Saturday, May 24, 2014

Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan

Oleh Kuss indarto

[1/satu]:

Dua seniman dengan karakter, corak dan pola visual yang relatif berbeda bergabung dalam pameran “Ngalor-Ngetan”. Rb. Ali dan Khoiri, duo perupa tersebut, menandai pameran ini dengan tajuk yang diambil dari terminologi bahasa Jawa yang artinya harfiahnya “menuju ke utara dan ke timur”, dan diandaikan mengendapkan makna “berjalan beriringan lalu merunuti arah dan keyakinan masing-masing”. Makna ini tentu tak terlalu tepat benar karena pada dasarnya tajuk pameran ini juga merupakan “pelesetan” dari ungkapan “yang lebih asli”, yakni “ngalor-ngidul”. Ngalor-ngidul sejatinya merujuk pada aktivitas perbincangan antara dua orang atau lebih tanpa tema yang fokus dan terarah—sehingga bisa berkisah mulai dari tema politik, perkembangan teknologi gadget, olah raga, klenik, metafisika, hingga seks, atau pun progres pasar seni rupa kontemporer, dan lainnya. Semua bisa masuk dalam “agenda” perbincangan “ngalor-ngidul”—dari utara hingga selatan ini. Prinsip mendasar dari terjadinya tindakan berbincang ngalor-ngidul ini, saya kira, adanya persenyawaan batin dan kehendak untuk membangun komunikasi yang lebih kuat, serta hasrat untuk berbagi pengetahuan dan informasi antar-orang yang terlibat di dalamnya. Berbincang ngalor-ngidul kiranya bisa juga ditengarai sebagai aksi yang filosofis karena antar-orang yang terlibat di dalamnya berkehendak secara bersama untuk mengakomodasi dan mengikuti semua arah perbincangan yang hendak “digelar”. Dalam masyarakat Jawa, perilaku semacam ini relatif lazim diterima sepanjang semua berminat untuk melakukannya, bukan menyetopnya dengan dalih hal itu akan membuang-buang waktu.

Dalam konteks yang agak meluas, dan mungkin sedikit bias dengan tema pameran ini, kita bisa menggali problem ngalor-ngidul ini dari upacara tradional Karo yang sudah berlangsung berabad-abad terjadi di kawasan Tengger, seputaran gunung Bromo, Jawa Timur. Upacara Karo di Tengger tersebut berakar dari kisah legenda tewasnya pengikut Ajisaka bernama Hana dan Alif (abdi Kanjeng Nabi Muhammad SAW) yang masih bersemayam dalam tradisi masyarakat Tengger. Kematian dua orang itu telah menjadi pelajaran berharga yang tidak boleh lagi terulang bagi pewaris aktif tradisi Tengger. Pada saat tewas, Alif tergeletak dengan kepala di utara (rubuh ngalor), dan Hana tergeletak dengan kepala di selatan (rubuh ngidul).

Dua hal yang berseberangan antara rubuh ngalor dan rubuh ngidul tersebut menunjukkan sikap beragama dari para pengikut Ajisaka yang menganut ajaran Hindu serta pengikut Kanjeng Nabi yang Islam: agamaku (adalah) agamaku, agamamu (adalah) agamamu. Pengikut Ajisaka yang tewas harus dikuburkan dengan posisi kepala berada di selatan, atau menghadap ke gunung Bromo, sedangkan pengikut Kanjeng Nabi harus dikuburkan dengan posisi kepala di utara. Rubuh ngalor dan rubuh ngidul juga mengacu kepada pengertian menjadi Islam, dan menjadi Buddha/Hindu.

