Friday, August 28, 2015

Antara Pemenang dan Pecundang


Oleh Kuss IndartoMENYIMAK karya-karya lukis Afriani dalam tiga kali pameran tunggalnya seperti menatap irisan kecil panorama Indonesia yang penuh keburaman—meski ada cercah harapan. Menonton bentang-bentang kanvas Afriani dalam sewindu terakhir seperti merunuti pergeseran visual juga perkembangan substansi karya yang cukup tertata dan lumayan terkonsep. Dari pameran tunggal pertamanya tahun 2010 yang bertajuk “Vox Populi” lalu berlanjut pada “Prahara Sunyi” (tahun 2013), hingga “Be The Winner” yang dipresentasikan kali ini, apresian—setidaknya saya—bisa melihat dan merasakan gerak evolutif dari perjalanan kreatif seorang perupa yang berhasrat kuat membuat titik-titik pencapaian dari waktu ke waktu. Perkembangan dan gerak yang evolutif tampaknya menjadi modus dan pilihannya. Bukan bergerak secara revolutif/revolusioner atau terlalu kontras dan bergegas sehingga sangat mungkin melenyapkan jejak langkah kreatif yang ditorehkan sebelumnya. Karya yang dikerjakannya untuk pameran kali ini masih menemukan titik sambung dengan hasil kreasinya sekitar 5-8 tahun lalu

Pada pameran tunggal “Vox Populi” Afriani banyak menampilkan citra visual tentang kontras-kontras sosial yang terjadi dalam masyarakat. Kontras-kontras itu disodorkan dalam kanvas seperti sebuah opini personal atas kondisi masyarakat yang ditemui di sekitarnya. Di sini, perupa ini seperti menempatkan dirinya dalam potret penuh kekontrasan tersebut karena, bisa jadi, dia juga bagian dari masyarakat yang tiap hari hidup dalam tempaan kerasnya megapolitan Jakarta yang penuh dengan kekontrasan sosial. Sang seniman ini menampilkan dirinya sebagai homo astheticus (makhluk seni) sekaligus sebagai homo socius (makhlus sosial). Pada titik ini, maka kefasihan untuk menampilkan kontradiksi atau kontras sosial terasa pada karya-karya Afriani. Ada, misalnya, lukisan yang menggambarkan sesosok anak kecil yang terempas menjadi anak jalanan dan mengamen untuk menghidupi dirinya (pada lukisan “Pewaris Semangat”, 2009). Sosok tersebut menghadap patung Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan yang juga menjadi Menteri Pendidikan dan Pengajaran pada awal-awal kemerdekaan RI. Saya kira sang seniman sengaja “membenturkan” gambaran yang kontras tersebut sekaligus beropini bahwa dunia pendidikan di Indoneia masih saja menghadapi problem yang paling elementer, yakni kemiskinan yang mengempaskan anak-anak dari keluarga tak mampu yang tak terserap ke dunia pendidikan karena problem ekonomi.

Ada pula lukisan “Kuli Malam” (2010) yang menggambarkan betapa kerasnya para pejuang keluarga itu bergelut mencari sesuap makanan dengan mengorbankan waktunya berpisah dengan anak-istri ketika malam tiba. Di latar belakang mereka, ada konstruksi jalan tol yang tengah mereka kerjakan demi mobil-mobil gilap yang butuh medan perlintasan menembus kemacetan Jakarta. Para buruh itu mungkin tak akan menikmati hasil pekerjaannya tersebut, namun keringatnya ikut memuluskan jalan yang dilewati para pemilik mobil mewah. Tema pameran kali itu, “Vox Populi”, sengaja tidak dilengkapi seperti ungkapan asli bahasa Latin “vox populi vox dei” (suara rakyat, suara Tuhan). Dari penjudulan itu terlihat bahwa Afriani tidak sedang bergegabah bahwa rakyat bukanlah kumpulan sosok suci yang “disetarakan” dengan Tuhan. Rakyat ya rakyat dengan segala kemanusiawiannya, namun dalam konteks tertentu bisa menginspirasi sesamanya dengan nilai-nilai tentang ketuhanan—lewat aksi kepedulian antar-mereka, solidaritasnya, dan lain-lain.

Berikutnya, pada pameran “Prahara Sunyi”, citra visual tentang kontradiksi dalam sosial kemasyarakatan makin dikuatkan pada karya-karya Afriani. Lebih dari itu, anak-anak sebagai subyek utama atas tema sosial itu seperti secara sadar menjadi bagian penting dalam karya-karya tersebut. Ada kisah tentang anak-anak yang harus mencari uang dengan menjual jasa ojek payung dalam lukisan “Behind the Rain” (2011), anak-anak yang tidak terjagai oleh orang tuanya di rumah sehingga lebih banyak bergaul dengan televisi (“Terbuai”, 2010), atau narasi tentang anak-anak yang kehilangan waktu untuk belajar karena mesti menjadi nomaden mengikuti orang tuanya yang tuna wisma dan terus-menerus tergusur oleh angkuhnya gurita pembangunan megapolitan Jakarta (“Nomaden”, 2011).

