Friday, October 18, 2013

Kese(t)imbangan Manusia Masdibyo

oleh Kuss Indarto

[satu]: Kegaiban Pendapa 
SEMENJAK kecil, seniman Masdibyo sudah punya “kelainan”. Wajar kalau ketika beranjak remaja hingga dewasa, “kelainan-kelainan” yang berbeda pada bermunculan satu persatu, tentu dengan tingkat intensi yang berbeda. “Kelainan” saat kecil dirasakannya, terutama, ketika dia tinggal bersama pakdhe-budhenya yang menetap di Semarang. Masdibyo sendiri lahir di desa Mangunharjo, kecamatan Arjosari, Pacitan, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1962. Menginjak usia empat tahun, pakdhe-budhenya menginginkan Dibyo kecil tinggal bersamanya. Di sana, Dibyo tinggal hingga kelas 4 sekolah dasar.

“Kelainan” yang dirasakannya saat masa kecil di Semarang adalah kemampuannya untuk berkomunikasi dengan makhlus halus. Tentu kemampuan itu tak disadarinya, hanya dirasakannya—dan diketahui beberapa orang dewasa di sekitarnya. Tak jarang, Dibyo bermain keluar rumah setelah pulang sekolah. Tujuan utamanya adalah bermain di sebuah pendapa tua yang tak jauh dari rumah saudaranya itu. Di sana, sudah ada dua sahabat yang belum lama di kenalnya namun mereka segera akrab. Namanya Nunuk dan Aput, masing-masing perempuan dan laki-laki. Di bawah teduhnya pendapa itulah mereka bertiga menghabiskan waktu berjam-jam untuk asyik bermain. Setelah puas, Dibyo pulang ke rumah pakdhenya.

Namun setiap kali Dibyo ditanya sepulang bermain, reaksi saudaranya selalu penuh keheranan, juga kecurigaan. Mereka merasa tak kenal anak-anak yang bernama Nunuk dan Aput, juga tak paham tentang pendapa yang dimaksudkannya. Hingga suatu siang ketika Dibyo asyik bermain, pakdhenya mendadak mendatanginya. Dibyo bukan di sebuah pendapa, namun tengah berada di ketinggian cabang sepokok pohon besar di kampung. Sendirian. Namun gelagatnya seperti tengah berkomunikasi dengan orang lain. Pakdhe-budhenya menganggap ada ketidakberesan, ada keanehan pada diri dan perilaku Dibyo. Maka, selanjutnya dia dicegah untuk tak lagi bermain di pohon besar dan wingit itu lagi. Karena pendapa juga sahabat bernama Nunuk dan Aput yang disebut oleh Dibyo sesungguhnya tidak pernah ada di dunia nyata! Mereka semua, dipastikan adalah bagian dari dunia gaib yang ada di kampung tersebut.

Dibyo tak merasakan bahwa dia indigo, atau jenis manusia yang punya kemampuan untuk melihat makhlus halus yang tidak kasat mata. Namun, kala itu, dia mampu merasakan betul getar kesamaan frekuensi psikologis ketika bergaul dengan sosok-sosok bernama Nunuk dan Aput. Bahkan saat sendirian di kamar, dia juga membangun kekariban dengan dua sahabat itu, ditambah sosok lain yang sama-sama tak kasat mata.

Namun pada perkembangan berikutnya, kemampuan tersebut lambat laun meluntur, dan Dibyo memang tak cukup tertarik untuk mengasahnya lebih lanjut. Dia hanya ingin mengalir begitu saja mengikuti “kelainan” itu. Toh, menurut pengakuannya, sesekali kemampuan itu kembali mampir dalam bentuk yang lain, yakni ketajamannya “mencium” gejala-gejala seseorang yang akan meninggal. Lelaki gondrong dan berkumis ini tak ingin secara terbuka dan detil mengisahkannya. Namun salah satu contoh yang dibeberkannya adalah saat menjelang ibundanya wafat tahun 2012 lalu. Setidaknya kurang dua hari, bahkan jauh-jauh hari sebelumnya, dia sudah menangkap sinyal akan peristiwa kehilangan ibundanya. Makanya, meski sang ibu yang tinggal di Pacitan, Jawa Timur harus dirawat jauh hingga di RS Bethesda, Yogyakarta, Dibyo rela menungguinya hingga wafat. Dialah satu-satunya anak dari sang ibu, hajjah Djoeriah Binti Soeratman, yang setia menunggui di hari-hari terakhir kehidupannya, bahkan hingga sebulanan di Yogyakarta. Dan di celah peristiwa itu, dia tak jarang menemui kejadian gaib yang mengiringinya, entah di RS Bethesda, atau di sekitar hotel Novotel tempatnya menginap.

