KADANG saya ingin menyelami nama yang menempel pada seseorang. Pasti ada kisah, latar belakang, sejarah, filosofi, konsep, dan lainnya, yang menjadikan identitas itu melekat. Ya, nama itu identitas. Namun lebih dari itu, banyak yang berkeyakinan bahwa nama bukan sekadar sistem tanda yang personal. Nama adalah doa, pengharapan, bahkan energi yang bisa bertaut dengan alam. Saya pernah punya pengalaman memberi sumbangan nama untuk anak teman-teman saya, dan ternyata itu benar-benar diterapkan (hingga sekarang, tentu). Terhadap anak-anak sendiri, sudah barang pasti, peran saya besar untuk menamai mereka. Lha, sama anak sendiri pastilah diistimewakan. Pada anak pertama, kami sudah menentukan skenario nama sebulan sebelum sang anak lahir. Ya, skenario kalau dia lahir perempuan, atau sebaliknya laki-laki, nama sudah disiapkan. Tapi pada anak kedua, kami malah berkebalikan: ketika anak sudah lahir lebih dari 3 pekan, kami baru bersepakat atas pilihan nama untuknya. Terla...
Foto: Matador I, 200cmX200cm,Acrylic on Canvas,2009, dan Matador II, 200cmX200cm,Acrylic on Canvas,2009 Oleh Kuss Indarto [satu]: Identitas Kucing KUCING hitam-putih adalah Klowor. Klowor adalah “pemilik” kucing di atas kanvas yang meliuk plastis dalam gubahan monochrome hitam putih. Klowor adalah “pelukis kucing”. Inilah identitas, (yang kadang menjelma jadi semacam kerangkeng atau perangkap), yang sebelum pameran tunggal kali ini melekat begitu integral dengan sosok perupa Klowor Waldiyono. Identifikasi ini hadir dari dua lini yang ulang-alik sifatnya: aksi dari sang seniman sendiri yang mendedahkan karya-karya lukis dengan citra kucing lewat gubahan visualnya yang khas, dan sebaliknya, reaksi dari publik yang merespons dengan memberi titik ingatan atas hal yang telah ditampilkan oleh seniman untuk kemudian mengonstruksinya lewat pelabelan atau identifikasi. Ada gerak kausalitas di sini. Aksi identifikasi-diri Klowor terjadi lima belas setengah tahun silam, persisnya 11 hingga 18 De...
Apa itu "maestro"? Kata ini kemungkinan besar diserap dari bahasa Italia yang arti sederhananya adalah "guru". Dalam bahasa Inggris berarti "master". Saya kurang tahu persis sejak kapan persisnya kata/lema maestro ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. Secara historis bangsa kita tidak banyak berhubungan erat dengan bangsa Italia yang memungkinkan pertukaran atau penyerapan bahasa itu terjadi, kecuali kisah besar tentang kedatangan pelaut Italia, Marco Polo tahun 1292 ke Perlak, Aceh. Beda dengan bangsa lain seperti Belanda, Portugis, Per ancis, India, Arab dan lainnya yang lebih lama bersentuhan sehingga berdampak pada masuknya bahasa bangsa tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Dugaan saya, kata maestro mulai diserap dan populer pada paruh kedua dasawarsa 1970-an. Momentum pemicunya adalah ketika seniman Indonesia, Affandi Koesoemah menerima dua penghargaan di Italia pada 19 Maret 1977. Ketika itu, dalam satu kesempatan upacara penuh hikmat di Cast...