Wednesday, August 20, 2014

Karya Seni dalam/untuk Masyarakat



Oleh Kuss Indarto
 

Beberapa karya Endeng Mursalin dalam pameran kali ini, terutama lukisan tentang potret dirinya sendiri, memperlihatkan potongan kepeduliannya pada problem sosial politik yang tengah berkembang dalam perbincangan masyarakat. Pada 2 lukisan berwarna di antara karya lainnya terlihat di sana potret diri Endeng yang tengah teriak lantang. Mulutnya terbuka, sebagian giginya tampak, dan di tubuhnya seperti berada dalam kepungan berbagai persoalan seperti masalah impor yang menusuk daya kemandirian bangsa, dan lainnya.

Karya seperti ini, bagi saya, seperti mengingatkan pada karya-karya perupa kontemporer China, Yue Minjun. Pada sebuah kurun waktu tertentu karya-karyanya seperti stereotype, seragam, monoton, namun ternyata membawa konsep kreatif yang sangat kritis. Minjun menampilkan potret dirinya yang tertawa dalam gubahan visual yang komikan, seperti komik atau kartun. Gigi-giginya berderet tidak wajar jumlahnya, yakni total hingga 60-an gigi. Lalu di batok kepalanyalah dia sering memain-mainkan bentuk visual yang penuh satir. Kadang ada kapal bergerak di sana, dan lainnya.

Karya Minjun, seperti halnya pada karya-karya Endeng (seperti yang saya sebut di atas) punya kecenderungan sebagai karya synical realism, yakni karya seni rupa yang bercorak realisme dengan muatan yang sinis, terutama ketika berbincang tentang soal sosial, politik dan kemasyarakatan. Ini karya seni rupa yang substansinya berupa komentar politik mewakili pribadi atau kelompok seniman yang kritis terhadap masalah di sekitarnya.

Saya kira karya lukis Endeng Mursalin ini tidak hadir secara tiba-tiba atau muncul dari sebuah ruang hampa. Dia menyeruak dari kepengapan sosial yang dikeluarkan oleh pribadi seniman yang kritis. Endeng adalah adalah salah satu makhluk sosial (homo socius) yang mencoba berteriak dengan kritis lewat posisinya sebagai makhluk seni (homo ars). Teriakannya menjadi karya seni yang bisa dicermati sebagai perwakilan isi hati sebagian masyarakat di sekitarnya. Protesnya bukanlah aksi yang berpotensi anarkhis, merusak tatanan hidup masyarakat.

Aksi seni rupa seperti ini nyambung dengan bentuk kreatif Endeng lainnya yakni ketika dia melakukan aksi performance arts (seni rupa pertunjukan) di ruang publik untuk menyikapi kasus orang kecil yang dipidana karena mencuri sandal di sebuah masjid, dan aksi seni lainnya. Saya berharap aksi seni yang kritis dari Endeng ini, baik di jejalanan atau di ruang pameran ini menemukan gelombang resonansi yang selaras dengan garis opini masyarakat di sekitarnya, sehingga masyarakat dapat menikmati kekayaan bentuk kritik yang kaya dan variatif dalam masyarakat. Selamat berpameran!Description: https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif 

(Catatan singkat ini untuk mengiringi pameran tunggal Endeng Mursalim, 18-30 Agustus 2014, di Pali, Sulawesi tengah)