Seperti yang saya katakan di bagian awal, ada pergeseran yang gradual dan evolutif pada pilihan tema perbincangan dalam karya Afriani. Dugaan saya, sebagai kreator perupa ini melakukannya secara sadar sebagai bagian dari kerangka estetika yang coba dibangunnya secara bertahap. Apalagi ketika karya-karya tersebut dikumpulkan dan dipresentasikannya dalam sebuah perhelatan, maka kesadaran untuk memuat benang merah dan titip sambung antarkarya—baik secara visual maupun substansial—tampak menjadi perhatian utamanya.

***

LALU, kali ini pameran tunggal ketiganya, “Be the Winner”, dihelat setelah melalui proses yang tidak singkat dan sederhana. Hal khusus apa yang ditawarkan dalam pameran? Adakah perubahan atau pergeseran yang signifikan di dalamnya? Apa tema besar yang igin dikomunikasikannya?

Saya mencoba sedikit menguliti garis pemikiran tentang tema “Be the Winner” ini dari catatan yang dituliskan sendiri oleh Afriani. Katanya: “…Dalam usaha manusia untuk menjadi lebih baik ini saya menyebutnya sebagai sebuah “pertarungan”. Pergulatan manusia akan terus berlangsung seolah seperti tak pernah akan selesai, hingga batas waktu yang diberikan Sang Khalik, baik itu pergulatan (pertarungan) lahir maupun batin untuk menyempurnakan takdir kehidupannya menjadi pemenang…”

Pernyataan tersebut seperti mengisyaratkan sebuah kehendak yang kuat untuk menjadikan jagat seni rupa sebagai pilihan profesinya ini sekaligus sebagai medan “pertarungan” dalam bersiasat dengan hidup. Situasi psikologis ini dikuatkan oleh fakta-fakta obyektif yang saya duga menuntutnya lebih serius masuk dalam medan pertarungan. Pertama, Afriani bukanlah seniman yang berasal dari jalur akademis, namun merangkak dari dunia otodidak, dan datang dari kawasan Selayo, Sumatera Barat, lalu besar di Batam, yang tidak dikenal sebagai kawasan penting seni rupa di tanah air. Fakta ini memberi dorongan dari dalam diri Afriani untuk bergerak dengan lebih terukur dan sistematis untuk mengejar banyak ketertinggalan—baik dari segi teknis maupun penalaran. Seperti kita pahami bersama, dewasa ini dunia seni rupa Indonesia (seperti halnya kawasan lain di dunia) banyak didominasi dan didinamisasi oleh para perupa dari jalur akademik. Maka, kesadaran perupa perempuan ini untuk melakukan “pertarungan” demi upaya menyejajarkan diri dengan seniman akademik bukanlah perkara mudah, namun jelas bukan tidak mungkin.

Kedua, dugaan bahwa fighting spirit untuk bertarung ini mengemuka dari faktor “historis-genealogis” dirinya sebagai urang awak Minangkabau. Boleh saja ini dianggap mengada-ada, namun dalam catatan sejarah ranah Minang adalah kawasan dengan kultur dan adat istiadat matriarkal yang relatif masih terawat dimana posisi perempuan sangat berperan kuat dalam perikehidupan sehari-hari, bahkan hingga secara politis. Bahkan dalam konteks tertentu—seperti yang dicatat oleh Jeffrey Hadler dalam “Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau” (2010), bahwa perempuan (MInangkabau) lebih baik dalam hal “menanamkan benih, menyusun mehatap mehatoen, menyusun makanan di atas piring, karang mengarang bunga, menjahit menakat, melukis, menulis, menggambar, menerawang, merenda, menenun, menganyam dinding bambu, dan tikar dan lainnya. Maka, “pertarungan” Afriani dalam konteks ini adalah upayanya untuk merunuti semangat juangnya yang memang berkait secara genealogis. Kutipan catatan itu menjadi pengingat bahwa perempuan Minangkabau diasumsikan sebagai sosok yang siap bertarung dan penuh kemandirian.

