Monday, November 10, 2014

Tiada Lagi SMS dari Gandung


Oleh Kuss Indarto 

Di pemakaman kampung Gampingan, Wirobrajan, di tepi sungai Oya, di bawah rindangnya pohon “asem Jepang”, akhirnya, tubuh Wahyudiono atau yang karib dipanggil Gandung direbahkan. Tubuhnya yang bertahun-tahun lalu terbilang tambun, di bulan-bulan terakhir tampak menyusut karena digerogoti penyakit gula darah (diabetes melitus), juga ditambah penyakit lain. Belum lagi sebuah kecelakaan kendaraan bermotor sempat mengempaskan tubuhnya hingga mencederai bagian tulang lengan kirinya. Tubuhnya hanya bertahan menyangga penyakit-penyakit itu hingga di usia 44 tahun. Jumat Kliwon, 7 November 2014, sekitar pukul 07.00-an WIB, Gandung meninggal di salah satu sal di RS Pemda Wirosaban, Yogyakarta.

Tak hanya keluarga dan kampungnya, dunia seni rupa Yogyakarta pun kehilangan sosok ini—terutama bagi para seniman, pekerja seni, atau mereka yang pernah mengenyam bangku kuliah di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI), Yogyakarta, khususnya saat berkampus di bilangan Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta. Sejak usia belasan tahun, di akhir dasawarsa 1980-an, Gandung yang lahir dan besar di kampung utara kampus itu, sering berinteraksi dengan para mahasiswa. Awalnya, dia sebagai anak-anak yang datang ke kampus untuk sekadar main karena kenyamanan dan suasana akrab lingkungan kampus tersebut. Lambat laun, ada bentuk persenyawaan hubungan yang kian rekat antara Gandung dan para mahasiswa Seni Rupa ISI. Apalagi rentang usianya tak jauh berbeda dengan para mahasiswa. Sesekali dia menawarkan jasa untuk memijat tubuh beberapa mahasiswa yang lepas kuliah, atau yang nongkrong di rindangnya pohon beringin di selatan gedung Sasana Ajiyasa. Tapi kalau Gandung sedang praktik memijat, para mahasiswa yang jadi pasien nyaris selalu menjerit kesakitan karena kuatnya otot tangan Gandung. Teriakan umpatan seperti “asu, bajingan, keple”, dan lainnya, banyak mengiringi aksi pijat itu. Gandung sesekali juga jadi suruhan para mahasiswa untuk membelikan bir, anggur, atau minuman keras lain untuk “bahan” nongkrong di lingkungan kampus.

Selanjutnya, ketika orang tuanya tak lagi mampu membiayainya untuk masuk di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Gandung muda memutuskan untuk menjadi tukang becak. Baginya, ini adalah pilihan yang realistis karena dia adalah anak pertama dari lima bersaudara. Dia harus membantu orang tua dan adik-adiknya yang masih mengenyam bangku sekolah. Menjadi tukang becak pun, tak pelak, Gandung juga mengambil “spesialisasi” yang agak berbeda dengan tukang becak di lingkungannya. Dia tetap “mepet” di lingkungan kampus ISI Gampingan. Jasa yang ditawarkannya adalah mengantar-jemput karya (lukisan, patung, atau karya seni lain) dari kos-kosan mahasiswa ke kampus saat ujian, atau saat mahasiswa harus “setor” karya untuk diperlihatkan ke kampus pada mata kuliah tertentu. Kondisi ini sangat memungkinkan karena bila membandingkan dengan ongkos sewa mobil, harga angkut becaknya Gandung jauh lebih murah. Apalagi Gandung bisa dengan cepat hafal alamat para mahasiswa menjadikan posisinya punya nilai tawar yang cukup tinggi.

Saya sendiri tak begitu ingat dengan sangat cermat profesi apa saja yang sempat dilakono oleh sosok Gandung ini. Seingat saya, sekitar tahun 2001 di menjadi tukang parkir di depan warung gudheg Mbak Sri ketika warung itu mengambil tempat jualan di utara-timur perempatan Wirobrajan—sekitar 250 meter dari kampus ISI Gampingan. Tapi kemudian Gandung tidak ada dalam “korp baju oranye” itu ketika warung gudheg Mbak Sri berpindah tempat. Belakangan, saya mengetahui kalau dia ikut korp penjual Ice Cream Campina—yang pendistribusiannya lewat kendaraan gerobak-becak. Gandung memakai baju seragam perusahaan Ice Cream itu dengan tetap menggenjot becak berlabel Campina. Tapi pekerjaan ini tidak dilakoni dengan lama. Gandung mengaku kalau pendapatan dari pekerjaan itu tak sebesar yang dibayangkannya, dan tak bisa mencari waktu lain untuk menambah penghasilan.

