Thursday, December 14, 2006

Museum Situs Ingatan

(Tulisan ini dimuat dalam katalog pameran Homage 2 Homesite. Pameran ini berlangsung di eks kampus Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, di Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta)

Oleh Kuss Indarto

Sesungguhnya, tulisan yang hendak ngalor-ngidul ini tak berhasrat banyak untuk mendedahkan problem substansial atas teks visual (yang bertebaran di ruang pamer) seperti yang ditengarai oleh tajuk pameran ini. Dan sejatinya, memang, label Homage 2 Homesite (Kembali ke Gampingan) “sekadar” judul penanda pameran, bukan tajuk kuratorial yang galibnya dengan kuat mengimbas pada implimentasi atas rentetan karya-karya seni rupa di dalamnya. Ya, terus terang, ini memang merupakan pameran “dalam rangka”, bukan pameran “dengan kerangka” tematik yang ketat dan rigid.

Tak berbeda jauh ketimbang perhelatan sebelumnya, yakni Melukis Lagi di Gampingan yang berlangsung Minggu, 19 November 2006 lalu, pameran ini memberangkatkan diri dari upaya “romantik” untuk merawat ingatan. Ingatan, seperti yang digagas oleh pemikir Perancis Paul Ricoeur (1999), memiliki dua jenis hubungan dengan masa lalu. Pertama, merupakan relasi pengetahuan, sementara yang kedua adalah relasi tindakan. Kedua relasi ini muncul karena mengingat merupakan jalan untuk melakukan segala hal, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan pikiran kita. Dalam mengingat atau mengenang kita menggunakan ingatan, yang merupakan sejenis tindakan. Justru karena ingatan merupakan sebuah exercise, maka kita dapat berbicara tentang penggunaan ingatan, meski pada gilirannya bahkan memungkinkan kita berbicara tentang penyalahgunaan ingatan.

Dengan menjadikan ihwal ingatan sebagai kemungkinan konstruk pengetahuan, maka dua perhelatan, yakni Melukis Lagi di Gampingan dan pameran Homage 2 Homesite ini digelar secara berurutan. Dia, perhelatan tersebut, dihasratkan memunculkan banyak kemungkinan. Mungkin bisa sebagai “perayaan atas ingatan”. Pun barangkali menjadi semacam “pintu masuk” untuk memberi pemahaman-pemahaman baru atas “teks” ingatan yang telah melayap digerus waktu. Atau juga sekaligus dimungkinkan menjadi medan pemberi bingkai dan perspektif baru atas “teks” ingatan.

Situs Gampingan

Kemungkinan-kemungkinan tersebut cukup penting untuk dikedepankan sebagai respons atas wacana yang tengah mengembang. Yakni rencana akan dijadikannya bekas kampus seni rupa ASRI/STSRI “Asri”/Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Yogyakarta di Gampingan, Wirobrajan, sebagai museum seni rupa. Bahkan rencananya berlevel nasional. “Situs ingatan” ini mengemas banyak hal yang layak diaduk dan dibongkar kembali untuk mengais nilai-nilai yang selama ini diabaikan. Misalnya, seperti yang pernah diungkapkan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib (1991), bahwa di situs itu, pada kurun 1970-an, sangat kental akan situasi psikologis dan kultural yang sangat merangsang kreativitas dalam berkarya seni. Juga memiliki ketersentuhan integral dan inklusif yang menyeluruh dari realitas sosial. Ada iklim komunalitas yang kuat antarseniman sendiri dan antara seniman-masyarakat yang digambarkan begitu kental dan karib oleh Cak Nun.

Tentu kita tak akan menggiring diri menyelami alur kurun waktu lampau yang romantik itu untuk mengabaikan nilai kekinian yang pasti telah menggeser banyak sistem nilai sosial sebelumnya. Melainkan memberi bingkai pada ingatan atas situs Gampingan untuk menjadikannya sebagai sumber atau “ruh” pada bangunan sosial atas museum yang kelak akan dibangun. Artinya, bangunan fisik bisa semegah apapun atau bisa sementereng apapun seperti yang mungkin tengah digagas oleh pendirinya. Namun, nilai-nilai sosial yang menjadi pijakan di atasnya, pada hemat saya, bisa tetap mengawetkan atau mengadopsi sistem dan nilai sosial yang dulu atau selama ini telah terbangun di lingkungan tersebut. Sekali lagi, inklusivitas dan komunalitas yang kental, seperti diisyaratkan oleh Cak Nun adalah titik pentingnya. Situs Gampingan bisa tetap menjadi “rumah” untuk tempat kembali, situs untuk mendaratkan lagi ruh kreativitas.

Cermin Pembanding

Selepas itu, tampaknya kita harus berpikir cepat atas ketertinggalan kita yang telah masuk pada “stadium akut” dalam soal permuseuman. Misalnya dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hingga tahun 1984 pun (22 tahun lalu, kawan!) telah mempunyai sekitar 5.000 museum (Hilde Hein, 1992) dengan beragam jenis museum dan varian sistem kepemilikan atau kepengelolaannya. Jumlah itu, tentu kini kian bertambah banyak sesuai perkembangan waktu dan kebutuhan akan museum yang kian menguat. (Dengan segala maaf, kita harus memberi diri contoh pembanding yang lebih maju agar perspektif pandang menjadi jauh lebih progresif). Keragaman museum tersebut berdasar tipe utamanya terdiri dari (1) museum seni rupa (art museums), (2) museum ilmu pengetahuan (science museums) seperti museum biologi, museum industri dan teknologi, museum botani dan sebagainya), lalu (3) museum antropologi (anthropology museums), (4) museum sejarah (history museums), dan (5) museum dengan ketertarikan khusus (miscellaneous special interest museum).

