Friday, February 01, 2008

Mon Decor Lifetime Achievement Awards



(Ini foto di selatan beringin eks kampus ASRI/STSRI/FSRD ISI Yogyakarta, 28 Januari 2008. Dari kiri ke kanan: Suwarno Wisetrotomo, Dyan Anggraini, Anggi Minarni, Sujud Dartanto, Edhi Sunarso, Prof. Sudarso Sp., Martha Gunawan (Galeri Mon Decor), dan Kuss Indarto)

Sambutan/Pengumuman
Penganugerahan Mon Décor Lifetime Achievement Awards
Kepada Prof. Soedarso Sp., M.A. dan Edhi Sunarso


Yang saya hormati hadirin semuanya,
Yang saya hargai kawan-kawan seniman, perupa, para jurnalis dari media cetak maupun elektronik,
Assalamualaikum Wr Wb

Salam sejahtera bagi kita semua

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas semua karunia yang telah dilimpahkan kepada kita semua, sehingga malam ini kita bertemu dalam suasana gembira, sehat dan selamat. Malam ini, seperti telah kita ketahui bersama, adalah malam penutupan Perhelatan Pameran Seni Visual Jogja Biennale IX-2007, yang berlangsung dari 28 Desember 2007 hingga malam ini, 28 Januari 2008.

Sejak penyelenggaraan Biennale Jogja ke-8, 2005 yang lalu, dimulai sebuah tradisi baru, yakni pemberian penghargaan Life Time Achievement Awards, kepada seseorang yang dianggap memiliki dedikasi, kreativitas dan pencapaian yang memberikan inspirasi bagi siapa saja, atau khususnya bagi dunia seni rupa di Indonesia.

Demikian pula pada Biennale Jogja IX-2007 kali ini, kami (kurator dan manajemen) merasa terpanggil untuk menjaga dan meneruskan tradisi pemberian penghargaan ini. Kami memandang, memberikan penghargaan adalah salah satu cara yang bermartabat untuk menyatakan pengakuan atas sebuah pencapaian seseorang atau komunitas yang memberikan inspirasi dan juga diakui oleh khalayak luas. Karena itu, penghargaan Life Time Achievement Awards ini tidak ada hubungannya dengan tema kuratorial yang tengah digunakan atau dicanangkan untuk membingkai peristiwa Biennale Jogja IX-2007. Penghargaan atas "pengabdian sepanjang hidup" dalam dunia pemikiran, pendidikan dan praktik seni rupa di Indonesia, kepada seseorang atau komunitas, hampir tidak pernah ada. Persoalannya adalah, Manajemen Biennale Jogja belum memiliki kemampuan untuk memberikan penghargaan yang memadai, di samping muncul kehendak untuk melibatkan para pemangku kepentingan (stake holder) agar bersama-sama menyangga dan mewujudkan penghargaan ini. Dalam kaitan itulah, maka penghargaan kali ini bernama Mon Décor Life Time Achievement Awards.

Kurator yang difasilitasi oleh TBY dan Manajemen, telah melakukan pengamatan dan riset yang cukup cermat, menginventarisasi para kandidat. Akhirnya, dengan sejumlah pertimbangan dan argumentasi, maka penghargaan Mon Décor Life Time Achievement Awards-Biennale Jogja IX-2007 Neo-Nation, diberikan pertama, kepada seseorang yang sepanjang kehidupanya hingga kini berusia 72 tahun, sepenuhnya didedikasikan pada dunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan Seni Rupa. Ia merintis karier sejak lulus ASRI tahun 1960, menyelesaikan master di Nothern Illinois University US tahun 1964, menduduki berbagai jabatan birokrasi, menerbitkan sejumlah buku, seperti " Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar untuk Apresiasi Seni", "Sekarah Perkembangan Seni Rupa Modern", dan menjadi kurator Pameran Seni Rupa Modern di AS (1990-1992), dan memimpin Jurnal Seni, serta menerima berbagai anugerah/penghargaan seni. Pendeknya, ia memiliki komitmen, dedikasi, loyalitas dan pencapaian, dalam dunia pendidikan seni rupa di Indonesia, dan diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang. Ia yang dimaksud adalah Bapak Profesor Soedarso Sp., M.A,

Yang kedua, penghargaan diberikan kepada seseorang yang kami anggap menjadi pionir dalam dunia seni patung, khususnya dalam tradisi seni patung monument, dan tetap berkarya hingga kini, dalam usianya yang ke-76 tahun. Karya-karya seni patung monumentalnya, hasil kolaborasi pemikiran dan perintah dari Presiden RI I Bung Karno, menyebar di berbagai posisi strategis di kota besar di Indonesia, dan akhirnya menjadi landmark, penanda kota, yang sekaligus memiliki latar belakang histories. Karya-karya itu antara lain, patung monument Tugu Muda Semarang, patung Monumen Selamat Datang, Patung Dirgantara, Monumen Pembebasan Irian Barat (semuanya di Jakarta), monument pahlawan Nasional Slamet Riyadhi di Ambon, dan sejumlah diorama sejarah. Ia juga memiliki latar belakang sesuai Pejuang Kemerdekaan. Memiliki pengalaman internasional, baik sebagai seniman maupun dalam rangka studi. Ia juga memiliki berbagai penghargaan nasional maupun internasional. Pendeknya, ia memiliki komitmen, dedikasi, loyalitas dan pencapaian dalam dunia seni rupa, khususnya seni patung di Indonesia, dan diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dan yang akan dating. Ia yang dimaksud adalah Bapak Edhi Sunarso.

Kedua tokoh ini memberikan isyarat penting, bahwa untuk mencapai dan meraih kemampuan dan kepercayaan, baik sebagai pendidik seni maupun sebagai seniman, harus melalui proses yang idak sederhana, dan memerlukan komitmen yang tinggi. Untuk melengkapi pengetahuan kita tentang kedua tokoh ini, mari sejenak kita saksikan prosil singkatnya.

Demikian pengumuman peserta beserta latar belakang penghargaan ini kami sampaikan, atas perhatian hadirin kami sampaikan terimakasih.

Yogyakarta, 28 Januari 2008

Kurator: Suwarno Wisetrotomo, Eko A Prawoto, Kuss Indarto, Sujud Dartanto

1 comment:

Tubagus P. Svarajati said...

Ha ha ha ...!
Lifetime no see ya...?