Sunday, January 25, 2015

Inspirasi Dari dan Untuk Wonobodro




Oleh Kuss Indarto


Karya seni rupa, pada perkembangan terkini, bukanlah karya yang statis dari aspek konsep, gagasan, material hingga mediumnya. Sepertinya halnya dasar dari kreativitas, seni selalu berusaha mencari sesuatu yang baru, yang berbeda, yang mengejutkan, bahkan melompat jauh dari tata nilai yang ada sekarang, namun berorientasi jauh ke depan. Maka, definisi dalam seni rupa (khususnya) sulit untuk bisa tetap, konstan bahkan konsisten. Selalu dapat digoyahkan oleh temuan baru atau pencapaian mutakhir yang didasari oleh kreativitas seniman. Inilah dinamika dalam seni rupa.


Demikian pula dengan banyak hal yang ditampilkan oleh Totaris dalam perhelatan kali ini. Ada pintu gerbang dari rangkaian sekian banyak botol plastik bekas air mineral, ada gazebo atau gubug di tengah kolam, mural di atas gerbang tembok, pot-pot tanaman dari kaleng dan botol minuman bekas, dan masih banyak lagi. Dalam konteks tertentu, artefak-artefak itu merupakan barang biasa yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Namun dalam kerangka dan kacamata seniman, semua itu bisa juga dijadikan sebagai proyek seni (art project) dengan pendekatan seni rupa. Totaris, seniman asal Batang ini, memang memiliki tendensi seni dalam menggagas, mengonsep hingga menerapkan art project ini di lingkungan SDN Wonobodro 01.


Tendensi seni dalam proyek ini tidak sekadar dilakukan oleh Totaris untuk melakukan estetisasi atas banyak hal yang ditemuinya di lapangan, namun—saya kira—menjadikan karya-karya yang diestetisasi itu masuk dalam kerangka sosial sebagai karya yang fungsional. Karya itu bukanlah karya pajangan yang, seperti dalam definisi dan penerapan karya seni lama, hanya boleh dilihat namun tak boleh dipegang. Namun, melampaui itu, karya-karya Totarist ini melebur dalam praktik hidup keseharian anak didik dan staf pengajar atau masyarakat di lingkungan sekolah dasar tersebut: karya seni itu bisa dipegang, diinjak-injak, dan lainnya. Bahkan dijadikan sarana pertanian yang kelak akan dipanen karena artefak yang diestetisasi tersebut. Pendeknya, karya seni telah diderivasikan (diturunkan) untuk bertaut dalam dua hal, yakni (1) karya seni untuk kepentingan ekspresi personal, dan (2) karya seni untuk fungsi sosial. Untuk poin pertama, Totaris memberi gagasan dan mengonsep demi kepentingan personalitasnya sebagai seniman beserta egosentrismenya, dan ketika itu semua dioperasikan di ranah material, maka artefak karya disesuaikan dengan kebutuhan sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat sebagai subyek seninya.


Proyek seni ini menjadi lebih berarti ketika Totaris mempraktekkan gagasan seninya dengan secara partisipatoris di lapangan. Artinya, sebagai seniman, Totaris bukanlah pemain tunggal yang sangat sentral di lapangan. Namun ada keterlibatan masyarakat—dalam hal ini para pelajar dan staf pengajar SD—yang terjun langsung secara bersama-sama untuk mengoperasionalkan gagasan seni Totaris. Di sinilah, sebenarnya karya seni menemukan target goal atau sasaran yang jelas: untuk apa dan siapa karya seni itu dibuat. Proyek seni ini bukanlah seperti lukisan yang menjadikan seniman sangat sentral fungsi senimannya, dan dengan cara mengonsumsinya di ruang terbatas dengan waktu yang relatif terbatas. Proyek seni di SDN Wonobodro 01 ini, saya kira, adalah upaya meleburkan seni dengan masyarakat sehinga menghilangkan sekat-sekat pembatas antara “aku seniman dan dia awam”, karena semua orang berpotensi untuk menjadi seniman, berpotensi juga untuk menjadikan semua hal yang merupakan objek sehari-hari menjadi bentangan karya seni.


Karya dan proyek seni seperti yang dikerjakan Totaris ini, dalam level dan kerangka pandang tertentu, tidak berlebihan kiranya bila digolongkan sebagai earth art atau environmental art. Ini adalah sebuah gejala seni rupa yang pertama kali muncul pada pertengahan dasawarsa 1960-an di Eropa dan di Amerika Serikat. Earth art atau environmental art merupakan gerakan seni yang dilakukan oleh para seniman untuk menolak gencarnya komersialisasi dalam seni dan sekaligus mendukung munculnya gerakan ekologis dengan aksi “back-to-land” yang antiurbanisme. Gerakan tersebut tentu sangat kontekstual bagi seniman di Eropa dan Amerika pada waktu itu karena mereka digerus dengan kuat oleh laju perkembangan industrialisasi di segala bidang yang menyempitkan kedekatan masyarakat dengan alam.


Banyak tokoh seniman yang bergerak di lahan ini, antara lain Michael Heizer, Nancy Holt, Robert Smithson, Christo, Jan Dibbets, Dennis Oppenheim, dan lainnya. “Spiral Jetty” adalah sebuah karya monumental yang menengarai kuatnya karya-karya earth art atau environmental art ini. Karya ini berupa material Kristal garam di atas batu karang yang disusun melingkar seperti obat nyamuk bakar sepanjang 1.500 kaki (sekitar 300 meter) di atas danau Great Salt, Amerika Serikat. Ada pula karya seniman Nancy Holt yang membuat sebuah struktur arsitektur yang berorientasi pada aspek astronomi di sekitar situs Stonehenge di Inggris yang terkenal itu. Semua karya ini seperti memberi persuasi, atau medium pengingat bagi publik bahwa ada problem sosial yang telah, sedang, dan hendak muncul yang berkaitan dengan masalah lingkungan.


Karya Totaris yang melibatkan pelajar dan staf pengajar SDN Wonobodro 01, Batang ini, kiranya, juga merupakan sebuah medan pengingat bagi masyarakat di sekitarnya atas gejala sosial yang mulai merubung, yakni (antara lain) makin banyaknya produk-produk industri yang mesti dipikirkan proses pendaur-ulangannya yang tidak mudah, seperti plastik, kaleng olahan pabrik dan lainnya. Belum juga masalah perilaku dan sistem tata nilai sosial yang terus bergerak tanpa kendali, seperti budaya konsumtivisme yang menundukkan masyarakat (Indonesia) hanya sebagai konsumen atas semua produk yang datang dari luar, hingga menjauhkan bahkan melupakan banyak hal yang menjadi kekuatan lokal karena semata-mata prestise, gengsi, dan gaya hidup yang merusak. Karya seni ini, siapa tahu, bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat di sekitar untuk memberdayakan diri, sekecil apapun titik inspirasi itu. Siapa tahu! ***


Kuss Indarto, kurator seni rupa.