Thursday, October 01, 2015

Rejim Jagal


Bertahun-tahun setelah kuliah, aku baru sadar, betapa berat beban ayahku untuk "mempertahankan" posisinya sebagai anggota Brimob Polri. Ini sama sekali tidak bertalian dengan soal ambisi. Bukan. Sederhana saja. Seorang kakak iparnya, ya kakak kandung ibuku, atau pakdheku, hilang setelah tahun 1965. Tak pernah jelas kemana dan dimana dia (di)hilang(kan), apalagi makamnya. Kata ibuku, pakdhe dulu terbilang anak yang paling cerdas di keluarga, dan aktif berorganisasi. 

Lalu ada juga adik ipar ayahku, suami dari salah satu adik kandung ayahku, atau paklikku, yang masih selamat dari penculikan dan kematian namun seperti "mati dalam hidup". Ya, paklik mungkin dianggap "tersangkut" oleh orde baru meski masih bisa termaafkan. Namun, seingatku, dia menjadi "penganggur abadi" karena setiap geraknya selalu diawasi. Menyakitkan, karena dia beranak banyak dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Lebih menyakitkan lagi, dia nyaris terpenjara di rumah. Bahkan untuk menghadiri syukuran rumah baru kami yang berbeda kecamatan pun, dia tak bisa datang. Pasti dia ingin datang, tapi kemungkinan besar memilih tidak hadir justru demi menyelamatkan posisi ayahku yang anggota Brimob. Ayahku mungkin waswas akan kehilangan banyak hal hanya karena menerima adik iparnya sebagai tamu yang diduga tersangkut PKI--meski tak jelas segi ketersangkutannya. 

Bagiku, itu aneh. Penyambungan tali persaudaraan itu ya sederhana: kehadiran. Dan paklikku nyaris banyak di rumah, tanpa menghadirkan diri dalam keluarga besar. Sehari-harinya, kalau tak salah ingat, lebih banyak hanya membantu meracik makanan sebelum diperdagangkan di pasar oleh bulik dan anak-anaknya. Kalau tak salah, menjadi petani penggarap juga menjadi bagian dari kesehariannya, meski aku lupa persisnya.

Begitulah. Anak-anak pakdheku tak ada yang (bisa) menjadi PNS karena kematian ayahnya yang berada di kisaran tahun 1965 (berikut sejarah aktivitas sebelumnya). Mereka cukup selamat dengan tinggal di rumah salah satu pakdhe kami yang lain yang seorang tentara. Anak-anak paklikku ada yang lolos menjadi PNS karena "alibi" tahun kematian ayahnya dan menyembunyikan rapat-rapat jatidiri sang ayah, sembari membesar-besarkan keberadaan ayahku, pakdhe mereka, yang anggota Brimob. Ini semua seperti sebuah strategi hidup di "jaman kegelapan" Soeharto. Jaman Soeharto adalah jaman ketika kecurigaan antartetangga, bahkan antarsaudara begitu kuat meneror sebuah hubungan, hanya karena praduga tanpa dasar dan di luar batas kewajaran tentang ilusi komunisme. 

Ayahku selamat kariernya hingga pensiun. Tapi harga sosial yang harus ditempuhnya, antara lain, dengan berusaha "meniadakan" kakak dan adik iparnya. Ini tak manusiawi. Sungguh. Maka, kukira Soeharto memang jagal sejagal-jagalnya yang tak layak dipahlawankan. Nusantara masih bisa diselamatkan justru tanpa (ideologi) Soeharto. 

Jembar kuburanipun nggih: Bapak, Paklik lan Pakdhe.