Saturday, August 29, 2015

Kota, Ruang, dan Landasannya

Potongan pemandangan kota Dubai.

Oleh Kuss Indarto

PADA bulan Juli 2008 lalu, dalam kongres IUA (International Union of Architects) yang berlangsung di kota Torino, Italia, seorang arsitek berkelas internasional, Peter Eisenman memberikan sebuah ceramah yang mengesankan. Dari pemaparan panjang itu—seperti yang bisa dikutip dari buku “Mengubah Dunia Bareng-bareng” (2015) yang ditulis oleh Ridwan Kamil (walikota Bandung) dan Irfan Amalee—ada setidaknya 6 (enam) poin penting yang berkaitan dengan problem arsitektur kontemporer. 

Pertama, kita diingatkan bahwa dunia sedang dalam krisis diskursus arsitektur. Eisenman menyebut bahwa “saat ini kita berada dalam dasawarsa yang tidak menawarkan nilai baru”. Yang ada hanyalah lateness atau kebaruan demi kebaruan geometri arsitektur yang berubah secara periodik, baik tahunan, bulanan, atau mingguan. Tak ada kegairahan pada perdebatan arsitektur dunia, seperti halnya ketika arsitektur modern bergeser ke post-modern, atau kegairahan ketika kerumitan dan kegeniusan diskursus dekonstruksi Derrida dipinjam oleh arsitek dunia dan menjadi wacana yang hangat pada zamannya.
 
Kedua, Eisenman melihat banyaknya karya arsitektur kontemporer yang sibuk dengan geometri yang semakin rumit, tetapi sering tidak memiliki kualitas yang mampu menghadirkan makna mendalam. “Just a piece of meaningless form,” tandasnya. Selain itu, banyak pula arsitektur yang tidak mampu memperkuat konteks kota dan budaya tempat ia berdiri. Oleh karenanya, tokoh arsitek dunia ini membenci Dubai. Baginya, Dubai adalah sirkus arsitektur. Segala bentuk bisa hadir tanpa korelasi, tanpa preferensi, dan tanpa didahului oleh esensi livability atau ruh berkehidupan dari sebuah kota. Kota untuk manusia. Dan Dubai dianggapnya tidak memiliki hal itu. 

Ketiga, Esienman merenungi bahwa karya arsitektur seharusnya bisa dirasakan sampai ke relung hati terdalam. Arsitektur tidak hanya cukup menjadi sebuah entitas dan objek visual semata. Arsitektur yang baik adalah arsitektur yang mampu menyentuh sisi psikologis manusia secara emosional. “Let the heart be your judge,” ujarnya. Arsitektur harus mampu mengalirkan makna di ruang tiga dimensional tersebut. Renungannya ini sejalan dengan konsep tactility yang pernah didengungkan oleh sosiolog Kenichi Sasaki yang memuji arsitektur yang dapat merangsang (stimulate) seluruh indera manusia. Arsitektur yang tidak sekadar memanjakan indera visual semata. 

Keempat, kepada pada arsitek—terutama para mahasiswa arsitektur—diingatkan oleh Eisenman agar tidak terlalu mendewakan komputer. Dia mengkhawatirkan generasi masa kini yang mengantungkan 100% proses desain dengan komputer. Perilaku ini dianggap telah menjual keindahan pada (program) Photoshop. Dengan imaji-imaji yang secara visual spektakuler seolah urusan teknis arsitektural sudah selesai. Baginya, proses desain harus dimulai dari kerja keras kontemplasi berpikir. Konsep desain harus mampu dirasakan dengan hati. Kemudian mengalir deras ke saraf-saraf di sepanjang jari-jari tangan. Oleh karena itu, sensitivitas inderawi masih dianggap yang terbaik dalam melatih konsep berarsitektur. 

Pada poin kelima Eisenman menebarkan pesan bahwa para arsitek di negara-negara berkembang agar tetap optimis dan selalu merasa beruntung. Ya, beruntung karena pada umumnya negara berkembang, seperti kebanyakan negara di Asia, masih memiliki referensi dari eksotisme budaya. Budaya yang masih memiliki tradisi kultural sebagai sumber konsep, legenda yang emosional sebagai sumber makna, dan ritual referensional sebagai sumber cerita. Kekayaan-kekayaan kultural inilah yang tidak dimiliki negara Barat seperti halnya Amerika Serikat—tempat arsitek kawakan ini bermukim dan banyak berpraktik. 

Dan keenam, Eisenman mengungkapkan bahwa tidak ada hal yang lebih bermakna dalam profesi sebagai arsitek selain sebuah ketulusan pertemanan dan kesetiakawanan sesama arsitek. Ia kemudian bercerita tentang struktur vertikal pada proyek Galia Cultural di Spanyol yang ia bangun sebagai perwujudan wasiat terakhir mendiang John Hejduk—kolega yang menjadi teman minum kopi, sahabat berdiskusi, dan kritikus atas karya-karyanya selama mereka berdua berpraktik di New York. 

Ada banyak hal yang bisa diserap dari 6 poin di atas. Antara lain, kita jadi tahu betapa sebuah arsitektur atau kota yang dianggap baik adalah kota yang mampu memberikan pengalaman ruang nan kaya. Pengalaman tersebut memberikan stimulasi kepada seluruh pancaindera manusia. Perjalanan ke kampungdi Kotagede, Yogyakarta, misalnya, akan membawa kita pada pengalaman melihat, mencium bau, mendengar, dan merasakan tekstur sebuah ruang arsitektur atau yang disebut oleh sosiolog Kenichi Sasaki sebagai tactility experience. Hal ini bisa terjadi karena faktor skala ruang yang baik, intim, emosional, dan antropometris. 

Tentu ini berbeda dengan kota-kota besar. Pengalaman ruang banyak direduksi menjadi pengalaman visual semata. Garis sempadan bangunan yang jauh, yang terkadang tidak jelas alasan ilmiahnya, telah menjauhkan hubungan emosional manusia dengan arsitektur. Akibat hilangnya aspek tactility, arsitektur pun menjadi asing dari konteksnya. Ia menjauh dari hakikatnya sebagai elemen urban. Ia mematikan lahirnya interaksi sosial warga kota di koridor jalan tempat arsitektur itu berdiri. Tidak ada aktivitas duduk-duduk rileks, ataupun interaksi spasial antara arsitektur dan warga kota sebagai pilihan berkegiatan santai pada konteks urban. 

Itulah sedikit lintasan persoalan di dunia arsitektur dewasa ini. Yogyakarta juga tak lepas dari keterikatan persoalan wacana dan problem tersebut. Demikian juga dengan kota dan kawasan lain yang sebelumnya telah memiliki preferensi dan landasan historis dan kultural sebagai modalnya. Kini semua menghadapi problem yang serupa. Dalam konteks inilah, maka Mata Jendela edisi kali ini mencoba menggagas dan sedikit mengupas masalah tersebut. Ada beberapa catatan yang menggali persoalan itu perspektifnya masing-masing. Selamat menyimak! ***
           
Kuss Indarto, redaksi Mata Jendela.

(Tulisan ini dimuat di majalah "Mata Jendela" terbitan Taman Budaya Yogyakarta (TBY), edisi No. 2 tahun 2015)