Sunday, October 18, 2015

Kapal Tsunami


Museum kapal (kecil) di Gampong Lampulo, Aceh. 4 Oktober 2015

Kapal kecil ini menjadi saksi bisu kedahsyatan tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Artifak ini bertengger sekitar 3-4 meter di atas sebuah rumah milik seorang karyawan Pertamina di kawasan Gampong Lampulo, kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Oleh PNPM telah dibeli dan dijadikan museum.

 Saat saya berkunjung pada hari Minggu, 4 Oktober lalu, kondisi secara keseluruhan lingkungan relatif masih rapi dan terawat. Namun artifak kapal itu sendiri cukup mengkhawatirkan. Setelah lebih dari 10 tahun bertengger di tempat itu, proses pelapukan mulai menggerogoti. Pada beberapa bagian badan kapal, kayu-kayunya terlihat terkikis karena terkena hujan dan panas dengan cuaca yang bergantian terus-menerus.

Bahaya pelapukan, menurut saya, sudah menunjuk di lampu kuning. Pencegahan tampaknya segera dilakukan. Alternatif solusi bisa dikerjakan. Misalnya, bekerjasama dengan para seniman patung, misalnya, untuk melapisi seluruh badan kapal itu dengan resin bening. Material ini tetap bisa mempertontonkan secara utuh benda di lapis bawahnya, sekaligus melindungi dari lekangnya panas matahari dan guyuran hujan. Ingat, ini negeri tropis! Kalau tak ada upaya perlindungan pada artifak (utama) museum di kampung itu, saya kira tidak sampai 10 tahun lagi kapal ini sudah tidak menarik dilihat.