Friday, February 24, 2012

Kendi Sindiran Totok?




Oleh Kuss Indarto

“GERABAH” sederhana itu berujud kendi, tempat untuk menyimpan air minum. Posisinya menjulang meski agak memiringkan diri hingga cucuk atau moncong lubangnya seperti hendak menuangkan cairan dari kendi itu. Julang tubuhnya seperti hendak menantang angin yang terus mendesak-desak tubuhnya. Sekitar 9 meter titik paling atas kendhi itu berada. Gembung tubuhnya berdiameter kira-kira 5,4 meter. Di bawah, di sekitar kendi berserak  8 “gerabah” berujud genthong yang seolah bergerak melingkar. Kendi berada di tengah dan tinggi memenara, sementara genthong-genthong yang bertinggi sekira 125 sentimeter bagai bergerak melindungi sang kendi.

Pemandangan itu sejak akhir Januari 2012 menyedot perhatian bagi siapapun yang melintasi titik seratusan meter menjelang pintu utama TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di pantai Depok, Bantul, Yogyakarta. Letaknya di sebelah timur jalan, atau di kiri jalan kalau Anda datang dari arah Yogyakarta. Persis beberapa senti sebelum gerbang tembok “klasik” buatan Pemda Bantul.

“Gerabah” itu didisain oleh Totok Sudarto, seorang pensiunan kolonel TNI Angkatan Udara yang kini ingin menikmati masa tuanya dengan aktif berkarya seni. Memang bukan gerabah atau keramik karena sesungguhnya kendi raksasa dan genthong-genthong itu diwujudkan dari semen yang masif. Sedikitnya 130 kantong semen dihabiskan untuk itu. Totok berkolaborasi dengan teman perupa lain, Azf. Tri Hadiyanto. Pada awalnya, sebenarnya, gagasan awal muncul secara kolaboratif bersama beberapa perupa muda lainnya. Kepentingannya untuk diikutkan pada program parallel event Biennale Jogja (BJ) XI 2011 lalu. Disain awal yang juga berujud gerabah telah disetujui oleh panitia BJ XI. Namun tak ada proses eksekusi.

Disain pun kemudian bergerak dengan konsep yang bergeser. Totok menekankan visualisasi kendhi sebagai unsur utama dan dominan dalam proyek seni ini. Kendhi membimbing pada ingatan ikon masa lalu tentang solidaritas sosial yang begitu karib dengan masyarakat di Jawa, setidaknya yang pernah dialami langsung dalam fase masa silam Totok. Dulu, banyak orang Jawa menyediakan tempat untuk kendhi berisi air minum yang diletakkan di ujung halaman rumahnya yang mepet dengan jalan umum. Para musafir atau siapapun yang lewat bisa singgah dan memanfaatkan air minum itu tatkala dia kehausan setelah bepergian jauh. Kisah-kisah seperti ini sekelebat dapat disimak dalam novel panjang S.H. Mintardja, “Nagasasra Sabuk Inten” dan judul lainnya. Kendhi itu menjadi representasi masa lalu atas karib hubungan batin antarwarga dan kuatnya garis kesetiakawanan dalam masyarakat (Jawa) tempo dulu. Titik inilah yang kembali ingin diangkat oleh Totok Sudarto sebagai sebuah spirit yang kiranya dapat dikontekstualisasikan dengan masa kini: pentingnya kebersamaan dan kesetiakawanan sosial.

Kendi dan genthong-genthong itu diturunkan dari fase gagasan menuju ke ranah karya secara fisik mulai 9 Desember 2011. Sejak saat itulah, nyaris tiap hari Totok Sudarto dan kawan-kawan “ngantor” di utara pantai Depok—hanya sepelemparan batu dari kantor polisi—untuk berkarya bersama beberapa tukang yang membantunya. Selama satu setengah bulan lebih proses itu dilalui. Panasnya udara pantai menjadi sahabat bagi mantan wakil bupati Bantul—yang dijabatnya (hanya) sekitar 2 tahun pada periode pertama kepemimpinan bupati Idham Samawi. Panas udara itu pula yang kemudian, tampaknya, ikut menguji kesetiaan pada komitmen bersama. Awalnya beberapa seniman terlibat aktif dalam proses pembuatan karya itu. Tapi tak berlangsung lama karena lambat-laun, satu persatu, mereka mbrodholi, “tumbang” seorang demi seorang dengan berbagai alasan. Dan tinggalah Totok Sudarto dan Tri Hadiyanto.

Problem tambahan, bahkan utama, yang menyusul dihadapi Totok adalah masalah klasik: dana. Anggaran tentu sudah dirancang dari awal, namun pada kenyataannya tak sesuai perkiraan. Improvisasi, kemungkinan-kemungkinan tak terduga, seperti biasanya, banyak bermunculan. Untung Totok pernah memegang jabatan penting di kabupaten Bantul dan memiliki kemampuan pendekatan yang relatif baik sehingga topangan dana yang dibutuhkan dapat dikucurkan. Dari pemda Bantul, setelah melobi sang bupati Ida Idham Samawi, proyek patung kendi itu dibantu dana segar Rp 14.000.000,- plus dana pribadi bupati Rp 5.000.000,-. Kemudian ada lembaga Laboratorium Geospasial Pesisir yang hingga proyek itu selesai telah mengucurkan dana Rp 5.000.000,- dari rencana sekian belas juta rupiah. Secara keseluruhan, kebutuhan dana untuk itu sekitar Rp 40.000.000,-, dan Totok Sudarto beserta Tri Hadiyanto yang bahu membahu berpatungan untuk mewujudkan obsesinya tersebut.

