Friday, August 08, 2008

Realitas Sketsa ala Arsitek-Seniman

(Catatan ini dimuat dalam buku kumpulan sketsa Eko Prawoto yang diluncurkan pada pembukaan pameran tunggalnya di Cemeti Art House, Kamis, 7 Agustus 2008)

Oleh Kuss Indarto

Saat kecil, saya merasa beruntung memiliki secuil minat untuk membaca. Di samping buku-buku pelajaran yang menjemukan dengan metode pengajaran beberapa guru yang membosankan, di sekolah dasar (yang saya kenyam di Yogyakarta dan Banyumas pada awal 1980-an), ada pilihan lain untuk menyimak bacaan yang cukup mengayakan pengalaman batin. Setidaknya ada tiga majalah anak-anak yang cukup rajin saya baca waktu itu, yakni Kawanku, Si Kuncung (keduanya terbitan Jakarta), dan Gatotkaca (terbitan grup harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta). Majalah anak-anak lainnya yang sesekali menyita perhatian adalah Bobo (Gramedia, Jakarta) dan Putera Kita (terbitan grup harian Bernas, Yogyakarta). Ya, sesekali mereka itu menjadi pelarian yang mengasyikan dari kerumunan rutinitas di kelas.

Seperti pada umumnya anak-anak, saya mendahulukan ketertarikan terhadap bacaan tersebut karena aspek visual yang amat membetot perhatian, untuk kemudian menelusuri dan menyimak kata demi kata yang menyertai gambar. Gambar-gambar itu, yang tampil “hanya” hitam-putih dan sering ditorehkan dengan “tidak selesai”, ternyata memberi impresi yang membekas begitu dalam. Bahkan hingga bertahun-tahun. Setidaknya, saya masih ingat nama-nama para “juru gambar” itu seperti Ryadi S., Syahwil, Mulyadi W., dan Ipe Ma’aruf yang acap muncul di Kawanku dan Si Kuncung, serta ada nama Herry Wibowo di Gatotkaca.

Nama dan karakter karya mereka kian menukik kuat dalam ruang ingatan setelah pada tahun-tahun berikutnya—lewat media bacaan yang selaras dengan usia yang bergeser—saya “temukan” kembali dalam nuansa yang berbeda. Umpamanya, pada sebuah edisi, ada koran yang memberitakan tentang pameran sketsa karya Ipe Maa’ruf, berikut foto karya yang terpampang di samping berita. Dari situ kemudian penalaran yang sederhana bergerak untuk mengilas balik karya-karya Ipe Ma’aruf yang pernah saya lihat bertahun-tahun sebelumnya, yang ternyata “sekarang” dikerangkai dengan nama sketsa.

Dan pemahaman ihwal sketsa ini kemudian saya pelajari banyak secara praktik dan diawali dengan cara yang “penuh kenangan” ketika terdampar masuk kuliah di Jurusan Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Saya wajib mengikuti mata kuliah Sketsa selama dua semester pertama, yang seluruhnya diampu oleh dosen senior bernama Herry Wibowo. Ya, saya katakan “penuh kenangan” karena adanya pertautan antara pengenalan tentang sketsa lewat majalah yang dibaca ketika masa kanak-kanak, dan pelajaran tentang sketsa yang diserap saat di bangku kuliah dengan guru yang sama. Dalam gradasi tertentu, apa ini bisa disebut sebagai déjà vu? Tak tahulah…

***

Sketsa-sketsa yang saya simak di masa kecil menjadi mengesankan, karena secara subyektif mampu menghadirkan sekaligus mengekalkan benda-benda, potongan-potongan peristiwa, dan keping-keping waktu dalam sebuah panel. Dan inilah kiranya ciri-ciri karya sketsa. Dalam pemahaman awal, karya jenis ini menjadi kanal bagi sang sketser untuk memuntahkan ekspresi visualnya di atas kertas. Ekspresi itu berujud rangkaian garis, noktah, atau bidang dengan segala fleksibilitas dan dinamikanya untuk memotret subyek benda secara on the spot. Cara pengekspresian ini dimungkinkan kalau ada external model yang bisa direkam secara langsung atau diserap terlebih dahulu sebagai bekal yang hendak dipindahkan dalam media tertentu seperti kertas. Di samping itu, dimungkinkan juga munculnya imajinasi yang distimulasi dari inner model untuk kemudian menelurkan karya-karya sketsa. Ini hanya soal pilihan yang tidak bisa diurutkan dengan kerangka hierarkhis satu sama lain.

