Saturday, December 06, 2008

Cercah Religiusitas Ala Tommy Tanggara


(Catatan ini untuk mengiringi pameran tunggal Tommy Tanggara, The Covenant of Love, yang berlangsung di CG Artspace, Plaza Indonesia, Jakarta, 6-14 Desember 2008. Pameran ini menarik karena selain karya-karya Tommy khas, juga sebagian dari hasil penjualan karya ini didonasikan untuk Panti Asuhan Bunda Karmel, Jakarta. Dua karya di atas masing-masing bertajuk Strech Your Faith, You Can Walk on Water, dan Last Supper I)


[Pertama]: estetika di luar mainstream?

Estetika berbasis religiusitas sepertinya adalah obyek yang sangat jarang dikerjakan oleh sejumlah perupa. Hal ini bisa dibuktikan dengan membuka secara komprehensif khazanah perkembangan dunia seni rupa Indonesia dari berbagai mazhab, mulai dari realisme, surealisme, kubisme, abstrak, atau yang lainnya. Memang, di dalam perkembangan estetika dunia seni rupa tersebut sempat muncul adanya fenomena kaligrafi yang kemudian dianggap sebagai pelarian untuk "menyelamatkan" estetika yang berciri religius. Seolah-olah pengertian mengenai seni kaligrafi pun identik sebagai perpanjangan media seni religius, padahal sesungguhnya tidaklah begitu. Dan salah kaprah soal pemahaman seni kaligrafi dan seni religius pun bisa saja berjalan sampai sekarang. Padahal jelas-jelas seni kaligrafi tidaklah identik berhubungan dengan agama tertentu. Bisa saja ia hanya berhubungan dengan huruf tertentu, estetika penulisan dalam komposisi huruf Cina, Jepang, Jawa, atau apa pun pada bidang kanvas yang juga berukuran tertentu.

Baiklah. Ruang apresiasi dalam kesempatan ini pastilah tidak akan sampai memberikan space polemik mengenai pengertian mendasar atas kata "kaligrafi" yang dimungkinkan bisa sangat problematis. Peristiwa estetik yang sampai kepada publik hari ini, melalui penmgantar ini, tentu saja adalah sebuah fakta bahwa perupa Tommy Tanggara kembali menyentakkan adrenalin dan menggugah kesadaran publik bahwa jenis lukisan beraliran religius sungguh menarik dikedepankan di tengah minimnya apresiasi atas jenis lukisan semacam ini.

Publik tahu, tak sedikit perupa yang memang menjebakkan diri dalam mainstream estetika yang tengah riuh diserap pasar, seolah-olah tidak ada upaya perlawanan tertentu yang sekiranya justru akan membuat tawaran arus selera alternatif karena nilainya yang tidak seragam. Bukankah hakikatnya kepatuhan akan acuan keseragaman sungguh tidak mengundang kejutan? Analoginya, dalam ranah musik populer, jika publik sedang suka Inul Daratista, kenapa tidak ada yang melawan selera itu dengan kualitas penjelmaan sosok penyanyi lain yang sanggup menandingi Inul Daratista? Oleh karena itu, dalam sudut pandang tertentu, sebenarnyalah kehadiran lukisan Tommy Tanggara yang berbasis religiusitas Nasrani ini bisa dijadikan titik picu analisis. Seakan-akan kita diingatkan kembali bahwa ada yang memang tersembunyi di dalam arus ingatan, laci pengamatan, dan kini menantang dikritisi secara lebih sublim.

Catatan pendek di bawah ini (di luar prolog dan epilog yang merupakan tafsir bebas atas rumusan pikiran proses kreatif Tommy Tanggara) adalah hasil wawancara dengan Tommy Tanggara yang berkepentingan mengorek lebih jauh tentang segala hal yang mendasari dan bersangkut paut dengan pergulatan proses kreatifnya sehingga mencapai level estetika religius.