Di akhir paruh kedua dasawarsa 2000-an, sosok Gandung seperti menguatkan diri untuk berada dalam dinamika seni rupa Yogyakarta. Dia bukanlah sesosok bintang, namun perannya diperlukan: juru sebar undangan, atau pendistribusi undangan peristiwa seni (rupa). Dia tidak sekadar menyebarkan undangan fisik yang telah dibuat oleh para pelaku seni, namun juga mendistribusikan undangan secara digital atau lewat sms (Short Message Service). Ini nyambung dengan situasi perkembangan teknologi informasi ketika semua orang (termasuk seniman) telah memiliki gadget berupa telepon selular sebagai alat komunikasi. Pada ranah inilah Gandung bergerak membantu percepatan persebaran undangan peristiwa seni ke (calon) penonton atau penikmat seni. Dan Yogyakarta sebagai kawasan yang kian subur dengan kreativitas serta peristiwa seni, akhirnya, memang membutuhkan orang-orang dengan kecakapan dan pekerjaan khusus yang bergelut di dalamnya. Gandung adalah orang yang bersedia mengambil salah satu peran di dalam dinamika seni (rupa) itu.

Pada tahun-tahun terakhir ini, nomer seluler Gandung, 081904176181, nyaris tiap pekan atau bahkan beberapa hari sekali, menyapa ratusan nomer seluler lain lewat sms untuk mengabarkan informasi tentang peristiwa seni. Gandung sempat mengaku kalau untuk mengerjakan jasa itu memungut honor minimal Rp 150.000,-. Sementara untuk mendistribusikan undangan fisik, dia menerima bayaran minimal Rp 200.000,- yang diselesaikannya dalam 2-3 hari. Dalam proses penyebaran undangan ini, pada bulan-bulan terakhir ini, Gandung malah telah menunjukkan spesialisasinya dengan hal-hal kecil yang kadang tak terpikirkan oleh pembuat event. Misalnya, dia memberi saran kenapa si X atau komunitas Z tidak diundang, karena menurutnya si X atau Z itu sangat apresiatif, dipastikan akan datang, bahkan bisa membawa tamu/penonton lain. Atau kadang dia memngingatkan kalau alamat si A sudah pindah, si B sedang keluar negeri hingga 2 bulan ke depan sehingga undangan pasti mubazir, dan sebagainya. Hal-hal “remeh” ini kiranya telah menunjukkan kesetiaan dan ketekunan Gandung dalam menjalani pilihan “profesinya” yang terakhir itu.

Posisi dan peran itu juga menjadikan Gandung banyak bersentuhan dengan sekian banyak pelaku seni (rupa) di Yogya, mulai dari mereka yang terbilang senior hingga para mahasiswa yang masih berproses untuk menjadi seniman. Ini terlihat ketika saat prosesi pelayatan dan pemakaman almarhum. Ada seniman senior Djoko Pekik, hingga Sigit Santosa, Agapetus Kristiandana, Albara, Yuswantoro Adi, Gigih Wiyono, Agus Leyloor, dan sekian banyak nama lain. Pun ada para mahasiswa ISI Yogyakarta yang jarak usianya relatif jauh dengan Gandung. “Apa kaitan dan peran Gandung bagi kalian?” tanya saya. “Awal bulan lalu, Pak Gandung kami minta untuk membuka pameran kami, Ciu-torium” di JNM atau bekas kampus Gampingan,” tutur salah satu mahasiswa Seni Grafis angkatan (masuk) 2011.

Mulai Jumat, 7 November 2014, niscaya nomer seluler Gandung 081904176181 tak akan lagi berbagi info pada para seniman dan publik seni (rupa) di Yogyakarta. Ketiga anak-anaknya yang telah beranjak dewasa, masing-masing Eko, Septi, dan Putri, juga istrinya, pasti tak akan lagi mendengar sapaan Pak Wahyudiono alias Pak Gandung. Pun dengan rekan-rekannya sesama anggota Satgas PDIP Kota Yogyakarta dimana Gandung masih aktif berseragam di korps itu.

Kini, saya juga tak akan lagi mendengar sapaannya ketika masuk rumah sembari menyampaikan undangan: “Pak Kuuuusssssssss…” Biasanya, saya merespons standar, “Matur nuwun”, dan Gandung segera pamit. Sesekali dia kutawari minum, tapi kadang ditolaknya. Alasannya, “Pak Kuss itu pertama, jadi undangan yang saya bawa masih numpuk dan harus cepat disebar.”

Baiklah, Gandung, selamat jalan. Sebarkan kabar baik dari Tuhan di sana untuk kami di sini ya!