Sunday, February 10, 2008

Kasus Cover Majalah Tempo







(Keterangan foto: Cover majalah Tempo, karya The Last Supper versi Leonardo da Vinci, lalu versi Dieric Bouts, dan versi Jacopo Tintoretto)

Oleh Kuss Indarto

Tampilan sebuah media massa kembali diributkan dengan prasangka (presumption) pelecehan terhadap sebuah agama. Kali ini giliran majalah berita mingguan Tempo terkena sasaran. Edisi Khusus Soeharto, yang terbit pekan ini (4-10 Februari 2008), menampangkan cover yang kemudian menjadi pangkal kontroversi. Cover itu memvisualkan sosok Simbah Soeharto yang berbaju koko putih di tengah enam anak-anaknya. Ada citra Tommy, Tutut, dan Titik Soeharto di sebelah kiri, dan tiga anak lain diktator ini di sisi kanan, yakni Bambang Trihatmojo, Sigit Hardjojudanto, dan Mamiek. Mereka menghadap satu meja yang sama dengan taplak putih berikut perangkat makan seperti piring, mangkuk, lepek (piring kecil), asbak dan gelas serta cangkir. Semua perangkat itu nampak telah kosong tanpa menyisakan bekas makanan. Entahlah, mereka habis makan dengan rakus hingga tanpa sisa, atau sebaliknya, menunggu sajian untuk perjamuan. Karya grafis ini dikerjakan oleh salah satu anggota tim kreatif Tempo, Kendra Paramita.

Titik krusial dari gambar tersebut, jelas, pada keseluruhan lukisan yang diprasangkakan sebagai bentuk plesetan dari salah satu karya besar seniman maha bintang jaman Renaisance, Leonardo da Vinci (1452-1519), yang bertajuk The Last Supper dan dibuat antara tahun 1495-1498. Dalam bahasa Italia, bahasa ibu da Vinci, judulnya: Il Cenacolo atau L'Ultima Cena. Kalau teman kurator dari Bandung, Rifki Effendi a.k.a. Goro, mungkin akan menyebut gejala visual yang ditampilkan Tempo ini sebagai “apropriasi”. Kalau aku lebih cenderung menyebutnya sebagai “mockery”, semacam olok-olok sembari mempraktikkan sebuah resistensi.

Cover Tempo ini diasumsikan melecehkan keyakinan kaum Katolik atau Nasrani secara umum karena mengambil dan lalu mengalih-ubah secara sewenang-wenang salah satu artifak penting ihwal Jesus dengan segala kesuciannya. Maklum saja, karena lukisan mural berukuran 4,6 x 8,8 m dan menempel di Santa Maria delle Grazie, di kota Milan ini, dianggap sebagai visualisasi atas salah satu ayat dalam Injil, John (?) 13:21, yang menarasikan tentang Jesus yang men-syiar-kan adanya pengkhianat di antara 12 pengikut setianya.

Aku tak begitu cermat menyimak satu persatu email tentang kontroversi cover Tempo yang berseliweran dengan riuh dalam milis FPK (Forum Pembaca Kompas, bukan Front Pembela Katolik hehe...) itu. Namun pro-kontra yang terjadi, sepertinya sekadar mengulang kembali sejarah tentang pembelajaran untuk berlaku dewasa dalam praktik beragama. Ada yang marah, geram, dan nyinyir untuk memojokkan Tempo, namun tak sedikit pula yang berlaku dewasa dengan menganggap apa yang dilakukan Tempo sebagai hal yang wajar dan tak bermasalah, pun tak mengurangi sedikitpun keyakinan mereka dalam beragama.

Dalam aspek tinjauan estetik, aku melihat apa yang telah dilakukan oleh da Vinci sekitar 500 tahun lalu, dengan melukis The Last Supper, telah mencuatkan pencapaian yang luar biasa, yang kemudian menghasilkan lapis pencapaian lain di luar perkara estetik. Bahwa karya da Vinci itu hebat, ya, nyaris semua orang mengakui. Tetapi bahwa kemudian karya itu, setelah berusia ratusan tahun, dianggap sebagai bagian penting yang melekat dan integral dari simbol kesucian dalam (praktik beragama) Nasrani, persoalan menjadi bergeser. Dan inilah titik soal krusialnya.

Aku sementara tak melihat da Vinci dengan kebintangannya, meski itu menjadi faktor penting. Namun ada hal elementer yang banyak dilupakan dalam perbincangan pro-kontra soal cover Tempo itu, bahwa pada awalnya da Vinci sekadar melakukan imajinasi yang direalisasikan dalam lukisan mural. Atau sebaliknya merealisasikan imajinasinya tentang sebuah ayat dalam Kitab Injil itu. Bahwa kemudian dia bisa menampilkan pancapaian estetik yang luar biasa itu adalah satu hal. Tapi bahwa karya itu kemudian disucikan seperti layaknya artefak penting dalam (ritus) keagamaan bagi sementara orang Nasrani yang sangat fanatik atau fundamentalis, itu hal lain yang berbeda dan berseberangan. Tak bisa satu dan lainnya dijalin dalam satu ikatan pemikiran dan keyakinan.

Karya The Last Supper-nya da Vinci “sekadar” sebuah tafsir visual atas teks ayat suci. Dan tak hanya da Vinci yang melakukannya, karena beberapa bahkan mungkin puluhan seniman lain mengerjakannya. Misalnya seniman Dieric Bouts yang juga menafsir ayat tersebut tahun 1464 di atas kanvas seluas 180x150 cm. Atau Jacopo Tintoretto menorehkan imajinasinya di kanvas berukuran 365x569 cm, pada tahun 1592. Juga sebelumnya, seniman Castagno membuatnya tahun 1447. Gagasan dasarnya sama, namun output-nya banyak berbeda. Dan karya da Vinci yang merupakan pesanan dari pasangan bangsawan Duke Ludovico Sforza dan Beatrice d'Este ini menjadi karya yang “kanonik” kalau kita membincangkan ihwal Perjamuan Terakhir Jesus. Kukira, inilah “kemenangan” da Vinci untuk mempertautkan “yang estetik” menjadi begitu relijius, dan seolah tak boleh dijamah. Yang sehari-hari menjadi begitu suci.

Akhirnya, lebih dari itu, ah, Soeharto tetap saja menjadi biang ribut meski sudah mati. Ah, tiba-tiba aku jadi ingat kasus stiker yang menyeret aktivis politik Nuku Sulaeman masuk bui di Jakarta, sekitar tahun 1994. Bunyi stiker itu: SDSB (Soeharto Dalang Semua Bencana)…

3 comments:

Marwan Azis said...

Blognya mantap kritis dan mencerahkan. Salam kenal, kapan-kapan main ke blog kami www.greenpressnetwork.com dan blogku :www.marwanoke.blogspot.com

jolanda atmadjaja herlambang said...

betul kuss...
seperti juga film da vinci code waktu itu...
namanya juga karya imajinatif
tentunya kebebasan berpikir juga perlu disikapi dengan open mind juga....
toh namanya last supper ala da vinci itu kan hasil interpretasi pribadi...

sebenarnya yg namanya iman justru tak akan goyah dengan hal-hal yg sifatnya manusiawi,kebendaan, dll.

Majalah Pusara said...

Txs dah mampir n ksh komen yah. Sayang memang, kita sering kehabisan energi hny u urusi sesuatu yang sebenarnya absurd... (kuss)