***

[Kedua]: jalan panjang estetika pasca-tsunami

Religiusitas Nasrani sebagai basis estetika karya Tommy Tanggara didasari amatan bahwa kalaupun ada perupa yang mengembangkan estetika religi semacam ini, maka acuannya cenderung masih ke Eropa. Aspek simbol atau metafora, misalnya, masih mengacu pada sudut pandang realisme sebagaimana yang ada di gereja-gereja pada era Renaisans dan dikembangkan perupa-perupa Eropa itu sendiri. Tentu saja, yang cenderung inovatif, membebaskan diri dari perspektif yang bergaya Eropa masihlah jarang. Kalaupun ada, biasanya juga hanya seperti ilustrasi yang jika dikritisi hasilnya umum-umum saja pencapaian estetikanya.
Dibuatnya karya-karya berbasis religiusitas Nasrani ini juga dimaksudkan supaya orang-orang yang seiman dapat lebih mendekatkan diri kepada Yang Esa, bisa kembali eling (ingat), karena barangkali saja tidak ada waktu untuk membaca Alkitab lagi. Oleh karena itu, dengan melihat karya Tommy saja, sedikit banyak sudah cukup mewakili. Apalagi, secara khusus, lahirnya karya-karya Tommy dalam pameran ini memang berlandaskan pada ayat-ayat yang tertera di dalam Alkitab, yang memang dianggap Tommy sebagai kebenaran.

