Wednesday, January 16, 2008

Kekukuhan Kukuh


(Potret van Gogh karya Kukuh Nuswantoro)




(Wah, kalau ini ini fotonya gak nyambung. Ini saat ndisplai karya pameran Biennale Jogja IX. Ada Ivan Sagito dan Edi Prabandono)

Oleh Kuss Indarto

(Catatan ini telah dimuat dalam katalog pameran tunggal Kukuh Nuswantoro, bertajuk My Face Imaginary, yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, 8-17 Januari 2008)

Kukuh Nuswantoro muncul sebagai perupa dengan membopong beban sejarah. Ayahnya, O.H. Supono, adalah salah satu perupa penting pada jamannya. Dan asumsi sosial acap kali memberi semacam justifikasi yang klise terhadap relasi genetis ini: sang anak seolah “diharuskan” mendekati atau melebihi pencapaian sang orang tua. Anak pelukis ya “harusnya” juga jago melukis, begitu kira-kira asumsi yang sering berseliweran. Atau impresi “tak adil” ketika sang anak memiliki pencapaian yang sepadan dengan orang tuanya, “hanya” permaklumanlah yang menghampiri. “Maklum dong kalau karyanya yahud, lha bapaknya seniman besar!”

Orang Jawa memiliki istilah untuk memberi kerangka atas situasi ini: banyu udan miline ora adoh saka talang (air hujan tercurah tak jauh dari talang). Atau orang Melayu berkeyakinan bahwa “air hujan jatuhnya ke pelimbahan juga”. Sementara orang Barat yang dianggap lebih rasional bahkan memberi semacam tengara yang tegas: Like father like son.

Pada banyak kasus yang lebih melegenda dan dalam wilayah lain, ihwal semacam ini banyak terjadi. Kita bisa menyimak bagaimana sosok Kartika Affandi terus-menerus mencoba melepaskan anggapan publik bahwa karya-karyanya bukanlah citra epigonisme papinya, maestro Affandi. Atau Idran Wakidi yang senantiasa sulit untuk mengelak dari “jebakan genetis” atas karya lanskap tentang Ranah Minang ala Wakidi. Juga Sudargono mencoba tanpa beban dengan nama besar Sudarso. Demikian pula Satya Sunarso yang memilih menjadi pembalap nasional ketimbang merunuti sejarah besar pematung Edhi Sunarso. Di Barat, di jagat lain yang populis, kita sayup-sayup cukup mengakrabi nama Julian Lennon yang harus ngumpet untuk tidak lagi bermusik karena tak mungkin bersaing dengan jejak-jejak citra raksasa ayahnya, John Lennon. Atau Brandon Lee, yang habis-habisan membuat identifikasi yang berseberangan dengan sang ayah, Bruce Lee, yang kadung menjadi legenda kungfu di dunia mimpi Hollywood. Atau Jordy Cruyff yang gocekan kakinya dalam menyepak bola di F.C. Barcelona dianggap tak bertuah ketimbang pengampu garda depan strategi total football, Johan Cruyff. Secuil fakta ini, tak pelak, menjadi deretan kasus yang cukup menarik lebih lanjut.

Lalu, apakah ada yang salah ketika seseorang lahir dari keluarga yang memiliki reputasi atau kemasyhuran tertentu? Jelas tidak. Ini setara dan sebangun, misalnya, dengan fakta sekaligus analog pada diri seseorang yang menjadi keturunan seseorang tertentu. Misalnya, apakah seorang maling secara otomatis akan melahirkan anak yang kelak akan jadi maling? Inilah stigmatisasi (pengaiban) atau generalisasi (Jawa: nggebyah uyah) yang biasa dikonstruksi secara kolektif oleh masyarakat tertentu.

Pada kasus Kukuh, atau juga untuk kasus serupa lain, saya kira, layak dikedepankan cara pandang yang proporsional. Artinya, embel-embel adanya relasi genetis bisa diabaikan dan dinafikkan sama sekali.

***

Kita tahu dan sadar bahwa ketika seorang perupa berkarya, tak selamanya dia memulai dengan bekal kehampaan batin, pandangan, pikiran, khayalan dan imajinasi. Bahkan kekosongan dalam hal yang satu ini adalah kemustahilan. “Keisian” itu justru sudah menjadi tuntutan yang sudah harus ada sebelum seniman memulai mengembarakan dan menggembalakan garis ekspresinya. Seorang perupa tidak jarang telah menyimak karya-karya dari seniman lain, termasuk dari orang terdekatnya, yang sadar atau tak sadar, cepat atau lambat akan memberi pengaruh. Bahkan tak sekadar itu, jiplak-menjiplak pun pada akhirnya tak terhindarkan.

