Monday, September 15, 2008

Momentum Anak Gunung


(Teks ini menyertai pameran komunitas seni Air Gunung, Wonosobo, 18-28 September 2008, di Mon Decor Gallery, Jakarta)

Oleh Kuss Indarto

Siapa sebenarnya para seniman komunitas seni Air Gunung, Wonosobo, Jawa Tengah ini? Bagaimana positioning serta peluang mereka kini dan ke depan dalam kecamuk konstelasi seni rupa di Indonesia?

Ini merupakan deret pertanyaan elementer yang pantas untuk dikemukakan di tengah fakta adanya kecenderungan yang menunggal tatkala kita menelisik “anatomi” pelaku atau praktisi dalam dinamika seni rupa di Indonesia kini. Dalam pemetaan atas “anatomi” itu—seperti kita tahu bersama—mayoritas adalah para seniman yang (pernah) terdidik dalam lingkungan lembaga pendidikan khusus seni rupa. Untuk konteks seni rupa di Indonesia, “anatomi” semacam ini tampak lebih mengerucut dengan begitu dominannya para seniman lulusan (atau pernah studi) di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta dan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB). Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa mereka nyaris “menguasai” hampir semua pelataran penting pergerakan, dinamika, pewacanaan, jatuh-bangun, dan silang-sengkarut persoalan yang teralami dalam seni rupa di Indonesia selama beberapa dekade hingga sekarang. Realitas ini tak bisa dipungkiri kalau menyimak dari aspek historis karena dua kampus produsen para “jagoan” seni rupa tersebut merupakan dua kampus seni rupa tertua di Indonesia. Setidaknya mereka telah lahir lebih dari setengah abad lalu. Cikal bakal FSRD ITB lahir tahun 1947 dengan nama Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar, Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik, Universitas Indonesia yang berkedudukan di Bandung. Sedang FSR ISI Yogyakarta dirintis dengan berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang dibuka oleh Presiden Soekarno tahun 1950.

Di luar dominasi dua kampus tersebut, barulah terpetakan bahwa kekuatan lain dibentuk oleh keberadaan para seniman yang berasal dari kampus seni rupa atau non-seni rupa di luar ISI dan ITB, dan/atau di luar kota Yogyakarta dan Bandung. (Kita sadar bahwa relasi antara seniman dan kampus seni merupakan bangunan kausalitas yang saling melekat). Mereka itu berserak di beberapa kota penting yang memiliki kampus kependidikan seni rupa (di bawah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) seperti Jakarta, Bali, Padang, Semarang, Solo, Surabaya, Medan, Malang, Makasar, Menado, dan kota lainnya. Dan kemudian, kekuatan penyangga lain adalah keberadaan komunitas seni, sanggar dan sejenis art group lain yang banyak terdapat di berbagai kota, mulai dari Banda Aceh, Pekanbaru, Bukittinggi, Bengkulu, Banten, Cirebon, Purwokerto, Wonosobo, Mojokerto, Balikpapan, Palangkaraya, Gianyar, Palu, dan banyak kota lain.

“Anatomi” yang demikian ini merupakan hasil pergeseran yang evolutif dari keadaan jauh sebelumnya, sekitar puluhan tahun lalu—terutama dasawarsa 1950an dan 1960an—di mana posisi dan eksistensi seniman yang bergerak di sanggar-sanggar seni begitu dominan dan sangat menentukan “merah-hitam”-nya seni rupa waktu itu. Kita bisa mengingat kebesaran nama Sanggar Bumi Tarung, Sanggar Pelukis Rakyat, Sanggar Bambu, dan lainnya. Maka, kalau sekarang ini posisi tersebut bergeser dengan “dikuasai” oleh para seniman yang berasal dari bangku akademis, praduga yang bisa dimunculkan adalah bahwa laju “rasionalisme” begitu kuat sehingga keberadaan lembaga pendidikan seni menjadi penting dalam konteks progresivitas jaman. Artinya, dewasa ini praktik penciptaan karya seni tidak lagi dipandang sekadar serangkaian ketrampilan tangan, talenta yang bersifat terberi (given) dan dalam kerangka naluriah (instingtif), melainkan juga dimaknai sebagai praktik kerja rasional yang berarti mengedepankan aspek berlogika untuk menggali kemampuan intelektualitas. Praktik seni adalah kemampuan teknis (yang diimplementasikan lewat tangan), sensibilitas (yang berkait dengan rasa artistik dan estetik), juga praktik berpikir (untuk menggali dan mengelola gagasan). Seni telah mampu diilmukan, meski tentu tidak akan seketat aplikasinya seperti dalam ilmu eksakta.

Air Gunung, Siapa Mereka?

