Friday, February 12, 2016

Karya Zheng Lu di ArtStage Singapura, 2016. (foto: kuss indarto)

Ini karya seni dengan eksekusi yang rumit dan njelimet atas konsep yang sederhana. Zheng Lu, seniman kelahiran Chi Feng, pedalaman Mongolia yang kini menetap di Beijing, China melakukannya dengan penuh keseriusan.

Dia menggali dan menuliskan kembali teks-teks dan puisi yang berbalut sejarah China. Teks-teks yang terdiri dari ribuan huruf lokal China itu dituliskan di atas lempeng logam yang telah dibentuknya sesuai ide besarnya, yakni alur atau buncahan air. Huruf-huruf tadi--setelah ditulis di atas logam--kemudian dilubangi dan dipotong outline-nya sehingga seluruh permukaan patung itu terdiri dari jalinan huruf-huruf China yang kecil-kecil yang saling terhubung satu sama lain. Terakhir, seluruh permukaan patung dilapis dengan "chrome" berwarna perak hingga gilap.

Zheng Lu, seniman kelahiran tahun 1978 yang menyelesaikan studi seni rupanya di kota Shenyang (2003), Beijing (2006), dan program advanced di Paris (2006) ini menyempurnakan karya bertajuk "Water Dripping - Splashing" ini dengan proses pemajangan yang tak kalah rumit--namun menarik hasilnya. Perlu ratusan senar untuk menggantung semua elemen karya membentuk formasi serupa gelombang dan buncahan air. Dalam kepercayaan di China sendiri, air juga menghimpun "ci" (energi) yang bisa positif dan negatif dalam perikehidupan manusia di dunia--seperti angin, tanah dan api.

Empat edisi karyanya yang disatukan itu total memiliki volume 460 x 335 x 290 cm. Tentu, ruang yang dibutuhkan lebih dari itu. Mungkin sekitar 7 x 5 meter, dan menempati satu ruang khusus di booth A7 yang disewa oleh Sundram Tagore Gallery di ArtStage 2016, Singapura, 21-24 Januari lalu. ***