Namun ada satu titik yang perlu ditorehi garis tebal pada perkara ini. Bahwa keterpengaruhan, pembuntutan atau epigonisme bahkan penjiplakan atau plagiasi yang dialami atau dilakukan oleh seorang seniman (dalam hal ini perupa) adalah lumrah, sah dan halal saja adanya, apabila dilakukan dengan amat sadar bahwa tahap itu hanyalah salah satu terminal dalam perjalanan/proses kreatif kesenimanan yang terus bergerak. Artinya menjadi epigon bahkan plagiator tidak disikapi dan dimaknai sebagai jejak penghabisan tanpa kelanjutan, atau menjadi titik-mati tujuan. Dalam bahasa yang sloganistik, bisa berbunyi: “Epigonisme sebagai proses, Yes! Epigonisme sebagai tujuan, No!”

Epigonisme, plagiatisme bolehlah – sekali lagi – menjadi salah satu terminal yang memberi ruang gerak bagi seniman untuk bertolak membangun jati diri atau identitas. (Meski saya sadar sepenuhnya bahwa ketika berbicara perkara identitas karya pada sesosok seniman akan berisiko debatable dan belum tentu berkesudahan). Terminal tempat menghimpun atau menghirup hawa sebelum membentuk nafas estetika pribadi yang lebih “patent”. Dari sini, maka hal terpenting adalah hadirnya “otentisitas-jiwa” yang sedikit demi sedikit dan terus-menerus dinyalakan, digemakan dan dialirkan ketika terminal ‘epigonisme-plagiatisme’ tengah dijalani.

Intensitas dan kontinuitas berkarya yang ajeg dan terjaga dengan tetap menjunjung tinggi ‘otentisitas-jiwa’ ketika singgah di terminal epigonisme ini, bukan sebuah kemuskilan/kemustahilan bila kelak akan menghasilkan sesosok ‘potret diri’ yang sangat pribadi. Sebuah jati diri yang sangat hakiki dan mandiri. Jadi, epigonisme takkan selalu menjadi dosa yang pantas untuk disesali.

***

Tataplah lukisan-lukisan Kukuh Nuswantoro kini. Akan ditemukan di sana, ke-Kukuh-an Kukuh yang tak lagi “O.H. Supono”. Karya-karya Kukuh tak bisa lagi dengan serta-merta dilabeli (atau diolok-olok) sebagai “O.H. Supono banget”. Akan ditemukan di sana, sebuah jati diri yang relatif tidak lagi bergantung (dependent) pada sebuah identifikasi yang lain, terutama gurat-gurat estetik ala sang ayah. Akan ditemukan di sana, sebungkah ‘nyawa’ yang tak lagi pantas disebut sang buntut.

Tetapi bahwa capaian Kukuh, pada usianya kini, belum sebesar capaian O.H. Supono dalam umurnya yang setara dulu, tentu tak perlu untuk diperbandingkan secara eksploitatif. Dalam geliat waktu yang terus bergelombang, pencapaian seorang seniman tentu telah banyak ragam parameternya. Ada seniman yang berhasil mengukuhi ideologi estetik tertentu dan menyeruak sebagai sebuah model pendekatan kreatif, hingga kemudian berimbas terhadap kecenderungan berkarya pada seniman-seniman lain sebagai pengikut. Atau ada juga seniman yang telah berhasil secara ekonomis, dan telah menempatkan karya-karyanya sebagai “tambang emas” bagi dirinya dan jaringan-jaringan bisnis seni yang melingkunginya, serta tak peduli bahwa dirinya tidak masuk dalam konstelasi penting wacana seni rupa.

Saya tak tahu persis dalam perspektif seperti apa Kukuh akan memposisikan dirinya dalam kecamuk dan kancah persaingan antar-seniman yang kian ketat dewasa ini. Saya yakin dia telah meraba kemungkinan-kemungkinan lain yang akan dikukuhinya untuk menabalkan diri sebagai seniman yang berhasil, tentu dengan alat ukur yang diyakininya. Dan kalau itu bukan alat ukur yang menempatkan nama sang ayah dulu, maka tak layaklah publik membuat justifikasi bahwa Kukuh adalah seniman gagal.

Lagi-lagi, Sang Waktu akan bersaksi pada kita, kelak, atas pilihan Kukuh tersebut!

No comments: