Thursday, April 28, 2016

“Journey”, Kebersamaan Bob dan Widi

Oleh Kuss Indarto

PERUPA Bob Yudhita Agung yang mempopulerkan diri sebagai Bob Sick kembali akan menghelat sebuah pameran seni rupa. Kali ini bersama Widi Benang, istri ketiganya yang telah memberi Bob dua anak perempuan cantik. Pameran yang dikurasi oleh A. Anzieb ini berlangsung di Green Art Space, Greenhost Boutique Hotel, Jl. Prawirotaman II No. 629, Yogyakarta, 5 hingga 16 April 2016. Inu Wicaksono—dokter spesialis ahli kejiwaan yang telah puluhan tahun memiliki banyak pasien dari kalangan seniman di kawasan Yogyakarta—didaulat untuk membuka pameran ini.

Kata “Journey” dipilih sebagai judul kuratorial pameran. Ya, perjalanan. Ini lebih membincangkan pada perjalanan hidup dan kesenimanan pasangan Bob-Widi. Terkhusus pada Bob Sick yang telah membentangkan rute perjalanan kreatifnya sekitar 25 tahun—kalau awal masuk studi di kampus Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta sebagai titik pijaknya.

“Karya-karya yang akan kupamerkan ya lahir seperti biasanya. Mengalir begitu saja tanpa bisa kubendung,” tutur Bob dalam sebuah perbincangan pada suatu siang di studionya di bilangan sekitar Jalan Godean, Sleman, Yogyakarta. Hanya sedikit perbedaannya pada aspek teknis, persisnya ukuran karya lukisnya yang tak terlalu besar. Ini mengingat ruang pameran yang tak terlalu besar. Tentu berbeda dengan karya-karyanya yang—ketika perbincangan ini berlangsung—tengah dipamerkan oleh sebuah galeri di Hongkong dalam perhelatan Art Basel Hongkong 2016. Di situ karya-karya barunya berukuran jauh lebih besar.

Menariknya, Bob tetap membuat karya baru sama sekali untuk pameran bersama Widi di Greenhost tersebut. Ini bagian penting dari kesadarannya sebagai seniman yang selalu ingin membuat karya baru, dan “penyakitnya” yang tak bisa menghentikan tangan serta gerak kreatifnya bila menghadapi kertas, kanvas dan perangkat praktik seni rupa lainnya. “Kalau aku disediakan kanvas 20 lembar di depan mataku, aku ya bisa ‘menghabiskan’ semuanya hanya dalam sehari,” ucapnya dengan wajah menunduk karena mata dan tangannya sibuk menggumuli kanvas demi karya baru. Kalimat-kalimatnya terlontar dengan dingin, sepi ekspresi—berbeda dengan bertahun-tahun lalu ketika masih cukup muda. Mungkin juga karena satu-dua gigi depannya telah rompal karena kecelakaan sehingga tak mampu menopang penuh gerak ekspresi lidahnya.

Bob belumlah uzur. Usianya baru akan menapak di angka 45 pada pertengahan tahun ini (kelahiran 26 Mei 1971). Namun perjalanan hidup dan kesenimanan Bob relatif menarik dan cukup kaya. Sekaya goresan tattoo yang membujur hampir di sebagian tubuhnya—termasuk wajahnya. Ini yang ingin dicuplik sebagai bagian dari narasi dalam lukisan yang dipamerkan. Dan mungkin narasi-narasi tentang dirinya itu akan terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Garis-garisnya yang lentur keluar dari tangan dan imajinasinya selalu lancar tertoreh di atas kanvas dan kertas atau media apapun. Andaikan sejarah mempertemukan Bob Sick dan Keith Haring—salah satu bintang Pop Art Amerika Serikat setelah Andy Warhol, mungkin keduanya bisa saling bersaing meliukkan garis-garis masing-masing yang liar, kaya, dan imajinatif. Tapi mungkin dunia akan sedikit lebih membelalakkan mata pada Bob karena keunikan personalitasnya, kisah-kisah “kengawuran”-nya dalam berproses kesenian juga dalam melakoni hidup.

Bob telah menenggak atau merasai segala jenis narkoba atau bahan adiksi lain yang dalam jangka panjang telah berperan merontokkan sistem metabolisme dalam tubuhnya. Ruang-ruang penjara yang dingin telah pula dicicipi setelah disergap aparat karena barang-barang terlarang tersebut.

Pengalaman lain yang tak mengenakkan pun juga dialami. Misalnya, pada tahun 2005 ketika Bob hendak menghelat pameran tungalnya yang bertajuk “Di Bawah Pohon Ketapang, Di Atas Spring Bed” di Kedai Kebun Forum (KKF), Yogyakarta. Karya-karya sudah dipersiapkan semua. Katalog telah beres tercetak. Namun sehari menjelang upacara pembukaan berlangsung, peristiwa mengenaskan itu datang. Di tengah malam yang dingin, tubuhnya tergeletak bersimbah darah di sekitar kawasan Gowongan Lor, Yogyakarta. Wajahnya lebam di sana-sini. Uniknya, Bob tak ingat sama sekali dengan kejadian yang dialaminya. Perlu waktu yang lama untuk kemudian dia mampu merunut peristiwa tersebut. Memorinya terbuka dan dia mengakui bahwa malam itu dia menonton pertunjukkan musik di sebuah kampus dalam keadaan mabuk, lalu berteriak dan mengacaukan situasi. Perilaku inilah yang diduga tak dikehendaki oleh panitia yang kemudian menghajarnya seusai pertunjukan.

