Mondar-mandir di Agustus



Ini gedung Museum Akili saat siang hari (paling atas), para seniman finalis dan dewan juri tengah berpotret bersama, dan suasana halaman depan museum saat penyerahan award di malam hari (foto bawah)


Agustus ini ada beberapa acara yang mengharuskanku untuk mondar-mandir ke Jakarta hingga tiga kali. Semuanya, tentu, masih berkait dengan urusan seni rupa, namun cukup beragam variasinya. Dan jelas menyenangkan untuk diikuti.

Pertama, 13-14 Agustus, menghadiri diskusi terbatas untuk membahas hasil laporan penelitian tentang "Pemetaan Pelaksanaan Program Seni di Indonesia". Acara yang diadakan oleh Ford Foundation ini berlangsung di Hotel Alila di kawasan Pecenongan, Jakarta. Diskusi sehari penuh tersebut cukup produktif meski dihadiri oleh sedikit peserta. Ada Ratna Riantiarno, Marco Kusumawijaya, Oscar Motuloh, Iwan Irawan Permadi, Dyan Anggraini, Sudarmadji Damanik (?), dan beberapa orang lain yang aku lupa namanya (karena tidak semuanya ikut diskusi hingga tuntas). Sedang "tuan rumah" adalah dua peneliti, Helly Minarti dan Alex Supartono, serta Heidy Arbuckle, bule Australia yang kukenal bertahun-tahun lalu di Yogya yang ternyata sekarang di Jakarta.

Diskusi membahas paparan Helly dan Alex yang meneliti 5 kasus perhelatan seni dan lembaga seni di Indonesia, yakni Art Summit Indonesia, Festival Teater Jakarta, Jogja Biennale, Galeri Foto Jurnalistik Antara, dan Pasar Tari Kontemporer (Pastakom, Riau). Salah satu poin menarik dari diskusi tersebut adalah bahwa masih kuatnya ketergantungan dan peran negara terhadap perhelatan dan lembaga seni tersebut. Artinya, sokongan kebijakan dan kalau mungkin pendanaan masih dibutuhkan untuk kesinambungan event/lembaga tersebut. Namun, untuk kasus Bienalle Jogja, menurutku, itu lebih sebagai kepemilikan yang sebaiknya dipegang oleh negara (demi netralitas), dan kepengelolaan yang bisa dilimpahkan pada outsourcing karena aparatus kesenian negara tidak mampu.

Aku tak bisa lama-lama di Jakarta karena ada kewajiban untuk ikut menyiapkan pameran Indonesia Contemporary All Star 2008 di galeri baru di Yogyakarta, Tujuh Bintang namanya. Pameran ini melibatkan 37 seniman. Pembukaan pamerannya persis pada 17 Agustus 2008 malam.

Kesempatan kedua, aku harus ke Jakarta pada 21-22 Agustus. Ini untuk keperluan menghadiri pembukaan pameran "Mat(r)a Mata" yang berlangsung di D Gallerie di bilangan Kebayoran Baru. Kebetulan aku menguratori pameran ini yang kupersiapkan dengan waktu yang relatif singkat, yakni 3 bulan dengan melibatkan 6 seniman, yakni Eddy Sulistyo, Joko "Gundul" Sulistiono, Lulus Santosa, Nurkholis, Slamet "Suneo" Santoso, dan Tommy "Tato" Tanggara. Persiapan yang mepet ini membawa risiko cukup merepotkan, karena terpaksa harus menenteng seratus eksemplar katalog saat naik pesawat. Apa boleh buat, dari awal aku juga diberi tanggung jawab oleh pemilik galeri, Mbak Esti Nurjadin, untuk meng-handle mengurusi katalog karena mungkin dia tak ingin repot. Juga berkaca pada pengalaman pameran sebelumnya, bulan Mei lalu, ketika katalog dibuat di Jakarta dan hasilnya ternyata kurang bagus.

Yah, risiko. Tapi aku cukup senang karena respon publik terhadap pameran ini cukup menarik. Banyak tetamu. Apalagi yang buka pameran orang penting, yakni Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Muhamad Lutfi, yang masih muda dan istrinya tergolong public figure, Bianca Adinegoro. Memang, malam itu banyak tante-tante muda nan cantik hehehe...

Seminggu berikutnya, 27-28, kembali aku ke Batavia. Aku berangkat dalam keadaan cukup capek karena sehari sebelumnya pergi ke Wonosobo dan pulang hingga jam 21.00an. Tujuan utama ke Jakarta kali ini untuk menghadiri penyerahan Akili Museum of Art Award (AMAA) 2008, di kawasan Kedoya, persisnya di kompleks Mutiara Kedoya yang mewah. Aku wajib datang karena menjadi salah satu dewan juri yang memilih sang perupa pemenang tahun ini, Agus Triyanto BR, yang akhirnya berangkat ke Central Academy of Art di Beijing, China. Acara tanggal 27 malam ini merupakan puncak dari rentetan aktivitas sebelumnya yang berawal pada akhir Januari lalu. Waktu itu aku dihubungi langsung oleh Pak Jim Supangkat untuk bergabung sebagai salah satu Dewan Juri. Jelas mau dong! Apalagi bergabung dengan para senior dalam seni rupa, jadi bisa banyak menimba pengalaman. Juga yang punya acara adalah lembaga privat yang (tampaknya) punya concern terhadap pembinaan karier seniman, ya aku iyakan. Maka bergabunglah aku dalam tim yang terdiri dari Jim Supangkat, Chusin Setiadikara, Rizki A. Zaelani, dan Suwarno Wisetrotomo.

Acara malam penyerahan itu berlangsung cukup riuh. Ada ratusan tetamu yang silih berganti datang memadati halaman museum yang luas dan asri. Tetamu kemudian juga beralih masuk ke dalam museum yang memajang puluhan karya lukis para seniman senior dan seniman finalis AMAA yang tergabung dalam pameran bertajuk "From the Cam to Com".

Secara umum aku senang karena terlibat dan punya cukup andil dalam mengegolkan nama-nama seniman yang akhirnya jadi finalis, bahkan pemenang. Atau setidaknya mendorong beberapa nama yang belum diperhitungkan untuk masuk dalam pelataran penting seni rupa yang dimungkinkan banyak dibicarakan. Yah, setidaknya, berita tentang perhelatan AMAA tersebut sampai menyita setengah halaman seni harian Kompas edisi hari ini. Aku yakin ada dampaknya, entah bagi lembaga AMA ataupun seniman peserta yang masih belum dianggap penting... Siapa tahu!

Ah, lupakan itu semua! Aku akan segera bekerja dan berbuat yang lain lagi, lebih banyak lagi, sekecil apapun sumbangannya bagi lingkungan di sekitarku. Semoga!

Popular posts from this blog

Lukisan Order Raden Saleh

Memanah

Apa Itu Maestro?