***

[dua]: Keajaiban dari Keikhlasan


MESKI soal kegaiban yang potensial itu tidak “dipelihara” atau “ditajamkan” secara khusus, namun hal yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan di luar logika manusia selalu dipercayainya, yakni soal keajaiban. Dibyo meyakini keajaiban-keajaiban selalu akan datang mengiringi segala perkehidupan, entah dirinya sebagai manusia biasa maupun sebagai seniman dengan pergulatan kesenimanan yang penuh dinamika.

Dalam sebuah perbincangan, Dibyo mengisahkan kekuatan-kekuatan tangan Tuhan yang banyak berperan dalam membangun karier kesenimanannya. Pameran tunggalnya yang pertama di Balai Budaya Jakarta, Maret tahun 1990, (atau pameran tunggal ke-6 dalam biografi kesenimanannya), dikenangnya penuh dengan keajaiban. Kala itu dia sudah menikah dengan Endah, kawan KKN (Kuliah Kerja Nyata)-nya saat kuliah di Jurusan Seni Rupa, IKIP Surabaya. Anak pertama yang disayanginya pun sudah lahir: Putri Sukma Puspaningtyas.

Keberangkatannya menuju Jakarta dari Surabaya dilalui dengan kereta api. Teman duduknya seorang bapak yang mengaku berasal dari Aceh. Sayang Dibyo tak mengingat nama orang itu. Dari perbincangan berjam-jam di atas kereta tersebut, ada dua hal penting yang masih kuat mengerak dalam ingatannya: pertama, orang Aceh itu berpesan bahwa “Kalau engkau sayang pada istrimu, dia juga akan segera membalas kasih sayangmu. Kalau engkau sayang pada anakmu, Tuhanlah yang akan segera membalas kasih sayangmu.” Entahlah, kalimat sederhana itu seperti memiliki daya sihir kuat yang kemudian begitu menyemangati daya hidupnya. Hal kedua, Dibyo diberi secarik kertas oleh teman duduknya: sebuah kartu nama. “Kalau kamu ada masalah di Jakarta, silakan hubungi orang ini,” katanya. Dan kartu nama itu adalah kartu nama Edwin Rahardjo, pendiri dan pemilik Edwin’s Gallery.

Sesampai di Jakarta, dia serasa tengah menghadapi belantara ibukota yang siap “menelan” dan menyesatkannya kalau tak memiliki banyak persiapan dan kekuatan mental. Dibyo merasa beruntung karena sebelum pameran tunggalnya di Balai Budaya itu, beberapa kali kesempatan memnungkinkannya tidak canggung, bahkan cuek, untuk bertemu dengan para petinggi dan pesohor di tanah air. Maka, dengan yakin, sebelum acara pembukaan tiba, didatanginya kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) tempat Prof.Dr. Fuad Hasan berkantor. Upayanya langsung gagal karena sudah dicegat oleh seorang pegawai di front office yang tak mengijinkannya menemui sang Menteri yang peduli seni tersebut. Namun dengan berbagai akal, upaya Dibyo diulangi hingga berhasil. Dalam pertemuan tersebut, Fuad Hasan langsung berminat mengoleksi 3 karya lukisnya.

Meski berminat mengoleksi, sayangnya menteri Fuad tak bisa membuka pameran sesuai rencana. Fuad malah merekomendasi Soesilo Soedarman, Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Menparpostel) waktu itu sebagai pembuka pameran. Kehormatan itu akhirnya juga pupus setelah seorang pejabat utusan Soesilo Soedarman menemui Dibyo. Katanya, Pak Menteri tak bisa membuka pameran karena kesibukan dinas, dan diganti oleh pejabat di struktur bawahnya.

