Friday, February 13, 2015

Sejarah yang Jauh di Dekat Kita

Oleh Kuss Indarto

“SAYA tidak begitu asing dengan Diponegoro karena masa kecil saya sempat tinggal tak jauh dari Museum Diponegoro di daerah Tegalrejo, Yogyakarta. Dan saya sesekali berkunjung ke sana. Hanya sekitar 300 meter jaraknya menuju museum,” kata Prof. Dr. Anis Rasyid Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat mengawali sambutan dalam pembukaan pameran seni rupa “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Sejarah”. Pameran ini berlangsung di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat, mulai 5 Februari hingga 8 Maret 2015. Dalam sambutan tersebut Anis juga menyoal tentang peran dan kontribusi Pangeran Diponegoro dalam perjuangan menuju keindonesiaan, hingga membincangkan tentang pentingnya pembangunan kebudayaan—yang menjadi tanggung jawabnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Sambutan Anis menjadi sambutan puncak setelah sebelumnya ada pidato dari Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus “Andre” Sukmana selaku tuan rumah, dan Dr. Heinrich Blomeke, Direktur Goethe-Institut Indonesien, sebagai penghelat acara pameran ini. Andre dan Blomeke sama-sama mengingatkan bahwa pameran ini kiranya tak lepas dari “kisah sukses” pameran tungal karya-karya Raden Saleh Sjarief Boestaman yang berlangsung di tempat yang sama pada Juni 2012 lalu. Pameran tersebut menjadi pameran tersukses yang terjadi di GNI dalam kurun beberapa waktu terakhir karena dalam waktu penyelenggaraan yang hanya berdurasi 2 pekan telah mampu menyedot pengunjung lebih dari 20.000 orang. Untuk menonton pun ratusan orang harus mengantri hingga mengular di halaman Gedung A GNI. Maka, perhelatan kali ini diharapkan tidak saja menjadi pameran biasa, namun bisa digagas lebih lanjut tentang pentingnya koleksi museum, warisan budaya, dan pengaruhnya terhadap ingatan kolektif masyarakat Indonesia.

Pameran ini memang memuat “password(s)” penting: mempertautkan Pangeran Diponegoro dan Raden Saleh dalam satu ruang dengan pengayaan beberapa sudut pandang. Ada karya puncak Raden Saleh di sini, yakni lukisan Penangkapan Dipanegara (1857)—yang merupakan apropriasi sekaligus perlawanan terhadap karya pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman, Penyerahan Diri Diponegoro (1835). Untuk penguatan aspek seni rupanya, tim kurator yang terdiri dari Werner Krauss, Jim Supangkat, dan Peter Carey mengajak para para perupa Indonesia untuk merespons tema “Aku Diponegoro” ini dalam konteks pemahaman subyektif masing-masing. Para perupa itu direkrut berdasar undangan dan aplikasi terbuka. Mereka antara lain adalah Srihadi Soedarsono, Chusin Setiadikara, Sri Astari, Pupuk Daru Purnomo, Nasirun, Entang Wiharso, Indieguerilas, Aditya Novali, Indyra, Maharani Mancanagara, Manguputra, Mirelle dan Lutfi Hasan, Bron Zelani, Eli Sugiarto, Muhammad Ferdy Pratama, Nino Novanda, Rudi Winarso, Sangaji Surahmat, dan lainnya. Juga ada lukisan para old master yang sengaja dihadirkan karena secara visual memiliki tema yang sangat relevan tentang Diponegoro, yakni karya S. Soedjojono, Hendra Gunawan, Sudjono Abdullah, dan Harijadi Sumodidjojo.

Para perupa “penafsir” itu, sayangnya, banyak yang masih terpaku pada problem visualitas semata, belum ada upaya penggalian substansi yang memungkinkan ada pengayaan interpretasi. Ada memang karya Aditya Novali yang cukup menggugah ketika dia membayangkan ada sesuatu di balik proses pembuatan karya Penangkapan Diponegoro. Ada pula karya Chusin Setiadikara yang memberi konteks baru soal keindonesiaan atas karya Raden Saleh yang berjudul “Banjir Jawa” (1863-1876). Lukisan Raden Saleh itu sendiri merupakan adaptasi dari karya besar Theodore Gericault, “Craft of Medusa”. Sebagai sebuah gagasan, karya Chusin begitu menarik. Sayang, kali ini karyanya tidak ditopang oleh perkara teknis yang tuntas. Karyanya tampak belum selesai, tidak lebih detil ketimbang karya-karyanya yang biasa dipresentasikan ke publik.

Di luar jajaran karya para perupa, pameran ini menjadi lebih kaya karena kehadiran artifak-artifak bersejarah yang mengikatkan secara kuat sosok dan heroisme Pangeran Diponegoro. Posisi sejarawan “spesialis Diponegoro”, Peter Carey, dalam tim kurator ini tampaknya memberi kontribusi besar untuk mengayakan sekaligus memperluas pameran ini menjadi berdimensi historis dan, bahkan, antropologis. Pada sebuah ruangan di pojok tenggara Gedung A, yang berukuran 6,5 x 6,5 meter, ada tiga artifak penting yang bersejarah dan berkait dengan perjuangan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.

