Thursday, November 05, 2015

Potongan Kecil Dunia Seni Rupa Indonesia


Oleh
Kuss Indarto

Seni lukis yang menggambarkan pemandangan alam memiliki sejarah yang cukup panjang di Indonesia. Raden Saleh Sjarief Boestaman (1811-1880) merupakan pelukis modern pertama Indonesia yang telah membuat cukup banyak lukisan pemandangan alam. Karya-karyanya yang dibuat di Indonesia maupun ketika dia menetap puluhan tahun di daratan Eropa tampak jelas kecenderungan naturalismenya. Ada pemandangan yang menggambarkan keindahan alam di Jawa Barat seperti di kawasan Buitenzorg (sekarang menjadi kota Bogor), lalu di Puncak Pass Megamendung, sekitar gunung Gede Pangrango, dan lainnya. Juga tentang pemandangan kawasan Jawa Tengah seperti sekitar dataran tinggi (plateau) Dieng, gunung Merapi yang tengah tenang dan saat meletus, serta masih banyak lagi. Tentu itu tidak termasuk karya-karya pemandangan yang di dalamnya terdapat, misalnya, aksi pertarungan antara banteng dan harimau, singa dan kuda, atau aksi pemburu yang sedang berburu singa, harimau, dan lainnya.

Di Indonesia, lukisan pemandangan alam terus tumbuh setelah itu. Di Sumatera Barat ada tokoh utamanya, yakni pelukis Wakidi yang banyak membuat karya pada kurun waktu sekitar dekade 1930-an hingga 1960-an. Untuk level nasional publik sangat akrab dengan karya-karya lukian Basoeki Abdulah yang menjadi salah satu bintang utamanya. Keberadaan lukisan yang berkecenderungan pemandangan alam atau naturalisme ini bahkan sempat menimbulkan pro dan kontra, terutama pada dekade 1940-an. Ketika itu ada sebutan “mooi Indie” atau “Hindia yang molek”. (Hindia Belanda adalah sebutan lama untuk Indonesia). Sebutan itu merupakan bentuk sinisme terhadap para pelukis yang hanya melukiskan pemandangan alam karena dianggap sangat “turistik” dan tidak peka terhadap irama dan situasi sosial dan perjuangan bangsa kepada penjajah. Kondisi seperti itu, tentu, berkaitan antara teks dan konteks. Karya lukis sebagai “teks visual” pada sekelompok pihak diharapkan memiliki konteks ruang, waktu, dan persoalan yang bertalian secara erat. Itu merupakan hal yang biasa dalam dunia seni rupa. Selalu ada lapis-lapis persoalan yang berlainan, tergantung konteks, persepsi dan jiwa jamannya. Tapi pada prinsipnya, di Indonesia karya lukis panorama atau pemandangan alam nyaris tidak pernah mati. Selalu dibuat, digeluti dan ditekuni oleh banyak seniman di Indonesia.

***

Deretan karya lukisan dalam pameran kali ini, saya kira, adalah salah satu potongan bukti bahwa dunia seni lukis dengan subyek utama pemandangan alam tumbuh dan berbiak terus-menerus tanpa henti. Kita bisa melihat dalam pameran ini ada karya Arok yang melukiskan tentang pemandangan kampung-kampung di Bali—sebuah pulau dengan mayoritas penduduk beragama Hindu dan kulturnya yang relatif kuat terjaga. Pemandangan tersebut memberi potret yang berbeda dibanding realitas scene pulau Bali yang lain yang telah banyak tergerus oleh pembangunan berbagai hotel dan berbagai property lain sebagai konsekuensi dari dunia turisme yang sangat pesat. Lukisan-lukisan permai tentang alam pesedaan karya Arok ini seakan memberi ingatan kembali bahwa masih ada celah-celah pedesaan yang sejuk, tenang, damai, yang memberi energi positif bagi hidup.

