Monday, August 06, 2007

Kenapa kita Nge-Shout Out?


(Foto: Aku yang berkaos biru tengah bareng Arie Dyanto menyeleksi karya untuk pameran Shout Out FKY 2007)

Oleh Kuss Indarto

(Teks ini dimuat dalam katalog pameran Shout Out Festival Kesenian Yogyakarta XIX - 2007)

/1/

Yah, FKY lagi, FKY lagi! Ritual tahunan Festival Kesenian Yogyakarta-pun datang lagi untuk kesembilanbelas kalinya.

Apa boleh buat, perhelatan pameran bertajuk kuratorial Shout Out! (Berteriaklah!), yang menjadi bagian penting dari FKY ini, tergelar. Sejumlah 35 nama seniman dan kelompok seniman (15 nama di dalamnya adalah direkrut sebagai undangan, dan lainnya hasil seleksi), “bertarung” beradu perhatian di hadapan publik seni rupa di Yogyakarta. Jelas bukan perkara mudah untuk menentukan dan memilih nama-nama yang akhirnya jadi peserta pameran ini. Sejarah kreatif mereka yang menjadi dasar pertimbangan, dan tentu saja progres kreatif terakhirlah yang kemudian mengerucutkan nama-nama yang ada dalam pameran ini. Sudah barang pasti, relativitas dan dugaan adanya unsur subyektivitas akan mewarnai reaksi publik terhadap hasil pemilihan dan seleksi ini. Ah, ini masalah wajar yang nyaris menjadi “hikayat” tersendiri dan senantiasa menyertai perhelatan yang menerapkan sistem seleksi. Di manapun di dunia!

Tapi bukan apa-apa kalau untuk sementara problem itu dilupakan, ketimbang kita menghamburkan waktu untuk mencereweti hal yang (bisa jadi) kurang produktif. So, sebenarnya ngapain lagi dengan FKY? Ke manakah arah pameran seni rupa FKY ini akan didorong?

Kalau dicermati, bisa jadi tema kuratorial FKY kali ini tak begitu spesifik. Yah, kata Shout Out masih berasa “netral” ketimbang kata Barcode atau Kotakatikotakita seperti yang ditawarkan sebagai tema kuratorial FKY tahun 2004 dan 2005. (Tahun 2006 bertema Homy Family, tapi urung dipamerkan karena ada gempa bumi 5,9 SR pada 27 Mei 2006). Namun sebenarnya dalam tema Shout Out dengan tegas dihasratkan sebagai forum bagi seniman muda di bawah 35 tahun untuk mengetengahkan berbagai eksperimentasi kreatif, terutama pada pencarian kemungkinan keragaman medium ekspresi kreatif. Ya, ini problem medium! Medium yang dipakai pun diangankan dipakai dengan landasan cara berpikir dan cara pandang berbeda ketimbang cara berpikir linier yang “konservatif” juga “konvensional”. Artinya, medium tidak sekadar dilihat sebagai objek benda saja, melainkan dimungkinkan sebagai subjek tanda yang memuat pesan-pesan di dalamnya. Titik fokus pada masalah medium ini bertitik berangkat pada “penolakan” terhadap pemahaman yang telah mulai menguat bahwa bangunan hierarkhi karya seni seolah berpuncak pada karya seni rupa yang bermedium lukisan (di atas kanvas). Cara pandang “tiranik” seperti inilah yang berupaya untuk dibaca dan dikaji ulang sebelum betul-betul menguat sebagai kebenaran tunggal yang berdiam di batok kepala semua orang (yang bergelut di ranah seni rupa).

So, inilah forum yang dimungkinkan untuk meneriakkan (tema) apapun dengan cara (atau medium) apapun! Tidak mudah memang untuk mengaplikasikan gagasan seperti ini. Namun, dengan melihat banyak karya yang tereksposisi pada pameran ini, hasrat kami sebagai kurator untuk menampilkan karya yang penuh eksperimentasi sedikit banyak telah terpenuhi. Meski, terus terang, masih jauh dari 100 persen. Hehe, apa boleh buat! Semua metode, cara, modus atau apapun pasti punya risiko masing-masing.

