Monday, October 24, 2011

Tafsir tentang Pergeseran




Oleh Kuss IndartoPAMERAN ini tidak secara langsung merespons tema kuratorial yang menjadi hal sentral dalam Jatim Biennale IV-2011. Tetapi berupaya memperluas cakupan persoalan yang dijadikan pokok gagasan. “Transposisi” yang secara jelas digagas oleh kurator Agus Koecink dan Syarifuddin antara lain mengekspektasikan para perupa peserta untuk memberangkatkan cara pandang dalam memperkarakan media dalam posisi sebagai subjek, bukan obyek. Dengan posisi seperti itu maka media dipahami bukan semata-mata sebagai material atau “alat bantu” kerja semata, tetapi media diperkarakan esensinya, watak visual dan metafornya, hingga pada nilai-nilai yang ada di dalamnya dalam rangka merepresentasikan gejala sosial yang tengah berubah.

Pemahaman singkat tersebut memang kemudian diasumsikan bahwa sebagian besar, atau kalau bisa, semua perupa seperti “dianjurkan” untuk masuk menggeluti media kreatif baru sebagai bagian dari eksplorasi estetik dan artistik, bukan sekadar eksperimentasi kreatif yang bersifat pengenalan dan masih berharap banyak pada “artistic form by accidental” karena bersifat “mencoba-coba” media baru. Namun bahwa ternyata para perupa di venue(s) lain dalam perhelatan Jatim Biennale IV-2011 ini masih berkutat pada media lama yang dianggap konservatif, yakni karya dua dimensi (seperti lukisan atau drawing), maka pilihan terhadap 34 seniman di venue GO Art Space yang berbasis karya lukis dan fotografi bukanlah usulan yang keliru. Di sini tidak disertakan para seniman yang berkarya dengan basis kreatif performance art, seni instalasi, environmental art, video art, stencil art dan sekian banyak seni rupa “baru” yang lain, meskipun satu-dua seniman di antara kelompok ini sesekali melakukan kerja kreatif pada ranah seni rupa di luar seni lukis.

Justru dengan pilihan terhadap para seniman yang bekerja di jalur kreatif “konvensional”, yakni seni lukis ini, sebenarnya ini bisa menjadi etalase penting untuk membaca secara mendalam nuansa “kerisau” para seniman dengan keterbatasan yang ada dalan dunia seni lukis yang telah digelutinya bertahun-tahun. “Kerisauan” inilah yang sedikit banyak bisa dilacak dari eksplorasi gagasan dalam tiap bentangan kanvas mereka. Dalam “kerisauan” ini kemudian terlihat pendalaman kreatif dimana perupa “meneropong media hingga pada perkara esensinya, watak visual dan metafornya, bahkan pada nilai-nilai yang ada di dalamnya dalam rangka merepresentasikan gejala sosial yang tengah berubah”.

Dari 34 perupa yang terlibat dalam pameran di venue ini, kemudian membaca tema “Transposisi” pada kerangka pandang yang berbeda. Ini sesuatu yang lumrah. Setidaknya ada tiga hasil baca para perupa terhadap sodoran tema kuratorial. Pertama, tema kuratorial dibaca secara “in-version”, yakni ketika para perupa berupaya untuk menetaskan karyanya “tepat” dan “lurus” dalam satu rel yang dihasratkan oleh kurator. Kedua, tafsir yang “out of version” yang mengindikasikan bahwa ada jarak interpretasi yang termanifestasikan dalam karya yang berseberangan dengan gagasan dasar tema. Ketiga, pembacaan secara “subversion”, yakni ketika tema kuratorial sebagai teks awal dibedah dan dikuliti hingga kemudian menghasilkan hasil tasfir yang subversif, begitu dalam membongkar substansi persoalan tematik. Cara tafsir seperti ini tidak saja “tepat” dan “lurus” terhadap tema kuratorial, namun bahkan memberi pengayaan atas gagasan awal. Dalam sebuah pameran seni rupa dengan landasan kuratorial, bentuk interpretasi visual yang “subversion” seperti ini tentu amat diidealkan. Di dalamnya sangat dimungkinkan teks-teks (kuratorial) akan menemukan konteks-konteks yang berelasi secara kuat dan menjadi tafsir baru (dan kaya) untuk menggagas sebuah persoalan.