Juga ada karya-karya Mozes Misdy dan Mois yang membincangkan tentang lanskap perahu-perahu di tepian pantai. Lukisan ini seperti mengingatkan sebuah kilasan sejarah tentang Indonesia atau Nusantara yang berabad-abad lalu banyak berkembang bahkan berjaya di kawasan bahari. Indonesia sebagai Negara maritime yang 2/3-nya terdiri dari lautan seperti diingatkan oleh karya ini—agar laut tidak lagi “dipunggungi” (seperti yang diistilahkan oleh presiden Jokowi), namun mestinya kembali diakrabi. Teknik karya lukis ini menarik, yakni dengan torehan palet yang kasar namun mengena karena senimannya telah sangat menguasai subyek benda yang dilukisnya.

Pun dengan lukisan pemandangan pegunungan, hutan, sawah, sungai seperti yang dipresentasikan oleh Jaka SP., terasa manis dan melengkapi karya-karya pemandangan alam lainnya. Pola visual seperti yang diketengahkan oleh Jaka SP. ini telah ribuan dibuat oleh sekian banyak seniman di Indonesia. Namun, selalu saja ada titik beda satu sama lain yang membuat karya tersebut diminati oleh banyak kalangan masyarakat. Apalagi di Indonesia deretan pulau-pulaunya memanjang hingga sekitar 3.000 kilometer ini memiliki banyak kawasan yang permai situasinya. Di mata pelukis seperti Jaka SP. ini (atau lainnya), pemandangan itu dipindahkan dengan baik ke bidang kanvasnya. Jaka SP. tampaknya termasuk pelukis yang terbiasa menyeleksi fakta-fakta yang sesungguhnya kurang menarik dalam subyek benda di alam, dan menjadikannya lebih manis, indah, dan eksotik di dalam kanvas. Ini sah dan dialami oleh banyak seniman karena itulah pilihan “ideology estetik” dar tiap-tiap seniman.

Di tengah karya-karya yang mengeksplorasi pemandangan alam, terdapat pula penggambaran tentang wayang. Nyoman Gunarsa melukiskan wayang dengan pilihan karakter yang ekspresif. Dia tidak menggambarkan sosok-sosok wayang secara realistik dengan detail yang penuh kerumitan. Sebagai seniman senior dan termasuk deretan seniman papan atas Indonesia, pola visual yang meluiskan subyek benda dengan detail sudah pernah dilaluinya puluhan tahun lalu. Itu adalah bagian dari proses kreatif seorang Nyoman Gunarsa. Kini, seniman ini tidak sekadar memindahkan wayang ke dalam kanvas. Namun juga spirit tentang tokoh wayang tersebut. Spirit yang segera tampak sekilas dalam lukisannya adalah tentang gerak, kegagahan tokoh wayang, dan sebagainya. Dalam konteks ini, Nyoman tidak sedang melakukan mimesis atau menirukan bentuk fisik wayangnya saja, namun lebih dari itu, mencoba untuk melakukan tafsir atas dunia wayang itu dengan perspektifnya yang subyektif. Subyektivitas yang personal dalam dunia seni lukis—atau secara umum dalam dunia seni rupa—sangat penting untuk proses pencarian identitas atau jati diri. Nyoman Gunarsa adalah salah satu seniman yang telah masuk dalam proses penemuan identitas kreatif. Meski, tentu saja, identitas bisa saja terus bergerak.

Lebih dari itu, karya-karya yang tergelar dalam pameran ini bisa memberi salah satu potongan kecil atas kekayaan dunia seni rupa atau seni lukis yang terus berkembang pesat di Indonesia. Pameran ini bisa memberi jendela untuk melongok keluasan seni rupa Indonesia. ***

Kuss Indarto, kurator dan penulis seni rupa. Pengelola situs www.indonesiaartnews.or.id

(Catatan ini untuk mendampingi pameran seni rupa dalam acara "Indonesia Showcae 2015" di bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, 29 Okt - 1 Nov. 2015)