Tuesday, March 15, 2016

Affandi dan Basuki Abdullah

Ketika Basuki Abdullah kembali ke Indonesia, setelah lulus dari sekolah gambar di negeri Belanda, ia banyak berpameran di luar negeri dan di dalam negeri. Namanya termashur. Surat-surat kabar Belanda memuji-muji dan mengagung-agungkannya.

Mendengar berita ini, makin menyala hasrat Affandi untuk menemui Basuki Abdullah. Ingin belajar dan berguru padanya.

Pada suatu hari, datanglah ia ke tempat kediaman Basuki Abdullah.

Hatinya berdebar-debar. Takut-takut memasuki halaman rumah gedung itu.

Tapi hati dikuatkannya. Pintu dibuka pelayan, ketika ia memijit bel.

"Saya ingin bertemu dengan tuan", kata Affandi.

Pelayan masuk kembali untuk memberi tahu tuannya. Affandi berdiri di ambang pintu. Lama baru ada suara.

Dari pintu yang terbuka, terdengar oleh Affandi suara orang bertanya:

"Apakah tamu itu bisa bicara bahasa Belanda?"

Sejenak kepala Affandi pusing mendengarkan pertanyaan dari dalam itu. Hatinya tiba-tiba tidak senang. Bencilah, pokoknya. Affandi dapat berbahasa Belanda, sebab dia keluaran MULO dan AMS! Tapi mendengar suara pertanyaan itu, hatinya jadi hambar. Hilang keingingannya untuk bertemu dengan Basuki Abdulah. Dan cepat-cepat Affandi, meninggalkan rumah itu. Hatinya di dalam amat kecewa dan amat sedih!

Terasalah bagi Affandi, bahwa pelukis Basuki Abdullah, tidak dari golongan dirinya. Tapi golongan atas!

Tapi Afandi jalan terus. Melukis dan belajar sendiri.

(Dikutip dari catatan Nasyah Djamin dalam buku "Affandi Pelukis", halaman 57-58, terbitan Aqua Press Bandung, (diduga) tahun 1977)