“Transposisi” ditengarai oleh para seniman dalam pameran ini sebagai sebuah perubahan, sebuah pergeseran, terutama dalam konteks waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, yang lazimnya memberi pengaruh kuat pada pergeseran sistem nilai sosial dan kebudayaan. Dalam perubahan itu kemudian mengerucut pada hal-hal yang terasa banal namun substansial dan selalu terjadi berulang: ada ironi dan kontradiksi. Dua hal ini bisa jadi hanya residu dalam sebuah pergeseran sosial kebudayaan, namun dia hadir nyaris melekat di dalamnya.

Beberapa karya yang menafsir ihwal ironi dan kontradiksi ini antara lain terlihat dari karya fotografi Agus Leonardus, lukisan Monika Ary Kartika, Wahyu Gunawan, Artadi, juga Irawan Banuaji. Ada pula karya yang mencoba memasukkan aspek apropriasi, yakni mereka-reka lukisan “Monalisa”-nya Leonardo Da Vinci dalam konteks yang berbeda. Karya Ahmad Sobirin ini mencoba membuat ironi lewat tafsir atas karya “mainstream”. Joko “Gundul” Sulistiono mencoba untuk mengali lebih jauh kekuatan karya dua dimensi dengan memain-mainkan secara teknis antara kemungkinannya sebagai karya yang “berdimensi tiga”. Demikian juga dengan karya Ismanto Wahyudi yang secara kreatif memanfaatkan potensi antara dua dimensi yang “di-tiga-dimensikan” atau sebaliknya tiga dimensi yang dibekuk jadi dua dimensi. Dan masih banyak karya-karya dengan kekuatan teknis, visual, juga substansial yang menggagas problem “Transposisi” ini.

Secara umum, tema sosial kebudayaan banyak mewarnai karya-karya dalam pameran ini. Sementara tema-tema personal yang dalam beberapa tahun terakhir ini juga cukup dominan, dalam venue ini mulai mengendur dari ketertarikan para seniman. Selamat menafsir perubahan! ***

Daftar seniman Jatim Biennale di GO Art Space:
GO ARTSPACE GALLERY
19 Oktober - 1 November 2011

1. Andi Miswandi, Bantul, DIY
2. Agung Sukindra,Yogyakarta
3. Agus Leonardus, Yogyakarta
4. Agus Triyanto BR, Bantul, DIY
5. Ahmad Sobirin, Bantul, DIY
6. Artadi, Bantul, DIY
7. Awi Ibanesta, Wonosobo
8. Camelia Mitasari H, Bantul, DIY.
9. Cipto Purnomo, Magelang
10. Cundrawan, Denpasar
11. Felix S. Wanto, Yogyakarta
12. Herman Lekstiawan, Yogyakarta
13. Irawan Banuaji, Wonosobo.
14. I Ketut Suwidiarta,Yogyakarta
15. Imam Abdillah, Yogyakarta
16. Ismanto Wahyudi, Yogyakarta
17. Joko “Gundul” Sulistiono, Yogyakarta
18. M. Andi Dwi, Bantul, DIY
19. Muji Harjo,Yogyakarta
20. Monika Ary Kartika, Bandung
21. Mulyo Gunarso, Bantul, DIY
22. Mursidi “Marshanda” , Bantul, DIY
23. Nani Sakri, Jakarta
24. Oky Rey Montha Bukit, Yogyakarta
25. Priyaris Munandar, Yogyakarta
26. Riduan, Bantul, DIY
27. Robi Fathoni, Bantul, DIY
28. Rocka Radipa, Bantul, DIY
29. S. Dwi Satya (Acong), Yogyakarta
30. Setyo Priyo Nugroho, Yogyakarta
31. Slamet Suneo Santoso, Sleman, DIY
32. Tri Wahyudi, Surakarta
33. Wahyu Gunawan, Bantul, DIY
34. Yaksa Agus, Bantul, DIY