Sementara dalam tinjauan visual dan substansinya, saya melihat ada pergeseran yang cukup kentara ketimbang dua pameran tunggal sebelumnya—yang sedikit banyak menyoal perkara sosial lewat sosok anak-anak. Kali ini, Afriani tidak sedikit menghadirkan diri sebagai subyek bagi karyanya untuk kemudian menerawang membincangkan beragam perkara yang melingkupi diri. Pola dan modus seperti ini memang bukanlah perkara baru. Dalam 15 tahun terakhir, di Indonesia, beberapa perupa juga telah melakukan hal serupa. Sebut dan ingatlah karya-karya Agus Suwage, Entang Wiharso, Jumaldi Alfi, Budi Kustarto, Edo Pilu, Asmudjo J. Irianto dan sekian banyak nama lain. Kecenderungan itu juga mengglobal dan lama karena telah dilakukan oleh para seniman besar di belahan dunia lain dan telah terjadi dalam rentang waktu jauh sebelum ini. Mereka menempatkan sosok dirinya dalam kanvas/karya sebagai representasi, jembatan persoalan atau titik berangkat bagi persoalan besar di luar dirinya.

Siasat kreatif semacam ini juga terjadi pada Afriani. Sebut misalnya pada karya-karya bertajuk “Perjalanan”, “Metamorfosa”, “Takdir Pemenang”, dan “Introspeksi”. Penghadiran diri itu seperti menegaskan bahwa tubuh diri (Afriani) adalah juga tubuh sosial. Wajah diri (Afriani) adalah wajah sosial. Potret diri adalah representasi atas segala problem sosial kemasyarakatan yang bersinggungan bahkan melekat satu sama lain. Potret diri juga seperti sebuah hasrat dari sang seniman yang menjatuhkan dirinya dalam sebuah persoalan, sembari memungkinkan diri untuk menawarkan cercah solusi.

Namun ada titik beda menarik pada karya-karya Afriani, termasuk yang menghadirkan dirinya dalam kanvas. Seniman kelahiran 5 April 1974 ini saya kira tidak begitu “keras” membincangkan problem sosial kemasyarakatan, namun menyeretnya dalam lingkup pembahasan yang bernuansa spiritual(itas) dan filosofis. Perkara “pertarungan” dan “pergulatan” hidup itu seperti dirunutnya kembali secara kronologis mulai dari proses muasalnya manusia, yakni sperma, lalu proses embrio manusia, jabang bayi, hingga seterusnya ketika sosok-sosok manusia menjalani proses alamiah menjadi besar, remaja, dewasa, dan seterusnya. Kronologi ini bagaikan cermin dan medan pengingat bagi apresian yang disodorkan oleh si seniman agar manusia kembali menyadari bahwa tiap tahap perjalanan manusia itu adalah proses pertarungan dengan level-level yang selaras dengan kurun usia berikut segala kesulitas dan kemudahannya, kestabilan dan dinamikanya.

Proses perjalanan manusia yang kronologis itu, bagi masyarakat dengan latar belakang budaya Jawa, tentu akan mengingatkan pada deretan tembang macapat yang juga berbincang tentang tahap-tahap (waktu) hidup bagi manusia tersebut. Macapat atau maca papat (membaca tiap empat suku kata) adalah salah satu jenis puisi yang dikenal dalam tradisi sastra Jawa, selain kakawin, kidung, wangsalan, parikan, dan geguritan. Bentuk macapat mempunyai aturan yang sangat memikat yang disebut dengan guru lagu, wilangan, dan guru gatra.

Kita tahu kalau, misalnya, ketika masih dalam wujud sperma lalu berkembang menjadi janin, maka tembang yang tepat untuk mengiringi kurun tersebut adalah tembang macapat Maskumambang. Janin pun tengah berjuang dalam perut untuk bisa bertahan hidup, dan dipertahankan untuk bisa lahir dengan selamat. Penamaan “maskumambang” kiranya sebuah penghormatan bahwa janin adalah emas (mas) yang kemambang (terapung) di dalam kandungan sang ibu. Nada macapat pada tembang Maskumambang biasanya sudah distandarkan sebagai “nelangsa kelara-lara”, penuh kenelangsaan dan tangis karena masuk dalam masa keprihatinan.

Demikian pula ketika kemudian masuk dalam tahap berikutnya, yakni sang janin lahir sebagai bayi. Maka tembang macapat yang tepat untuk mengiringi masa ini adalah tembang Mijil. Ritme dan isinya penuh dengan nuansa cinta kasih dan sayang. Selanjutnya memakai Sinom ketika masuk masa remaja, Kinanthi (saat pencarian jati diri), Asmaradhana (saat jatuh cinta), Gambuh (saat berkomitmen untuk berumah tangga), Dhangdhanggula (sukses bertumah tangga), Durma (masa untuk berderma), Pangkur (mungkur, mengurangi hal duniawi), Megatruh (masa cerai dengan ruh, kematian), dan Pucung (saat dipocong menuju liang lahat).