Setidaknya, dengan pameran ini, kami mencoba memberi celah kemungkinan bahwa pameran seni rupa tidak selalu berarti pameran lukisan semata. Lalu, indikasi keberhasilan sebuah pameran seni rupa tidak mesti terindikasi dari seberapa banyak karya-karya dalam pameran tersebut berpindah tangan ke tangan kolektor dengan angka-angka (price) rupiah yang membubung. Modalitas kreatif yang dimiliki oleh seniman tak bisa dikerucutkan secara eksak (harus) bertukar nilai dengan modalitas kapital semata.

Itulah “mitos-mitos” baru (atau sudah klasik ya?) yang coba digugat lewat perhelatan kali ini. Sebuah pameran tidak bisa secara eksak dikatakan sukses ketika karya di dalamnya sold out atawa terkoleksi semuanya. Artinya, pameran ini tidak serta-merta mengetengahkan karya seni dengan paramater keindahan yang dipahami secara “konservatif” dan “konvensional”. “Keindahan” dalam seni pun tidak dimutlakkan sebagai sesuatu yang melekat dalam sebuah karya seni. Ini dapat dipahami bahwa proses interaksi publik terhadap karya seni lebih didahului oleh sensasi, dan reaksi terhadap keindahan adalah bagian “kecil” saja dari sebuah sensasi. Dengan demikian, sebenarnya, keindahan yang sifatnya relatif itu (sekali lagi) tidak bisa dimaknai secara “konvensional” sebagai bagian yang inheren dalam sebuah karya seni. Sebaliknya, kita bisa meneropong lebih luas jangkauan karya seni ini sebagai sebuah karya (atau artefak) kebudayaan yang tidak sekadar dipertanyakan sebagai karya yang “indah atau tidak indah”, melainkan juga sebagai karya yang mau “berbicara dan berpihak kemana”. Lebih jauh, karya seni pun bisa diposisikan sebagai salah satu etalase dan “alat baca” bagi pergerakan, pergeseran, kecenderungan sebuah kebudayaan tertentu.

/2/

Sesungguhnya, tema Shout Out ditawarkan sebagai salah satu alat untuk memetakan garis kecenderungan kreatif seniman/anak muda dewasa ini, sekaligus membandingkannya dengan kecenderungan estetik yang dibawa oleh seniman/anak muda 30-an tahun lalu ketika muncul Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) tahun 1975. GSRB, yang waktu itu gaungnya menasional, juga muncul dan dipelopori oleh seniman/anak muda Yogyakarta yang berproses di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sekarang menjadi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Mereka antara lain Bonyong Munni Ardi, F.X. Harsono, Hardi, Siti Adiyati, Nanik Mirna, dan lainnya, yang bergabung dengan seniman muda dari Fakultas Seni Rupa ITB, seperti Jim Supangkat, Priyanto Sunarto, dan sebagainya.

Tentu tak menarik kalau penyandingan karya-karya anak muda dewasa ini dan eksponen GSRB sebatas dipahami sebagai upaya “mempertandingkan” capaian estetik mereka. Sungguh! Karena justru dengan menyimak karya mereka secara keseluruhan dan sembari membuka ingatan atas konteks waktu mereka dan karya mereka lahir, kita bisa melihat semangat jaman (zeitgeist) yang memberi warna anak karakter karya, kecenderungan kreatif, trend proses kreatif tertentu, dan lainnya.