Atau ada realitas lain yang bisa diketengahkan di sini. Andai kita mau menengok kepada wajah raksasa ekonomi di Asia, Cina, yang juga kian menggeliat di sektor kebudayaannya, tentu akan cukup menggetarkan nyali. Kini, di sana ada realitas yang sedang dikonstruksi secara sistematis dan serius oleh pemerintah dan elemen masyarakat seni-budaya Cina, yakni proyek filantropi budaya dan repatriasi budaya (ARTnewsletter Highlights, edisi 3 Januari 2006). Proyek pertama, filantropi budaya, dihasratkan oleh pemerintah dan publik budaya Cina untuk “menghamburkan” (= mengalokasikan) dana (negara, perusahaan dan pribadi) demi kepentingan kebudayaan sebagai rencana strategis untuk menjadikan Cina sebagai kekuatan kebudayaan penting di dunia. Proyek ini, dari pertama dan utama, tidak ditendensikan untuk mengeruk keuntungan komersial. Salah satu proyek yang sedang direalisasikan adalah rencana pembangunan sekitar 1.000 (seribu) museum seni di seluruh daratan Cina hingga tahun 2015 atau dalam 9 tahun mendatang! Ini untuk melengkapi keberadaan 2.000 (dua ribu) museum yang telah ada hingga tahun 2002. Menariknya, proyek-proyek ini justru dipelopori oleh lembaga bisnis milik militer yakni Chine Poly Group Corporation yang dipimpin langsung oleh Mayor Jendral He Ping. Lembaga ini mulai bergerak di ranah seni budaya tahun 1998 lalu.

Proyek ambisius itu kiranya bukanlah isapan jempol belaka kalau menyimak laju perkembangan pasar seni rupa di sana yang sedikit banyak memiliki imbas positif pada pentingnya kehadiran banyak museum. Misalnya angka hasil pelelangan barang dan karya seni di semua balai lelang yang beroperasi di Cina yang menyentuh angka 579,9 juta dolar AS pada tahun 2003 dan melonjak hingga menjadi 1 milyar dolar AS (sekitar 9 triliun rupiah) sepanjang tahun 2004. Ini tidak termasuk angka transaksi finansial yang terjadi di galeri-galeri atau studio-studio seniman. Belum lagi ada perhelatan Shanghai Art Fair yang selalu dibanjiri pengunjung dari seluruh dunia.

Mau Ngapain Kita?

Ketimbang dua raksasa di atas, kita tentu jauh tertinggal. Bahkan untuk sekadar mendapatkan informasi dan data jumlah museum di tanah sendiri pun, alamak, merupakan perjuangan yang teramat berat. Sulit! Apalagi andai menyandingkan antara fakta-fakta yang terjadi di sini dan kemajuan mereka (negara lain, apalagi dengan Amerika Serikat dan Cina) yang tentu penuh ketimpangan dan cenderung kurang proporsional. Namun setidaknya dua contoh di atas betul-betul menjadi ilustrasi efektif yang akan mampu memberi nilai lebih dalam proses pembelajaran sekaligus shock therapy untuk lebih serius mewujudkan lebih banyak museum di Indonesia. Khususnya museum seni rupa di tanah Yogyakarta.

Nilai penting kehadiran museum ini kelak tentunya akan memberi ruang akomodasi atas (potongan) artefak seni rupa yang telah dihasilkan oleh seniman Yogyakarta atau Indonesia. Terjalin pula di dalamnya, karya tersebut dimungkinkan mampu menjadi alat baca untuk menelusuri fakta sosial-kultural yang lahir dari medan seni rupa. Atau dengan kata lain, fakta dalam seni rupa menjadi cermin dari realitas sosial-budaya. Di sinilah dimensi pembelajaran dan apresiasi akan beragam nilai-nilai mengemuka. Belum lagi aspek-aspek lain yang segera merimbun sebagai imbas positif dari munculnya museum. Anda, sidang pembaca, tentu tahu betul beragam imbas tersebut yang bisa anda sebut dan urai satu persatu. Dan itu akan kian variatif sesuai perkembangan waktu. Singkatnya, sudah saatnya kita bersama-sama membaca ulang dan membongkar kembali cara pandang serta cara bersikap yang kuno dan stereotipe ihwal museum yang selama ini, di republik tercinta ini, dipahami sebagai “kuburan” tempat mengonggokkan masa lalu saja, dan bukan sebagai “supermarket ingatan” tempat orang berbelanja dokumentasi.

Lalu, kalau ada kenyataan bahwa kita belum juga memiliki sebuah museum seni rupa yang representatif untuk ukuran kota Yogyakarta (yang telah terlanjur mengutuk diri sebagai “kota budaya”) ini, pada titik mana kita akan memulai? Pada kisi-kisi mana kita bisa ramai-ramai memberi kontribusi?

Pada momen ini, lewat cara dan medium apapun, kita bisa memulai untuk memberi kontribusi. Siapapun Anda! Mari bergegaslah bersama!

No comments: