Wednesday, November 18, 2015

Sosok Butet Kertaradjasa: Seni, Idealisme, dan Uang

Bambang Ekolojo Butet Kertaradjasa tampak begitu santai dan cerah pagi itu. “Jangan motret dulu ya. Aku belum mandi. Ngobrol-ngobrol santai sajalah,” tuturnya mengawali perbincangan dengan Majalah Tong Tjie Lifestyle. Ini memang kesempatan santai bagi Butet yang agendanya padat dan mobilitasnya begitu tinggi. Sehari sebelumnya, seniman ini berada di Jakarta, dan besoknya dia kembali ke Jakarta beberapa hari untuk syuting di sebuah stasiun televisi dan aktivitas lain. Maka, hari itu dia banyak beristirahat di rumahnya yang berhalaman cukup luas di kawasan Kembaran, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Sang istri tercinta, Rulyani “Rully” Isfihana, selalu setia mendampingi di rumah. Kebetulan hari Senin itu Warung Bu Ageng—restoran yang mereka bangun sejak empat tahun lalu—libur, sehingga banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Memang tak lengkap benar karena anak tertua Butet, Giras Basuwondo telah berkeluarga dan tinggal di tempat lain. Dari Giras itulah kini Butet mendapatkan seorang cucu yang imut-imut. Alera namanya. Sementara dua anak lainnya yang masih serumah, Suci Senanti dan Galuh Paskamagma, sudah beranjak ke kampus untuk kuliah sejak pagi.


Di meja tempat Butet duduk, terserak benda-benda yang akhir-akhir ini menjadi hobi yang banyak diburunya: batu akik. Ada sekotak batu akik dalam kemasan bagus yang dikirim untuknya dari Dadang Christanto—seorang teman seniman Indonesia yang kini bermukim di Australia. Di tengah perbincangan yang seru, Butet meminta istrinya untuk membawakan satu tas batu akik yang dibelinya dari Rawa Bening, Jakarta. “Ini semua tidak akan berakhir menjadi batu akik yang melingkar di jari. Saya punya ide lain,” kata Butet dengan mimik serius. Tak jauh di seberang meja itu, pada lantai pendapa, juga tergeletak beberapa batuan besar dengan motif indah di permukaannya. Batuan itu beratnya lebih dari satu kilogram. “Batu-batu ini saya dapatkan dari sungai Karangsambung, di Kebumen, Jawa Tengah,” jelas pemeran Sentilun dalam program talkshow humor “Sentilan Sentilun” di sebuah stasiun televisi tersebut. Menurutnya, batu-batu itu diperolehnya setelah turun langsung ke sungai, lalu dipasrahkan kepada para perajin batu untuk dikuliti dan dihaluskan sehingga menjadi batu hias. Orang Jepang menyebut batuan hias seperti itu sebagai suiseki.


“Saya sudah punya rancangan untuk batu-batu ini menjadi bentuk-bentuk hiasan atau karya seni yang lain. Misalnya kelak akan terpajang mewah dengan bentuk seperti es krim, atau lainnya. Kalau dipotong kecil-kecil, di-embanke, lalu jadi hiasan di jari, itu kan sudah mainstream. Biasa,” terang Butet dengan semangat. Lebih jauh, katanya, bupati Kebumen yang wilayahnya penuh sumber daya batu indah itu pun sudah ditemui dan diberinya banyak masukan untuk memberdayakan lebih jauh tentang potensi seni dari batu-batu tersebut. Semua itu kelak akan berbalik positif untuk daerah itu sendiri: mulai dari sumber pendapatan tambahan bagi warga, serta kemungkinan ikon dan identitas baru bagi daerah tersebut.

Antara Pemberontakan, Kepepet, dan Cocot Kencono

Berbincang dengan Butet, akhirnya, memang banyak membicarakan tentang dunia seni, ide, kreativitas, dan pergulatan di sekitarnya. Apalagi posisinya sebagai seniman yang datang dari keluarga yang suntuk dengan dunia seni, menjadikan dunia tersebut sebagai sesuatu yang mesti terus-menerus didinamisasi dengan cara pandang yang berbeda, selalu menawarkan pembaruan, bahkan juga “pemberontakan”—tentu dengan konotasi positif. Karena pemberontakan, Butet Kartaredjasa bisa menjadi sosok penting di dunia seni seperti sekarang ini.

Gelagat untuk pemberontak itu muncul setidaknya sejak dia duduk di bangku SMP. Sang ayah, seniman besar Bagong Kussudiardja, menjadi “sumber” pemberontakan itu. “Saya ini masuk dalam situasi yang dilematis sejak kecil. Kalau saya menekuni dunia seni tari seperti bapak, orang tak akan menganggap saya dengan nilai lebih. Andaikan saya kelak terkenal sebagai koreografer atau penari, orang-orang pasti akan pasti akan bilang: ‘Ya maklumlah, anak penari ya pasti jago menari. Sebaliknya kalau saya menekuni dunia tari tapi kurang berprestasi, orang-orang pasti akan ngrasani (menggunjing): ‘anak penari top kok tak bisa menari ya.’ Itu sangat menantang bagi saya,” ungkap Butet.


Maka sejak itulah, anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan Bagong Kussudiardja (meninggal tahun 2004) dan Sofiana (wafat tahun 1997) tersebut memulai pergulatannya sendiri dalam dunia seni yang berbeda dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Namun pemberontakan itu sesungguhnya bukanlah upayanya untuk menjauhi keluarga. Bahkan, diam-diam Butet sangat mengagumi sang ayah dari banyak segi. Misalnya, dia menjadi salah satu anak yang paling gemar melahap bacaan. Apapun bahan bacaan milik ayahnya yang tersedia di rumah, disantap habis dalam usia yang relatif masih dini. Hingga dia membaca-baca banyak tulisan pak Bagong yang dibuat saat berusia muda. Dari situlah kemudian dia mengagumi dan termotivasi untuk bisa berkarya seperti sang ayah, di antaranya lewat menulis—dan berikutnya dengan berteater.


Di sisi lain, ayahnya sebagai seorang seniman seni pertunjukan, juga tak jarang mengajak anak-anaknya untuk menyaksikan banyak pertunjukan seni—termasuk teater. “Saya ingat saat masih SMP diajak bapak menyaksikan pentas teaternya W.S. Rendra di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Judul lakon pementasannya Sekda. Saya menyaksikan lakon tersebut sepanjang 4 jam tanpa henti. Dan kala itu saya membatin: ‘Suatu ketika saya akan bisa seperti dia (Rendra)’” kenang Butet.


Hal yang dibatinkan oleh seniman kelahiran 21 November 1961 itu tak berhenti sekadar sebagai imajinasi kosong. Tahun-tahun berikutnya, Butet aktif masuk teater di sekolahnya, SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia, setingkat SMA, sekarang SMK 4 Bantul, Yogyakarta). Dan dalam usia remaja itu, capaian prestasi ditorehnya: terpilih sebagai aktor terbaik sebanyak dua kali, dan sekali sebagai sutradara terbaik dalam kompetisi teater antar-SMA se-propinsi DIY. Ini menjadi dorongan yang lebih kuat lagi baginya untuk menggeluti jagat teater hingga kini. Uniknya, prestasi tersebut belum diakui oleh sang ayah. Pak Bagong tidak membuatkan pesta atas kemenangan Butet itu. Beda dengan ketika saudara-saudaranya menjadi juara tari, pasti acara pesta atau setidaknya makan di restoran bersama-sama.


Di seberang soal itu, mulai dalam usia remaja pula, passion untuk menulis juga kuat. Itu seperti ritus yang otomatis setelah banyak membaca, lalu diserap, dan diaktualisasikan kembali dengan menulis. Nyaris semua media massa yang ada di Yogyakarta pernah diserbu dengan kiriman tulisannya. Pun dengan media di kota lain seperti Jakarta. Butet menulis apa saja, terutama tentang dunia seni. “Tapi ya menulis itu banyak karena kepepet,” pendakuannya setengah becanda setengah merendah. Dengan menulis, tak sekadar honorarium yang didapatnya, namun juga relasi dan jejaring kerja yang penting bagi perjalanan karier dan nasib selanjutnya. Bukan hanya uang untuk menebus susu dan makanan bagi anak istrinya, namun lambat laun Butet bisa mengenal bahkan akrab dengan sekian banyak orang penting yang dijadikan narasumber bagi tulisannya.