Untuk menghindari terjadinya korban seperti yang terjadi pada diri Hana dan Alif, maka diperlukan selamatan atau upacara. Selamatan itu disebut selamatan Karo atau upacara Karo bagi pengikut Ajisaka yang memeluk Hindu, dan, di sisi lain, selamatan Lebaran bagi pengikut Kanjeng Nabi. Nama kedua sosok itu, yakni Hana dan Alif, juga mencerminkan latar belakang budaya dari pengikut tokoh tersebut. Alif adalah huruf pertama dalam sistem alphabetical Hijaiyyah/Arab, sedangkan Hana merupakan penggabungan dari dua huruf pertama dalam sistem alphabetical Jawa. Tanah Jawa sekarang bukan hanya dihuni oleh pengikut Ajisaka yang memiliki tradisi keberaksaraan ha, na, ca, ra, ka, tetapi juga dihuni oleh pengikut Kanjeng Nabi yang memiliki tradisi keberaksaraan alif, ba, ta, tsa, dan seterusnya. Kedua kelompok itu hidup berdampingan dalam kedamaian dan saling pengertian.

Contoh upacara Karo tersebut memberi kilasan contoh yang berangkat dari tinjauan tradisi—meski tidak tepat benar—tentang pilihan hidup, pilihan falsafah hidup, hingga pilihan ideologi kreatif yang tak selalu sejalan seiring namun bisa dipertemukan dalam satu ruang dan waktu dalam kerangka persoalan yang harmonis.

Rb. Ali dan Khoiri mungkin tidak cukup karib dengan kisah legenda Hana dan Alif, bahkan mungkin abai tentang itu, namun saya kira ini bisa diketengahkan sebagai salah satu contoh soal tentang bangunan perbedaan dan kekontrasan yang sangat mungkin dipersatukan. Konsep ngalor-ngetan yang menjadi tajuk pameran ini bisa dikerangkai sebagai tanda yang filosofis tentang keselarasan dalam “pertentangan”.

[2/dua]:

Menyimak karya-karya lukisan Rb. Ali dan Khoiri dalam pameran kali ini, serasa menyimak wajah dan tampilan karakter diri masing-masing seniman yang terepresentasi dalam puluhan bentangan kanvas. Keduanya tentu berbeda meski secara visual ada satu hal yang bisa menjadi titik hubung antar-keduanya: abstrak. Kata abstrak ini sendiri, kalau dimasukkan dalam konteks gejala seni rupa, setidaknya terpilah dalam dua hal yang cukup berseberangan, yakni abstrakisme dan abstraksionisme. Hal pertama, abstrakisme—pengertian sederhananya—adalah gaya dalam lukisan yang meniadakan ilusi-ilusi bentuk dalam kanvas, sementara abstraksionisme lebih mengacu pada karya seni abstrak yang masih menyisakan citra obyek yang menjadi titik berangkat karya lukisan.

Karya-karya Rb. Ali lebih mendekati pada abstraksionisme, sementara semua karya Khoiri cenderung sebagai abstrakisme. Pilihan kecenderungan kedua seniman ini tampaknya cukup dikukuhi, setidaknya dalam pameran berdua ini, sehingga keduanya dengan tegas memberi batas-batas identitas visual yang kentara sekaligus berbeda satu sama lain. Tampaknya, ini bisa dikatakan sebagai pameran tunggal berdua, bukan pameran berdua, karena baik antara Rb. Ali dan Khoiri masing-masing tampak fokus dalam berkutat dengan gayanya sendiri.

Uniknya, pilihan kreatif abstrakisme atau abstraksionisme yang mereka bawa ini, setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir tidak lagi cukup populer dalam hiruk-pikuk gelanggang seni rupa (kontemporer) di Indonesia. Saya tidak hendak mengatakan bahwa pilihan Rb. Ali dan Khoiri ini adalah pilihan kreatif yang ketinggalan zaman, “tidak kontemporer”, atau bahkan kurang strategis dalam meraup pangsa pasar seni rupa dewasa ini. Namun, saya ingin menegaskan bahwa gejala visual yang duo seniman pampangkan di ruang pameran ini kembali mencuatkan kekayaan kosa rupa yang akhir-akhir ini terkadang terasa menunggal, monoton, dan masuk dalam kebuntuan kreatif.