Dalam hari-hari menjelang pembukaan pameran tunggalnya itu, sebagai pemula dengan banyak keterbatasan, Dibyo mengaku tergencet oleh kekurangan. Siang itu, bekal uangnya betul-betul tipis. Dari situlah kartu nama yang diberikan oleh orang Aceh, teman duduknya saat di kereta, dimanfaatkannya.

Dengan naik taksi, Dibyo membawa album foto-foto karyanya menuju ke Edwin’s Gallery di Jalan Kemang Raya 25, Jakarta Selatan. Uang di dompetnya nyaris tak cukup untuk membayar taksi. Tapi dia harus nekat. Sesampainya di pintu gerbang halaman Edwin’s Gallery, taksi yang ditumpanginya terhalang oleh sebuah mobil mewah yang juga akan keluar melewati pintu yang sama. Mulut gerbang sempit. Maka Dibyo mengalah untuk turun dari taksi. Tanpa basa-basi, dia menanyakan pada pemilik mobil mewah yang akan keluar itu. “Pak Edwin ada?” tanyanya. “Ya, saya sendiri…” jawab sang pengendara mobil tersebut.

Maka, dengan cekatan perbincangan dimulai oleh Dibyo. Lalu album foto karya-karyanya disodorkannya. Tak lama, dalam hitungan beberapa menit saja, akhirnya Edwin Rahardjo memutuskan untuk minat dan mengoleksi 2 (dua) lukisan karya Masdibyo. “Harganya berapa,” Tanya Edwin. Pertanyaan mendasar itu malah membuat Dibyo gelagapan. Dia tak mampu menyebut angka yang menurutnya tepat. Akhirnya dia menyerahkan sepenuhnya pada Edwin. Pemilik galeri ini pun akhirnya memutuskan untuk memberi harga pada karya lukis Masdibyo yang ditawarkan kepadanya. Angka rupiah dituliskan pada sebalik foto karya, lalu diserahkan kembali pada Dibyo. “Tolong segera bereskan semuanya dengan bagian administrasi saya di kantor, ya. Aku tak bisa lama-lama karena masih ada urusan.”

Bagi Masdibyo, inilah keajaiban yang tak terpikirkannya. Dia menuju bagian kantor dari Edwin’s Gallery untuk menyampaikan maksudnya sesuai perintah Edwin, sang pemilik galeri. Dan, wah,  uang kontan Rp 4 juta untuk membayar dua lukisannya segera berpindah tangan. Dibyo merinding, lemas, dan tak percaya dengan keajaiban yang datang dinyananya. Urusan argo taksi sudah pasti bisa tertanggulangi. Urusan segala hal yang bertautan dengan persiapan pameran tunggalnya beres. Dan dari situ pula Dibyo bisa belajar, setidaknya tentang standar harga karya lukisannya agar lebih bisa diapresiasi dengan lebih memadai oleh publik. Maklum, sebelum keajaiban itu, harga karyanya baru menyentuh di angka Rp 500 ribu.

Akhirnya, pameran tunggalnya yang pertama di Jakarta itu berjalan sukses dalam pencapaian finansial. Dari 30 karya yang diboyongnya dari Surabaya, habis. Semua ludes “disikat” para kolektor. Mereka, para “penyikat” karyanya itu antara lain para pejabat yang direkomendasi oleh menteri Fuad Hasan, menteri Soesilo Soedarman, juga hasil rekomendas Edwin Rahardjo.

Pengalaman pameran tersebut dituliskannya dalam sebuah status Facebook pada 20 Desember 2011 pukul 08.42 WIB:

Maret 1990 :
Dengan bekal menjual cincin kawin kami berdua , aku pameran Tunggal VI ato Pameran Tunggal Pertama di Balai Budaya Jakarta.
Setelah melalui proses yg cukup nekat, aku mendapat suport dari Bang Edwin Raharjo/Edwin Gallery dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Prof. Dr . Fuad Hassan . Lukisanku habis ludes semua laku !!
Dari situlah awal aku punya percaya diri membawa diri jadi pelukis hingga hari ini.


Permulaan dengan pencapaian pada pameran pertama di Jakarta itu menjadi tonggak penting bagi langkah-langkah berikutnya. Sekurang-kurangnya, pada tahun yang sama di bulan November, Masdibyo kembali berpameran tunggal di Balai Budaya. Tahun berikutnya, 1991, Masdibyo berpameran tunggal di Galeri Mon Décor di Jalan Gunung Sahari, Jakarta. Menurutnya, kedua perhelatan tersebut juga sama-sama meraup sukses.

Langkah keberhasilan awalnya itu, menurut pengakuan Masdibyo, tak lepas dari peran sosok ibundanya yang karib disapa sebagai “sibu”. Kala itu, Dibyo memutuskan berhenti sebagai guru, sebagai pegawai negeri sipil (PNS) setelah direngkuhnya selama dua tahun. Langkah tersebut sempat ditentang oleh keluarga besar karena diduga akan berisiko bagi kelangsungan hidupnya di masa depan. Apalagi, “harga” untuk menjadi PNS tidaklah kecil karena harus merampungkan kuliah bertahun-tahun dengan biaya yang tak sedikit. Juga melewati masa pengabdian yang panjang. Masdibyo mengambil langkah besar itu dengan bantuan keyakinan dari sibu.

Dalam sebuah status di Facebook pada 20 Desember 2011 pukul 17.31 WIB Masdibyo menulis:

“Setelah aku Pameran Tunggal 5 X di Surabaya, januari 1989 aku pulang ke Pacitan :

" ibu,,, aku pulang ini mau minta ijin, aku lepas pekerjaanku sebagai guru, aku mau jadi pelukis saja, ibu mengijinkan ga ?? " .
Jawaban ibuku :
... " Kamu itu sarjana, kamu tentu tau mengapa memilih dan bagaimana resikonya,
dengarkan dan dingat-ingat ya,,,, seorang lelaki itu, kalo sudah berani pamit perang ke ibunya, bila terluka pantang menangis, bila kalah malu untuk pulang , berangkatlah kalo memang itu keputusanmu "

Sebelum aku balik ke Surabaya aku disuwuk dan dilangkahi ibu 3 X”

***

[3]: Lobi dan One Man Show


KESUKSESAN, pun cerita tentang kegetiran dalam rentang panjang perjalanan Masdibyo sebagai seniman terus hilir mudik seperti yang juga dialami oleh kebanyakan seniman dimanapun dan dari generasi kapanpun. Dan ukuran atau parameter kesuksesan seorang seniman juga tentu beragam, sesuai ketertarikan atau interest, atau kecenderungan garis “ideologi” kesenimanannya. Dalam perbincangan atau pewacanaan seni rupa di Indonesia, sejujurnya, sosok Masdibyo kurang banyak disebut-sebut namanya. Perhelatan-perhelatan penting seni rupa juga belum diikuti oleh seniman ini. Namun bukan pada titik itulah kemudian kita memberi penilaian sebuah kegagalan pada seorang seniman.

Titik-titik menarik pada masing-masing seniman tentu berbeda. Ini menjadi keunikan tersendiri. Dan sosok Masdibyo memiliki keunikan tersebut. Antara lain pada kemampuannya untuk melakukan komunikasi dan melobi (calon) kolektor karyanya. Banyak siasat komunikasi dilakukannya, termasuk mengeksplorasi kemampuan untuk “bersilat lidah” yang relatif bisa membantu bargaining position-nya sebagai “penjual”.

Misalnya, suatu ketika ada seorang kolektor yang menyaksikan pameran tunggalnya. Setelah berkeliling menyimak lukisan, orang tersebut mendekati Masdibyo dan bertanya sambil menudingkan tangannya di katalog, “lukisan ini, itu, dan ini berapa harganya?” Dengan enteng seniman yang ayah tiga anak ini menjawab dengan menyebut angka rupiah yang besar. Kolektor itu cukup kaget dan dengan sinis membilang, “Ah, angka segitu besar bisa buat beli rumah bagus tuh.” Dibyo pun menjawab dengan tak kalah sinisnya, “Yaahhh, lukisan saya memang untuk mereka yang sudah punya rumah. Kalau belum, ya jangan beli lukisan saya. Beli rumah dululah…” Sudah bisa dibayangkan kalau kolektor tersebut seperti ditampar “mahkota prestisenya”. Setelah itu dilobinya dengan baik-baik hingga sang kolektor merasa terhormat dengan mengoleksi lukisannya.

