Tuesday, March 08, 2016

Old Master Menguasai (Kembali)

Akhir Februari 2016, Artprice, lembaga data dan riset pasar seni rupa yang berkedudukan di Paris, kembali mengeluarkan laporan tahunan (annual report). Banyak informasi dan data bertebar di dalamnya. Salah satu data yang selalu ditunggu adalah daftar 500 Besar seniman yang karyanya paling banyak diserap dengan angka penjualan tertinggi oleh pasar selama tahun 2015 lalu—terutama oleh balai lelang di seluruh dunia. Tentu lembaga itu hanya bisa menyandarkan data pada balai lelang karena relatif lebih terukur secara kuantitatif dan terbuka sumbernya.

Dari 500 nama seniman sedunia itu, nama­-nama yang sudah mapan seperti Pablo Piccasso, Andy Warhol, Francis Bacon, Mark Rothko, juga Roy Liechtenstein, masih bertahan di level 10 Besar. Sementara Jeff Koon mulai terlempar dari 10 Besar. Tapi posisinya masih lebih baik ketimbang Damien Hirst yang terperosok pada level agak jauh di bawahnya, meski masih masuk 100 Besar. Ini serupa dengan para perupa China yang cukup dominan di level 50 Besar pada kurun 2008­-2010 ketika booming seni rupa Asia terjadi. Nama-­nama seperti Yue Minjun, Fang Lijun dan lainnya meroket drastis hingga mengejutkan smile emotikon membingungkan) peta pasar seni rupa dunia.

Lalu, bagaimana dengan posisi para seniman Indonesia atau yang ada kaitannya dengan Indonesia? Data menunjukkan bahwa dalam kurun tahun 2015 lalu hanya ada 3 nama seniman Indonesia (atau yang berproses dan dikenal di Indonesia) yang masuk dalam daftar 500 Besar, yakni Hendra Gunawan di peringkat 167, Affandi Kusuma (191), dan Rudolf Bonnet (403). Keseluruhan karya Hendra, dalam tahun 2015, yang terjual di balai lelang menyentuh angka US$ 10,848,670 atau sekitar Rp 140 miliar. Sementara karya­-karya Affandi total terjual hingga US$ 9,267,016, dan Bonnet di angka US$ 4,261,108.

Keberadaan nama­-nama seniman dalam daftar tahun 2015 tersebut berkurang ketimbang pada daftar tahun 2014 yang berjumlah 6 seniman. Dua tahun lalu, ada nama-­nama seniman Affandi yang berada di peringkat 211, lalu berturut­-turut ada nama Lee Man Fong (217), S. Sudjojono (248), Nyoman Masriadi (438), Le Mayeur de Merpes (411), dan Sudjana Kerton (451).

"Peta" nama­-nama dan pencapaiannya di pasar seni rupa itu relatif banyak berbeda bila dibandingkan dengan kurun 2007­-2008 yang bisa disimak dari sumber yang sama, Artprice. Kala itu, lembaga tersebut mencatat ada 9 nama seniman Indonesia—yang relatif berusia muda dan masih hidup—dalam daftar 500 Besar. Mereka masing­-masing adalah: Nyoman Masriadi di peringkat 41, Agus Suwage (122), Rudi Mantofani (142), Putu Sutawijaya (152), Yunizar (176), Handiwirman Saputra (250), Budi Kustarto (316), Jumaldi Alfi (384), dan M. Irfan (481).

Puncaknya ada pada dua tahun berikutnya, yakni kurun 2009­-2010 yang menempatkan 12 nama seniman Indonesia di celah rimbunan 500 Besar nama seniman dunia. Uniknya, nama-­nama itu adalah seniman yang masih hidup dan belum tergolong sebagai old master—berbeda jauh dengan daftar tahun 2015. Mereka adalah Nyoman Masriadi di urutan 32, Handiwirman (75), Agus Suwage (78), Rudi Mantofani (128), Budi Kustarto (142), Jumaldi Alfi (243), Yunizar (285), Putu Sutawijaya (314), Ay Tjoe Christine (285), Haris Purnomo (436), M. Irfan (440), dan F.X. Harsono (490).

Kondisi ketika booming seni rupa Asia yang berimbas ke Indonesia dan menggoyang peta pasar seni rupa dunia memang berbeda dengan situasi sekarang. Dari daftar 500 Besar seniman terlaris di pasar seni rupa tahun 2015 cukup jelas memberi gambaran bahwa pasar sepertinya menghendaki nama­-nama yang telah lebih dulu teruji oleh pasar sekian lama. Atau, memang para pelaku pasar ingin mencari aman dengan “memegang” dan berburu karya dari seniman old master yang eksistensinya telah mapan dalam sejarah. Bahwa pada masa booming kemarin muncul nama-nama seniman (yang relatif) muda dan belum sangat mapan dalam lintasan sejarah, ternyata itu merupakan gejala umum dan global.

Sekarang publik bisa menyimak dalam daftar versi Artprice, betapa nama­-nama seniman yang kemarin “hilir­-mudik” dalam daftar, sekarang rontok di urutan bawah, bahkan terlempar dan hilang sama sekali. Ini semua tak lepas dari peran (pelaku) pasar yang mampu mengonstruksi nama, sekaligus dengan mudah merontokkannya. Semua bisa terjadi dengan cepat dan tanpa diduga. Semuanya juga diduga bisa memain­-mainkan modalnya untuk menjaga eksistensi jejaring kerja pasarnya.

Kita bisa melihat, misalnya, dalam daftar 500 Besar versi Artprice tahun 2009/2010 ada nama Nyoman Masriadi di urutan 32, sementara seniman Filipina, Ronald Ventura (yang seusia, sama-sama kelahiran tahun 1973) berada di urutan 173. Lima tahun berikutnya, tahun 2015, Ronald Ventura masih bisa bertahan di urutan 383, sedangkan Masriadi sudah lenyap dari daftar 500 Besar. Ini, antara lain, diduga oleh banyak pihak sebagai bagian dari akibat pecahnya kongsi antara Masriadi dan networking pasar yang selama ini melejitkan dan “menjaganya” dalam beberapa tahun terakhir.

Daftar versi Artprice ini tentu bukan segala­-galanya. Itu hanya salah satu etalase yang bisa menunjukkan dengan angka-­angka kuantitatif yang relatif terukur, dan konsisten dipublikasikan ke masyarakat setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Namun itu juga tak bisa diabaikan begitu saja karena di dalamnya memuat beberapa indikator perihal pergerakan pasar seni rupa di level global. Anda bisa percaya, atau mengabaikannya sama sekali. Data­-data itu bisa menjadi salah satu wajah (pasar) seni rupa dunia. ***