Artifak itu: tombak pusaka bernama Kiai Rondhan, pelana kuda yang diduga dipasang di punggung kuda kesayangan Diponegoro, Kiai Gentayu, serta tongkat Kanjeng Kyai Tjokro (Cakra). Kiai Rondhan dan pelana kuda sejak tahun 1978 telah kembali ke Indonesia dan menjadi koleksi Museum Nasional, di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Diponegoro kehilangan tombak dan pelana tersebut pada tanggal 11 November 1829, tepat Diponegoro berusia 44 tahun, ketika dia disergap oleh Pasukan Gerak Cepat ke-11 pimpinan Mayor A.V. Michiels di pegunungan Gowong. Ia melompat dari kuda lalu bersembunyi menyusuri lembah di sekitar itu. Sang pangeran selamat jiwanya, namun dia kehilangan senjatanya kesayangan yang dianggapnya suci dan selama dipegangnya telah memberi perlindungan serta peringatan akan datangnya bahaya. Dua artifak itu kemudian oleh Michiels dikirim ke raja Belanda waktu itu, Willem I (1813-1840), sebagai rampasan perang.

Sementara artifak lain yang menjadi bintang pada pameran ini adalah Kanjeng Kyai Tjokro (Cakra). Tongkat ini acap kali dibawa Diponegoro ketika melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci untuk memohon agar segala kegiatannya teberkati. Pada upacara pembukaan pameran, Kamis malam itu, Mendikbud Anis Baswedan secara resmi menerima kembali tongkat itu dari wakil keluarga Baud—Erica Lucia Baud dan Michiels Baud—yang memiliki tongkat tersebut sejak tahun 1834, 4 tahun setelah Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830) berakhir. Diduga, tongkat itu berpindah tangan pada 11 Agustus 1829 ke Pangeran Adipati Notoprojo, cucu Nyai Ageng Serang—komandan perempuan pasukan Diponegoro. Notoprojo sendiri adalah sekutu politik Belanda setelah dia menyerahkan diri pada 24 Juni 1827. Wajarlah kalau Notoprojo berusaha mengambil hati—dengan memberikan tongkat Cakra tersebut—pada Jean Chretien Baud (1789-1859), gubernur jendral baru yang tengah melakukan inspeksi pertama di Jawa Tengah pada musim kemarau 1834.

Erica Lucia Baud dan Michiels Baud yang mewarisi tongkat dari leluhurnya tersebut, seiring jalannya waktu, merasa telah kehilangan makna atas benda itu. Apalagi ketika ayah mereka meninggal tahun 2012 lalu. Maka, bergegaslah mereka menghubungi Rijkmuseum di Amsterdam untuk meneliti keberadaan sejarah yang sesungguhnya atas tongkat itu. Dan, akhirnya, 5 Februari 2015 ini—setelah 181 tahun berada di genggaman keluarga Baud, tongkat Kanjeng Kyai Tjokro kembali ke bumi Jawa.

Presentasi ketiga artifak tersebut cukup anggun meski, sayangnya, berada dalam ruang yang terlalu sempit, sehingga tidak memungkinkan bagi pengunjung untuk menyimak secara detil warisan pusaka itu dari berbagai sudut pandang—kecuali tongkat Kyai Tjokro. Tapi sebagai presentasi awal ke publik sejarah—pendekatan seni rupa ini mampu menggoda orang awam untuk masuk mendalami sejarah (Diponegoro) yang kadang diabaikan.

Artifak bersejarah lainnya dapat dirunuti dari karya batik tulis sogan yang berada di ruangan lain dalam Gedung A. Tergelar di sana kain batik tulis berukuran 270 x 90 cm yang diduga dibuat antara kurun 1870-1900. Penggambaran dalam karya ini menarasikan pergerakan Pasukan Gerak Cepat Belanda selama Perang Jawa/Perang Diponegoro (1825-1830). Pasukan ini, bersama sistem Benteng Stelsel, memutar balik arah pertempuran dan memberikan keuntungan kepada Belanda pada tahun ketiga perang tersebut. Karya batik koleksi museum Danar Hadi, Solo ini kiranya bisa memberi secuil pesan bahwa dalam seni rupa tradisi pun, sejak lama, tak lepas dari garis ordinasi politik kekuasaan yang mengepung di sekitarnya. Ada dugaan political order dalam dunia kreatif pada kurun tertentu, seperti terlacak dalam karya indah dan bersejarah ini.

Akhirnya, saya hanya bisa menduga-duga bahwa pameran semacam ini bisa memungkinkan menyambung jarak psikologis publik yang terpotong oleh keterasingan pada sejarah meski dia dekat secara geografis. Sambutan pembuka Mendikbud Anis Baswedan di awal tulisan ini, yang merasa tak asing dengan sosok Diponegoro, kiranya bisa digarisbawahi dengan aksi untuk mengenal, mengetahui, dan belajar lebih lanjut tentang sesuatu yang dekat itu. Tentu sebuah satir yang telak dan menohok ketika pameran penting ini—yang tanpa hingar-bingar isu pasar—justru diinisiasi oleh lembaga asing, Goethe-Institut, sebagai motor utama. Aduh, malunya kami! ***