Di lain waktu, seniman yang kini menetap di Tuban, Jawa Timur ini kedatangan seorang selebritas muda Jakarta—artis sinetron Henky Kurniawan—yang ingin mengoleksi karya lukisnya. Peristiwa kecil ini dinarasikan secara sederhana sebagai status di media sosial Facebook yang diunggah pada 29 Oktober 2011, pukul 04:05 wib. Berikut petikannya:

"mas,, jauh2 dari jakarta cuma untuk lukisannya masdibyo lho,,, ini tadi kupikir dari Bandara ga jauh, ternyata dua jam lebih lho,,, dikasih ya tiga lukisan sekian,,, bajetku cuma ada sekian lho mas,,, plis dong,,,"
"GENGSI AH,, MOSOK SEORANG HENKY KURNIAWAN NAWAR??? GINI AJA DE,,, YANG ADA ITU DITRANSFER SEKARANG,, SISANYA SETELAH LUKISAN KUKIRIM, OK???"
"tega de masdibyo,,, kalo bukan karena istri hamil yg minta aku ga belain lho mas,,,"
"NAAAAAAH,, JUSTRU KARENA Si BABY YG MINTA ITU MESTINYA GENGSI DONG,,, BIAR PUTRANYA KELAK PUNYA GENGSI & SELERA YG BAIK".
"gitu ya???"
"YA IYA LAAAAAAAAAH"
"ya udah,, gini aja besok selasa aku transfer, aku dikasih bonus yg item-putih itu, kubawae sekarang ".

hahahahahahahaha,,,,,, akhirnya,,,,,

Beberapa teman dan kolega memberi sekian banyak contoh percakapan Masdibyo ketika menghadapi sekaligus melobi kolektornya, mulai dari yang unik, lucu, bahkan hingga yang mulai ngehek dan tengil. Apapun, praktik “bersilat lidah” untuk melobi dan meyakinkan (calon) kolektor ini sepertinya memang harus dilakukan dengan mendasarkan pada kondisi dan sikap berkeseniannya selama ini. Maksudnya, dari sekian banyak perhelatan pameran tunggal yang dilakukannya puluhan kali—bahkan ke-40 kali pada tahun 2013 ini—seniman ini banyak melakukannya sendiri dan relatif independen. Dia tak banyak bekerjasama dengan pihak galeri (komersial) yang kian banyak bertebar 15 tahunan terakhir. Dia juga bekerja sendiri tanpa bantuan EO (event organizer) atau art management yang mulai berderak muncul di pelataran dunia seni rupa.

Kondisi semacam inilah yang membuat Masdibyo mesti memutar otak dan bekerja keras (plus bekerja cerdas) untuk mmposisikan dirinya berperan dari hulu hingga hilir pada tiap perhelatan pameran tunggalnya. Misalnya dalam menyiapkan karya. Sebagai seniman, sudah barang pasti karya-karya disiapkan jauh-jauh hari. Figura juga mesti dipesannya di tempat yang paling baik yang sesuai seleranya. Meski tinggal di Tuban, Masdibyo memesan figura di Yogyakarta yang dianggapnya bagus, layak, dan memenuhi standar seleranya. Bahkan, tak jarang, untuk kasus tertentu, dia harus mengerjakan finishing-nya sendiri agar lebih baik.

