Sunday, December 22, 2013

Menanti Taksu pada karya Leksono


Bebotoh Bali II, oil on canvas, 70 x 93 cm, 2012

EKSOTISME budaya Bali telah menjadi pokok bahasan utama bagi sekian banyak seniman, terutama seni rupa, entah yang datang dari mancanegara maupun Indonesia sendiri. Publik bisa menyimak deretan para perupa mancanegara yang karya-karyanya kita mengisi celah sejarah seni rupa Indonesia, seperti Arie Smit, Theo Meier, Willem Gerard Hofker, Paul Nagano, Rudolf Bonnet, Rearngsak, dan sekian banyak nama lain. Pun dengan para perupa Indonesia (selain dari Bali sendiri) yang karya-karyanya banyak atau sempat bertema utama tentang Bali, semisal Dullah, Fadjar Sidik, Affandi, dan masih segudang nama besar lain, baik yang kemudian membubung tinggi namanya sebagai seniman besar dan masuk dalam konstelasi wacana seni rupa Indonesia, maupun lepas dari perbincangan sejarah karena pencapaian karyanya dianggap kurang memadai untuk mengisi kepentingan tersebut.

Leksono—sosok asal Cilacap yang sejak kecil terobsesi menjadi seniman—adalah salah satu dari sekian banyak seniman yang pada tahun 1987 mencoba merangsek masuk ke Bali, belajar melukis, dan menjadikan perikehidupan pulau Dewata tersebut mengemuka dalam sebagian karya-karyanya. Pada pameran tunggalnya ini, Leksono menempatkan banyak hal yang pernah dialaminya ketika tinggal di Bali sebagai materi imitasi dan sumber inspirasi dalam karya. Saya katakan imitasi karena dalam praktik kreatif seni begitu dominannya upaya seniman untuk “memindahkan” alam ke dalam kanvas, atau dalam falsafah Yunani Kuno dikatakan sebagai “ars imitatur naturam”, seni sebagai upaya peniruan alam.

Upaya peniruan alam ini tentu beragam bentuk ungkapnya, tergantung masing-masing seniman dengan kecenderungan artistiknya. Ada seniman yang mencoba untuk menyerap segala yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialaminya, lalu dimuntahkan begitu saja (secara pictorial atau visual) ke dalam kanvas. Ini yang kiranya bisa diasumsikan akan memunculkan karya-karya yang realistik. Karya-karya Leksono, saya kira masuk dalam kemungkinan pilahan dan kecenderungan artistik seperti ini. Benda atau aktivitas yang dilihatnya secara fisik, kemudian dipindahkan dalam “format” yang sama ke dalam bentangan kanvasnya. Inilah yang terjadi, dan dapat disimak dalam pameran tunggalnya ini. Leksono berupaya keras untuk menampilkan subyek-subyek karyanya mengemuka secara fotografis. Dalam tinjauan komposisi tampak diatur sesempurna mungkin seperti halnya yang bisa kita simak pada foto-foto salon atau kartu pos, misalnya.

Meski demikian, pada aspek teknis, memang, seniman kelahiran Cilacap 2 Oktober 1969 ini mesti lebih gigih belajar untuk mendapatkan pencapaian yang jauh melompat dari yang sekarang. Dasar-dasar teknis melukis anatomi tubuh, idealnya, bisa dikembangkan lagi lewat sketsa-sketsa dasar atau perancangan awal yang lebih kuat terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap teknis berikutnya seperti pewarnaan, chiaroscuro (teknik gelap-terang), dan seterusnya. Secara umum, karya-karya Leksono mengarah pada kecenderungan realisme(-fotografis) yang memiliki “risiko” tinggi pada tuntutan teknis. Meskipun sebenarnya tehnik realism banyak ragamnya, dan realism-fotografis ataupun hiper-realisme bukanlah satu-satunya puncak pencapaian karya seni lukis yang bermahzab realisme.

Kalau menyimak karya-karya yang terpampang dalam pameran ini, apresian relatif bisa segera tahu tentang potongan seni budaya Bali yang dibidik oleh Leksono. Ada pura, sesaji, penari, barong, sosok lelaki pembawa ayam jago petarung, dan sebagainya. Nyaris semua karyanya menampilkan sisi indah, manis, dan fakta-fakta sosial yang diestetisasi menjadi potret cantik tentang budaya Bali. Ini semacam potret salon yang ada dalam kartu pos atau buku panduan wisata, dan semacamnya. Pilihan kreatif ini sudah barang pasti menjadi titik menarik Leksono untuk terus digeluti. Tinggal beberapa dimensi mendasar seperti yang saya singgung di atas bisa lebih jauh dieksplorasi. Misalnya, tentang detail. Kita bisa menyimak detail pada kostum khas Bali yang luar biasa kaya dan tiap corak juga memiliki ciri khas visual, dasar falsafah, dan sebagainya. Belum lagi tentang mimik atau ekspresi wajah dari figur-figur yang tergambar di atas kanvas. Misalnya gerak mata dan pertautan antar-jari tangan, pasti memiliki muatan tendensi khusus yang bermuara pada sisi historis dan filosofis. Poin ini yang perlu untuk dicermati pada karya-karya selanjutnya, agar karya-karya lebih memiliki “taksu”, atau aura yang kuat hingga “menghipnotis” penonton.

Sebagai seniman otodidak yang kini “melihat Bali dari Jawa”, karya-karya Leksono ini pantas untuk diapresiasi dan dijadikan sebagai media pembelajaran kecil tentang seni budaya Bali yang terus bergeliat. Kekuatan budaya Bali tampaknya menggoda bagi spirit kreatif Leksono. Tetaplah menjadi pembelajar yang gigih, mas Leksono. Selamat berpameran.

Kuss Indarto, anggota dewan kurator Galeri Nasional Indonesia, tinggal di Yogyakarta.