Tommy sadar bahwa dalam proses penciptaan karyanya, ada ayat tertentu yang sangat inspiratif, yang dalam sudut pandang tertentu bisa saja kontroversial. Ayat tersebut menyatakan bahwa akulah Dia. Itulah ayat yang menurut Tommy luar biasa sekali impresinya. Yang lain pastilah masih banyak. Hanya saja, setidaknya ayat itulah yang membuat Tommy begitu terperangah, terpantik proses kreatifnya yang berbasis religiusitas.
Dalam lain rumusan, maksud pameran lukisan kali ini adalah juga bersaksi. Karena setiap lukisan relatif berangkat dari ayat tertentu, maka kehadirannya menjadi seperti ilustrasi dari apa yang dibaca Tommy. Yang jelas, hasil lukisannya bukanlah tafsir atas teks. Kalau merupakan tafsir atas teks nanti akan ada trik-trik visual tertentu. Tommy mendasarkan pada kejadian atau situasi sebagaimana yang ada di dalam ayat tertentu untuk kemudian divisualkan. Oleh karena itu pulalah maka pendekatan kreatifnya memang berbeda dengan lukisan-lukisan Eropa. Menurut Tommy, lukisan Eropa yang berbasis religi semacam ini pada awalnya juga bersumber dari teks, baru kemudian ada tafsir atas simbol-simbol. Biasanya juga masih perlu memakai penjelasan lagi setidaknya bagi yang memandang masih membutuhkan kejelasan. Untuk lukisan seperti yang dikembangkan Tommy tentu tidak memerlukan penjelasan lagi. Oleh karenanya, kalau dibilang sangat ilustratif adalah benar, supaya orang memang bisa memahami karyanya dengan mudah. Tommy berharap, remaja dan anak-anak juga dapat menikmati karyanya, bukan hanya orang-orang tertentu saja yang diasumsikan memiliki wawasan lebih luas.
Ada 25 karya di dalam pameran ini yang masing-masing berdiri sendiri, bukan merupakan lukisan seri. Memang, ada rencana membuat lukisan seri berbasis religi, seperti seri Jalan Salib. Sekelumit kisah ketika Dia diadili, misalnya. Pastilah ada proses perjalanan panjang dan menarik sebelum diadili tersebut. Kalau acuannya ke gereja, bisa saja jika kemudian dibuat 14 gambar. Uniknya, pameran Tommy kali ini tak hanya menceritakan Yesus semata, melainkan juga ada Nabi Nuh, Nabi Musa, dan lainnya. Jadi, perspektif religiusitasnya luas namun sumbernya tetap pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Tommy menempatkan Yesus dalam karya-karyanya justru sebagaimana manusia biasa. Yesus, menurut pandangan Tommy, memang manusia biasa. Hanya saja Dia betul-betul tahu atau relatif "bisa langsung berkomunikasi" dengan Tuhan. Itulah yang membedakan Yesus dengan manusia lainnya karena Tuhan ada di dalam dirinya. Kalau soal yang lainnya pasti sama. Bagaimana Yesus berjalan, dan kalau capek ya istirahat, haus ya ingin minum, dipukul ya sakit, dan seterusnya. Dengan membuat visualisasi atas tema semacam ini Tommy juga merasa ingin lebih meyakinkan diri tentang keberadaan Tuhan walaupun belum bisa sepenuhnya mengikuti ajaran agama. Oleh karena itu dalam visualisasi ini tercipta pendekatan dan pencapaian artistik-estetik yang cukup memadai. Ini bisa menjadi sandaran penting dalam mengapresiasi aspek bentuk dan gagasan karya Tommy.
Lebih jauh soal konsep religiusitas bagi Tommy bisa dipercaya. Ia percaya ada Tuhan. Titik. Memang, pikiran main-main Tommy seringkali berkembang, imajinasinya mengatakan bahwa Tuhan tidak hanya satu melainkan banyak. Walaupun ada agama tetapi sepertinya Tuhan ada di setiap agama itu dan jumlahnya banyak. Tentu saja, dalam perspektif tertentu juga ada Tuhan tersendiri di dalam diri Tommy. Pemahaman konseptual soal Tuhan atau agama secara substansial menurut Tommy sebenarnya adalah perbuatan kasih. Bukan cahaya, bukan yang lain. Cahaya ya cahaya saja.
Sebagai orang yang memiliki banyak tatto di sekujur kulitnya, pastilah diidentikkan oleh publik sebagai jauh dari persoalan religiusitas. Padahal jelas-jelas belum tentu juga, karena identifikasi semacam itu penuh relativitas. Perspektif religiusitas yang ditawarkan Tommy dalam konteks pameran ini juga sama halnya dengan jalan melukis, ternyata bisa diniatkan sebagai alternatif berdoa. Bekerja toh juga sudah ibadah. Bekerja esensinya juga bisa untuk Tuhan. Toh ada orang yang kelihatannya taat, tetapi kedalaman hatinya bisa kalah dengan orang-orang yang kelihatannya tidak taat.
Dalam pameran kali ini, Tommy menawarkan inovasi bentuk karya religius dengan teknik visualisasi dan perspektif baru. Memang, dalam aspek tertentu Tommy masih mengembangkan pendekatan realisme sebagaimana yang melekat sebagai ciri estetik di gereja-gereja. Perspektif itu diolahnya bukan menjadi realisme murni. Dengan tidak mengurangi sudut pandang religiusitasnya, Tommy mengeksplorasi perspektif realisme menjadi surealisme, misalnya, yang penuh tawaran simbol atau metafor yang kaya dan memikat. Jadi, aspek kebaruannya memang lebih pada teknik penyampaian, simbol atau metafor, maupun pada komposisi warna-warnanya. Hal itu memang juga merupakan pengaruh atau pengembangan dari jenis lukisan Tommy sebelumnya, yang relatif berciri abstrak, bahkan figuratif.
Kegelisahan estetik sebagaimana yang ada di dalam pameran ini jelas berkaitan dengan aktualitas persoalan sosial kemasyarakatan. Lihat saja, banyak kejahatan merajalela, kerusuhan sosial, dan lain-lain. Jadi, tidak murni dirangsang dari dalam diri Tommy, tetapi juga kondisi sosial masyarakat. Misalnya saja, perang antaragama atau bahkan seagama seperti yang terjadi di Poso, Tragedi 1 Juli di Monas, juga peristiwa saling tuduh antar-orang seagama sebagai aliran sesat, dan segala macam. Maka, karya Tommy seolah mengajak kita kembali kepada kesadaran masing-masing, sesuai agama yang dianut, bagaimana kaidahnya, itu yang terpenting. Ini jalan syiar yang tidak harus muncul dari mulut seorang imam. Ya, dari seorang pemulung pun ternyata bisa. Keinginan melukis dengan tema religius semacam ini diyakini Tommy juga sebagai bagian tanggung jawab rohani. Memang, orang khotbah bisa saja memakai kata-kata. Namun, tentu saja, media yang paling dekat dengan Tommy adalah berupa gambar. Nilainya pastilah sama sebagaimana para pengotbah lainnya hanya saja bentuknya lebih khas.
Salah satu momentum penting dicatat sebagai pemicu eksternal (secara sosial) atas karya-karya Tommy adalah adanya tsunami Aceh, 2004. Waktu itu ia tinggal di rumah temannya, seorang muslim. Pas di teve ada berita tsunami. Muncul pertanyaan dalam diri Tommy, "Kurang taat apa orang Aceh? Sampai dinamakan Darussalam, tempat yang aman, bukan? Kenapa kok sampai ada tsunami?" Tommy dan temannya kemudian berusaha mencari jawaban lebih akurat. Sampai pada sebuah titik bahwa Tommy ingin mengerti ajaran lain. Lantas ia membandingkan antara Al Qur'an dan kitab lain seperti dalam Injil, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Selama setahun Tommy suntuk mempelajari kedua kitab tersebut, dan akhirnya ia memilih Injil sebagai penjawab kebenaran. Ia benar-benar tidak bertanya kepada siapa pun soal misteri ketuhanan dan bencana itu. Ia mencari sendiri melalui perbandingan kitab yang ia baca. Ia cerna, ia pertimbangkan sendiri. Tommy pun merasa mendapatkan pencerahan dalam menentukan kebenaran atas sejumlah pertanyaan yang menggeluti pikirannya tersebab melihat tsunami. Bagi Tommy, adanya peristiwa tsunami benar-benar memberi kesan yang mendalam soal ketuhanan, hakikat bencana, dan lain sebagainya.
Tommy mengaku tidak mempunyai kendala dalam proses visualisasi artistik karya-karyanya ini. Bentuk-bentuk yang menurut Tommy sungguh sudah melewati kematangan sejumlah pertimbangan artistik. Ia tidak melewati proses keraguan-raguan dalam proses memvisualisasikan gambar. Ia langsung membuat dengan caranya sendiri dan daya ciptanya sendiri. Ia yakin publik akan senang dengan pilihan artistik dan pilihan estetika yang dibuatnya kini.
Dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya, karya Tommy kali ini memang cenderung sudah mengurangi tingkat keriuhan visual. Pencapaian estetikanya juga lebih simpel dan langsung mengena. Meski begitu, Tommy merasa tak ada keterpengaruhan dengan kecenderungan tren seni rupa sekarang yang simpel-simpel. Memang cenderung minimalis, tetapi pada bidang-bidang yang kosong itulah Tommy menemukan semacam kesepian akan perlunya ruang kontemplasi bernilai religius.
Jika mengamati proses kreatif Tommy, sebelum estetika era religi versi pameran kali ini, ia pernah membuat karya yang juga minimalis, seperti seri Raja Kecil yang di tahun 2004 dipamerkan di galeri The Japan Foundation. Pameran kali ini pun merupakan kelanjutan dari beberapa tema lukisan yang sudah pernah ia pamerkan di galeri Museum dan Tanah Liat pada 2005. Sungguh, untuk mencapai tahap "kesempurnaan" semacam ini, Tommy tidak melewati proses eksperimen puluhan karya sketsa atau "lukisan percobaan" terlebih dahulu. Lukisan-lukisan yang dipamerkan ini adalah "langsung jadi", sesuai pembacaan Tommy dalam memahami kitab suci.
Lantas, apa tema pameran Tommy setelah kali ini? Barangkali saja akan tetap religius nantinya. Hanya saja keinginan Tommy adalah lebih eksploratif. Nggak tahu sampai kapan. Mungkin sampai puas. Sampai bosan.