Saya lihat, Afriani dengan sadar memberi tahapan-tahapan yang kronologis tentang pertarungan dan perjuangan manusia—bahkan mulai ketika bakal manusia masih berupa sperma. Kita bersama-sama mengetahui bahwa untuk berproses menjadi embrio dan janin pun, jutaan sperma yang berhambur ketika orgasme (setelah melewati proses intercourse) harus bersaing dan “bertarung” mendapatkan sel telur untuk dibuahi (simak karya bertajuk “Petarung Sejati”).

Demikian pula tatkala ketika pertarungan itu berlangsung secara simbolik. Afriani mengemukakan simbol visual kepompong hingga dibuat dalam beberapa bentang kanvas—di antaranya menampilkan potret diri sang seniman. Pada hewan tertentu seperti ulat, kita tahu, dalam siklus hidupnya mengalami proses metamorfosa fisik yang berujung menjadi kupu-kupu yang wujudnya relatif paling indah ketimbang proses sebelumnya. Proses menjadi kepompong itulah tahapan yang dianggap paling krusial ketika dia harus mengering, tergantung, hingga lalu secara pelahan terlepas dari cangkang kepompong dan menjelma menjadi kupu-kupu. Pada “tabung” kepompong itulah proses kawah candradimuka berlangsung. Dalam tinjauan spiritualitas, proses tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah proses asketik, yakni ketika sang ulat melepaskan problem fisikalitas sebelumnya, menyepi, menyembunyikan diri dari dunia luar, masuk dalam kesunyian, mengurangi makan, bertapa, hingga kemudian hadir dalam kerangka “eksistensi” yang berbeda: menjadi kupu-kupu.

Ini tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai perubahan fisik belaka, namun ada problem spiritualitas yang mendalam yang menyertai perubahan tersebut. Ada banyak “pertarungan” yang menyertai di dalamnya. Saya kira ini juga menjadi bagian dari kesadaran spiritual(itas) Afriani sehinga perlu membuat karya dengan simbol visual kepompong hingga beberapa buah.

***

Deretan karya perupa perempuan ini terasa melewati proses perwujudan karya yang lambat-laun mulai menyublim. Pemunculan beragam dunia simbolnya pun terasa relatif halus (eufemistik). Bukan sekadar menampilkan jagat simbol tersebut secara mentah, lugas, dan apa adanya. Ada “pertarungan” dalam proses perwujudannya. Pergeseran seperti ini tentu tidak mudah karena seorang seniman, bisa jadi, membutuhkan proses waktu yang relatif lama, melewati perenungan yang tak sedikit, pembacaan tanda-tanda atas semua gejala yang tumbuh di sekitar diri dan imajinasinya, dan lain-lain.

Afriani, saya duga, berusaha keras untuk mengakrabi gejala-gejala sosial dan simbol-simbol visual yang tumbuh di lingkungan dan batok kepalanya. Semua itu harus digali, ditimba, disaring, untuk kemudian diserapnya sesuai ketepatan gagasan dasarnya. Saya mengenal lebih dekat karyanya pertama kali ketika menguratori Pameran Nusantara 2009 di Galeri Nasional Indonesia dengan tajuk kuratorial “Menilik Akar”. Dalam beberapa kali perbincangan, saya mendapati bahwa sosok seniman perempuan ini berupaya keras untuk mengingkari kemandegan kreatif dengan cara dan subyektivitasnya. Ketika di berada Batam, atau di Ancol, atau di tempat lain yang telah sekian lama disuntuki itu dianggapnya tak lagi menyuburkan kreativitas pada karyanya, maka dia berusaha untuk mengambil “jarak”, mengoreksi, untuk memicu diri menjadi lebih berkembang. Kesadaran dirinya sebagai seniman otodidak yang tak mudah untuk mendapatkan posisi penting dalam peta seni rupa, menjadikannya harus bertarung lebih keras lagi. Pameran tunggalnya kali ini, kiranya, menjadi titik penting untuk melanjutkan perjalanan kreatifnya sebagai seorang petarung. Apakah Afriani akan menjadi “Be the Winner” atau justru sebaliknya sebagai “be the looser”, menjadi pemenang atau pecundang, semuanya bergantung pada seberapa besar spirit bertarungnya saat ini dan ke depan, serta seberapa dalam dia mampu memaknai tiap jejak langkah pertarungan yang telah ditorehkannya.

Bertarung terus-menerus akan memungkinkan dirinya menjadi The Winner. Hidup ini, kata Albert Einstein, seperti orang yang mengendarai sepeda. Kita akan terjatuh kalau berhenti mengayuhnya. Dan semoga Afriani tahu persis bagaimana dan kapan harus mengayuh roda seni dan kreativitasnya. Selamat berpameran. ***

Kuss Indarto, kurator seni rupa, dan editor in chief situs www.indonesiaartnews.or.id