Ada kalanya sketsa dibuat serupa visual diaries seperti diistilahkan oleh Albert W. Porter (The Art of Sketching, 1977), yakni catatan harian bergambar ketika seseorang mengekspresikan reportase mata, gagasan-gagasan imajinatif berikut eksperimen-eksperimen visualnya. Sketsa menjadi salah satu jalan alternatif yang kuat untuk menumpahkan ide-ide yang ada di depan mata yang bisa dilakukan dengan kepraktisan material dan efisiensi waktu. Hal ini menjadi kelebihan kecil bila dibandingkan dengan kerja praktik kreatif yang lain seperti menggambar, melukis, mematung atau lainnya.

Pada konteks ini kemudian bisa berkembang asumsi kita tentang posisi karya sketsa yang berkait dengan ihwal proses dan tujuan. Pertama, karya sketsa bisa dipahami sebagai sebuah bagian atau tahap awal dari rangkaian kerja kreatif berikutnya. Artinya, kata “sketsa” seperti memiliki pengertian yang integral dengan kata “rancangan”, sehingga karya sketsa seolah dihasratkan sebagai “miniatur” atau “bahan mentah” dari karya lukisan dan lainnya, yang dibuat pada tahap selanjutnya. Kedua, berseberangan dengan pengertian sebelumnya, karya sketsa dapat diasumsikan sebagai sebuah karya yang utuh, mandiri dan otonom, seperti halnya karya lain semisal lukisan atau patung. Artinya, sketsa telah berhenti sebagai “tujuan”, sebagai karya yang independen dan tak berkait dengan proses kreatif lainnya.

***

Kalau kemudian ketika kita dihadapkan pada rentetan karya-karya sketsa karya Agus Eko Prawoto, maka secuil paparan di atas bisa sedikit diaplikasikan untuk menyimak lebih dalam hasil kerja kreatifnya selama bertahun-tahun. Sebagai seorang arsitek yang juga seniman, Eko nampak memiliki kepekaan artistik dan estetik yang seolah bergerak kuat secara organik dalam dirinya. Karya sketsanya yang dibuat di berbagai kawasan, beragam negara, pada variasi waktu yang terentang cukup panjang—bagi saya—mengisyaratkan adanya segi kebutuhan dasariahnya yang dalam untuk mengenal dan mencoba karib dengan external model yang tiba-tiba terpapar di hadapannya.

Desa Tenganan di Bali, kampung di lembah Sungai Code, Yogyakarta, sudut jalan di Gwangju, Korea Selatan, pojok Topkapi Palace di Istanbul, Turki, Rijkmuseum, Amsterdam, gereja Roros di Norwegia, street café di Melbourne, dan lainnya, telah menjadi external model yang cukup inspiratif untuk dipindahkannya di atas kertas-kertas kuarto putih.

Di sebalik aktivitas Eko ini, sekarang, tak banyak lagi perupa kita yang “sanggup” merepotkan diri menjumput sepotong peristiwa-sekelebat waktu-sebongkah benda yang ditemui di belahan kawasan lain. Teknologi fotografi telah sanggup mendokumentasikan obyek benda-peristiwa relatif secara detail, dan ini telah berkontribusi untuk menyingkirkan aktivitas membuat sketsa.

Saya belum tahu persis dalih Eko menyisakan kesempatan untuk membuat sketsa di banyak tempat yang diziarahi. Namun kehadiran karya-karya ini—saya duga—menjadi sangat penting karena beberapa hal, yakni sebagai (1) perangkat ekspresi, (2) alat dokumentasi, serta (3) inspirasi dan preparasi atas karya berikutnya. Sebagai seniman yang bentuk ungkap ekspresinya banyak dicurahkan lewat material tiga dimensional, seperti instalasi dengan bahan bambu, maka karya sketsa menjadi penting kehadirannya untuk menilik kemampuan dasar “konvensional”-nya. Apalagi dalam ranah pergaulan masyarakat seni rupa, masih saja ada anggapan “konservatif” yang tak bisa seutuhnya ditampik bahwa kemampuan menggambar dan membuat sketsa menjadi salah satu ukuran untuk melihat pencapaian karya yang lain/berikutnya, seperti melukis, mematung, membuat instalasi, dan lainnya, di samping sistem dan cara berpikir sang seniman yang kini juga punya peran besar dalam menentukan di posisi mana dia akan berada. (Faktor luck tentu sulit untuk diperbincangkan di sini). Dan dalam posisinya sebagai arsitek, karya sketsa-sketsanya ini—yang sebagian besar berupa lanskap bangunan—akan memberi imbas yang inspiratif bagi kreasi karya arsitertur berikutnya.
***

Secara umum, sketsa-sketsa karya Eko memiliki karakter yang spesifik. Kekuatannya dalam menarik jalinan garis lurus tanpa putus memberi warna pada sebagian besar karyanya. Meski kecenderungan umum ini sudah menjadi kekhasan pada sketsa para arsitek, namun pada karya Eko ada “kekurangannya”, yakni—pada beberapa karya—cenderung tidak rapi dan cukup ekspresif. Dalam kerangka pandang seni rupa, justru aspek tersebut menjadi kelebihan karena proses membuat sketsa ini tak lagi sekadar memindahkan subyek benda-peristiwa yang ada di seberang mata sang kreator, namun juga dimungkinkan memasukkan gejolak ekspresi dan persepsi pribadi di dalamnya.

Hanya saja, karakter garis yang diguratkan Eko cenderung monoton karena memakai perangkat kerja yang sudah menjadi pilihannya bertahun-tahun, yakni sejenis track pen yang pada satu sisi kurang banyak mendukung adanya improvisasi dan variasi garis. Maka tak akan banyak ditemui jalinan garis tebal dan tipis yang secara ekstrem berdampingan untuk membentuk subyek benda tertentu. Namun sebaliknya, di sisi yang berseberangan, akan banyak ditemui dalam buku ini beberapa detail sebuah sudut tempat dan benda, dan lalu dampingkannya dengan bidang kosong. Di sinilah kelebihan Eko dalam bermain komposisi bentuk dan ruang. Maka, “realitas sketsa” yang dibangun Eko tentang sudut kampung Klitren, Yogyakarta, misalnya, memiliki dimensi yang spesifik ketimbang realitas faktual kampung tersebut yang sesungguhnya. Meski kampung tersebut digambarkan begitu lengang (sebagian sketsa juga menggambar kesenyapan serupa), namun ada eksotika dan nilai lebih yang inspiratif, yang menggoda untuk (kembali) berkunjung ke kampung tersebut.

Akhirnya, penerbitan buku kumpulan sketsa ini serasa penting untuk diapresiasi setelah sekian lama kering dari kehadiran buku sejenis. Kita pernah disuguhi buku sketsa karya Henk Ngantung, Ipe Ma’aruf, Fadjar Sidik, dan lainnya yang mengayakan pengalaman reseptif. Dan kini, karya Eko sangat berpeluang masuk dalam lingkaran ekspektasi tersebut. Memang tidak kinclong dan hingar-bingar seperti buku lelang seni rupa atau buku “biografi” perupa yang kadang cenderung chauvinistik, namun banyak nilai bisa dijumput dari sini. Semoga.

Kuss Indarto, kurator seni rupa, tinggal di Yogyakarta.