***

[Epilog]: pintu awal tafsir

Jika lebih dalam mengritisi capaian estetika yang dikembangkan Tommy Tanggara yang berbasis aspek religiusitas ini, terasa ada kesan dekonstruktif, setidaknya dalam hal visualisasi gagasan. Misalnya saja, dalam gambar yang menunjukkan adegan Yesus ketika dipasung, berbadan kurus-kering, kelihatan tulang-belulangnya. Barangkali saja ketika menghadapi adanya gambar semacam itu akan terasakan adanya keliaran imaji visual yang benar-benar sugestif dan impresif. Meskipun gagasan visualnya cenderung sederhana, hanya memetaforakan badan yang kurus-kering dan kelihatan tulang-belulangnya, tetapi jika direnungkan bukankah sebenarnya mempunyai pesan yang mendalam?
Tafsir lebih jauh soal pesan yang mendalam tersebut penerjemahannya bisa macam-macam, misalnya saja soal Yesus yang benar-benar teraniaya, sebagai juru selamat tetaplah ia terhadirkan sebagai tumbal sejati bagi umatnya, dan memang sama sekali tak ada yang menolong. Jalan salib yang ditempuhnya memang bagaikan penebusan dosa yang total bagi seluruh umat, tidak peduli anak kecil, remaja, atau orang tua. Dengan kata lain, adanya sebuah gambar sebenarnyalah memang menganut sistem tanda yang beragam dan nilai dekonstruksi yang dibawa lukisan sejenis visualisasi karya Tommy Tanggara tersebut bisa saja menghuni koridor sebagai dekonstruksi nilai normatif. Umumnya, bukankah tanpa adanya metafor kurus-kering dan kelihatan tulang-belulangnya, Yesus sudah cukup terhadirkan menderita bahkan ketika ia justru hanya digambarkan disalib begitu saja?
Namun, tanpa berpretensi menggurui dengan dalih dan tendensi apa pun, nilai estetika tetaplah harus dikedepankan dan divisualkan menjadi berbentuk apa pun. Tafsir yang lebih luas tentu saja silakan bergulir, ada di dalam kepala si penafsir, siapa pun orangnya, sang juru tafsir itu. ***

Dicatat oleh Kuss Indarto dan Satmoko Budi Santoso.