Maka ketika dia lebih serius menggeluti dunia teater sebagai panggilan hidup, jalinan relasi dan persahabatan yang telah dibangun bertahun-tahun sebelumnya, bisa manfaatkan secara positif. Tentu saja itu juga berjalan seiring dengan perkembangan pengetahuan dan pengalamannya tentang manajemen yang diterapkannya di dunia seni. Ketika akan mementaskan sebuah lakon teater, kini, Butet dengan mudah dan meyakinkan bisa menggaet sponsor untuk diajak bermitra. Bahkan kadang tanpa bekal proposal yang terlalu detail, tapi cukup dengan modal cocot kencono. Ya, lobi yang dilontarkan oleh mulut Butet telah bisa dipercaya, dan bisa mendatangkan dana sponsor karena “mulut emas” atau cocot kencono-nya. Ini yang sedikit bisa dicapai oleh kebanyakan seniman di Indonesia—bahkan yang sudah punya popularitas berlebih.

Manajemen Hidup dan Seni

Kepemilikan atas cocot kencono itu sebenarnya sangat nyambung dengan bakat seni yang kuat, kerja keras, disiplin, dan kemampuannya untuk mengelola (manage) segala hal yang teranyam dengan dunianya. Jauh-jauh hari sebelum sekarang merebak trend tentang art management, Butet sudah melakukannya, bahkan dengan raihan kesuksesan. Misalnya, sekitar tahun 1994 dia menghelat acara pameran tunggal Faizal, seorang perupa muda yang mulai meroket namanya. Urusan tetek-bengek pameran, dari A sampai Z dikelola semuanya oleh Butet.

Keberhasilan itu membuat Butet menggebu-gebu. Tak lama kemudian, kemjelaampuan manajemen seni itu kian konkret diwujudkan dengan mendirikan sebuah advertising bernama Santano di bilangan Jomegatan, Kasihan, Bantul. “Proyek” ini, lagi-lagi tak direspon dengan positif oleh sang ayah. Bahkan Pak Bagong menentang keras. Pasalnya, tutur Butet mengingat sang ayah: itu bukan dunianya. Advertising itu dunia bisnis yang dianggap jauh berjarak dari seni.


Penentangan itu berbuah konflik. Pak Bagong tak berkenan. Marah. Dan sang ayah tidak menegur-menyapa anaknya sejak saat itu hingga hampir tiga tahun. Butet pun tetap bersikap keras pada pilihannya itu hingga bertahun-tahun, sampai usaha advertising-nya itu akhirnya tumbang—sementara di sisi lain kariernya sebagai aktor dan produser teater terus menemukan jalan memuncak. “Saya tidak pernah belajar manajemen secara khusus. Semua learning by doing. Tahun-tahun berikutnya saya baru membaca buku tentang manajemen, dan dari situ saya bisa melakukan semacam konfirmasi atas semua yang telah saya kerjakan dalam mengelola dunia seni,” kata Butet.


Uniknya, selepas sang ayah meninggal dunia tahun 2004, Butet—sang pemberontak dalam keluarga itu—justru menjadi figur penting yang digadang-gadang bisa menyelamatkan keberadan Padepokan Seni Tari Bagong Kussudiarja. Enam saudara kandung Butet Kertaradjasa dengan aklamasi mendaulat dirinya untuk meneruskan mengelola padepokan tari yang sudah punya reputasi nasional—bahkan internasional itu.


Kini, situs seni warisan koreografer besar Bagong Kussudiardja itu tetap meneruskan eksistensinya. Tidak tumbang oleh nama besarnya yang tak mampu disangga oleh anak turunannya. Tidak. Sekarang sudah ada Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) yang dikelola dengan manajemen modern. Ada pula lembaga-lembaga lain di situ, termasuk Kua Etnika, sebuah institusi berbasis seni musik kontemporer milik adik bungsu Butet, Djaduk Ferianto—yang kurang “dianggap” oleh Bagong sehingga bermarkas di luar lingkungan padepon dan harus menyewa rumah sendiri. Semua itu berkat tangan dingin sang pemberontak, Butet Kertaradjasa. ***