Berkebalikan dengan pengalaman itu, Bob juga telah melakoni salah satu mimpi indah masa kecilnya, yakni pergi ke Tanah Suci. Ya, dia berangkat sendiri untuk beribadah umroh sekitar tahun 2011. Tidak mudah baginya menuju ke sana. Ada halangan psikologis dalam dirinya karena tubuh dan wajahnya penuh tattoo sehingga—bagi sebagian muslim yang percaya—seluruh ibadahnya akan mubazir. “Tapi aku punya keyakinan bahwa Tuhan kan punya ukuran tersendiri yang berbeda dengan ukuran buatan manusia,” ungkap Bob mengenang. Akhirnya dia memang betul-betul pergi ke Tanah Suci. Tak sedikit orang yang sesama beribadah umroh memandangnya penuh keanehan ketika bersitatap dengannya. Ya, wajah penuh tattoo. Di sana, dia juga menemu kejadian yang ganjil: ada seseorang yang mencegatnya dan memperkenalkan diri sebagai Syekh Maulana Ibrahim. Bagi sebagian masyarakat di kawasan Yogyakarta atau Jawa tengah tentu tahu bahwa sosok itu adalah seorang penyebar agama Islam yang hidup beberapa abad lalu, dan makamnya ada di di perbukitan di sebelah utara pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta.

Pengalaman spiritual itu begitu berarti bagi Bob hingga kemudian cukup menginspirasi karya-karya seni rupanya yang lahir setelah kembali ke tanah air. Pengalaman itu juga seperti memberi penyadaran baginya bahwa dalam hidup itu selalu penuh dinamika, termasuk ketidakmungkinan yang bisa hadir sebagai realitas-kemungkinan yang tak terduga. Apalagi bila dikaitkan dengan perjalanannya sebagai seniman, pengalaman spiritual itu bisa menambah keyakinan bahwa semua bisa berubah. Semua taka da yang tak mungkin. Sebagai seniman, Bob sempat merasakan dengan kental betapa finansial dan materi bisa relatif dengan mudah didapatkan ketika booming tiba. Namun dengan mudah pula situasi dijungkirbalikan tanpa dinyana. “Journey” bagi Bob adalah sebuah cermin untuk kembali mengilas-balik sebagian dari perjalanan hidup dan kesenimanannya.

Bagi Wiwid, perhelatan ini juga penting artinya. Ini adalah kesempatan pertama dirinya bersanding bersama Bob dalam sebuah pameran seni rupa, meski—sayangnya—keduanya kali ini sudah tidak dalam relasi sebagai pasangan suami-istri. Ya, Bob dan Widi hadir sebagai sahabat, setelah beberapa waktu sebelum ini memutuskan untuk berpisah. Mereka tetaplah ayah-ibu bagi kedua anak putrinya yang imut. Widi yang 16 tahun lebih muda dari Bob itu merasakan bahwa, “sebenarnya tak banyak yang berubah pada hubungan kami. Aku tetap kagum dan mengidolakan mas Bob sebagai seniman yang karya-karyanya keren dan menginspirasi saya,” tegas Widi.

Pada titik inilah Widi merasakan kuatnya titik relevansi antara tema kuratorial dengan salah satu karya yang dipamerkan, yang bertajuk “Fragment”. Karya itu bermaterialkan papan kayu mahoni (swietenia macrophylla) yang dipotong dengan diameter sekitar 30 cm—dengan variasi ukuran yang sedikit lebih besar atau kecil. Ada 38 papan bulat mahoni yang di salah satu permukaannya diterakan serigrafi atau sablon bergambar potret-potret wajah keluarga, kerabat dan teman-teman terdekat. Semua gambar itu dipilah oleh Widi dari potongan-potongan potret dokumentasi pribadinya. Ada potret dirinya dan anak-anak. Ada Bob dan teman karibnya seperti Ugo Untoro, S. Teddy D., juga Yustony Volunteero.

Bulatan papan-papan mahoni diandaikan serupa deretan potongan narasi yang mengisi perjalanan hidup dan kebersamaan Widi bersama Bob Sick dan pertautannya dengan sosok-sosok lainnya. Ada banyak kisah yang terbenam dalam potret-potret itu—dan Widi menjadi subyek yang menyutradarai dan paling paham atas semua kisah tersebut.

Dan Bob, yang lebih banyak tinggal sendiri di studio sekaligus rumahnya di Jalan Godean itu, kini seperti kembali menuliskan lembar-lembar baru dalam hidupnya. Ini, mungkin, tak beda jauh dengan esai pendek bertajuk “My Shadow Want To Kill Me!” yang pernah dituliskan oleh Bob dan termuat dalam buku “Bob Sick, Indonesia Raw Art Artist” (2007): Aku harus mulai menulis lagi… ya, aku harus mulai menulis lagi. Seperti diburu oleh bayangan sendiri… dimana bayangan itu mengikuti aku dengan belati terhunus, siap menikam dari belakang… seperti juga pengkhianatan teman atas teman… dan ini yang dicoba dilakukan oleh bayanganku sendiri. Aku bukan dictator atas diriku sendiri, aku adalah boneka, bukan mesin… tapi pada momen-momen tertentu aku adalah mesin pembunuh yang cukup mengkhawatirkan karena metode membunuh yang ngawur…” ***

Kuss Indarto, penulis seni rupa, tinggal di Yogyakarta.