Tuesday, June 23, 2015

Disiplin Waktu



Sebagai orang yang jauh dari disiplin dalam memanfaatkan waktu, ingin rasanya saya menyimak sisi-sisi kedisiplinan orang atau sistem di Barat. Ini kulakukan dalam 3 hari terakhir saat mengunjungi Hongaria, Italia, Austria dan Slovakia.

Pertama, saat perjalanan naik bus dari kota kecil Nagykanizsa, Hongaria menuju Venezia, Italia. Dalam tiket tertera pukul 23.45 mulai berangkat, dan sampai di Venezia pukul 06.05. Kami menunggu bus mulai pukul 23.30. Bus EuroLines berukuran besar itu datang pukul 23.43. Urusan sedikit agak lama karena paspor kami diperiksa oleh sopir yang merangkap kondektur sekaligus kernet. Usai itu, bus pun berangkat tepat waktu.

Bus melaju kencang di highway. Masuk di kota Dragontinci, Slovenia, bus berhenti sekitar 10-15 menit. Ternyata sang sopir makan dan minum sendirian di rest area yang sepi. Lalu bus kembali melaju kencang melewati highway di pinggiran kota Tepanje, Vinjeta, Kompolje, Dane (?), hingga masuk ke kota pertama di Italia utara, Trieste. Tak lama dari kota yang padat itu, bus berhenti di rest area sekaligus pom bensin, selama 20 menit.
Dari situ, bus melaju menuju Mestre, dan sampailah di Tranchetto, Venezia, tepat pukul 06.05 seperti dalam tiket. Wah!

Berikutnya, hari itu juga (malamnya) kami bertolak naik kereta api dari Venezia menuju Wina/Vienna, Austria. Di atas tiket tertera berangkat pukul 21.00 dan sampai stasiun Wien Honpfhoft pada 07.55. Kenyataannya, kereta berangkat tepat waktu, tapi sampai di Wina terlambat 2 menit. Ya, 2 menit, bukan 2 jam. Hari berikutnya, dari Wina ke Bratislava, lalu rute dari Bratislava-Budapest relatif sama: on time dan sesuai jadwal hingga pada menit yang sama.

Asemik. Yowis, inilah hal mendasar yang membuat kami bisa membuat agenda pertemuan dan kunjungan dengan teman-teman di beberapa kota di sekian banyak tujuan, berakhir dengan baik. Perjalanan sekitar 1.100 km di 4 hari terakhir di 4 negara itu begitu lancar. Sarana menunjang, sistem mendukung, dan kebetulan cuaca berpihak. Ihwal ketepatan waktu ini jadi mengingatkanku pada kisah tentang kedisiplinan filsuf Imannuel Kant yang tiap pagi keluar rumah untuk berangkat ke gereja dengan presisi waktu yang sama dari hari ke hari, hingga orang-orang sekitarnya punya patokan tentang "pagi waktu Kant".

Hanya dengan modal kepatuhan atas waktu inilah, bisa jadi, kebudayaan bisa ditumbuhkan menuju kemajuan. Ketoke lho... :-)