Kemudian perihal pemilihan tempat berpameran. Pada beberapa kasus, seperti ketika berpameran tunggal di Bakrie Tower di Jakarta, seniman ini dengan sungguh-sungguh melobi dan meyakinkan agar bisa berpameran di tempat itu. Petinggi manajemennya “diberondong” dengan persuasi yang baik terus hingga takluk. Untuk tokoh pembuka pamerannya pun, Sekjen PDIP, Ir. Pramono Anung, dengan tak segan-segan Masdibyo melobi ke sekretarisnya di gedung DPR Senayan, hingga di rumahnya di bilangan Kemang. Dan berhasil. Untuk menyertai pameran, buku atau katalog yang serius disiapkan. Lagi-lagi, dia sendiri yang mengupayakannya sendiri hingga detil. Mulai dari pemilihan penulis hingga proses cetak, tak segan-segannya dia menunggui di percetakan demi kesempurnaannya.

Maka tak heran kalau menyimak proses yang dilakukannya ini Masdibyo bisa juga dengan ringan dan cekatan bekerja di tahap marketing atas karya lukisnya. Ini semua dikerjakannya nyaris secara “one man show”. Petikan status Facebook dan contoh lain di atas bisa menjadi celah kecil untuk melihat betapa bentuk dan teknik marketing ala Masdibyo selama ini cukup efektif menemui sasaran tembaknya.

***

[4]: Bukan Candradimuka


CARA kerja “one man show” ini seperti mengingatkan pepatah yang membilang bahwa “rajawali selalu terbang sendiri, sementara bebek selalu bergerombol.” Atau seniman legenda Jawa Timur/Surabaya, almarhum Amang Rachman pernah berujar bahwa “sing grudak-gruduk kuwi wedhus, sing ijen kuwi macan”. Pemerhati seni Jawa Timur, Henri Nurcahyo menganggap tak berlebihan juga kalau sosok Masdibyo kurang lebih seperti rajawali atau macan dalam dunia seni rupa di Jawa Timur.

Terminologi “rajawali” dan “macan” ini kiranya bisa bernilai plus dan minus. Sisi plusnya, rajawali atau macan bisa diduga menjadi patron yang layak diikuti jejak keteladanannya. Sisi minusnya, dalam jagat seni rupa yang kini penuh dengan kebutuhan untuk membangun jejaring kerja (networking) di segala lini dan di segala tahap, maka sosok rajawali dan macan sulit untuk diterima karena berisiko ketika melakukan kerja kolektif. Padahal kolektivitas inilah salah satu poin penting untuk merapikan infrastruktur dan suprastruktur seni rupa Indonesia yang masih compang-camping.

Masdibyo saya kira tahu persis risiko dari pilihannya untuk “terbang” sendiri: tak memiliki art group, atau komunitas seni yang dimungkinkan bisa menopang tabungan kreativitasnya, tak memiliki jalinan kerjasama profesional yang ketat dengan galeri atau art management manapun, juga tak memiliki jejaring kerja dengan lembaga berpengaruh apapun di luar dirinya. Fakta akan posisi seperti ini sebenarnya cukup disadarinya. Gelagat akan pentingnya menimba pengetahuan atau pengalaman lebih jauh perlu dilakukannya. Maka, sekitar tahun 2004, Masdibyo mengambil keputusan untuk menetap di Yogyakarta. Di kawasan dengan sekian banyak seniman penting dia mengontrak sebuah rumah. Targetnya jelas: ingin masuk di salah satu “pusat” seni rupa Indonesia sehingga nama dan nasibnya bisa jauh lebih baik.

Bayangan dirinya akan masuk dalam “kawah Candradimuka” yang bisa menggembleng laju kesenimanannya menjadi lebih baik, merupakan pengharapannya yang begitu besar. Suatu saat, ketika Dibyo mencoba meminta evaluasi atas karya-karya baru di rumah kontrakannya waktu itu, “gemblengan” oral telah masuk ke telinganya. Karya(-karya) barunya yang diperlihatkan kepada sahabat-sahabat perupa di Yogyakarta antara lain disebut sebagai “elek we durung” (jelek saja belum). Itulah kalimat ejekan bernuansa candaan yang sering berkelebat di antara para seniman Yogyakarta. Kalimat tersebut bahkan sering diucapkan oleh maestro H. Widayat ketika mengevaluasi karya-karya mahasiswanya di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta. Kejam namun melecut untuk maju bagi yang mendengarnya.

