya seni abstraknya, meminjam kalimat Winston Richardson (Art: The Way is it, 1973) menjadi seni yang bebas dalam menyatakan ide-ide artistik yang bertitik tolak dari kebebasan membentuk dan memberi warna dari subject matter (pokok soal).

Dan kebebasan yang dianut Widodo ini yang kemudian memberi sedikit banyak titik diferensiasi dengan karya seniman lain yang telah berkelebat sebagai subyek referensi visualnya—yang sekaligus (kemudian) diabaikannya. Mulai dari yang “lokal” (karena kedekatannya secara geografis atau mereka bagian dari proses pembelajarannya di kampus dulu) semacam Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Nunung WS, Edi Sunaryo, Mochtar Apin, hingga yang internasional, yakni tokoh-tokoh dunia seperti Malevich, Piet Mondrian, Wasilly Kandinsky, Emil Nolde, Jackson Pollock, dan sederet nama lainnya.

Namun demikian titik diferensiasi pada kanvas Widodo tersebut juga tidak secara otomatis menghasilkan hasil karya yang jauh lebih artistik dibanding mereka. Tidak! Atau belum. Karena dalam konteks ini saya tidak sedang memberi pembanding dan kemudian membuat justifikasi yang sembrono untuk menentukan hierarkhi sebuah karya. Diferensiasi yang dikreasi oleh seniman alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini menghasilkan karya yang khas dan berpotensi besar untuk mandiri karena “kesewang-wenangannya” terhadap kaidah mendasar melukis seperti aspek komposisi yang “ideal”, teknis pewarnaan dan sebagainya. Semuanya nyaris ditabrak sesukanya. Risikonya—dalam pandangan saya pribadi sebagai apresian—tidak semua karyanya menampilkan tata artistik yang memadai, namun justru pada titik itulah karya Widodo ini tengah bergerak. Dia sedang melakukan “otoritarianisme”, “kesewenang-wenangan” yang cukup “akut” dalam memperlakukan bentangan-bentangan kanvasnya. Dia tidak cukup peduli dengan terminologi seni yang indah dan tidak indah, artistik atau tidak artistik. Pola kerja kreatif seperti ini sebenarnya berpotensi menelurkan bentuk-bentuk kreasi seni penuh kebaruan.

Kebersahajaan Tema

Kemudian dari aspek substansi karya. Tema-tema yang digeluti Widodo juga tidak semua mengetengahkan narasi-narasi besar yang untuk beberapa seniman mengakibatkan tergelincir pada kegenitan. Widodo malah memberi gambaran pada apresian bahwa sesuatu yang bersahaja yang berkelindan didalam ruang lingkup sendiri, layak untuk diapresiasi sebagai pokok soal (subject matter) dalam karya. Dugaan saya, cara pandang ini ditempuhnya sebagai bagian dari problem psikologisnya sebagai seniman yang cukup senior yang telah sebelumnya banyak digumuli oleh banyak problem sosial politik. Maka, seni rupa sebagai katarsis menjadi pilihan penting (terutama) dalam pameran ini.

Kita bisa melihat beberapa sampel karya yang bisa dikuliti. Misalnya karya bertajuk “Soto is My Life” yang berukuran 150x150 cm. Seniman ini membuat citra sebuah mangkuk merah lengkap dengan sendok besar bergagang semburat putih dengan dominan warna biru di ujungnya. Latar belakang penuh warna hijau kusam yang jauh dari kesan manis seperti halnya lukisan-lukisan perupa lain dewasa ini. Sebagai teks visual, karya itu selesai. Namun Widodo banyak membubuhi aneka teks verbal yang kemudian bisa dibaca sebagai “teks visual” untuk melengkapi citra ihwal narasi tentang “semangkuk soto” secara keseluruhan. Ada teks “bumbu merica, rempah2”, “daging sapi segar”, “sendok bebek”, “toge mentah”, dan beragam teks lain yang tak semua bisa dibaca dengan cermat. Dari fakta visual seperti ini saya seperti dituntun untuk memberi pembayangan atas karya tersebut sebagai sebuah “lelakon”, laku kehidupan dalam pembacaan yang cukup filosofis. Semangkuk soto, bagi Widodo, bagai semangkuk kehidupan yang di dalamnya banyak menampung berbagai problem yang mesti dirasakan, dikunyah, dan lalu ditelan sebagai sebuah keniscayaan. Semuanya adalah bumbu kehidupan yang menikmatkan seperti halnya tatkala kita menikmati panas dan nikmatnya soto. Sebagai seorang penjual soto Jawa Timuran (dalam arti yang sesungguh-sungguhnya), Widodo sepertinya tahu persis “filsafat soto” yang kemudian diintroduksikan dalam kanvas.

Sementara pada karya “Made in China”, ada potongan citra sepeda warna biru yang “dipersoalkan” Widodo. Citra sepeda yang diguratkannya (begitu sekenanya) dengan warna biru tua itu seperti dipreteli dengan rangkaian teks yang menyertai nyaris seluruh bodi sepeda. Teks itu menyebutkan petilan anatomi sepeda seperti seperti slebor, ban, jeruji, katengkas, KNI, penthal, gir, pedhal, rem, porok, dan lainnya.

Karya ini seolah menjadi titik berangkat bagi opini Widodo untuk menyoal problem yang lebih besar dibanding karya “Soto is My Life” di atas. Problem sepeda seperti yang dipunyai dan teronggok di sudut rumah, dimaknai kembali untuk membincangkan ihwal ketergantungan bangsa ini pada bangsa yang lain dalam urusan yang dianggapnya sepele/kecil. Sepeda yang menjadi moda angkutan sederhana itu ternyata menyimpan sebuah narasi tentang kegagalan bangsa ini yang tak mampu mengatasi problem kecil: membuat sepeda sebagai alat angkut yang sederhana.

Beberapa karya lain, saya kira bisa menjadi medium bantu untuk melacak garis pemikiran dan artistik Widodo yang tampak sederhana dan lugas dalam melakoni kesenimanannya. Sampai saat ini, dia tak banyak dicatat dengan tebal-tebal dan dengan tinta emas dalam pelataran seni rupa di Yogyakarta atau bahkan di Indonesia. Namun itu tak merisaukannya. Tak menyurutkannya untuk terus merunuti garis kreatif yang diyakininya. Slow wae, santai saja, tampaknya seperti itulah garis filsafat kesenian yang terus dilakoninya. Toh waktu yang akan membuktikan. Dan buku sejarah tak harus berisi sekumpulan hero yang nampak cerlang-cemerlang kan?