Ya, pameran ini sebagai upaya kecil untuk melihat latar belakang proses kreatif para perupa muda tiga dasawasa lalu dan anak/seniman muda sekarang. Setelah berbincang dengan beberapa perupa yang terlibat dalam GSRB (yang karyanya dipamerkan dalam Shout Out ini), ada titik hubung yang relatif sama, bahwa para perupa muda selalu berupaya untuk mengayakan aesthetic literacy (kecerdasan estetik) dengan senantiasa mencari alat ukur estetik baru. Fakta ini bagai “dalil natural” yang telah melekat sebagai kecenderungan pada banyak perupa muda. Dulu, pada tahun 1970-an eksponen GSRB menolak identitas keindonesiaan yang dimunculkan oleh Akademi Jakarta dengan lari menjumput Pop Art atau Dadaisme sebagai titik acu. Sementara sekarang karya-karya street art, toys art, video art, dan lainnya, meski bukan barang baru, telah menjadi salah satu titik acu seniman muda.

Titik bedanya, kalau sedikit kita telisik dengan hipotesis awal, terlihat pada tema atau dunia gagasan dan modus penyampaiannya. Kalau tahun 70-an, terutama GSRB, lebih ketat berbicara soal kondisi sosial politik. Tentu ini berkait dengan hegemoniknya kekuasaan militeristik Soeharto waktu itu. Ini terwakili oleh karya F.X. Harsono dengan karyanya, “Paling Top 1975” yang memajang kotak kayu dengan bagian depannya ditutup kawat. Dalam kotak itu terpampang senapan militer. Ide serupa muncul pada karya anak muda, I Gusti Made Surya Darma. Video art dan instalasi yang dimunculkan dalam Shout Out (dan performance art saat pembukaan pameran) adalah aksi satirik yang penuh humor tentang gerakan antimiliterisme. Surya Darma menanam “tanaman tentara” (berupa boneka tentara dari plastik berukuran kecil) di miniatur sawah yang dibuatnya. Yang dimunculkan sebenarnya adalah metafor penuh humor, bukan karya poster penuh slogan. Ini bedanya.

Dan secara umum, generasi (seniman) muda sekarang banyak memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai bagian penting dari karya atau sebagai modus dalam berkarya. Ini tampak pada video art atau moving image yang ada dalam pameran ini, seperti karya Wedhar Riyadi, Fourcolour Films, Terra Bajraghosa, Populair Project, dan lainnya. Sementara pada dunia gagasan, mereka lebih banyak bermain-main dengan dunianya sendiri, cenderung egosentrik, dan sedikit yang berbicara dengan tema-tema besar. Lihat misalnya karya Wijayanto B. yang menempeli sekujur peti mati betulan dengan stiker, atau Akademi Samali yang bikin mainan optik lewat bilik tripleks yang berkaca, atau Ismed yang menyusun ribuan peniti dan kemudian diuntainya dalam jalinan simpul “tali peniti” besar. Juga kelompok Jogja Mural Forum (JMF) yang memuralkan bak truk sampah milik pemkot Jogja. Dan masih banyak lagi contoh karya lain. Mereka bermain-main dengan ragam medium sekaligus meruntuhkan asumsi-asumsi yang mitologis tentang karya seni yang (mesti) auratik, indah, adiluhung dan berjarak dengan keseharian. Semuanya, bagi anak muda sekarang, bisa menjadi apapun, termasuk menjadi karya seni.

Dalam kaitan itu pula maka pameran Shout Out memang hendak ditendensikan untuk membuka semua kemungkinan dan capaian estetik yang saat ini tengah digeluti dan menjadi trend positif bagi seniman dan anak muda jaman ini. Bentuk ungkap estetik yang penuh ragam, akhirnya, sangat dimungkinkan untuk masuk sebagai material pameran. Meski demikian, karya seni “konvensional” seperti lukisan jelas masih dimungkinkan mendapat tempat, tentu (diharapkan) dengan pendekatan konsep dan penyajian yang lebih “baru” bahkan “radikal”.

Dengan maksud itu pula, maka pameran ini memberi batasan usia (calon) peserta maksimal 35 tahun. Ini sesuai dengan misi pameran FKY tiga tahun terakhir (Barcode, 2004; Kotakatikotakita: Yang Muda Melihat Kota, 2005; dan Happy Family, 2006 tapi batal karena gempa bumi) yang lebih mengedepankan perhelatan ini sebagai sebuah laboratorium proses bagi laku kreatif seniman muda usia.