Namun Dibyo hanya bertahan kurang dari setengah tahun di Yogyakarta. Dia memutuskan angkat kaki dari Yogyakarta. Bukan karena ejekan di atas. Namun, pertama, dia “menemukan” seorang kolektor yang disebutnya “gila”, Edi Sugiri dari Bandung. Kolektor ini disebutnya sebagai orang yang memiliki pengaruh besar bagi sebagian proses kesenimanannya hingga sekarang. Di sisi lain, kedua, pengalamannya hidup dan mencoba menimba pengetahuan di Yogyakarta tidak menemukan titik temu yang diinginkannya. Seniman-seniman yang ditemui, menurutnya, kurang memberi inspirasi bagi proses pembelajarannya lebih lanjut. Hanya sosok seniman Sigit Santosa yang disebutnya sangat penting dalam membekali sistem pengetahuannya. Seniman itu, ujarnya, punya pembacaan yang lebih cerdas atas masalah-masalah dalam dunia seni rupa, antara lain karena ditopang oleh bacaannya yang banyak dan bermutu. Toh akhirnya suami Endah yang guru SMA 1 Tuban ini harus pergi dari Yogya. Entahlah, apakah kala itu Masdibyo terlalu sempit memilih komunitas yang dijadikan sebagai “ruang pertapaannya”, atau memang—lagi-lagi—dia betul-betul seorang lone ranger, atau sesosok one man show yang senantiasa asyik dengan kesendiriannya.

***

[5]: Gadget Aktualisasi


KESENDIRIAN—dan bukan kesepian—tampaknya yang membuat sosok Masdibyo menemukan aktualisasi diri dan proses kreatifnya dengan baik. Dalam soal berkesenian, sekian banyak karya lahir dari tangannya dalam keheningan kesendiriannya. Dia bukan tipe pelukis on the spot yang sering mempraktikkan melukis model, misalnya, di luar ruang—apalagi beramai-ramai.

Sementara pada dimensi kemanusiawian, seniman ini seperti ingin tetap menjadi bagian penting dari sebuah kebersamaan berikut percik-percik eksistensi yang terus diuar-uarkannya. Kesendirian ini kemudian menemukan kekentalannya pada diri Masdibyo ketika teknologi informasi makin maju dan merebak kehadirannya di seluruh kisi jagad. Gadget menjadi perangkat penting untuk orang yang sepertinya ingin terus menyendiri namun berhasrat tetap diketahui kehadirannya, dan suara-suara batinnya.

Telepon seluler dengan kemampuannya untuk mengirim pesan pendek telah dimanfaatkan betul oleh Masdibyo untuk mengabarkan ke sebanyak mungkin kenalan, sahabat, dan relasinya atas apa yang terjadi pada dirinya. Pemerhati seni Henri Nurcahyo termasuk salah seorang yang rajin dikirimi SMS “aneh-aneh”. Suatu ketika dia tiba-tiba menerima SMS yang berbunyi: “Hen, rejekiku pancen apik, selama di Bandung aku selalu sempatkan nyeket-nyeket dengan areng, jadi kemana-mana bawa buku sket, setelah penuh, ini tadi sambil ngobrol ama kolektor spontan aku tunjukin sket-sketku, tau ga, sket dalam kondisi masih dibuku, 40 lembar dibeli Rp 100 juta !! Aku seperti mimpi !! Salam, “masdibyo”. (Sayang Henri lupa kapan SMS itu diterimanya).

Saya sendiri juga sesekali menerima SMS yang “mengejutkan” dari Masdibyo. Contohnya SMS yang saya terima tanggal 7 Juni 2013, pukul 12.57 WIB: “Kolektor edan !! Uang 2M diberikan chas !! Hahahahaha,,,, gemeter aku menerimanya mas !! Biasane kan transfer. Untung BNI ga jauh dari kantornya. Hahahaha,,, kampreeeet !! Uji nyali !!” SMS seperti ini, bagi saya, memberikan gambaran bahwa problem eksistensi bagi seseorang, terlebih sebagai seniman, memang diperlukan untuk mengaktualisasikan diri di tengah-tengah pergaulan sosialnya. Bahwa kehadiran fisik untuk konteks waktu sekarang ini tak lagi menjadi mutlak karena pesan/SMS tersebut telah menjadi representasi yang sahih. Beberapa hari berikutnya kebetulan saya juga bertemu langsung dengan Masdibyo dan mencoba mengonfirmasi pesan tersebut. Maka dengan detil diungkapkannya segala hal-ihwal yang berkait dengan uang kontan Rp 2 miliyar tersebut.