Kalau mendasarkan pada fakta yang terpapar di atas, sepertinya ada gejala penggiringan pada pesismisme ketika menatap komunitas seni Air Gunung. Karena mereka “hanya” terdiri dari sekelompok seniman yang berangkat dari antusiasme berpraktik kesenian, seolah “sekadar” mengandalkan bakat alam, dan bukan berasal dari kalangan yang terdidik secara formal dalam lembaga pendidikan seni rupa. Bukan pula berasal dari kota penting seni rupa yang acap diperhitungkan. Benarkah demikian?

Inilah titik soalnya. Karena dalam praktik dan kehidupan seni (rupa) yang begitu berjarak pada formula, kalkulasi, dan hukum tetapan yang eksakta, ada potensi atas munculnya anomali, mengatasi kebiasaan. Komunitas seni Air Gunung memiliki kemungkinan untuk memotong konvensi—semacam hukum tak tertulis—guna menembus dominasi dan kekuatan “pelukis sekolahan”, “seniman kampus” atau “perupa akademis” yang selama ini jelas telah kuat memegang kendali dalam pelataran peta seni rupa. Mereka merupakan komunitas yang secara kolektif mulai menguat praktik kreatif dan keberadaannya karena disokong oleh beberapa personalnya yang memiliki peluang untuk menjadi rising star(s). Siap untuk menjadi anomali. Dan tentu saja ini didukung oleh ikatan komunalitas yang melekat yang menjadikan komunitas itu kukuh merangsek masuk ke dalam dominasi di sekitarnya.

Air Gunung sendiri dibentuk tahun 2005 dalam situasi yang “mendadak” ketika kordinatornya, Agus Wuryanto, dihimpit oleh desakan oleh sebuah galeri di Semarang untuk menghimpun seniman di kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Rencana pameran itu sendiri akhirnya batal, dan baru terwujud dengan cukup susah-payah pada pertengahan tahun 2007 di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran pertama di luar kandang itu menjemput impact yang cukup penting bagi gerak lanjut aktivitas mereka, baik secara kolektif atau untuk beberapa personal di dalamnya. Baik yang berkait dengan ihwal eksistensi, juga ekonomi.

Nama “Air Gunung” mengindikasikan sebuah tengara yang mencoba mengidentifikasi ciri khas alam yang ada di kawasan Wonosobo. Kabupaten yang dapat ditempuh sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari kota Yogyakarta ini memang kawasan pegunungan yang berhawa sejuk dan berlimpah air. Pada bagian timur—yang berbatasan dengan kabupaten Temanggung—terdapat dua gunung berapi, Sindoro (berketinggian 3.136 meter) dan Sumbing (3.371 meter). Sementara di daerah utara terhampar kawasan terkenal, Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) dengan puncaknya gunung Prahu (2.565 meter). Kondisi geografis kabupaten seluas 984,68 kilometer persegi inilah yang bisa jadi menginsiprasi nama Air Gunung yang diasumsikan sebagai komunitas yang berisi person-person dengan kemampuan menggali kecakapan kreatif terus-menerus bagai mata air gunung yang nyaris tak kenal kerontang? Bisa jadi, karena saya kira, nama ini menjadi sebuah ekspektasi.

Dan ekspektasi ini memang bagai dipindahkan ke dalam situasi psikologis para seniman yang tergabung dalam komunitas Air Gunung. Ini penting untuk membangun spirit antarpersonal karena—seperti saya katakan di depan—mereka bukanlah para seniman yang mengawali laju kesenimanannya dari bangku akademis. Dalam pameran kali ini, seniman yang terpilih di antara sekian banyak anggota lainnya, mayoritas adalah seniman yang tumbuh karena kemauan mereka untuk mengasah talenta secara simultan. Hanya ada satu seniman, Arianto, yang (tengah) mengenyam pendidikan formal seni rupa di ISI Surakarta. Juga ada Darus yang telah lulus dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Lainnya, nyaris “hanya” berbekal pendidikan tingkat menengah pertama dan menengah atas. Sementara Agus Wuryanto, yang mengoordinasi Air Gunung, merupakan sarjana program studi Seni grafis ISI Yogyakarta angkatan 1987, seangkatan dengan para seniman yang kini menancapkan diri dengan kuat di pelataran seni rupa Indonesia seperti Pupuk D.P., Nasirun, Entang Wiharso, dan lainnya.

Di tengah-tengah mereka ini ada nama-nama yang berpotensi mengonstruksi nama besar karena kecakapan teknis yang menyamai bahkan melampaui para “seniman sekolahan” berikut perkembangan dunia gagasan mereka yang di-update secara sadar dan kontinyu. Saya meyakini bahwa mereka adalah para rising star(s) atau emerging artist(s) dalam jagad seni lukis di Indonesia yang tak bisa diabaikan kemunculannya. Sangat menjanjikan. Sebut saja Ugy Sugiarto, Irawan Banuadji, Nurkhamim, Awi Ibanezta dan Arianto. Nama-nama lain tentu saja akan lebih banyak muncul dengan terlebih dulu menunjukkan kemilau kreativitasnya lewat karya dan pameran berikutnya sebagai perangkat test case.

Melihat dan Membaca Isu

Test case yang bisa disimak hasilnya tentu saja lewat pameran kali ini. Tema kuratorial yang disodorkan, Tanda-tanda Zaman, menjadi wadah awal untuk menampung kerangka berpikir masing-masing seniman dalam merespons secara visual perkembangan sosial kemasyarakatan. Ya, ini tema yang tak terlalu ketat. Cukup cair karena tradisi berpameran dengan terlebih dahulu dikerangkai lewat tema kuratorial belum menjadi bagian penting dari kesadaran kreatif para seniman ini, maka pembacaan awal kurator atas out put (karya) mereka dijadikan landasan untuk melakukan pematangan dan pengerucutan tema atas karya-karya yang lahir berikutnya.

Visualisasi yang kemudian mengemukakan adalah berupa beragam subyek sebagai sistem tanda yang menengarai tema-tema tertentu. Tanda-tanda Zaman seperti menjadi etalase pemikiran sekaligus pembayangan masing-masing seniman dalam membaca pergeseran budaya yang berderet di di depan mata mereka. Kalau pengamat pop culture Raymond Williams (dalam Culture, 1981) memberi batasan bahwa budaya merupakan sistem penandaan yang melalui sistem tersebut tatanan sosial dikomunikasikan, direproduksi, dialami dan dieksplorasi, maka dalam lingkup yang terbatas anak-anak Air Gunung mencoba mengimplementasikan gagasan Williams di atas kanvas mereka.

Mereka, misalnya, tidak masuk dalam proses “mengalami” kasus-kasus tertentu dalam peristiwa budaya populer di luar lingkungannya, namun berupaya melakukan reimajinasi dengan kerangka pembayangan yang mereka mampu beserta latar kultur yang berbeda. Maka lahirlah, sebagai contoh, karya-karya Awi Ibanezta atau Arianto yang mengusung secara frontal sosok Marylin Monroe (MM) yang jelas sangat berjarak dengan dunia mereka, baik dalam konteks zaman, geografis, kondisi sosial politik dan kulturalnya. Ini menjadi menarik karena ikon bomb-sex dasawarsa 1960an tersebut dihadirkan secara frontal pula dengan mengaduknya bersama ikon visual yang lokalitasnya begitu kuat. Awi mengurung dengan batik motif pesisiran/Pekalongan, sementara Arianto menyandingkannya dengan ikon sayur terong yang serupa phalus. Saya kira, ini menjadi karya yang—seturut teori Williams di atas—mencoba mereproduksi isu sensualitas perempuan dalam kerangka etnisitas Timur dan humor yang lugas.

Saya tak hendak menunjukkan dan menjelaskan satu persatu karya yang terpampang dalam pameran ini. Namun titik penting yang bisa dikerangkai secara umum atas karya-karya tersebut adalah memberi penguatan atas pemahaman definitif Raymond Williams tentang arti budaya, yakni bahwa budaya lebih mengacu pada pemikiran yang berkembang pada manusia atau masyarakat tertentu, sekaligus juga mengacu pada sarana dari proses-proses yang dalam artian ini, orang menunjuk pada karya seni dan karya intelektual. Artinya, karya-karya anak-anak Air Gunung ini menjadi artefak kreatif dan intelektualitas (sesuai kapasitas) mereka.

Agenda

Akhirnya, masih ada agenda penting bagi para “anak gunung” ini ke depan untuk memperteguh posisi mereka di tengah belantara seni rupa di Indonesia yang kian rumit dan penuh kompetisi. Pertama, membangun networking yang lebih banyak dan luas untuk memungkinkan mereka masuk dalam ruang-ruang penting seni rupa yang lebih kompetitif. Kedua, dalam aspek kreatif, perlu menghindari pola stereotipe bahwa melukis yang baik dan indah adalah melukis dengan corak realisme. Ini mencoba menerabas garis mainstream yang seolah menjadi kebenaran tunggal bahwa yang realisme adalah puncak pencapaian dalam seni rupa. Ketiga, perlu lebih dalam mengeksplorasi gagasan yang berawal tumbuh dari soal lokalitas.

Dengan syarat minimal ini, saya kira, Air Gunung tak akan beda—bahkan lebih kompetitif—ketika bersanding dan bertanding dengan “seniman sekolahan”. Cepat-cepatlah mencari dan mencuri momentum! Semoga!