Batasan-batasan seperti ini tentu dimungkinkan direaksi oleh penolakan. Ini wajar karena pemahaman paling kuat dari hadirnya sebuah festival adalah tingkat partisipatifnya yang kental dan kuat. Tapi, bagi kami, mengentalnya pola partisipatif dalam sebuah festival justru akan bersulap rupa menjadi pisau tajam yang menghunjam festival itu sendiri. Maka, di sela pola partisipatif, perlu diimbangi dengan pola kompetitif. Ini dua hal yang bertumbuk secara komplementatif. Pola partisipatif memungkinkan sebuah perhelatan festival yang inklusif dan populis, sementara aspek kompetitif memungkinkan panitia atau apresian memiliki alat ukur estetik ketika melihat suguhan acara dalam festival semacam FKY ini. Pada kurun tertentu, banyak item acara FKY (termasuk di seni rupa) lebih mengedepankan senioritas dalam kepesertaan dengan mengabaikan pencapaian kreatif-estetik. Modus seperti ini merupakan bentuk penghormatan semu terhadap senioritas yang justru patologis bagi FKY. “Mitos” bahwa yang senior pasti selalu lebih hebat harus diurai ulang, antara lain, dengan mengedepankan FKY sebagai ruang persemaian kreatif-kompetitif bagi yang yunior.

/3/

Perhelatan ini, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya, tentu hendak didedikasikan bagi perkembangan seni rupa di Yogyakarta, bahkan mungkin di Indonesia. Namun pameran Festival Kesenian Yogyakarta ini tak akan bergegabah sebagai “alat ukur” bagi perkembangan seni rupa di Yogyakarta dewasa ini, namun sebagai forum kecil yang dimungkinkan sebagai “alat baca” (mungil) untuk membaca gelagat dan geliat yang tengah dialami secara dinamis oleh pelaku seni rupa di kawasan ini. Kita tahu, cara pandang berkesenian pun, untuk konteks waktu kini telah mulai bergeser tidak lagi menganggap (proses kreatif) sebagai sesuatu yang “adiluhung”, yang given karena “menunggu ilham jatuh dari langit”, “meniru alam”, dan semacamnya, melainkan juga menjadi sistem representasi intelektualitas, sistem penanda habitus, respons kreatif sebagai homo socius (makhluk sosial), dan sebagainya. Dari sini tentu mulai terlihat titik beda keluaran kreatifnya.

So, siapapun bisa dengan tegas untuk tidak bersetuju dengan pola, metode kuratorial berikut nama dan hasil karya rupa yang terpampang di ruang pajang Taman Budaya Yogyakarta kali ini. Atau mungkin sebaliknya. Pro-kontra inilah, bagi kami, secara sadar justru memberi imbas paling penting bagi dinamika di jagad seni rupa Yogyakarta. Karena laju kreatif seniman yang terus bergerak pasti akan memberi kontribusi penting bagi pola kuratorial yang juga dimungkinkan penuh eksperimentasi. Di sinilah sintesis sebuah kebudayaan diniscayakan akan terus mencari kebaruan. Di sinilah kita bertangung jawab secara bersama.

Walah, walah! Wuih!

4 comments:

Tubagus P. Svarajati said...

Minta izin masukkan blog Anda ke situs Rumah Seni Yaitu. Kamsia yang Bung Kuss!

yolanda said...

halo kuss....ok dong aktif trus tuk ngembangin 'dunia pikir' seni yang sangat langka penggeraknya di indonesia

kuss-indarto said...

Pak Tubagus: Oke deh, pasang aja. Iklan gratis buat saya kok.. hehe

Yolanda: Hai, Yola! Tengkiu supportnya. Kemana aja neh? kamu juga donk ya!

Riri said...

Mas..Kussss, bener-bener beyond the artist deh.