Pada perkembangan berikutnya, teknologi informasi, terutama internet, juga menyediakan ruang yang lebih terbuka, luas namun intim untuk ajang sosialisasi—termasuk bagi mereka yang dianggap penyuka kesendirian atau bahkan yang terkategorikan asosial. Media itu bernama Facebook, sebuah jejaring sosial yang sangat popular, apalagi di Indonesia yang sebagian besar penduduknya terbilang cerewet dan suka “ngerumpi”.

Masdibyo seperti menemukan ruang yang paling representatif untuk mempublikasikan setiap “tarikan nafas” yang dilakukannya. Tiap hari, selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, wall dari akun Facebook-nya selalu dipenuhi oleh status atau foto yang diunggahnya. Tak jarang, dalam sehari dia bisa mengunggah 10 status, bahkan lebih. Content-nya bisa tema apapun sesuai dengan hal yang tengah “mengganggu” pikiran dan hatinya. Dan cara penyampainnya cenderung lugas, kadang keras, tanpa tedheng aling-aling. Contoh-contoh di bagian atas dari tulisan ini bisa menjadi cerminan. Atau beberapa ungkapan atau komentarnya yang keras seperti tentang seniman yang melukis dengan cara melakukan retouch atas karya digital print:

11 Juni 2011:
“Pelukis sekarang banyak yang jadi PENINDAS !! maksudnya :
obyek yg mau dilukis di PRINT dikanvas, lalu DITINDAS dengan cat . Panteeeees bocah durung iso sisi lukisan realise kok maut-maut tenan,,,, diamput, ketipu aku. Hehe,,,,,
www.ndomblong.co.id”

Tak kalah kerasnya lagi, pada satu kesempatan lain seniman dengan tiga anak putri yang telah beranjak dewasa ini berujar pada 22 Oktober 2011:

“PAMERAN SENI RUPA SEKARANG INI, TERLALU BOMBASTIS DENGAN TEMA, DI ELIT2KAN BIAR KELIATAN INTELEK, TAPI KENYATAANNYA SENIMANNYA NDESO, NGOMONGNYA NGAWUR, GA JELAS,,, WEH JIAN,,,,
kepada teman2 yg belum telanjur kena sindrom seakan-akan itu, tampilah biasa aja,, wajar wajar aja,, lebih baik setelah liat karya anda apresian terkesan dengan kejujuran anda, dari pada kecewa ato bahkan mencibir karena KECELE.,,,
salam damai.”

Dan di balik “kebrutalan” ungkapannya yang disampaikan secara terbuka ini, sesekali dia kepakkan sayap-sayap kebaikannya. Mungkin bisa dibilang sebagai sebuah kepongahan, mungkin juga sekadar “berita” kecil yang baginya pantas untuk di-share. Siapa tahu ini akan inspiratif bagi orang lain dan berniat untuk menirunya:

28 April 2013:
“PAK SLAMET sopir taksi Blue Bird , karena beliau ingin merasakan pake sepatu Kickers, kebetulan nomor sepatunya sama dengan kakiku, sepatu Kickers yg kupake kulepas kuberikan bersama kaos kakinya • Saking senengnya, ditengah jalan minta tolong seseorang untuk foto bareng aku . Hahhaha,,,,, mohon diterima dengan syukur pak ya ?? Salam damai dan banyak rejeki pak !!”

Apapun, Masdibyo adalah manusia biasa. Kelembutan dan kekerasan, kegalakan dan kesantunan, selalu menyertai dalam satu kesatuan yang saling integral. Selalu ada kese(t)imbangan di alamnya. Termasuk dalam menyikapi dunia seni, agama, politik, cinta, atau apapun. ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa.

(Catatan ini dimuat dalam buku yang mengiringi pameran tunggal Masdibyo, Life in Concert, di Wisma Bakrie, Oktober 2013)