Apapun kualitas karya ini, ada hal positif yang bisa diapresiasi dari pencapaian Totok Sudarto dan Tri Hadiyanto ini. Totok bukanlah seniman dari jalur akademik dan karyanya sama sekali tidak atau belum diperhitungkan. Selama ini pula belum banyak karya-karyanya yang “lepas” dan diapresiasi oleh kolektor dengan harga yang memadai. Apakah proyek ini sebagai jalan untuk membuka akses dirinya menuju altar kesenimanan yang lebih terhormat dan dilirik oleh banyak kalangan? Ya, eksistensi diri seniman tentu penting, namun belum tentu Totok menganggap ini sebagai sebuah jalan untuk menanamkan eksistensi, meski kecurigaan ke arah itu sudah barang pasti bertebaran.

Justru poin penting yang bisa ditangguk dari karya Totok ini adalah pertanyaan perihal kontribusi seniman atau perupa dewasa ini terhadap lingkungan sosialnya: seberapa banyak seniman sebagai homo socius (makhluk sosial) mampu memberi sumbangsih bagi pengayaan gagasan dan seni terhadap masyarakatnya? Ini pertanyaan klasik namun bisa kembali diangkat ke permukaan. Apalagi ketika kini banyak perupa yang telah dihidupi oleh seni sebagai pilihan hidupnya, apakah bisa berbalik seniman menghidupi dunia seninya? Jawabannya tentu banyak. Pilahan kontribusi pun juga pasti beragam. Dan Totok Sudarto mencoba memberi “sinyal” kecil atas hal itu dengan cara menghadirkan karya seni beserta filosofi yang diusung di dalamnya lewat karya kendi raksasa. Masyarakat dipersuasi—meski barangkali kecil pengaruhnya—untuk memulai mengapresiasi karya seni di ruang publik. Sebaliknya, sosok seperti Totok mencoba melakukan “proyek estetisasi” di tengah masyarakat yang tak cukup karib dengan benda yang dikonstruksi dan dilabeli sebagai karya seni.

Pasti Totok tidak sedang menyindir para seniman yang telah kaya secara finansial di sekitarnya agar mereka juga memiliki krenteg (ketergugahan hati) untuk berbuat hal yang serupa. Pasti toh mereka punya kepekaan dan kreativitas yang berbeda untuk memberi kontribusi pada masyarakatnya, kecuali seniman bebal yang hanya rajin mengagungkan egosentrismenya. Karya kendi ini seolah juga mengkili-kili telinga para pemuka seni dan budaya di kawasan Bantul, semisal mereka yang aktif di Masyarakat Tradisi Bantul (MTB), Dewan Kebudayaan Bantul dan lainnya, sembari bertanya: sudah bikin apa engkau dengan dana ratusan juta rupiah lebih selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin juga segera tertelan gemuruh ombak Laut Selatan. Tapi karya Totok dalam beberapa waktu ke depan dimungkinkan akan memberi secuil inspirasi bagi lingkungan sekitar, entah secara sosial, estetik, dan sebagainya. Dan pensiunan kolonel TNI AU dengan tiga orang putra ini tak bisa berbangga hati terus-menerus karena masih punya tanggung jawab yang mengiringi karya tersebut, yakni masalah maintenance. Kendi dan genthong-genthong itu harus dirawat terus, dicat ulang secara rutin, dibersihkan dari rumput-rumput liar agar tak mengulang kebiasaan lama: karya seni di bulan-bulan pertama, setelah itu sampah visual! Apalagi kendi itu berpotensi menjadi landmark di kawasan pantai Depok itu.

Kendi-kendi itu sekarang telah cukup kokoh berdiri di atas areal sekitar 100 meter persegi di depan gapura yang agak kumal karena cat murahan yang ditempel oleh pemda Bantul. Sayang di depan-bawah kendi raksasa itu ada tulisan dari logam yang cukup masif dan mencuri perhatian: “Laboratorium Geospasial Pesisir”. Memang lembaga itu punya andil sebagian dana untuk pembuatan kendi raksasa. Tapi apakah itu bukan seperti klaim kepemilikan atas sang kendi? Atau pola-pola semacam itu sudah lazim dilakukan oleh lembaga seperti itu: Nyumbang dikit tapi nyerobot-nya banyak? Ah, Indonesia…

Rencananya, penyelesaian kendi raksasa ini akan diresmikan dengan seremoni pada hari Sabtu, 11 Februari 2012, pukul 14.00 WIB dengan pertunjukan seni. Ikut? ***