Memang, setelah sepanjang dasawarsa 1990-an kanvas seni lukis (= rupa) Indonesia digempur oleh booming seni lukis abstrak, di ujung dasawarsa itu hingga nyaris satu dasawarsa berikutnya kecenderungan visual dalam kanvas seni rupa Indonesia dibombardir oleh gejala “impor” yang datang dari belahan jagat utara, yakni gejala pemiripan dengan “seni rupa kntemporer China”. Gejala ini banyak mengetengahkan karya-karya dengan pendekatan visual realisme atau hiper-realisme yang bermuatan sinical themes (tema-tema sinisme politis). Berikutnya, yang hingga kini masih cukup banyak menyeruak dalam kanvas adalah karya-karya lukis “Juxtapoze-ian”. Saya sebut demikian karena subject matter karya-karya ber-genre ini banyak mengacu pada kecenderungan visual yang muncul secara dominan dalam majalah seni rupa (kontemporer) Amerika Serikat: Juxtapoze. Di situ sedikit banyak dapat terlacak gejala visual yang ilustratif dengan pendekatan pada karya seni komik dan Neo Pop Art. Diseminasi atau persebaran bentuk-bentuk kreatif itu begitu cepat bergerilya ke segala penjuru angin karena didukung secara kuat oleh teknologi informasi dan internet, sehingga dengan lekas bisa mendunia. (Website majalah Juxtapoze menjadi salah satu website majalah seni rupa yang paling banyak dikunjungi oleh para perupa muda sedunia). Maka, sekarang ini, kadang sangat sulit untuk membedakan mana karya Wedhar Riyadi, Iwan Efendi, atau Hendra Hehe yang berproses kreatif di Yogyakarta, dengan karya-karya dari seniman dari Meksiko, Ukraina, atau Aljazair yang memiliki kecenderungan visual serupa. Inilah sisi lain risiko dari kuatnya pengaruh teknologi internet.

Dengan demikian, ketika gejala “Juxtapoze-ian” dalam seni rupa itu menggejala begitu dahsyat, atau “badai” kecenderungan pemiripan karya “seni rupa kontemporer China”, maka kelugasan kehadiran kembali karya-karya yang diketengahkan oleh Rb. Ali dan Khoiri bisa memberi keseimbangan kosa visual dalam belantara seni rupa Indonesia. Memang, duo ini belum banyak memberi asupan yang menonjol, penting dan berpengaruh, namun setidaknya bisa memberi jeda (interlude) yang menarik. Publik seni rupa tentu juga tak menutup mata pada kehadiran karya-karya Hanafi (tinggal di Depok, Jawa Barat) yang masih bersetia pada karya-karya abstrak, atau bahkan ada “segerombolan” seniman yang spesialis melukis lukisan abstrak dan membuat komunitas (dimotori oleh Sulebar Soekarman dan istrinya Nunung WS., Rusnoto, Dedy Sufriadi, dan beberapa seniman lain) dan sesekali berpameran antarkota.

Terlebih lagi dengan posisi Rb. Ali dan Khoiri yang banyak berproses di Banten yang bukan kawasan penting dalam percaturan seni rupa di Indonesia, maka kegigihannya untuk tekun dalam kreativitas seni rupa terkhusus pada pilihannya bergelut dengan “seni rupa abstrak” layak untuk dicermati.

[3/tiga]:

Pada Rb. Ali, saya lihat ada upaya untuk menggabungkan antara abstraksionisme dan sedikit gejala-gejala visual kubistik. Cara ungkapnya terlihat tidak sederhana. Rb. Ali tampak berusaha keras memberi pertimbangan dan perhitungan komposisi, penempatan tata warna, imaji-imaji perempuan atau manusia dalam tiap karyanya. Itu terjadi karena Ali tidak akan dengan segera mengeksekusi karya dengan sangat ekspresif. Ada sekian banyak garis, bidang, tumpukan dan pertemuan lengkung, dan beberapa kemungkinan lain yang mesti ditimbang sebelum diguratkan sebagai garis atau bidang. Kebanyakan garis-garis itu adalah garis “semu” karena merupakan pertemuan antara dua (atau lebih) warna yang berbeda/kontras sehingga membentuk bidang-bidang tertentu, terutama sosk-sosok perempuan. Sosok-sosok tersebut dibentuk dan diisi oleh bidang-bidang warna yang bertumbuk dan tersusun satu sama lain.

