Monday, June 13, 2016

Aware


DALAM sebuah interviu yang mempertanyakan "apa itu seni", filsuf Baudrillard menjawab bahwa: "Seni adalah bentuk. Sebuah bentuk adalah sesuatu yang benar-benar tidak mempunyai sejarah, melainlan memiliki tujuan (destiny). Kini seni sudah tumbang dalam nilai, dan celakanya kini nilai-nilai itu sudah rusak. Nilai: nilai estetis, nilai komersial... Nilai-nilai bisa dinegosiaaikan, dibeli dan dijual, dipertukarkan. Bentuk sebagai bentuk tidak dapat dipertukarkan dengan sesuatu; bentuk hanya dapat dipertukarkan dalam bentuk-bentuk itu sendiri, dan harganya adalah nilai estetis."

Jawaban tersebut mengindikasikan adanya pergeseran yang kuat dalam seni dan praktik penciptaannya. Hal pertama yang penting dalam seni adalah bentuk, bukan menyoal pada nilai tukar yang bisa dihasilkan oleh karya seni tersebut. Seni bisa bergerak leluasa menentukan tujuannya sendiri ketika berdiri sebagai bentuk. Ia bisa dikaitkan dengan desire for illusion, hasrat untuk (membuat) ilusi, yang dimungkinkan mampu membuka hasrat manusia untuk memasuki ruang-ruang tak terbatas."

Tiga anak muda ini, Caca, Niken dan Rani, saya duga masih berada dalam kumparan persoalan seni sebagai bentuk. Belum atau belum kuat nuansa karyanya dikerangkeng dalam balutan seni sebagai barang produksi untuk kepentingan komoditas yang dikonsumsi seperti halnya barang lain dalam masyarakat kapitalis.

Caca membincangkan tentang tubuh-tubuh dan mencoba keluar dari problem dan isu usang tentang rivalitas makna "naked" dan "nude", sembari mendalami makna-makna lain perihal ketubuhan. Niken sibuk bermain-main tentang satwa-satwa kecil dengan eksotikanya, dan mengeksposisikannya dengan cara yang tidak cukup mainstream. Dia menggambar ikan atau satwa lain lalu dimasukkan botol dan dijajar sebagai sebuah repetisi yang menawarkan ilusi lain tentang air, akuarium, ruang, dan lainnya. Sedangkan Rani dengan drawing-nya yang renik dan telaten berupaya menelusuri problem keperempuanan, meski mungkin tak akan menjebakkan diri sebagai seorang feminist artist.

Karya-karya mereka, meski belum amat komprehensif tampilannya karena keterbatasan waktu dan tempat, cukup memberi gambaran tentang anak-anak muda dalam seni rupa yang gelisah mencari kebaruan atau perbedaan dalam praktik dan capaian kreatif. Terlebih lagi bila ditemalikan dengan problem gender, posisi trio yang relatif minoritas ini penting untuk dicermati. Caca menggarap pilihan kreatif yang tak banyak digeluti perupa perempuan. Bahkan mungkin dihindari. Rani juga memilih gubahan kreatif yang butuh energi kuat dan bekal pengetahuan yang lebih dalam untuk menguatkan ideologi kreatifnya. Sementara Niken tampaknya dituntut untuk jauh lebih telaten dan eksploratif untuk menemukan lebih banyak lagi material lain yang secara konseptual bisa menambah kekuatan dan tampilan karyanya. Semuanya bermuara pada satu hal: kreativitas. Di dalamnya ada eksperimentasi, eksplorasi, dan lainnya. Dalam seni rupa, apalagi, selalu dituntut untuk mencari "another form and concept of art". Ini hal yang akan membedakan seniman yang kuat dan biasa-biasa saja.

Pameran "Aware" ini adalah permulaan yang baik untuk mengawali jelajah kreatif trio anak muda ini di pelataran seni rupa. Syukur kelompok kecil ini bisa bertahan beberapa waktu ke depan sehingga ketiganya bisa saling ber-sparring partner secara sehat dan konstruktif. Dengan demikian, bisa lama bertahan (atau selamanya) menjadikan karya seni sebagai bentuk, dan bukan memprioritaskan sebagai nilai tukar yang sangat komersial. Kalau mampu, bukan tak mungkin karya yang "desire for illusion" akan banyak lahir dari tangan mereka. Ya, waktu sedang membangun misterinya atas mereka. ***