Tema perempuan, bagi Ali, menjadi problem eksotisme visual. Dia belum cukup berminat untuk mengetengahkan tubuh-tubuh fisik itu, misalnya, sebagai tubuh sosial, tubuh politis, dan sebagainya. Toh tema-tema itu bukanlah tema yang mutlak untuk disampaikan dalam karya seni rupa. Maka, hal yang dominan mengemuka dalam kerangka berpikir Ali adalah kilasan gambaran-gambaran perihal komposisi tubuh (perempuan) dalam balutan warna-warni yang indah dan eksotis.

Ada satu dua karya yang secara visual tampak begitu enigmatic, atau menggenggam teka-teki. Ambillah amsal pada karya bertajuk “Sebuah Keseimbangan” (165 x 165 cm) yang dibuat antara rentang waktu 2011-2013. Karya ini seperti sebuah etalase beragam warna yang menempatkan citra dua figur berada di pusat bidang kanvas. Figur-figur itu seperti layaknya embrio yang bersemayam dalam lingkaran kandungan penuh warna. Apakah Rb. Ali tengah membincangkan perihal keseimbangan antara manusia dan alam semesta (bahkan) dimulai ketika manusia masih sebagai bakal manusia dalam kandungan? Ini menjadi salah satu yang menarik di antara sekian karya yang dipresentasikan oleh Ali.

Pertanyaan kecil yang perlu dipasok untuknya adalah: kenapa nyaris semua figur atau subjek sentral karya-karyanya persis berada di tengah bentang kanvasnya? Apakah ini secara konseptual serupa pas foto yang diterapkan pada dokumen resmi seperti KTP, paspor, dan lainnya? Kenapa pula tidak sedikit karyanya yang tampil dalam “ketertiban” simetris bilateral yang posisi bidang dan bentuk visual lain seimbang-setara antara bagian kiri dan kanan? Pertanyaan ini, sungguh, berangkat dari hasrat untuk menyimak karya Ali yang lebih beragam dan kaya secara komposisi visual, dan sebagainya.

Di seberang itu, dalam ruang dan waktu yang sama, publik dapat menyaksikan karya-karya Khoiri sebagai rekan tandem pameran bagi Ali. Berbeda dengan mitranya yang masuk dalam pilahan abstraksionisme dengan cara ungkap yang penuh kerapian dan meminimalkan spontanitas, pada karya-karya Khoiri relatif berlawanan. Lukisan-lukisannya menjadi artifak dari gerak ekspresif dan spontanitas. Ini setara dengan pengakuannya yang nyaris tak pernah menyelesaikannya karyanya dalam waktu yang lama. Karakter karyanya memang memungkinkan untuk mengguratkan gairah artistik Khoiri yang sederhana dan diungkapkan dalam rentang waktu yang singkat namun efektif. Mungkin seniman lulusan SMSR Yogyakarta ini telah cukup menghayati kalimat “sakti” Leonardo da Vinci: “Simplicity is the ultimate form of sophistication”.

Serial karya Khoiri kali ini mengemukakan tentang ritme dalam gubahan ekspresifnya. Kanvas-kanvasnya bertabur torehan dan lelehan akrilik tipis dengan pilihan warna terbatas: hitam dan kuning lethek (kumal), atau hitam yang dihimpitkan dengan coklat kusam. Torehan dan usapan kuasnya seperti lembut tertata dalam tarikan bidang-bidang besar dan lurus (entah vertical maupun horizontal), hingga kemudian dilekatkan dengan penempatan bidang-bidang kecil yang seperti muncul dan tertata pada bagian-bagian tertentu. Pemunculan sekaligus penempatan bidang-bidang kecil itu, saya kira, tidak sekadar memberi aksen visual yang memutus monotonitas ruang dan bidang, namun juga memberi irama visual yang apik. Bidang-bidang kecil dan tertata itu kadang muncul seperti bayangan balok, serupa bayangan payung paku yang telah melekat di kayu, dan semacamnya.

Simak misalnya pada karya berjudul “Ignoring the Gravity” (140 x 150 cm) atau “Action Desire” (140 x 140 cm) sama-sama nyaris monokromatik. Ada kemungkinan gelagat monotonitas yang terlihat dalam karya tersebut, dan Khoiri “menyelamatkannya” dengan memberi aksen bidang-bidang kotak atau bulatan yang membayang pada bagian tertentu. Bayangan itu tentu beda jauh dengan bayangan-bayangan yang menggejala pada lukisan-lukisan batik dan cat minyak karya seniman Tulus Warsito di dasawarsa 1980-an dan 1990-an lalu. Tapi, justru berkaca dari imaji visual yang dibawa Tulus, taka da salahnya andaikan Khoiri memberi porsi yang sedikit lebih besar pada efek-efek bayangan yang mengemukakan objek-objek tertentu dalam lukisannya.

Karya-karya seniman yang juga disainer ini juga relatif berpotensi menjenuhkan ketika berjajar tertata banyak dalam satu ruang. Maka, kemungkinan solusinya, Khoiri perlu memberi pengayaan pada kekayaan ragam warna dan objek tertentu dalam tiap bentang kanvasnya.

[4/empat]:

Di celah kecamuk perkembangan seni rupa (kontemporer) Indonesia dan dunia yang terus berlari tanpa henti, berbagai teori (seni) berupaya mendekati untuk membaca dan mengakomodasi geliatnya dan dikomunikasikan bagi publiknya. Namun ketika menyimak kembali karya-karya duo seniman Rb. Ali dan Khoiri ini, tak ada salahnya saya mengajak kembali untuk berpaling pada teori klasik tentang penciptaan seni yang pernah diintroduksikan oleh Johann Herder yang membilang bahwa gejala aktivitas seni berikut artifaknya yang tampak dapat dipandang sebagai “a natural and non-practical impulse” (dorongan murni dan alamiah). Inilah salah satu yang mendasari dari kemunculan theory of play yang memberi penekanan bahwa seni itu lahir demi untuk memuaskan kebutuhan spirit estetik dan memberi makna pada kekosongan waktu. Pada titik inilah perlu disertakan pembacaan pada faktor-faktor psikologis yang melingkunginya untuk mempertajam analisis pada proses kreatif seniman. Ini perlu ditekankan karena pada akhirnya penglihatan dari perspektif apresian atau penonton (proses reseptik) akan muncul berbagai interpretasi yang kompleks, sementara di seberang itu, maksud dan ide seniman dalam karya (proses ekspresif) terkadang/sering berlainan.

Memang, teori klasik di atas kini juga akan bertumbuk keras dengan gagasan Roland Barthes yang menyatakan bahwa “the author is dead”, pengarang atau kreator telah mati. Maka penonton pun berhak melakukan proses tafsir sebagai bagian dari upaya re-kreasi atas karya sehingga karya seni tersebut dimungkinkan akan dikayakan oleh proses semiologis. Kedua hal ini bisa sebagai sebuah rute yang runtut, atau malah sebagai pilihan untuk memilih salah satunya.

Karya-karya Rb. Ali dan Khoiri memang artifak dari proses kreatif yang layak untuk dikayakan dengan tafsir. Hanya, ke depan, perlu lebih memberi pendalaman pada aspek tematik. Inilah agenda persoalan yang mesti dipikirkan duo seniman ini. Selamat merenung untuk karya selanjutnya. Dan, tentu, selamat berpameran! ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa, dan editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran "Ngalor Ngetan" Rb. Ali dan Khoiri yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, 23 Mei s/d 1 Juni 2014)